skip to Main Content
Ery Djunaedy. (Foto: www.facebook.com/erydjunaedy)

Oleh: Ery Djunaedy
(Ketua Umum Karisma Periode 13/tahun 1992-1993)

Setelah aktivitas pagi, saya berhenti sejenak untuk sholat Dhuha. Selepas sholat saya berdoa, agar Allah menunjukkan saya jalan yang lurus. Agar Dia memudahkan saya memilih aktivitas yang sesuai dengan kehendak-Nya. ‘Kan dari berbagai aktivitas yang antri di hadapan kita, hanya ada satu yang paling haq untuk kita kerjakan saat itu.

Karena menurut pemahaman saya yang saya harus lakukan adalah fokus ke program marketing, maka terucaplah doa saya. Agar Allah memudahkan saya dalam mengerjakannya. Agar Allah melunakkan hati audiens saya, untuk bisa menangkap pesan yang ingin saya sampaikan. Gampangnya mah, sing payu dagangan, teh.

Sounds familiar?

Yang menjadi masalah adalah: apa efek dari doa tadi? Pastinya kita wajib berprasangka baik kepada Allah. Sehingga setelah berdoa, maka kita tidak boleh berpangku tangan. Saya pun langsung kembali ke program marketing kami. Menyusun materi, merumuskan pesan, menyiapkan email, dan berkeyakinan bahwa yang sampai bukan hanya email-nya, tapi juga pesan yang terkandung di dalamnya. Minimal jadi ilmu, syukur-syukur jadi duit.

Ilustrasi: Pixabay.com

Kenapa? Karena saya sudah memanggil-Nya dengan nama-Nya Al-Razzaq, Yang Maha Memberi Rejeki, pastilah Dia akan memberi saya rejeki. Saya sudah memanggil-Nya dengan nama-Nya Al-Lathif, pastilah Dia akan melembutkan hati manusia dalam menerima pesan kami.

Sounds familiar? Begitulah asumsi kita tentang cara kerja doa. At least, itulah asumsi saya tentang cara kerja doa.

Sampai datanglah seorang ibu tua berjualan keset. Pintu pagar yang tertutup dibukanya sendiri, dan dia tiba-tiba sudah ada di depan pintu rumah yang terbuka. Saya keluar, dan bertanya. Beliau menjawab mau menawarkan keset. Saya langsung bilang, bahwa saya tidak perlu keset, dan langsung balik kanan masuk lagi. Tanpa menutup pintu.

Sesampainya di dalam, istri saya bertanya ada apa, dan saya jelaskan kejadiannya. Eh, ternyata dia memang sedang perlu keset. Jadi keluarlah istri saya ke halaman. Ibu tua penjual keset sudah tidak ada lagi.

Saat itulah saya menyadari, bahwa ibu tua itu adalah doa saya yang datang kepada saya.

Ilustrasi: Pixabay.com

You see, ketika kita meminta kepada Allah sebagai Al-Razzaq, maka kita selalu berharap dapat rejeki. Ketika kita meminta kepada Allah sebagai Al-Lathif, maka kita selalu berharap bahwa Allah melembutkan hati orang lain. Itu asumsi kita.

Bisa seperti itu, tapi ternyata tidak harus seperti itu.

Ketika kita meminta Allah sebagai Al-Razzaq, boleh jadi Allah akan mendudukkan kita terlebih dahulu sebagai jalan rejeki untuk orang lain. Ketika kita meminta Allah memberi kita rejeki, Allah juga ingin melihat apakah kita ridho bila didudukkan sebagai penyalur rejeki orang. Allah akan melihat apakah kita menerima kedudukan itu dengan senang hati, atau dengan enggan? Lhah, sedang minta duit, tapi belum dikasih duit, malah diminta menyalurkan rejeki untuk orang lain.

Bukankah kita belajar Asmaul Husna agar kita bisa mengadopsi nilai-nilai sifat Allah itu ke dalam diri kita. Kita berharap Allah akan berlaku Al-Razzaq kepada kita, tentunya Allah ingin melihat apakah kita juga bersedia menyalurkan rejeki orang lain dengan harta yang diberikan kepada kita.

Begitu juga ketika kita meminta Allah untuk berlaku Al-Lathif, agar Dia melunakkan hati orang lain kepada kita. Maka Dia akan mendatangkan skenario untuk melihat, apakah hati kita juga lunak kepada permintaan orang lain?

Ternyata saya belum ke situ. Ternyata saya terlalu dismisif, dan melihat segala sesuatunya hanya dalam kerangka syariat: saya tidak perlu barang itu, ya sudah mohon maaf, saya tidak beli. Padahal Allah sudah ingin melihat kita beroperasi dalam kerangka yang lebih tinggi dari itu.

Bersediakah kita menyalurkan rejeki kepada orang lain, dengan uang kita yang sedang dalam keadaan terbatas, di saat kita berharap Allah melihat kita dengan wajah-Nya yang Al-Razzaq?

Bersediakah kita berlaku lembut kepada orang lain, di saat kita berharap Allah Al-Lathif akan melembutkan hati orang lain?

Ibu tua penjual keset itu menawarkan dagangannya yang berharga puluhan ribu rupiah saja. Boleh dibilang, kalau kita beli pun, tidak akan mengurangi uang kita. Ini pun sudah membuat saya menyesal tidak membeli.

Tapi yang paling membuat saya menyesal tidak membeli adalah sikapnya dalam menghadapi penolakan: amat sangat bermartabat. Setelah saya meminta maaf karena tidak membeli, yang dia lakukan adalah langsung keluar dari halaman rumah saya, dan menutup kembali pintu pagar, dengan tenang, tanpa suara. Tidak ada menawar, tidak memanggil-manggil lagi, tidak berteriak, tidak banting pintu. Sangat bermartabat.

Mungkin ibu itu tergolong mereka yang disebutkan oleh Nabi Saw., bahwa “Orang yang benar-benar miskin adalah orang yang tidak berkecukupan, keadaannya tidak diketahui orang sehingga ia tidak menerima sedekah, dan ia juga tidak bangkit untuk meminta-minta.”

Ibu tua itu hanya ingin berjualan, tidak meminta-minta. Saya saja yang terlalu tumpul hatinya, sehingga tidak bisa melihat ketika doa saya sedang datang menghampiri saya.

Bandung, 18 ‘Nov 2020

Semoga jadi pelajaran buat kita semua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top