skip to Main Content

Dikutip dari ’40 Kisah Pengantar Anak Tidur’ karya Najwa Husein Abdul Aziz

Pada suatu hari, Abdullah bin Umar ra. dan sahabatnya pergi ke pasar untuk membeli barang yang diperlukan. Sesampainya di pasar, mereka mencari tempat untuk makan. Ketika itu lewat di depan mereka seorang anak penggembala kambing. Kemudian Abdullah ra. memanggil anak gembala itu untuk makan bersama. Anak gembala itu berkata, “Terima kasih, akan tetapi saya sedang berpuasa.”


Mendengar itu, Abdullah ra. memandang anak gembala itu dengan kagum dan berkata, “Hai anak gembala, di hari yang panas seperti ini engkau berpuasa sambil menggembala kambing pula?”

Anak itu menjawab, “Tuan, api neraka itu lebih panas lagi.” Abdullah ra. berkata, “Kamu benar, anak gembala.” Kemudian Abdullah ra. meminta kepada anak gembala itu untuk menjual satu dari kambingnya kepada mereka. Tetapi anak gembala itu menjawab, “Kambing-kambing ini bukan milik saya, tapi milik majikan saya.”

Abdullah bin Umar ra. ingin menguji sifat amanah dan keimanan anak gembala tersebut. Maka ia berkata, “Kamu bisa menjual satu dari kambing itu. Lalu uang hasil penjualannya bisa kamu belikan apa yang kamu butuhkan. Selanjutnya, katakan kepada majikanmu bahwa serigala telah memakan kambing itu. Apalagi majikanmu tidak melihatmu, tentu dia akan percaya dengan perkataanmu. Bagaimana, kamu setuju?”

Mendengar perkataan Abdullah ra., anak gembala itu menangis dan berkata, “Walaupun majikan saya tidak melihat perbuatan saya, tapi Allah selalu melihat dan mengetahui apa yang saya kerjakan. Semoga Allah memaafkan Tuan. Di manakah Allah?” Dan anak tersebut terus-menerus mengulang perkataannya itu sambil menangis. “Di manakah Allah? Di manakah Allah?” Maka Abdullah bin Umar ra. pun menangis mendengarnya, sambil mengikuti perkataan si pengembala itu, “Di manakah Allah?”

Kemudian Abdullah bin Umar ra. membeli anak gembala itu dan kambing-kambingnya dari tuannya dan membebaskannya dari perbudakan. Setelah itu, ia menghadiahkan seluruh kambing itu kepada si anak gembala, sebagai balasan atas sifat amanah dan keimanannya.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top