skip to Main Content
Foto: Media Indonesia

Oleh: Ahmad Muchlis

(Purnabakti Dosen Matematika ITB, Aktivis Senior Salman ITB)

Virus SARS-CoV-2 telah menjungkirbalikkan kehidupan umat manusia. Dunia yang tadinya berputar dengan cepat, tiba-tiba seperti kehilangan momentum dan berhenti seketika. Kita belum tahu berapa lama pandemi yang diakibatkannya akan berlangsung. Namun, tidak ada salahnya kalau kita mulai membayang-bayangkan kehidupan sesudah pandemi berakhir. Hitung-hitung untuk menjaga optimisme.

Di berbagai belahan bumi, masa pandemi ditandai dengan imbauan atau perintah untuk bekerja dari rumah, work from home. Tanda-tanda bahwa bekerja dari rumah ini akan berlanjut telah mulai tampak. Perusahaan seperti Twitter, Facebook dan Fujitsu telah memberitahu pekerjanya bahwa mereka boleh melanjutkan bekerja dari rumah untuk seterusnya.

Ada banyak alasan untuk menyukai bekerja dari rumah. Pertama-tama, tidak perlu ada waktu wira-wiri antara rumah dan tempat kerja. Ini dengan sendirinya menghilangkan tekanan menghadapi kemacetan atau jubelan penumpang. Pekerjaan dapat dilakukan dengan laju yang sesuai dengan suasana hati, yang penting pekerjaan diselesaikan. Siesta bisa dilakukan kapan saja.

Bekerja dari rumah akan mengurangi beban transportasi umum. Bayangkan bagaimana kapasitas transportasi umum tiba-tiba berkurang menjadi 50-60% ketika norma jaga jarak harus diberlakukan. Pengadaan tambahan wahana akan memerlukan biaya dan waktu. Meningkatkan frekuensi juga belum tentu layak dilakukan.

Memperhatikan alasan pada alinea terakhir ini, Pemerintah perlu mendorong bekerja dari rumah untuk seterusnya. Dorongan ini, dalam berbagai bentuk, diperlukan mengingat masyarakat Indonesia memiliki kultur suka berkumpul, bertemu muka.

Perubahan berikutnya, masih terkait dunia kerja, tidak akan terjadi secepat bekerja dari rumah. Covid-19 ini memberikan insentif kepada industri untuk sejauh mungkin mengurangi ketergantungan kepada tenaga manusia. Pekerjaan rutin memproduksi benda yang sama berulang-ulang akan dialihkan kepada mesin. Penggunaan robot dan pemanfaatan kecerdasan buatan akan semakin luas.

Perkembangan industri seperti di atas sebetulnya sudah mulai terjadi. Kalau sejauh ini industri besar yang lebih banyak melakukan otomasi, Covid-19 akan mempercepat perluasannya kepada industri dengan skala yang lebih kecil. Penggunaan sebuah teknologi secara lebih kerap dan lebih luas akan membuat teknologi itu menjadi lebih murah dan lebih terjangkau.

Lalu kemana para pekerja yang dipaksa keluar dan generasi lebih baru yang tertolak oleh perubahan dunia kerja itu akan pergi?

Tanpa pekerjaan manusia masih bisa hidup. Tanpa pangan manusia tidak mungkin hidup. Pertanian adalah sektor yang paling tepat untuk menampung para pekerja dan calon pekerja yang tersingkirkan itu. Pemerintah harus membuat kebijakan-kebijakan yang membuat pertanian lebih menarik, khususnya bila dibandingkan dengan sektor jasa. Termasuk di dalamnya kebijakan yang mendorong pengembangan pertanian modern. Hal-hal yang perlu mendapat perhatian antara lain pertanian pada lahan terbatas, pertanian dengan media tanam tak konvensional, pengolahan pasca panen dan manajemen usaha pertanian.

Perubahan berikutnya menyangkut pendidikan. Sejak sebelum masa pandemi sistem persekolahan telah mendapat tantangan dari berbagai bentuk platform pembelajaran digital. Covid-19 memperhebat tantangan itu. Kalau bekerja dari rumah itu bagus, mengapa belajar dari rumah tidak?

Sekolah dengan mudah kalah dari platform digital dalam hal akuisisi pengetahuan. Namun, untuk mendapatkan hasil maksimal dari pembelajaran melalui platform digital, siswa perlu memiliki ketrampilan belajar (learning skills). Tanpa ketrampilan belajar yang memadai, sulit bagi siswa untuk bisa belajar secara mandiri tanpa ada umpan balik secara langsung.

