skip to Main Content
Foto: ANTARA

Oleh: Buroqi Tarich Siregar

(Sekretaris Umum Keluarga Alumni Salman ITB)

Pesan apa yang paling mudah ditangkap sekaligus paling jelas dari kondisi pandemi COVID-19 ini?

Saya memahaminya sebagai kondisi yang mengharuskan manusia membatasi kegiatan sosial, membatasi mobilitas dan menjalani sebagian besar, bahkan mungkin seluruh, kehidupannya di rumah. Pengertian rumah ini bisa dikhususkan menjadi rumah diri, bukan rumah berupa bangunan fisik. Kita khususkan pengertiannya menjadi rumah diri karena pada pandemi ini kita bahkan diminta melaksanakan ibadah sholat di rumah saja. Ibadah yang dalam keadaan normal diutamakan dilaksanakan secara berjamaah di masjid atau di rumah Tuhan, namun pada masa pandemi ini dianjurkan dilaksanakan di rumah.

Dengan melaksanakan ibadah sholat di rumah seolah kita sedang digiring untuk menemukan Tuhan dalam rumah diri, dalam kesunyian yang hening. Rumah diri adalah tempat diri sejati atau jati diri kita. Dengan pandemi ini manusia seolah diingatkan bahwa selama ini sudah terlalu banyak berada di luar rumah diri, menempuh ruang. sehingga perlu dipaksa kembali memasuki rumah diri untuk menempuh waktu.

Pandemi ini mungkin cara Tuhan mengingatkan bahwa selama ini tanpa disadari kita terjebak dalam keriuhan kerumunan (crowd) bahkan dalam hubungan kita dengan Tuhan. Seperti kisah Nasrudin mencari kunci yang jatuh di dalam rumah, namun dia mencarinya di luar rumah hanya karena di luar keadaannya terang benderang, sedang di dalam rumah keadaannya temaram.

Mungkin begitulah kondisi sebagian besar manusia saat ini. Mencari kunci kehidupannya di tengah kemilau dunia, mencari makna kehadiran diri di tengah keramaian, mencari Tuhan di kerumunan. Padahal yang dicari ada di dalam diri, dalam sunyi, dalam kesendirian. Para sufi menyebutnya, “To be alone with The Alone.”

Kisah Nasrudin mencari kunci di luar rumah juga mirip dengan sikap kita dalam merespons pandemi ini. Agama mengajarkan tindakan karantina (lockdown), yaitu agar yang di dalam daerah yang dilanda wabah dilarang keluar, sedang yang dari luar dilarang masuk ke dalam daerah yang dilanda wabah. Namun demikian sebagian besar kita bersikeras mencari kunci solusi pandemi di luar rumah. Kita seperti enggan melaksanakan ajaran karantina tersebut sehingga mobilitas masyarakat tetap diijinkan walau dengan syarat seperti harus lulus uji kesehatan, pembatasan jumlah penumpang, dan sebagainya. Aktivitas ekonomi tetap diijinkan dengan syarat syarat tertentu.

Hasilnya? Orang lain mengatakan negeri kita mengalami gelombang pertama pandemi yang tak kunjung usai (endless first wave). Maksudnya adalah bahwa secara umum angka penularan dan kematian di negeri kita terus meningkat, belum ada penurunan. Coba bandingkan kondisi kita dengan kondisi negeri-negeri yang disiplin melakukan karantina atau lockdown.

Upaya mencari kunci di luar rumah juga tercermin dalam upaya menemukan vaksin dalam waktu sesingkat singkatnya, jauh lebih singkat dibanding penemuan penemuan vaksin sebelumnya. Mungkin dorongan ekonomi yang menyebabkan sikap ketergesa-gesaan demikian. Ternyata bukan hanya dorongan ekonomi yang menghalangi kita untuk kembali ke rumah diri –untuk mencari kunci di dalam rumah, di tempat sebenarnya kunci itu terjatuh– tapi, dorongan untuk tetap eksis, dorongan untuk menyampaikan pernyataan diri juga jadi penghalang. Alih-alih merespons situasi pandemi dengan lebih banyak melakukan refleksi dan introspeksi sebagian kita hanya sekedar memindahkan kegiatannya dari luring (offline) menjadi daring (online).

Media sosial semakin dipenuhi dengan unjuk kegiatan pribadi dan pencapaian diri seakan kita begitu memerlukan pengakuan orang lain. Kita seperti lupa bahwa Tuhan Maha Mendengar dan Maha Melihat serta Maha Mengetahui. Kita seperti lupa dengan ayat, “Cukuplah Allah SWT sebagai saksi.”

