skip to Main Content
Foto: itb.ac.id

Oleh: Adhi Fikri

(Alumni Unit Pembinaan Anak Salman (PAS) Semester 36)

Dulu orang Arab menamai hari sesuai dengan jumlah bilangan, 1, 2, 3, 4 dan 5. Sehingga hari pertama disebut احد ahad, artinya satu. Hari kedua disebut اثنين itsnain, artinya dua. Dalam bahasa Indonesia disebut Senin. Hari ketiga disebut ثلاثاء tsulasa — dari kata ثلاثة tsalatsah artinya tiga —dalam bahasa Indonesia disebut Selasa. Hari keempat disebut اربعاء arbi’a, dari kata arba’ah artinya empat — dalam bahasa Indonesia disebut Rabu. Hari kelima disebut خميس khomis, dari kata خمسة khomsah artinya lima —-dalam bahasa Indonesia disebut Kamis.

Kelima hari di atas adalah hari kerja buat mereka. Uniknya adalah hari keenam tidak dinamai; سادس sadis, artinya enam. Mereka memang bekerja 5 hari saja. Hari keenam mereka sebut hari arubah (يوم العروبة), Hari Berbangga Diri sebagai orang Arab.

Mereka berkumpul di pasar-pasar untuk menunjukkan hasil kerjanya. Para pedagang akan memamerkan kekayaannya. Para penyair akan memamerkan syair-syairnya. Para dukun akan memamerkan mantra-mantra ajaibnya. Sementara para penyihir akan memamerkan rumus untuk mencelakakan orang lain. Lalu, pemenangnya akan dijadikan tokoh bagi orang arab. Bahkan syair yang terindah, akan ditempelkan syairnya di Ka’bah.

Ya, hari keenam adalah hari saling memamerkan kehebatan, agar tampak hebat di depan orang banyak. Sementara Kaum miskin, bodoh dan lemah semakin tersingkir dari pergaulan.

Sebelum nabi hijrah ke Madinah, turunlah ayat berikut,

ياأيها الذين امنوا اذا نودي للصلاة من يوم الجمعة فسعوا لاىي ذكرالله وذوا البيع ذلكم خير لكم ان كنتم تعملون

“Hai orang beriman, apabila diseru untuk shalat pada hari Jumuah (Jum’at) maka bersegeralah mengingat Allah dan tinggalkanlah aktivitas jual-beli (segala bentuk interaksi). Itu lebih baik untuk kamu, jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Jumuah [62]: 9)

Setelah itu hari arubah berganti nama menjadi hari jumuah. Jumuah (جمعة) dalam bahasa arab berarti (الألفة المجموعة) “keakraban yang dikumpulkan” (perkumpulan keakraban), saling memperhatikan dan peduli satu sama lain. Jadi jumat itu bukan perkumpulan biasa, yang dalam bahasa Arab disebut ijtima’ (اجتماع).

Ingat, bukan kumpul biasa, shalat lalu pergi tanpa saling mempedulikan keadaan orang sekitar. Orientasi dari hari ini juga berubah, dari hari berbangga diri dengan berpamer, menunjukkan kehebatan diri sendiri, menjadi dzikrullah (mengingat kebesaran Allah).

Kita diajarkan oleh Nabi, untuk mengenali orang-orang sekitar kita. Bagaimana keadaannya? Apa kebutuhannya? Apakah dia butuh pertolongan? Kalau orang-orang berkumpul dan saling memperhatikan satu sama lainnya, InsyaAllah tidak ada orang susah yang tidak terbantu.

Itulah hakikat Jum’at yg dalam bahasa Arab disebut jumuah. Hari berkumpul yang penuh keakraban. Tempatnya di tempat terbaik yaitu masjid (rumah Allah), dan yang mengundangnya adalah Allah Swt.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top