skip to Main Content
Ilustrasi: Pixabay.com

Pada pekan terakhir bulan Februari masyarakat dihebohkan dengan pemberitaan Perpres Miras. Peraturan Presiden no 10 tahun 2021 soal bidang usaha Penanaman Modal, di mana dalam lampiran Perpres tercantum Industri minuman keras masuk menjadi salah satu daftar bidang usaha yang diperbolehkan dengan syarat tertentu. Peraturan ditetapkan pada tanggal 2 Februari 2021, lalu ramai dalam pemberitaan sejak tanggal 24 Februari, hingga akhirnya dicabut oleh Presiden Jokowi pada 2 Maret 2021.

Peraturan yang membolehkan investor miras menanam modal baru di Bali, Nusa tenggara Timur, Sulawesi Utara dan Papua, menyulut reaksi masyarakat dari beragam kalangan ketika beritanya muncul ke permukaan. Menurut hasil pengamatan Drone Emprit yang disampaikan oleh Ismail Fahmi dalam utas akun twitternya, tren percakapan di media sosial  terus naik dari tanggal 24 Februari. Total ada 93 ribu mention di twitter dan 3,4 ribu berita online. Opini-opini yang diserukan dalam media online maupun akun media sosial terus menggulung hingga membentuk penyataan penolakan besar-besaran. Meski ada kelompok yang cenderung pro namun tetap kalah jumlah dengan kelompok yang menolak.

Orang-orang yang menyerukan penolakan berasal dari kalangan yang beragam. Ormas Islam seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah kemudian ada MUI, partai hingga masyarakat sipil. Termasuk dari masyarakat Papua yang tidak setuju dengan pernyataan miras sudah menjadi budaya dan kearifan setempat. Tagar seperti #TolakInvestasiMiras #TolakLegalisasiMiras dan #PapuaTolakInvestasiMiras jadi trending topic di lini masa twitter. Akhirnya aspirasi masyarakat menolak Perpres investasi miras ini berujung pada keputusan pemerintah mencabut lampiran perpres. Lampiran tersebut dicabut selang seminggu setelah isu ini ramai menjadi pembicaraan publik.

Faktor yang Memengaruhi opini publik

Keberhasilan masyarakat  mendesak pemerintah mengubah kebijakan, memberikan pandangan optimis bahwa publik masih memiliki kekuatan dalam memengaruhi keputusan. W. Phillips Davison Emeritus Professor of Sociology and Journalism, Columbia University, menuliskan dalam artikel bertajuk Public Opinion di brittanica.com, bahwa suara yang terkumpul dari masyarakat berhasil membentuk opini publik. Bukan hanya memberikan pandangan namun mendesak pemerintah untuk mengambil tindakan. Momen ini juga menjadi  bukti keberhasilan penyampaian aspirasi bisa dilakukan secara daring melalui media sosial tanpa harus turun ke jalan.  

Mari kita lihat bagaimana opini publik terkait isu Perpres miras ini bisa berhasil,  dari sisi faktor yang memengaruhi opini publik berkembang:

  • Faktor lingkungan

Indonesia sebagai negara dengan jumlah muslim terbanyak di dunia menjadi landasan yang kuat Perpres Miras ditolak secara tegas. Melegalkan bisnis minuman beralkohol dinilai memberikan lebih banyak  mudharat dibanding manfaatnya. Serta menjadi kontra akan upaya masyarakat dan pemerintah menekan angka kriminalitas

  • Media massa dan media sosial

Media massa menjadi awal mula berita mengenai perpres miras muncul di publik. Kemudian media sosial membantu informasi tersebar lebih luas di masyarakat. Hingga tagar penolakan naik dan menjadi trending topic, terus menerus selama kurang lebih satu minggu. Sampai akhirnya keputusan pencabutan disampaikan presiden. Media massa dan media sosial memiliki peran penting dalam kampanye penolakan Perpres.

  • Interest Goups

Adanya ormas Islam, partai islam dan komunitas masyarakat papua yang menyampaikan pendapat tegas nya terkait isu Perpres. Tidak hanya menyampaikan suara keberatan tapi juga menjelaskan kepada masyarakat luas apa dampak yang akan didapatkan jika Perpres tersebut tidak dicabut. Informasi mengenai bahaya, dampak dan keterangan lainnya dibagikan melalui akun pribadi maupun kutipan wawncara dalam artikel berita.

  • Opinion leaders

Bukan hanya pernyataan organisasi yang naik ke media online tapi setiap pimpinan dalam ormas, partai dan para influencers memberikan pernyataan yang jelas. Opini dari para pemimpin ini memberikan pengaruh besar dalam menyadarkan masyarakat tentang pentingnya masalah yang sedang dibicarakan. Sehinggan mampu mengajak lebih banyak lagi orang  untuk ikut memberikan pendapatnya.

  • Kompleksitas pengaruh

Semua faktor  di atas membentuk pengaruh yang kompleks yang diterima masyarakat. Mengubah pandangan orang yang awalnya tidak memahami atau peduli jadi ikut menujukkan kepeduliannya dan memutuskan berpihak pada opini yang mana.

Bisa dikatan dalam kasus Perpres Miras, opini publik yang terbentuk di media online berhasil mengubah keputusan. Namun apakah cara penyampaian aspirasi seperti ini bisa efektif berhasil  untuk isu  yang lain?  Karena selama ini berbagai pembahasan masalah maupun isu tertentu sudah sering diangkat di medi sosial dan menjadi trending topic.  Tapi tidak semua isu tersebut mendapatkan tanggapan langsung dari pemangku kebijakan. Meski begitu kita berharap cara seperti ini  bisa berhasil untuk jenis-jenis isu lainnya. Dengan melihat  faktor yang memengaruhi keberhasilan opini publik, kita bisa yakini bahwa suara publik masih bisa didengar dan memiliki kekuatan. (Nurul)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top