Berbagai forum daring diadakan untuk mensubstitusi kegiatan yang sebelumnya biasa dilaksanakan dengan keramaian. Padahal lebih banyak forum daring yang tak substansial melainkan hanya mengejar pengunjung (viewer) dengan motif komersial, atau motif pemenuhan dorongan psikologis untuk merasa tetap eksis. Sebagian pembicara (public speaker) kita seolah tak tahan berpisah dengan audiensnya sehingga membuat acara -acara daring agar bisa tetap melanjutkan kebiasaannya, tetap terkoneksi dengan pengikutnya, tetap eksis di tengah pengikutnya.

Tanpa disadari mereka juga mengulang kisah Nasrudin yang mencari kunci di luar rumah, padahal kuncinya jatuh di dalam rumah. Jarang yang berpikir untuk mengganti kegiatan public speaking-nya dengan menulis, misalnya. Padahal kita tahu menulis memerlukan renungan yang mendalam. Renungan yang memungkinkan kita memasuki relung-relung paling dalam dari kalbu dan pikiran. Selain itu menulis juga memerlukan pikiran yang tertata baik, pikiran yang sistematis dan terstruktur.

Momentum pandemi ini telah memberikan kemewahan kepada kita berupa ketiadaan waktu perjalanan ke tempat kerja. Waktu perjalanan yang di kota besar bisa menghabiskan 2-4 jam per hari untuk pergi pulang dari rumah ke kantor dan sebaliknya. Tapi, sebagian kita luput memanfaatkan tambahan waktu tersebut untuk lebih banyak mendalami agama, untuk lebih banyak membaca kitab suci dan untuk lebih banyak merenung. Jika kita bersungguh-sungguh (berjihad) dalam mengisi momen pandemi ini dengan merenung, insya Allah kita akan diberi petunjuk oleh Allah SWT. Baik yang sungguh-sungguh merenung untuk menemukan makna di balik realita pandemi ini, maupun yang sungguh-sungguh merenung untuk mengupayakan solusi dalam merespons realita berupa pandemi ini.

Apa yang dicapai oleh Masjid Salman ITB dengan inovasi ventilator Vent-I merupakan hasil dari kesungguhan renungan Dr. Syarif Hidayat dan timnya dalam mengupayakan solusi (amal shaleh) sebagai respons terhadap pandemi. Begitu juga dengan yang dilakukan Tim UGM dengan penemuan GeNose-nya.

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh (berjihad) di jalan Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta muhsinin (orang-orang yang berbuat baik).” (QS Al-Ankabut [25]: 69)

Sebagian kita berdalih bahwa aktifitas daringnya dilakukan untuk mengatasi kebosanan selama berdiam di rumah saja. Padahal kondisi bosan atau jenuh adalah satu-satunya kondisi yang bisa mengantarkan manusia untuk mendekat kepada Tuhan. Hanya kebosananlah yang akan mengantarkan manusia untuk meninggalkan kondisi yang ada demi mencari hal yang lebih tinggi, lebih mulia dan lebih bermakna. Tanpa rasa bosan manusia menjadi stagnan, berhenti pada urusan pemenuhan keperluan fisik dan psikologis.

Bosan yang dialami selama masa pandemi ini idealnya mengantarkan kita untuk menemukan hal-hal yang lebih tinggi, lebih mulia, lebih bermakna melalui renungan mendalam selama kita berdiam dalam rumah diri. Mengantarkan kita pada pemaknaan hidup, mengantarkan kepada makrifat ilahi yang memuaskan dahaga ruhani kita.

Kembali ke kisah Nasrudin tadi, jika kita masih mencari kunci di luar rumah diri –padahal kita tahu kuncinya jatuh di dalam rumah– yang merupakan tanda kita masih terperangkap dalam kemilau dunia luar, tanda bahwa kalbu kita masih dipenuhi dengan gejolak hasrat duniawi. Jika bosan dan jenuh kita gagal mengantarkan pada pencarian hal hal yang lebih tinggi, lebih mulia serta lebih bermakna maka bagaimana mungkin Tuhan hadir dalam kalbu? Bagaimana Tuhan akan menyapa dan menyambut? Padahal Dia menjanjikan jika kita datang dengan berjalan Dia akan menyambut dengan berlari.

Padahal Allah SWT berfirman, “Hanya dengan mengingat Allah-lah maka hati menjadi tenteram.” Dan, kepada jiwa yang telah tenang itulah Allah SWT memanggil untuk dimasukkan ke dalam surgaNya.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top