skip to Main Content
Ilustrasi: www.pixabay.com

Oleh: Sinka Mutasia (Psikolog Klinis Dewasa)

Di era digital, semua dapat mengakses informasi secara luas dan menyeluruh. Termasuk di sosial media. Kita tidak hanya bisa mengakses, tapi juga berbagi informasi, hingga kehidupan pribadi kita sendiri. Bagi para selebritas, update media sosial mereka selalu dinanti para followers. Pengikut-pengikutnya senantiasa mencari tahu tentang kegiatan yang sedang dilakukan, dan seperti apa kehidupan pribadi seleb tersebut.

Belakangan, kasus perceraian selebritas ramai jadi perbincangan. Pada kolom komentar di akun media sosialnya, banyak yang mengungkapkan kekecewaan atas perceraian tersebut. Hal itu karena selama ini si seleb dan mantan pasangannya dulu kerap memperlihatkan keromantisan. Walhasil, banyak followers yang menjadikan mereka pasangan idola, atau “teladan” dalam masalah percintaan. Merekalah yang banyak menyayangkan. Saking kecewanya, masalah tersebut jadi terbawa ke dalam kehidupan pribadi mereka sendiri. Banyak fans yang jadi takut, cemas, dan pesimis pada pernikahan mereka, hingga berkonflik dengan pasangannya.

Mengidolakan seseorang sebenarnya merupakan hal yang wajar, terlebih jika berada dalam rentang usia 13-18 tahun. Hal tersebut dikarenakan mereka berada dalam masa pencarian identitas diri. Mereka sedang meneguhkan konsep tentang dirinya, tujuan hidupnya, dan seringkali dipengaruhi oleh orang lain. Maka tak jarang jika pada usia ini, mereka ikut-ikutan value temannya atau memiliki idola dan ingin menjadi seperti idolanya itu.

Namun belakangan dalam beberapa jurnal, ditemukan ada pergeseran usia dalam mengidolakan seseorang. Dari yang harusnya berakhir di usia 18 tahun, menjadi melewati usia tesebut. Kini, rentang usianya melebar menjadi 18-40 tahun. Mereka yang berada dalam rentang usia tersebut masih dapat mengidolakan seseorang dengan begitu intens, hingga terinternalisasi ke dalam kehidupan pribadinya.

Apa pasal? Ternyata, hal itu terjadi akibat belum ajegnya identitas diri yang dimiliki individu tersebut. Adapula faktor merasa kesepian, serta ketidakmampuan individu yang bersangkutan dalam keterampilan sosial. Itulah yang membuat seseorang menjadi terobsesi pada idolanya, serta tidak dapat fokus pada kehidupan pribadinya sendiri.

Jika sudah begitu, apa yang perlu dilakukan?

1. Belajarlah mengenali diri sendiri.

Tak ada kata terlambat untuk mengenali diri lebih dalam; siapa saya, apa potensi dan kelebihan saya, apa yang saya inginkan, apa tujuan hidup saya, apa yang ingin saya capai dalam hidup, dan bagaimana saya mencapainya.

2. Bijak dalam bersosial media.

Dalam bersosial media, kita perlu menyadari beberapa hal. Pertama, bahwa apa yang kita lihat di sosial media selebritas itu hanyalah sebagian kecil kehidupan mereka yang mereka bagikan. Tidak berarti dengan melihatnya, membuat kita mengetahui seluruh kehidupan mereka. Apapun yang mereka lakukan, adalah bentuk tanggungjawab mereka atas keputusan yang mereka ambil sebagai orang dewasa. Kedua, menyadari apa yang ada dalam kontrol kita, dan apa yang ada di luar kontrol kita.

Apa yang ada dalam kontrol kita adalah, apa yang kita lihat, rasakan, dan pikirkan. Semua itu ada dalam kendali diri kita. Lalu, apa yang ada di luar kontrol kita adalah apa yang selebritas tersebut pilih, jalani, serta bagikan/post di akun media sosialnya. Artinya, diri kita sendirilah yang bisa mengendalikan apa saja yang perlu kita ambil dan tinggalkan dari informasi di media sosial itu.

3. Set boundaries.

Sadarilah bahwa kita punya hidup yang berbeda dengan kalangan selebritas. Ketika seseorang ter;alu terobsesi dalam mengidolakan selebritas, itu membuat perasaan dan pikirannya terbawa. Seolah  apa yang terjadi pada selebritas tersebut, juga terjadi pada dirinya. Mengakibatkan ia menjadi panik, cemas, khawatir, takut, bahkan pesimis pada pernikahannya sendiri.

Maka, adakalanya kita perlu memberi “batasan” . Kita menikah dengan seseorang yang berbeda, maka tentu kehidupan pernikahan kita pun akan berbeda. Kecemasan yang berlebihan justru akan membuat perilaku kita tidak terkontrol dan cenderung berlebihan. Misalkan, kita tidak mau pasangan berpaling ke lain hati. Namun justu perilaku yang kita tampakkan malah terkesan over-possesive. Tentu itu akan membuat pasangan menjadi tidak nyaman.

4. Fokus pada kehidupan pernikahan sendiri.

Pelajari tentang pernikahan kita, mana saja yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan. Penting untuk membangun kedekatan dan kenyamanan dengan pasangan, membangun relasi dan komunikasi yang sehat, juga pengelolaan konflik yang baik. Fokus pada hal-hal tersebut tentu lebih bik daripasa terjebak terus-menerus dalam kepanikan.

5. Jangan berlebihan.

Segala sesuatu yang berlebihan tentu tidak baik, begitupun dalam mengidolakan seseorang. Berilah batasan. Ambil yang baiknya, dan tinggalkan buruknya.

Jika sensasi tidak menyenangkan itu semakin mengganggu, bahkan menghambat aktivitas sehari-hari, segera hubungi ahlinya. Jangan lupakan pula ikhtiar menjaga hubungan erat dengan Yang Maha Esa, karena Dia-lah Sang Maha Pembolak-Balik Hati. Mintalah setulus hati agar Ia menenangkan jiwa kita, dan menjaga kita dari prasangka buruk atas suratan takdir.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top