skip to Main Content
Ilustrasi: Pixabay.com

Oleh: Irawan Barnas

Ibu membangunkanku.

“Hah… Ado apo ma?” tanyaku.

“Pasa tabaka (pasar terbakar),” kata beliau. Kulihat beliau menangis. Kulirik jam dinding. Pukul 3.30 pagi. Entah kenapa ingatanku melayang ke pertandingan Elyas Pical vs Caesar Polanco beberapa malam sebelumnya.

Saat itu dada Sabang – Merauke berdegup menyaksikan perjuangan Pical, dan dini hari itu dada kami berdebar menyaksikan api yang berkobar-kobar melahap pasar. Bergegas aku berlari ke teras belakang rumah toko kami. Dari teras lantai dua tersebut terlihat lidah api yang besar, terasa demikian dekatnya dengan rumah kami.

Aku, remaja 13 tahun, berpikir dan khawatir apakah api akan menjalar dari pasar ke perkampungan dan juga akan melahap ruko kediaman kami. Aku diberitahu bahwa papa sudah ke pasar bersama anak-anak tokonya. Besok adalah hari pasar, hari di mana pasar akan jauh lebih ramai dengan kedatangan pedagang dan pembeli dari luar kota. Artinya, satu hari sebelumnya papa sudah mengisi toko beliau di pasar inpres tersebut dengan barang-barang yang cukup banyak, untuk persiapan dagang di hari pasar, Rabu dan Sabtu.

“Aku mau ke pasar,” kataku. Nenek ikut. Beliau juga yang sehari-hari ikut membantu papa berdagang di toko, selain hari Jumat pagi, hari di mana beliau pergi mengaji dan kadang juga mengajak aku. Kami bergegas berjalan kaki. Menyusuri jalan kecil ke arah pesawahan di belakang pasar.

Ada rumah Andung di situ, saudara nenekku. Kami lihat Andung yang sudah 70-an tahun dan bungkuk, sudah dibawa keluar rumah oleh seorang kerabat -yang juga sepuh- yang menjaga beliau. Dari depan rumah Andung kami melihat kobaran api yang tinggi. Sejarak 100 meter, panasnya kuat menerpa ke wajah kami. Sekelebat muncul tanya di kepala, ini masih di dunia, terpaan hawa panasnya sudah luar biasa, entah bagaimana hawanya neraka, batinku.

Aku bertanya-tanya papa ada di mana. Tiba-tiba nenek rebah. Pingsan. Mungkin beliau syok menyaksikan api yang demikian besar, mungkin karena teringat betapa besar perjuangan papa dalam dagangnya yang baru naik kembali dalam 4 tahun terakhir. Masih melekat kuat di ingatan, 4 tahun sebelumnya, toko beliau di Pasa Ateh, pasar utama di kota kecil kami ketika itu, juga habis dilahap api. Masih kuat di memori, hingga hari ini, bagaimana aku dan kakak mengais-ngais barang sisa kebakaran, mencari-cari sekiranya ada yang masih layak pakai. Atau mungkin karena nenek menahan gemuruh di dadanya.

Entahlah. Yang pasti, nenekku dengan tubuh kecilnya itu adalah pribadi yang tangguh. Yatim piatu sejak usia 5 tahun. Dirawat berganti-ganti oleh kerabat sejak belianya. Menikah di usia 16 tahun. Berdagang sampai ke pinggang gunung Marapi dan Singgalang di jaman Belanda dan Jepang. Jika ada sesuatu yang sampai membuat beliau pingsan, mungkin itu adalah kesedihan atau kekhawatiran yang tak terkendalikan.

“Mak… Mak… Jago, Mak…” kata orang-orang.

Saat itulah aku lihat Papa datang. Berkeringat. Jam 4 pagi. Wajah beliau terlihat serius, seperti menahan sesuatu. Aku amati mata beliau, tak setetes pun aku lihat ada air mengambang di sana. Wajah beliau menyiratkan pikir, tapi tak ada raut kesedihan yang terbaca. Lelaki yang begitu tegar, dibentuk oleh jalan kehidupannya.

Beliau mendekati nenek yang masih setengah sadar. “Mak… Awak kamari indak baok apo-apo. Nanti pulang pun indak baok apo-apo juo 
(Mak, kita datang ke sini (ke dunia) tidak bawa apa-apa. Nanti pulang pun (ke akhirat) juga tidak bawa apa-apa),” kata Papa. Beliau menenangkan nenek. Nenek ber-istighfar.

Kejadian di atas melekat kuat di memoriku. Sampai hari ini. Empat tahun sebelumnya, kebakaran pasar membuat Papa harus memulai kembali dagangnya dari awal, pindah lokasi dari pasar utama ke samping rumah kami. Di samping kesulitan, ada kemudahan. Begitu kata ayat suci. Takdir kemudahan pun Allah tetapkan.

Tak lama. Terminal dan pasar utama dipindah Pemda ke dekat rumah kami. Hal yang justru membuka jalan beliau untuk sebuah skala dagang yang lebih besar. Dagang maju, pembeli ramai, orangtua terdampingi, anak-anak pun punya kesempatan untuk melatih jiwa wiraswastanya.

Papa adalah satu dari sedikit saudagar pribumi yang berhasil saat itu di kota kecil kami. Pasar adalah tempat bermainnya sejak usia 10 tahun, sejak beliau mengikuti kakek yang juga pedagang. Beliau memilih mundur dari kuliahnya di Geologi UGM, demi membantu ekonomi keluarganya di pertengahan tahun 60-an. Berulang kali mengalami ujian, kebakaran toko, ditipu pembeli, dikemplang piutangnya, di-bully aparat atau buruh setempat. Sejak masih usia sekolah dasar aku ikut terbiasa menyaksikan, “kerasnya” kehidupan pasar tradisional.

Cerita di atas, adalah cara papa mengajariku melihat kehidupan. Sebuah warisan ilmu yang bermanfaat. Tanpa banyak kata-kata, beliau berjuang untuk penghidupan, hasilnya serahkan pada Tuhan. Boleh memiliki, tapi tidak mengikat hati. Semua adalah titipan. Ketika diberi, terima dan syukuri.

Ketika diambil kembali, lepaskan, relakan, karena semua adalah titipan. Yakin bahwa Allah memperhatikan, bahwa Dia Maha Mengatur Segala.

Teruntuk Ayahanda… Semoga tulisan ini menjadi sebentuk warisan ilmu yang bermanfaat dari Ayahanda, bagi anak cucu, bagi karib kerabat dan generasi berikutnya.

Hutang kita adalah ikhtiar, hasilnya Allah yang menentukan. Apapun, terima dengan tegar dan lapang dada. Ayahanda sudah berulangkali buktikan, dalam tindakan. Tanpa banyak kata.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top