skip to Main Content
Ilustrasi: www.pixabay.com

Oleh: Tessa Sitorini

(Jamaah Masjid Salman ITB)

Kalau kita kagum dengan seorang figur, biasanya segala berita tentang yang bersangkutan selalu menarik untuk diikuti. Tidak hanya itu sebagian yang menyatakan dirinya sebagai fans tidak tanggung-tanggung membaca semua versi biografinya, menonton dokumenternya, tahu banyak detail hidupnya, bahkan sampai diikuti. Tinggalnya di mana, apa makanan favoritnya, apa kendaraannya, siapa pasangannya, siapa nama anak-anaknya, dan sebagainya.

Saking banyaknya informasi yang diserap, maka si fans seolah-olah sudah mengenal figur favorit tersebut. Padahal ketemu saja belum pernah. Tapi kala ditanya, “Kamu kenal si A?” Secara emosional dia akan lugas menjawab, “Iya dong!” Padahal ada perbedaan cukup signifikan antara mengetahui dan mengenal.

Untuk benar-benar mengenal seseorang, khalifah Umar bin Khaththab memberikan tiga parameter yang patut diamati.

1. “Apakah dia tetanggamu, yang mengetahui perilakumu siang dan malam?” Artinya yang benar mengenal kita adalah yang sehari-hari berinteraksi erat, bisa jadi orang itu adalah pasangan, orang tua, adik, kakak, dan orang yang hidup di satu atap.

2. “Apakah kau pernah berbisnis dengannya?”Masalah uang itu hal yang bisa memicu konflik. Kita bisa kenal kualitas seseorang dari tanggung jawabnya memegang amanah, kesadarannya untuk membayar utang dan memenuhi janji, dan bisa terlihat apakah seseorang itung-itungan dan cenderung pelit atau tidak jika kita pernah punya pengalaman bermuamalah dengannya.

3. “Apakah kau pernah bersama dalam sebuah perjalanan (safar) dengannya?” Sebuah perjalanan baik itu secara fisik atau menempuh sekian lama pasang surut kehidupan akan mengungkap kualitas seseorang seperti apa. Seseorang bisa saja tampak sabar dan baik jika di atas mimbar, di depan kamera, atau di lingkungan tertentu. Tapi coba lihat perilakunya saat menjalani keseharian.

Ada orang bijak yang mengatakan bahwa jika ingin mengetahui karakter seseorang, tanya kepada orang-orang yang tampak lemah yang ada di sekitarnya. Tanya kepada pembantunya tentang perilaku si majikan. Tanya kepada seorang cleaning service atau supirnya jika ingin tahu perilaku si boss. Tanya kepada pramusaji di restauran yang dia biasa makan di sana. Tanyakan tentang bagaimana ia memperlakukan mereka semua. Apakah dengan santun atau sombong? Karena orang akan cenderung mengeluarkan sisi lain manakala berhadapan dengan orang yang dia pikir “lebih rendah” darinya.

My point is this. Kita cenderung cepat menyimpulkan sudah mengenal seseorang hanya karena kita banyak tahu tentang orang tersebut. Tapi selama kita belum pernah berinteraksi dekat dengan yang bersangkutan, semuanya dugaan semata. Belum tentu menggambarkan dengan akurat tentang jati diri orang tersebut. Alias, kita sebenarnya belum kenal.

Nah, sekarang kalau ditanya. Apakah kita kenal Allah Sang Rabbul ‘Alamiin? Pasti jawabannya cenderung ya. Karena sudah merasa shalat berpuluh tahun, tambah shaum tiap bulan Ramadhan plus shaum sunnah, dan umrah pun sudah berkali-kali. Al Quran pun ada beberapa versi di rumah. Belum lagu buku-buku agama yang memenuhi rak-rak buku. Kita mengaku ngefans banget sama Dia, sampai suka meneteskan air mata kalau sedang berdoa berjamaah dengan haru biru. Tapi dengan logika yang sama dengan si fans yang mengklaim mengenal idolanya.

Jujur saja, apakah kita benar-benar mengenal-Nya? Atau Dia sebenarnya masih hanya sekadar rangkaian imaji yang kita reka di benak kita tersusun dari sekian banyak informasi yang kita dapatkan sejak kecil. Meminjam pertanyaan-pertanyaan dari Umar bin Khaththab di atas. Apakah kita benar-benar banyak memiliki pengalaman keseharian dengan-Nya, atau Dia hanya sekadar sebuah obyek yang kita hadapkan selama beberapa menit dalam petak sajadah atau sesekali tempat kita meratap saat sedang membutuhkan sesuatu. Dan ya, sambil meneteskan air mata.

