skip to Main Content
Ilustrasi: www.pixabay.com

Suaka itu bernama media sosial. Bagi kebanyakan manusia di era modern kini, media sosial lebih dari sekadar media bertukar pesan. Ia pun wadah berekspresi, unjuk jati diri, dan juga –yang belakangan sedang tren, menumpahkan uneg-uneg. Mulai dari masalah dengan orangtua, masalah akademik, konflik dengan kawan, hingga pahitnya problem percintaan. Informasi yang dulunya tabu untuk diumbar, kini malah jadi konsumsi publik. Bahkan seringkali dikemas sedemikian rupa agar menarik banyak viewers dan followers.

Belakangan, media massa banyak mengangkat kasus perceraian beberapa public figure. Beberapa di antaranya memiliki jutaan followers di akun media sosial mereka. Sontak, kabar perceraian mereka pun menjadi sorotan publik. Banyak reaksi yang timbul. Ada yang merasa sedih, banyak pula yang mengaku tak peduli.  Meski keputusan cerai seleb tersebut adalah haknya sebagai individu dewasa yang merdeka, keputusan mereka untuk mengumumkan perceraian lewat media sosial tetap menarik untuk ditelaah.

Perceraian: Patut atau Tidak Patut Dipublikasikan?

Dalam Islam, mengumumkan kabar pernikahan dua insan memiliki makna penting. Pertama, demi menjaga kesucian nasab. Kedua, sebagai pembeda antara hubungan yang sah dengan perzinahan. Ketiga, dalam rangka menjaga hak-hak pengantin. Terakhir, demi mencegah prasangka buruk di antara masyarakat.

Menurut Psikolog sekaligus Dewan Pakar Masjid Salman ITB Adriano Rusfi, kabar perceraian pun wajib disampaikan. Pasalnya, hal ini terkait dengan status marital seseorang. “Bagaimana seorang janda akan dilamar jika perceraiannya enggak diketahui?” katanya, Kamis (04/02/2021).

Meski begitu, publikasi perceraian tidak harus dilakukan dalam bentuk publikasi di media sosial atau media massa. Pengumuman itu bisa dilakukan dari mulut ke mulut. Misalnya, kata pria yang akrab disapa Bang Aad ini, mantan suami dapat menyampaikan kabar perceraiannya pada orang-orang terdekat. Paling lama, ketika masa iddah mantan istri telah berakhir.

Bagaimana dengan mantan istri? “Kalau mantan istri, tugas mengumumkan itu tanggungjawab walinya,” tuturnya.

Untuk batasan waktu pengumuman sendiri, tidak terlalu kaku. Bang Aad menjelaskan, jika talak satu, pengumuman cerai harus dilakukan setelah masa iddah berakhir. Untuk talak dua, talak tga, khulu’, fasakh dan istri yang belum digauli, pengumuman bisa dilakukan begitu cerai terucap.

Berbeda dengan status cerai, masalah rumah tangga sebaiknya tidak disebarluaskan pada orang lain. Apalagi. pada khalayak di dunia maya. Menurut Bang Aad, seharusnya kita mampu membangun benteng tebal yang tidak bisa diterobos, antara dunia privat dengan dunia publik, dunia domestik dengan dunia sosial, dan begitu seterusnya.

“Mempublikasi masalah privat pada dasarnya membuat ketahanan keluarga menjadi keropis. Rumah seolah menjadi “aquarium” dan terinfeksi,” ujarnya.

Di sisi lain, sebagai netizen atau pihak yang memperoleh kabar perceraian seseorang lewat media sosial, kita harus berhati-hati. Jangan sampai karena terlalu terbawa perasaan, kita jadi menghujat perceraian itu sendiri. Padahal, perceraian pun merupakan bagin dari syari’ah.

“Menghujat perceraian itu bisa menjatuhkan kita pada kekufuran,” terang Bang Aad. “Kenapa begitu negatifnya respons orang terhadap perceraian? Bisa jadi karena kita menistakan institusi perceraian itu sendiri.”

Di luar hiruk-pikuk kabar para selebritas, ada realita yang kian nampak. Bahwa kita –manusia, saling terhubung meski terpaut jarak dan waktu, status sosial, dan perbedaan pandangan hidup. Konten-konten yang kita bagikan maupun orang lain bagikan di media sosial sedikit demi sedikit akan mempengaruhi diri dan hidup kita sendiri.

Sekarang kita dihadapkan pada dua pilihan; akankah kita membiarkan diri tenggelam dalam masalah hidup orang lain? Atau kita ambil kendali, dan mulai menyaring linimasa media sosial kita?[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top