skip to Main Content
Faiz Manshur. (Foto: swa.co.id)

Oleh: Faiz Mansur (Pengurus Yayasan Odesa Indonesia)

Setiapkali teman-teman dari Kota datang di tempat kami di Odesa, saya sering mendengar ungkapan, “Enak ya di desa; udara segar, tidak macet, masih melihat air mengalir berkelok-kelok, bisa melihat orang mencangkul,” dan apresiasi sejenisnya.

Ungkapan itu memberikan sesuatu pesan bahwa di kota ada ketidakenakan, polusi, kemacetan, dan sejumlah persoalan keseharian akibat ketercerabutan manusia dari alam.

Sementara orang desa bilang ke orang kota; “Ya, beginilah hidup di desa. Susah nyari uang. Sulit pekerjaan. Tidak ada sinyal, anak saya tidak bisa melanjutkan sekolah SMA, penghasilan tak jelas,” dan keluhan sejenisnya.
Dua kutub pemikiran yang berbeda melahirkan keluhan yang berbeda. Masing-masing melihat sisi kelebihan. Kita pun bisa memperjelas perbedaan itu dengan memasukkan dikotomi di atas sebagai perbedaan antara kehidupan modern dengan tradisional. Yang hidup dalam modernisasi punya keluhan, yang tradisional juga. Ini kasus hampir serupa dengan teman saya yang anaknya mengatai “Bapak ketinggalan zaman”, karena anaknya kepingin ponsel baru sementara bapaknya mengeluh dengan bilang ”Dasar anak sekarang. Handphone masih bisa dipakai saja masih minta yang aneh-aneh.”

Supaya lebih lengkap lagi, perlu juga saya masukkan dua kutub keluhan, basisnya kelas. Ada kelas penikmat hidup (kelas menengah yang berkecukupan) dan kelas bawah yang kekurangan. Keluhannya tentu saja berbeda. Sama-sama di perkotaan dan tertimpa macet misalnya, kelas penikmat hidup akan menonjolkan keluhannya pada objektivitas kemacetannya karena mengganggu kenikmatan pertemuan makan malam dengan temannya. Lain urusannya dengan pekerja jasa transportasi; dia mengeluhkan macet karena mengganggu perolehan pendapatannya.

Sayang, saya tidak tahu apakah hewan itu sering berkeluh-kesah. Jika tidak, barangkali keluh-kesah itu akibat kita memiliki kemampuan berpikir lebih maju dari hewan. Jika itu masalahnya, Anda bisa memilih tidak berpikir atau kalau perlu menjual otak agar hidup Anda bebas keluhan.

Adakah cara lain? Ya tentu ada. Orang beragama bisa memakai kaidah bersyukur; jangan memperbanyak keluh-kesah sehingga hidup penuh gundah-gulana. Jika Anda kurang suka pakai dasar keagamaan, bisa juga dengan caranya sendiri, misalnya pakai teori ndableg, atau bahasa anak gaul sekarang memilih jalan “egp” terhadap segala macam problem. Ada pula teori yang intelektual, menerapkan akuntansi mental untuk urusan sosial. Tapi semuanya berujung pada tujuan sama, yakni jangan banyak keluhan terhadap situasi karena lingkungan hidup yang kita keluhkan itu tidak bisa kita ubah, termasuk oleh penguasa, termasuk oleh orang yang banyak uangnya.

Saya tidak sedang mengajak menghilangkan keluh-kesah. Sebab barangkali juga memang habitatnya manusia. Tetapi “memilih” jenis keluhan jelas dibutuhkan. Kata memilih ini menandakan kemerdekaan karena budak tidak punya pilihan, termasuk perbudakan situasi.

Kalau keluhan kita sama dengan keluhan kebanyakan, itu pertanda kita bagian dari kawanan. Seperti kita ketahui, kawanan ternak sekalipun rajin memprotes keadaan, pada akhirnya nasibnya tetap sama, lehernya putus tubuhnya dicincang-disantap predator.

Jadi keluhan kita apa? Coba daftar semua keluhan. Barangkali ada pula nanti pembagian keluhan urusan pribadi yang kurang penting dan keluhan milik orang lain yang lebih penting untuk dibahas lalu dijadikan bagian dari gerakan sosial. Kita sortir semua keluhan. Sebagian kita packing, dijual ke toko online, sebagian kita lempar ke laut.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top