skip to Main Content
Ilustrasi: www.pixabay.com

Media sosial sudah menjadi bagian dari keseharian manusia. Unggahan status yang menampilkan kehidupan pribadi banyak berseliweran di dalamnya. Beberapa bahkan berhasil mengundang perhatian dan menjadi viral. Karena seringkali isinya berasal dari cerita pribadi orang lain, tidak semua cerita tersebut memiliki konten yang positif. Bisa tentang pengalaman tidak menyenangkan, cerita patah hati, merasa kecewa, hingga pertikaian rumah tangga, yang seharusnya semua cerita  itu tidak menjadi konsumsi publik.

Public figure terbiasa mengunggah aktivitas keseharian ke media sosial.  Biasanya jumlah unggahan mereka cukup banyak dan cenderung personal, yang membuat mereka melakukan oversharing. Oversharing ialah situasi dimana orang membagikan info mengenai kehidupan pribadinya kepada publik secara berlebihan. Oversharing juga terjadi di kehidupan nyata, istilah ini sudah dikenal sebelum media sosial muncul. Namun bisa semakin banyak terjadi secara online di era informasi seperti sekarang.

Alasan Orang Melakukan Oversharing

Pada dasarnya setiap orang dalam kehidupan nyata senang membicarakan tentang dirinya sendiri. Dikutip dari kompas.com Manusia bisa menceritakan tentang dirinya 30 – 40 persen. Hal yang menarik adalah angkanya jadi meningkat ke 80 persen saat dilakukan di media sosial. Media sosial memberi orang kesempatan untuk mengatur apa yang ingin disampaikan, dengan memilah mana yang bagus, menonjolkan hal baik, hingga memulas kekurangan.

Lebih lanjut alasan mengapa orang melakukan oversharing, ternyata dipengaruhi beberapa penyebab. Ada beberapa faktor psikologis yang menjadi latar belakang mengapa orang berani melakukan oversharing di antaranya:

  • Anonimity. Orang dapat menyembunyikan identitas mereka, seolah memiliki persona yang berbeda dengan kehidupan nyata. Hal ini membuat mereka merasa lebih mudah untuk mengutarakan pendapatnya. Topik yang tidak bisa disampaikan saat berbicara langsung bisa diceritakan melalui tulisan status.
  • Loneliness. Oversharing bisa menjadi cara sederhana bagi mereka yang merasa kesepian untuk berhubungan dengan orang lain dan berharap bisa mendapatkan perhatian melalui like dan komen. Mereka berusaha menjalin interaksi secara virtual yang mana sulit bagi mereka untuk melakukannya di duni nyata. Entah karena kondisi geografis atau kemampuan bersosialisasi.
  • It’s not real. Dunia maya seperti tempat yang berbeda dan terpisah dengan dunia nyata. Meski kini segala hal telah menggunakan internet, tapi kenyataan bahwa internet bukan tempat yang nyata, membuat orang berani membagikan apapun dan mengenyampingkan akibat yang bisa terjadi setelahnya.  
  • Low self Esteem. kepercayaan diri yang rendah terjadi ketika orang merasa dirinya kurang, tidak kompeten bahkan merasa tidak disukai. Jika orang melakukan kegiatan yang beragam hanya untuk mengunggahnya ke media sosial, kemungkinan ia melakukannya untuk meningkatkan kepercayaan diri. 
  • Delayed communication. Hampir seluruh komunikasi dalam  dunia online tidak terjadi secara real time. Komunikasi yang delay  membuat orang merasa nyaman sebab mereka tidak perlu langsung menghadapi respon. Orang bisa saja membuat status, lalu tidak membuka gawainya dalam  beberapa waktu, baru kemudian membalas komentar.
  • Lack of authority. Orang akan menyaring apa yang bisa diceritakan dan apa yang tidak boleh disampaikan saat berada di hadapan publik. Khususnya di depan orang yang memiliki wewenang lebih seperti guru, dosen, bos, atau sosok lain yang berada di posisi tertentu. Namun dalam dunia maya kita tidak berhadapan secara langsung dengan mereka.

Akhirnya media sosial pun menjadi tempat yang normal bagi setiap orang berbagi cerita pribadi. Tapi saat orang berada dalam kondisi yang sulit, orang rentan membagikan permasalahannya. Mengungkapkan masalah memang lebih baik dibanding harus memendamnya sendiri. Namun perlu dilihat dulu pada siapa seharusnya orang bercerita, tentu media sosial bukanlah tempat yang tepat. Sebaiknya kita menceritakan masalah pribadi pada teman yang dapat menjaga rahasia, pada guru yang bisa memberikan tuntunan atau pakar yang memang memiliki ilmunya seperti para psikolog.

Melakukan oversharing tanpa menyaringnya terlebih dulu juga berpotensi membuat orang membagikan aibnya sendiri. Dalam islam mengumbar aib adalah hal yang dilarang. Selama ini Allah justru telah menutup aib manusia, malah manusia sendiri yang sengaja mengumbarkannya Rasulullah SAW bersabda:

“Setiap ummatku akan mendapatkan ampunan dari Allah Azza Wa Jalla kecuali Al Mujaahiriin yaitu semisal ada seorang laki-laki yang mengerjakan sebuah perbuatan (buruk) pada malam hari kemudian ia menjumpai waktu subuh dan Allah telah menutupi aibnya. Lalu laki-laki tersebut mengatakan “Wahai Fulan, aku telah mengerjakan sebuah perbuatan buruk/jelek ini dan itu”. Maka itulah orang yang malamnya Allah telah menutup aibnya lalu ia membuka aibnya sendiri di waktu subuh (keesokan harinya)” (H.R Bukhari dan Muslim)

Walau penuh dengan resiko, media sosial sebenarnya terbukti secara empiris memiliki manfaat positif tersendiri. Menurut Pakar Komunikasi Iwan Awaluddin Yusuf dalam tulisannya di p2rmedia.or.id , media sosial juga merupakan suatu keniscayaan dari kemajuan zaman dan pergaulan global. Ia mengatakan, di sinilah pentingnya literasi. Pengguna dengan literasi yang cukup akan memiliki kesadaran, kendali, dan batasan jelas dalam berteknologi.

Dewasa ini, bijak bermedia sosial seharusnya tak sekadar pilihan. Tapi juga ibadah, dan ikhtiar kita dalam menjaga diri. Wallahu a’lam bisshawwab.(Nurul)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top