skip to Main Content
Ilustrasi: Pixabay.com

Oleh: Faiz Manshur

(Pengurus Yayasan Odesa Indonesia)

Apa yang Anda pikirkan saat ini?

Saya melontarkan pertanyaan itu bukan untuk menjawab masalah dalam pikiran Anda. Hanya saja kita sedang punya masalah yang sama yaitu situasi corona—yang belum sepenuhnya kita terima. Fakta bahwa kita belum bisa menerima realitas ini adalah: masih kuat kecenderungan kita berpikir tentang pemulihan seperti sedia kala. Realitas pandemi wabah Corona sudah berjalan kelewat 9 bulan. Dan ini tak realistis kita berharap pulih sebagaimana situasi sebelum Pebruari 2020 lalu.

Bulan Maret kita semua resah. Pemerintah mengambil tindakan baru yang sebelumnya tak diprediksikan semua orang. Akhir April kita berharap COVID-19 tuntas. Akhir Agustus mungkin kita berpikir mewujud dan kita pun mereka-reka awal 2021 semuanya sudah normal kembali. Sekarang kita masuk bulan Desember 2020. Adakah yang berpikir semuanya akan normal seperti sediakala?

Saya kira tidak ada. Dilihat dari satu fakta bahwa pergerakan COVID-19 terus merajalela dan membesar, justru kemungkinan tindakannya adalah lebih memperketat interaksi sosial yang bersifat massal.

Berpikir “situasi tidak akan normal dalam jangka panjang” saya kira lebih realitis. Tidak enak dirasa tetapi lebih masuk logika. Sebab, banyak sekali elemen yang mendukung agar kita lebih mengedepankan nalar, artinya harus menghadapi pandemi panjang—ketimbang terus berharap normal yang arahnya sebenarnya lebih ke arah “menghindari masalah”.

Corona adalah masalah besar kesehatan sekaligus kultur kehidupan Dan itu perkaranya meliputi virus yang harus dilawan dengan dua cara umum, yaitu menghindari dan membasminya dengan vaksin. Yang kedua, corona telah menimbulkan petaka sosial dan itu harus disikapi. Dan ketiga, kita harus tetap survive.

Kebetulan kita punya otak. Semoga tetap terpakai dan terus terasah. Semoga pula dengan otak yang kita miliki sikap dan kehendak kita bisa cepat-cepat berubah. Masalah corona adalah masalah konkret yang kita hadapi. Ada yang mendadak kehilangan peluang bisnis, ada pula yang mendadak kehilangan pekerjaan, ada juga yang stabil tetapi dengan kecemasan karena situasi yang tak menyakinkan untuk diprediksi.

Jadi, bagaimana?

Kalau kita pusing, itu baik. Pertanda otak kita masih bekerja. Memusingkan apa, itu yang mesti menjadi fokus untuk dibahas. Jangan-jangan yang kita pusingkan itu urusan yang sekunder. Sebab sebelum corona kita juga punya kepusingan yang barangkali juga kadar atau nilainya sama dengan situasi sekarang.

Mungkin karena kita tak terbiasa fokus dalam urusan internal –yang produktif–yang membutuhkan konsistensi kerja jangka panjang bertahun-tahun sehingga banyak di antara kita dipusingkan oleh urusan yang tak produktif juga, misalnya hanya urusan kehilangan tempat berhura-hura, kehilangan eksis karena kebiasaan bergerombol, atau kehilangan acara pamer. Ada sekian bukti kegiatan sosial berkerumun yang membawa celaka itu juga tidak produktif seperti nekad menggelar acara massal kawinan, belanja bergerombol, dan acara olahraga dengan berkerumun.

Harus diakui, ada masalah sosial di dalam kebudayaan kita yang tidak produktif. Sementara kita sering mengabaikan masalah produktivitas dalam ruang kerja yang lebih penting seperti kewirausahaan, keilmuan, pendidikan anak dalam rumah tangga, dan juga urusan sosial produktif berhaluan empati.

Lebih dari sekadar pusing, ada gunanya kita memperkuat sendi-sendi internal kita; diri kita dalam keluarga dan ladang usaha tempat kita bekerja, keilmuan kita, juga pengembangan komunitas kita agar semakin kuat dalam memperbaiki keadaan.

Setiap kenyataan membawa “pesan di balik kejadian”. Saat makmur pesannya adalah waspada dan yakin bahwa roda kemakmuran tidak akan terus berlangsung. Karena itu harus ada manajemen kontrol untuk investasi (bukan sekadar investasi materi, tapi ilmu dan pengalaman dan jejaring sosial). Saat terjadi kemelaratan, pesannya adalah, berdamai dengan kesengsaraan, mencoba mencari jalan keluar dan harus percaya bahwa kesengsaraan itu tidak akan selamanya terjadi.

Malapetaka Corona sebenarnya bisa diarahkan untuk membangun konstruksi nalar hidup yang baru yang bisa diharapkan menjadi perbaikan, terutama kualitas kehidupan bangsa Indonesia yang sejak dulu tak beranjak membaik dalam hal ekonomi, pendidikan, dan juga kesehatan.

Sebelum ke arah yang lebih rinci dalam perbaikan sendi-sendi kehidupan kultural, ada baiknya kita fokus pada urusan survive. Tentu pengertian survive bagi kelas menengah yang berkecukupan ekonomi bukan sekadar makan dan tempat tinggal, melainkan meliputi aktivitas men-survive-kan manusia dalam konteks terjaganya kesejahteraan.

Ada dua cara survive, yang pertama produktif dan bisa berkontribusi men-survive-kan pihak lain. Ada juga cara survive lain, yaitu kita ingin hidup tetapi merusak, bahkan mematikan pihak lain.

Dari sinilah kita memulai membentuk kultur baru. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top