Namun kalau boleh jujur sebenarnya bukan air mata yang ditujukan untuk-Nya, tapi lebih karena kita sedih kehilangan sesuatu, sedih ingat orang yang dikasihi, sedih mengenang sebuah nostalgia lama, sedih khawatir masa depan, dan sekian banyak kesedihan yang sebenarnya tidak bekaitan dengan Dia secara langsung. Tapi toh, Dia dengan sabar mendengarkan. Dengan telaten merawat kita. Dan dengan murah hati menjawab dan mengabulkan sekian keinginan kita. Walaupun sekali lagi kalau boleh blak-blakan, Dia bukan objek yang kita tuju. It’s basically based on the love of ourself. A selfish love.

Untunglah Allah menurunkan figur-figur para nabi sebagai contoh orang-orang yang tidak hanya mengetahui Allah tapi juga mengenal-Nya agar bisa kita tiru. Mereka adalah orang yang bertetangga dekat dengan Allah. Setiap saat selalu dalam dzikir, bagi mereka istilah “Allah lebih dekat dari urat nadi” bukan sekadar jargon, tapi mereka hidup dengan itu. Karenanya seorang Zakariya as yang berdoa puluhan tahun memohon dikaruniai keturunan bisa melontarkan sebuah ungkapan yang diabadikan dalam Al Quran, “Aku tidak pernah kecewa berdoa kepada-Mu.”

Bagi orang yang “bertetangga dekat” dengan Allah tujuan dari berdoa adalah agar semakin dekat kepada-Nya, terlepas doa itu dikabulkan atau tidak. Karena ia menjadikan sebuah kebutuhan atau permintaan sebagai sarana saja untuk bisa bermunajat kepada-Nya. Para Nabi juga adalah orang yang sering berniaga dengan Allah. Dan Dia Maha memegang janji, karenanya keteguhan imannya demikian kuat.

Seperti nabi Ibrahim yang walaupun sudah dikepung oleh bara api yang akan melumat habis tubuhnya tetap tenang dan menolak bantuan malaikat Jibril as – karena yakin Tuhannya akan menolong. Dan benar, Allah kemudian membuat jilatan api tidak terasa panas untuk Ibrahim as.

Kemudian betapa kita selalu terkesan atas kesabaran seorang Ayyub as yang menanggung sebuah perjalanan diruntuhkan hidupnya bersama Allah, akan tetapi sesuatu yang baru dibangun di atas reruntuhan itu. Bahwa apa-apa yang hilang akan selalu diganti dengan yang lebih baik.

Sekarang, bagaimana dengan kita? Apakah pernah bertetangga dekat dengan-Nya? Bermuamalah langsung dengan-Nya? Menempuh sebuah takdir-Nya bersama? Di mana posisi Dia di hati selama ini?

Akhirnya kita akan melihat bahwa semua ujian yang pernah menyakiti, sebuah episode kegagalan, sebuah keterpurukan, sebuah kerugian, bahkan sebuah tragedi sekalipun bukan sekadar “kesialan” dalam hidup, tapi itu sebuah sapaan dari-Nya yang ingin memperkenalkan Diri kepada kita. Karena tanpa pelucutan objek-objek tempat kita bersandar dan bertumpu itu, Dia tidak pernah dikenali.

Artinya kefakiran, kesempitan, ketidakpastian hidup itu, adalah sebuah keniscayaan sebagai jembatan untuk mengenal-Nya. Yang dengan itu kita jadi punya pengalaman tidak meminta kepada siapapun, tapi kok, ada yang mendengarkan jeritan hati kita, merasakan pernah disembuhkan oleh-Nya ketika semua dokter sudah angkat tangan, pernah tiba-tiba diselamatkan saat secara logika itu tidak mungkin. Di saat-saat itulah kita menjadi lebih mengenal-Nya Sang Rabbul ‘alamiin. Yang selama ini memelihara kita. Dan itu dijalin di setiap waktu, hingga datang saatnya kita beralih ke alam barzakh kita baru bisa menjawab pertanyaan pertama yang pasti akan kita hadapi nanti, “Man Rabbuka?” (Siapakah Tuhanmu)? Dan hanya mereka yang sudah mengenal-Nyalah yang bisa menjawab pertanyaan itu…[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top