skip to Main Content

Ia beda dari yang lain, bergelora, tegak kokoh, namun juga hangat bersahabat. Itulah sebagian kesan mendalam yang melekat bagi mereka yang pernah berkunjung, beraktivitas, maupun bekerja di Masjid Salman ITB. Tepat tanggal 28 Maret 2021, masjid ini kini berusia 58 tahun. Lebih dari setengah abad berkiprah demi umat, Masjid Salman menyimpan banyak kisah.

Mari, kita napak tilas 5 fakta menarik dalam perjalanan masjid tercinta kita ini.

Didukung Bung Karno

Perjuangan mendirikan masjid di lingkungan kampus ITB di era ’60-an bukanlah hal mudah. Islam ketika itu adalah “barang asing” di kampus umum seperti ITB. Tak pelak rencana mendirikan masjid ini menimbulkan perdebatan. Meskipun akta Jajasan Pembina Masdjid ITB telah resmi disahkan notaris pada 28 Maret 1963, izin pembangunan masjid tak kunjung didapatkan.

Akhirnya pada Kamis 28 Mei 1964 pukul 07.30 WIB, panitia menemui Presiden Soekarno untuk memohon restu. Tak hanya merestui, Bung Karno jugalah yang mengusulkan nama “Salman”. Beliau terkesan dengan desain arsitektur bangunan Masjid Salman yang unik tanpa kubah. Panitia pun mendapat suntikan semangat untuk melanjutkan pembangunan Masjid Salman.

Salman Masjid Kampus Mandiri

Meski bangunannya berada di wilayah Kampus ITB dan didirikan oleh civitas academica ITB, Masjid Salman ITB dikelola oleh yayasan yang otonom. Ia tidak berada di bawah struktur organisasi universitas/institut sebagaimana halnya masjid-masjid kampus lain di Indonesia. Masjid Salman dapat bersentuhan langsung dengan masyarakat luas meskipun tetap mengutamakan pelayanan kebutuhan ruhaniah civitas academica ITB. Karena itu, masjid ini dapat menggalang dukungan, bantuan, aktivis dan ide dari publik—termasuk bekerjasama dengan Kampus ITB—untuk kemudian disalurkan kembali dalam bentuk program-program yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Kantin Murah-Meriah Salman, Saksi Tokoh Bangsa

Dalam Kompleks Masjid Salman, terletak sebuah kantin prasmanan yang menyediakan pelbagai lauk-pauk sehat dengan harga terjangkau. Karena menunya yang variatif dan harga yang murah, Kantin Salman menjadi favorit mahasiswa dan masyarakat sekitar.

Walaupun terletak di lingkungan masjid, Kantin Salman juga dikunjungi konsumen non Muslim. Banyak pula mahasiswa maupun dosen tamu dari mancanegara yang makan di sini. Sambil menikmati makanan, kantin ini juga menjadi tempat diskusi hingga rapat-rapat nonformal.

Seiring tumbuhnya berbagai unit kegiatan mahasiswa di ITB dan Masjid Salman, Kantin Salman menjadi saksi bisu berbagai perbincangan menarik. Banyak tokoh Indonesia yang semasa mahasiswa berkuliah di Bandung khususnya ITB, pernah singgah untuk makan dan mengobrol di kantin ini. Beberapa yang dapat disebut adalah mantan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie, mantan Menteri Perhubungan Hatta Radjasa, hingga Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan Musisi Purwacaraka.

Masjid yang “Beda Sendiri”

Dari fasadnya, jelas terlihat Masjid Salman memiliki gaya berbeda. Atapnya tidak berkubah, malah melengkung. Namun bukan arsitekturnya saja yang membuat Salman begitu unik.

Pada era ’70-’80-an, mendengarkan khutbah dari khatib bergelar profesor atau doktor sains maupun teknik adalah hal yang baru. Masjid Salman lah yang mula-mula menghadirkan dosen-dosen ITB yang notabene berlatar pendidikan eksakta untuk berkhutbah, termasuk mengisi mata kuliah agama Islam di Kampus ITB. Masjid Salman juga dikenal menarik hati masyarakat untuk datang dengan cara-cara yang tidak BIASA. Mulai dari konser musik, fashion show busana Muslimah, sampai diskusi yang mengundang pastor Katolik.

Di Masjid Salman, tumbuh pula unit-unit kegiatan yang tidak lazim dalam komunitas aktivis Muslim kala itu. Para aktivis masjid ini antara lain telah menumbuhkan unit sastra, musik, teater, paduan suara, ilmu terapan dan teknologi tepat guna. Karya dan kiprah para aktivis Salman dengan demikian merentang luas dari desain busana Muslimah, film, karya-karya pemikiran dan jurnalistik hingga yang terbaru berupa ventilator untuk menolong pasien COVID-19.

Kawah Candradimuka Kader Dakwah


Masjid Salman memiliki impian besar, yakni membangun peradaban yang islami. Untuk itu para kadernya digembleng sedemikian rupa agar dapat berkiprah di masyarakat. Salah satu ikon penggembleng kader dakwah di Salman ITB adalah Imaduddin Abdulrahim—atau akrab disapa Bang Imad—yang merintis Latihan Mujahid Dakwah (LMD).


Lewat pelatihan tersebut, Bang Imad mengajak para mahasiswa yang dikadernya untuk mewujudkan Islam secara nyata dalam kehidupan.
Dalam pelatihan tersebut, ada 3 hal penting yang ditekankan:

  1. Pengetahuan dasar tentang Islam
  2. Penanaman jiwa perjuangan dalam gerakan Islam
  3. Komitmen terhadap pembangunan umat Islam

Pelatihan ini bertujuan melahirkan kader-kader dakwah unggulan, sehingga para pesertanya diseleksi secara ketat dengan dua pertimbangan: (1) prestasi akademis yang mencerminkan daya intelektual, dan (2) bakat kepemimpinan yang tinggi.


Terpikat dengan model kaderisasi dakwah Bang Imad, seorang pejabat tinggi Malaysia mengundangnya secara khusus untuk memberikan pelatihan dakwah di negeri jiran tersebut. Di antara banyak pemuda Malaysia yang kemudian mengikuti pelatihan tersebut, salah satunya adalah Anwar Ibrahim, yang kelak menjadi tokoh penting dalam panggung politik Malaysia.


Kerja keras dan pengorbanan ratusan bahkan ribuan orang dalam mendirikan dan memakmurkan Masjid Salman ITB tak mungkin hadir tanpa hidayah dan karunia Allah Swt. Semoga manfaat yang mereka alirkan hingga hari ini dicatat sebagai amal saleh dan sedekah jariyah di sisi-Nya.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top