Sekolah di rumah (homeschooling) akan meningkat. Regulasi yang baik diperlukan agar masa depan anak tidak terkorbankan. Mungkin akan lebih baik kalau pendidikan awal, yaitu usia dini dan dasar, terjadi di sekolah konvensional. Konsekuensinya, pendidikan pada tahap-tahap awal itu harus berlangsung lebih cepat. Artinya, melalui pendidikan awal itu siswa sudah harus mencapai ketrampilan belajar yang diperlukan untuk bisa belajar mandiri. Lebih jauh, dalam masa yang singkat itu pula sikap dan karakter sudah harus terbentuk.

Bekerja dan belajar dari rumah dapat membawa masyarakat ke dalam sekat-sekat yang memecah-belah. Untuk mencegahnya, perlu adanya wadah untuk interaksi sosial yang cair. Kegiatan-kegiatan bersama berbasis komunitas perlu didorong dan difasilitasi.

Frank Snowden, penulis buku Epidemics and Society: From the Black Death to the Present, berpendapat bahwa pengalaman dengan pandemi-pandemi terdahulu merupakan sumber untuk bersikap optimis [1]. Pensiunan guru besar sejarah di Yale University ini mengatakan bahwa wabah hebat secara konsisten telah membawa transformasi besar dan menghasilkan masyarakat yang secara radikal berbeda. Snowden memberikan contoh pandemi kolera di abad ke-19. Kota-kota modern dibangun dengan standar sanitasi yang dikembangkan berdasarkan pengalaman buruk dengan penyakit ini. Sistem pengelolaan limbah dan toilet, serta regulasi perumahan diperkenalkan dalam standar tersebut.

Bagaimana kita menyikapi optimisme masa pasca Covid-19?

Negara Singapura memiliki cara pandang tidak lazim. Ketika terjadi krisis finansial global tahun 2008-2009, anggaran pendidikan negara itu malah meningkat. Mengapa? Tharman Shanmugaratnam, Menkeu Singapura ketika itu, dalam pengantar anggaran kepada parlemen menyatakan: “Pendidikan adalah investasi yang perlu, baik di masa senang maupun di masa susah. Dalam situasi sulit seperti ini, justru bertambah penting bagi kita untuk berinvestasi demi masa depan, sehingga Singapura, sebagai negara, akan siap menerima tantangan-tantangan baru ketika ekonomi membaik.” [2]

Covid-19 telah memberikan tekanan keras kepada perekonomian setiap negara. Sebagian APBN dan APBD kita harus dialihkan untuk memberikan bantuan, subsidi dan stimulus. Hendaknya anggaran pendidikan tidak dikurangi, bahkan kalau mungkin ditambah.

Untuk menutupi beban anggaran, bracket pajak penghasilan dapat ditambah. Sebagai contoh, untuk wajib pajak pribadi, setiap penambahan 500 juta rupiah, tarif pajak dinaikkan 5% sampai maksimum tertentu. Saat ini bracket tertinggi adalah 30% untuk pendapatan di atas PTKP sebesar 500 juta rupiah. Pada contoh ini, di atas 1 milyar rupiah dikenai 35%, di atas 1,5 milyar rupiah dikenai 40%, di atas 2 milyar rupiah dikenai 45%, di atas 2,5 milyar rupiah dikenai 50%, dan berhenti di sini kalau 50% dipilih sebagai batas maksimum. Seorang wajib pajak pribadi dengan penghasilan 10 milyar rupiah (di atas PTKP) akan dikenai pajak 2,945 milyar rupiah dengan aturan sekarang, tetapi dikenai 4,47 milyar rupiah dengan skema contoh di atas. Langkah serupa dapat dilakukan untuk wajib pajak badan hukum.

Pengaturan seperti ini dapat diberlakukan sementara, misalnya untuk tahun pajak 2020 dan 2021 saja. Selain untuk membantu pendapatan negara, ketentuan demikian juga dapat meredam aksi ambil untung secara berlebihan.

Bandung, 28 Mei 2020 / 29 Juli 2020 / 9 September 2020

Sumber:
Jon Wertheim, “What will be the new normals after the coronavirus pandemic?”, 60 Minutes, May 18, 2020, [https://www.cbsnews.com/news/coronavirus-new-normal-society-effects-changes-60-minutes/, diakses terakhir 28 Mei 2020]

Pak Tee Ng, Learning from Singapore: The Power of Paradoxes, Routledge, 2017, hal. 50-51

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top