KH Miftah Faridl: Ibadah Harta Menjadi Indikator Suksesnya Puasa Kita


Share

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bandung, Prof. Dr. KH. Miftah Faridl mengisi ceramah tarawih di Masjid Salman ITB pada Senin (11/04). Ceramah tarawih ini dilaksanakan secara offline di Masjid Salman ITB dan live streaming pada youtube Salman TV. Tema kajian yang beliau bawakan adalah "Harta dalam Perspektif Islam." 

Miftah Faridl mengungkapkan amalan yang disunnahkan untuk menyempurnakan ibadah puasa adalah sedekah. Bulan Ramadhan juga disebut bulan kedermawanan (syahrul judd). Rasulullah banyak bersedekah, lebih-lebih lagi di bulan Ramadhan. 

Saat Rasulullah di Mekkah, banyak wahyu yang turun padanya untuk meluruskan pandangan mengenai harta kekayaan. Oleh karena itu pada surat Makkiyah banyak pesan tertulis dan tersirat mengenai harta dalam Islam. Di antara pesan tersebut adalah kritik Islam terhadap perilaku orang Quraisy yang gemar menumpuk harta.

Dalam Al-Quran surat Al-Lahab yang menceritakan mengenai balasan untuk Abu Lahab dan harta yang selama ini dia kumpulkan tidak bisa menyelamatkannya. Terdapat pesan tersirat bahwa harta tidak bisa menjamin keselamatan serta kemuliaan. 

Allah juga memberikan pesan lewat QS. Al-Maun ayat 1-3 yang menyatakan celaka bagi orang yang tidak membagikan hartanya:

Tahukah kamu orang yang mendustakan agama. Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak memberi makan orang miskin” 

Rasulullah pernah menyampaikan pesan “Anak yatim itu kekasihku, barang siapa menyakiti anak yatim berarti menyakitiku. Dan barang siapa yang menyayangi anak yatim berarti sayang kepadaku. Di surga nanti saya akan bergandeng tangan dengan orang-orang yang menyantuni anak yatim”

Jika kita berada dalam keterbatasan sehingga tidak bisa memberikan harta. Allah juga memberikan jawaban dalam QS. Al Baqarah ayat 263 yang artinya:

“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan yang menyakiti. Allah Maha Kaya, Maha Penyantun”

Di dalam Islam, pemilik mutlak harta adalah Allah. Tetapi Islam juga mengakui mengenai hak-hak individual. Manusia harus menyadari bahwa harta adalah pemberian dari Allah. Oleh karena itu, kita harus bersyukur, bekerja serta memohon ampun pada Allah. Selain itu, harta juga amanah yang harus dipertanggungjawabkan. 

Harta juga merupakan fitnah dan ujian. Dengan harta, seseorang dapat meraih surga, dan dengan harta pula seseorang dapat terjerumus ke neraka. Sebagai muslim yang baik jadikanlah harta jalan ibadah untuk kita mencapai ketakwaan. Hal itu bisa dilakukan dengan Zakat, Infak dan Sedekah.

Sebagaimana ibadah lainnya, ibadah dengan harta (maliyah) juga dilipatgandakan di bulan Ramadhan. Bahkan, Miftah menekankan bahwa ibadah harta dapat menjadi indikator keberhasilan puasa kita dalam transformasi menuju takwa.

Dalam permulaan Surat Al-Baqarah, Allah menyebutkan ciri-ciri orang bertakwa sebagai orang yang beriman, yang berkualitas shalatnya, serta siap berbagi dari sebagian rezekinya. Pada ayat yang lain, Allah menyebutkan bahwa orang yang bertakwa siap memberikan harta dalam keadaan lapang maupun sempit, bahkan memberikan barang yang dicintainya.

Ibadah harta merupakan salah satu bentuk investasi yang abadi berupa shadaqatun jariyah, jika dilakukan dengan penuh keikhlasan. Selain itu, sedekah yang baik dapat membuat doa kita dikabulkan. Rasulullah menjamin: "tidak akan ada orang menjadi miskin karena sedekah dan infaq." Bahkan, dengan sedekah dan infaq justru pintu rezeki semakin terbuka.