skip to Main Content
Foto: LINE Today

Tragedi kemanusiaan yang terjadi di Palestina merebut perhatian netizen Indonesia. Bagi mereka yang belum mendalami sejarah dan latar belakangnya, informasi yang bertaburan di Internet akan berbuah kebingungan. Bagaimana tidak? Kedua kubu –baik kubu Pro-Palestina maupun Pro-Israel– sama-sama berupaya menyajikan argumen, propaganda terbaik demi menarik dukungan netizen. Acap kali emosi kita dipermainkan oleh konten-konten hoax, tidak menyajikan informasi lengkap, atau dibelokkan faktanya.

Bagi Data Scientist sekaligus pendiri lembaga Social Media Analyst Drone Emprit Ismail Fahmi, fenomena ini menarik karena berbagai faktor. Mulai dari keterbatasan aksi akibat pandemi, hingga keterbukaan kaum Pro-Israel di Tanah Air yang menyatakan dukungan secara terang-terangan. Melihat fenomena tersebut, ia pun mengimbau Umat Islam agar mulai belajar mengenali mana konten yang kredibel, dan mana yang tidak.

“Di kalangan umat Islam yang sudah terbiasa dengan bahasa yang bombastis, itu mereka suka. Sudah enggak peduli lagi benar atau salah, yang penting “menyenangkan kita,” itu harus dibela. Oke, yang penting informasinya benar. Jangan sampai disebar tapi mengandung hoax,” ujarnya, Jumat (21/5/2021).

Perang narasi di media sosial ini memang tak bisa disepelekan. Isu “Siapa yang benar” dapat menjadi celah keretakan umat Islam. Inilah hal yang harus dihindari.

“Ada yang tidak suka gerakan Islam, ya mereka gunakan isunya. ‘Ya, kita bela Palestina, tapi HAMAS itu teroris.’ Akhirnya, alih-alih membantu Palestina, malah sibuk menyerang mereka yang pro-HAMAS,” tuturnya lagi.

Perkataan Fahmi bukannya tak berdasar. Berdasarkan analisisnya, propaganda dukung Israel di Indonesia kian gencar dan terbuka. Fahmi mengatakan, bukannya tidak mungkin, melihat konflik netizen atas isu Israel-Palestina saat ini akan dimanfaatkan lagi di masa depan untuk memecah belah umat Islam.

Contohnya, isu bantuan yang tidak sampai ke tangan Kedutaan Palestina yang sempat viral beberapa waktu lalu. Isu tersebut sempat menggegerkan masyarakat, yang akhirnya menjadi ragu untuk menyampaikan bantuan untuk Palestina. Padahal, video yang dijadikan sebagai “alat propaganda” itu menyajikan informasi sebagian saja. Banyak jalur lain dalam menyampaikan bantuan kepada Palestina, selain lewat kedutaan. Sayangnya, fakta tersebut seolah sengaja tidak dihadirkan.

Aktivis Senior Masjid Salman ITB itu pun mengakui, bahwa itulah titik kelemahan umat Islam saat ini. “Secara massa kita menang. Tetapi kurang menyiapkan konten yang bisa menggempur berbagai macam narasi,” tukasnya. Seharusnya, kata Fahmi, umat mampu mendiskreditkan klaim palsu, melakukan pengecekan fakta, hingga membuat kontra-narasi atau narasi baru guna menangkis beragam isu.

Di sisi lain, netizen Indonesia adalah komunitas yang solid. Kita tidak gentar ketika digempur narasi Pro-Israel dan anti-Islam. Kelebihan lainnya, banyak Influencer yang mampu meramu isu menjadi narasi yang universal –tragedi di Palestina tak hanya menyakiti umat Islam, tapi juga umat manusia di seluruh dunia. Terbukti dari beragamnya latar belakang netizen yang menyatakan dukungan atas kemerdekaan Palestina. Mulai dari akun K-popers, pecinta sinetron, sampai tokoh liberalis. “Termasuk K-popers, mungkin mereka melihat, ini isunya universal, kemanusiaan. Kita harus turun, agar sesuai dengan prinsip KPopers kita,” ujar Fahmi tergelak.

Akhirnya, Fahmi menambahkan, bahwa sebetulnya banyak konten hoax yang mestinya harus “ditangani” satu per satu, khususnya dalam kasus Israel-Palestina. Hendaknya, lembaga-lembaga seperti Masjid Salman ITB memetakan berbagai isu, mengenalinya, lantas meramu narasi yang mengandung kebenaran. “Saya kira itu yang dibutuhkan sekarang, di jaman digital. Anytime kita bisa hadir mendukung. Lewat apa? Lewat media sosial,” pungkasnya.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top