skip to Main Content

Rumah Allah tersebar di seluruh bumi. Tak terkecuali, di Negeri Sakura, Jepang. Negara yang berada di kawasan Asia Timur ini bukanlah negara dengan penduduk Muslim yang banyak. Populasi Muslim hanya sebesar 0,1% dari keseluruhan. Itu pun, hampir 90 persennya merupakan warga pendatang. Meski begitu, persebaran Islam tumbuh begitu cepat. Masjid, sebagai sentra dakwah dan kegiatan umat Islam menjadi kian dibutuhkan. Termasuk di kota Ibaraki, yang terletak di prefektur Osaka.

Masjid Ibaraki diresmikan berdiri pada tahun 2006. Butuh waktu 25 tahun bagi komunitas Muslim di sana hingga dapat mendirikan pusat aktivitas keislaman di utara Osaka tersebut. Masjid itu kerap ramai didatangi jamaah maupun wisatawan. Lokasinya yang berdekatan dengan Universitas Osaka, membuat Masjid Ibaraki menjadi tujuan utama mahasiswa asing yang beragama Islam sebagai tempat ibadah. Tak hanya mahasiswa. Kalangan ekspatriat dari berbagai negara pun sering mendatangi masjid ini.

Pada Sabtu (16/01/2021) lalu, Masjid Ibaraki “dibuka” bagi mereka yang ingin “mengunjungi” masjid tersebut secara virtual. Melalui ajang “Discover Ibaraki Mosque”, Wakaf Salman ITB mengajak peserta “berkeliling”, melihat-lihat masjid yang ramai didatangi umat Muslim antar negara itu. Dalam virtual tour, peserta dapat melihat kekhasan interior dan arsitektur bangunan khas Jepang yang tetap dipertahankan. Bedanya, adanya mihrab untuk imam shalat serta lantai bangunan beralaskan sajadah. Tersedia pula sudut yang diisi buku-buku dan mushaf Al-Qur’an.

Menariknya, Masjid Ibaraki mulanya adalah rumah tinggal warga setempat. Bangunan dua lantai itu pun dialihfungsikan menjadi sebuah masjid. Lantai satu untuk jamaah laki-laki, sedangkan lantai dua untuk jamaah perempuan. Hal unik lainnya, bagian yang dulu berfungsi sebagai dapur masih ada, dan kini disulap menjadi tempat penyimpanan frozen food halal. Makanan beku tersebut pun bebas dibeli oleh jamaah.

Bagi komunitas Muslim di Osaka, Masjid Ibaraki bukan sekadar tempat shalat. Di sana pulalah, mereka mengadakan perayaan hari-hari besar Islam, pendidikan agama, serta kegiatan sosial lainnya. Banyak generasi muda Muslim yang lahir dan besar di Jepang menimba ilmu di sana. Ada pula kelas intensif belajar shalat bagi mualaf, serta kegiatan cultural exchange dan pemberian bantuan sosial bagi masyarakat yang membutuhkan.

Jamaah Terus Bertambah

Perjuangan dakwah di Jepang itu tidak mudah. Menurut Haji Kyoichuro Sugimoto, Ketua Pusat Kebudayaan Islam Chiba, ada empat tantangan utama berdakwah di Jepang. Yakni, berdakwah pada nonmuslim, dukungan pendidikan agama untuk mualaf, pendidikan Islam bagi generasi muda, serta integrasi sosial.

Meski begitu, ada peluang untuk jalan masuk dakwah, mengingat nilai budaya Jepang dan ajaran Islam memiliki banyak kesamaan. Itulah mengapa, kehadiran Masjid Ibaraki sangat berperan. Meski, masih terbatas. Dalam pelaksanaan shalat Id saja pengurus masjid harus menyewa gedung lain, mengingat kapasitas masjid yang tidak mampu menampung jamaah.

Pengurus sendiri telah berencana mengadakan proyek perluasan area masjid. Perluasan area ini nantinya akan digunakan untuk sarana ibadah dan pendidikan. Wakaf Salman ITB bersama Hajj Kyoichiro Sugimoto pun mengajak masyarakat Indonesia berkontribusi dalam pembangunan masjid tersebut lewat acara “Disover Ibaraki Mosque”. Hingga akhir acara, Wakaf Salman ITB dan pengurus Masjid Ibaraki berhasil mengumpulkan dana wakaf hingga Rp 92.257.712,-. Penyelenggara berharap, pembangunan Masjid Ibaraki dapat memperkuat kegiatan dakwah di negeri Jepang.[Nurul]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top