skip to Main Content

Tahun 2021, apa masih ada orang yang tanya mengapa perempuan perlu sekolah tinggi jika ujungnya tetap menjadi ibu rumah tangga? Dalam dunia modern yang teknologinya telah maju dan akses informasi serba mudah, pertanyaan yang satu ini semakin terdengar klise. Serta tetap saja akan terdengar tak nyaman saat sampai ke telinga perempuan.

Pola pikir seperti itu jadi bertentangan dengan impian besar bangsa ini untuk memberikan akses pendidikan kepada perempuan. Dimana untuk mewujudkan hal tersebut pun masih penuh dengan tantangan. Menurut data dari Kementerian PPPA di tahun 2019, capaian rata-rata lama sekolah perempuan lebih rendah dibanding laki-laki. Kemudian jenjang pendidikan tertinggi yang diselesaikan perempuan di level SMA, S2 dan S3 masih lebih rendah dari laki-laki. Faktor penyebabnya ialah kesenjangan ekonomi, tempat tinggal dan kultur masyarakat.

Misalnya dari sisi kultur di lingkungan masyarakat, masih ada yang merasa ‘khawatir’ sekolah tinggi dengan biaya yang tak murah jadi sia-sia jika perempuan langsung menikah setelah selesai menempuh pendidikan. Karena adanya pandangan bahwa perempuan hanya mengurus masalah domestik setelah menikah. Padahal perempuan tetap dapat mengaktualisasikan dirinya meskipun sudah berumah tangga. Contohnya ada pada istri-istri Rasulullah Saw., keberadaanya menjadi pilar pendamping pengembangan kajian Islam, terutama pada masalah-masalah yang tidak memungkinkan Rasulullah Saw., untuk menjelaskannya.

Bahkan pada masa tersebut, perempuan memiliki peranan penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya periwayatan hadits dan hukum Islam. Perempuan yang paling banyak meriwayatkan hadits adalah Aisyah, istri Rasulullah Saw. Jumlah hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah ada 2.210 buah hadits, Imam Al-Bukhari meriwayatkan darinya sebanyak 54 buah hadits dan Muslim meriwayatkan sebanyak 68 buah hadits.

Contoh lainnya Rufayda Al Aslamiyyah, perawat wanita muslim pertama yang ikut serta dalam banyak pertempuaran sebagai tenaga medis. Ia juga yang pertama menginisiasi pembangunan rumah sakit lapangan (military field hospital). Ada juga wanita yang ditugaskan dalam jabatan publik seperti, Laila binti Abdullah atau dikenal dengan nama Al-Shifa. Ia diangkat menjadi pengawas pasar di Madinah pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab. Ini semua membuktikan bahwa perempuan selalu dilibatkan dan berperan aktif dalam berbagai bidang.

Dalam al-Qur’an dan Hadits tidak terdapat larangan menuntut ilmu untuk perempuan. Islam justru mewajibkan umat muslim baik itu laki-laki maupun perempuan untuk menuntut ilmu pengetahuan. Rasulullah Saw. bersabda, “Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap Muslim.”(HR. ath-Thabrani melalui Ibn Mas’ad ra.) Dalam hadits tersebut jelas tidak ada pembeda antara laki-laki dan perempuan untuk mendapatkan hak belajar.
Selain itu pendidikan juga amat erat kaitanya dengan perempuan. Karena perempuan adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Dari rahim wanita lah generasi-generasi penerus akan lahir. Jika perempuan mendapatkan pendidikan yang baik maka generasi yang lahir pun adalah generasi-generasi hebat yang cerdas. Tidak heran apabila Bung Hatta sampai mengatakan: “Siapa yang mendidik satu laki-laki berarti telah mendidik satu manusia, sedangkan siapa yang mendidik satu perempuan berarti sedang mendidik satu generasi.”

Maka jawaban untuk pertanyaan ‘mengapa perempuan perlu sekolah tinggi’?, ya mengapa tidak? Islam jelas tidak melarang ataupun membatasi perempuan untuk memperkaya ilmunya. Perempuan berhak berkembang dan berkarya dengan menjadi ahli dalam bidang apapun yang mereka tekuni, tanpa menanggalkan fungsinya sebagai seorang istri dan ibu. Allah Swt. telah memberikan kemampuan multitasking tersebut, spesial untuk kaum perempuan.[Nurul]

Sumber:
Al Ghazal, S., & Husain, M. (2021, Mei 26). Muslim Female Physicians and Healthcare Providers in Islamic History. Dipetik Juni 18, 2021, dari muslimheritage.com: https://muslimheritage.com/muslim-female-physicians/

Kemen PPPA. (2020). Profil Perempuan Indonesia 2020. Jakarta: Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

L, S. (2015). Pendidikan Kaum Wanita dalam Hadits. Shautut Tarbiyah , 145-160.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top