skip to Main Content
Agus Kurniawan. (Foto: www.facebook.com/goeska)

Oleh: Agus Kurniawan  
(Alumni Salman Komunikasi Aspirasi Ummat (SKAU), kini menjadi pekerja IT profesional)

Dulu melancong atau piknik adalah kelaziman. Sudah biasa bepergian ke lain tempat, lokal atau bahkan mancanegara. Tetapi pada masa pandemi, itu semua dibatasi. Piknik jadi (agak) mustahil. Kerinduan berpiknik pun meletup-letup sampai ubun-ubun.

Tetapi kita mungkin kurang menyadari — dan pandemi membuat kita makin sadar — bahwa melancong itu sesungguhnya lebih sebagai aktivitas mental ketimbang fisik. Melancong adalah engagement, keterlibatan psikis kita terhadap suatu lokasi atau peristiwa yang dianggap memberikan kesan khusus. Lokasi dan peristiwa fisik hanyalah panggung saja.

Apa yang membedakan nyeruput secangkir kopi specialty di beranda rumah dibanding di Cravan, kafe klasik di ruas jalan Rue Jean de la Fountaine, Paris Selatan? Kesan! Hanya kesan yang berbeda. Kopi dan seduhannya serupa.

Ilustrasi: Pixabay.com

Tetapi kesan juga bisa menjengkelkan. Sudah jauh-jauh terbang ke belahan dunia lain dengan biaya selangit, menyusun itinerary secara detail, ternyata malapetaka sederhana menimpa: salah pesan makanan. Keracunan, mabuk. Ujungnya ngendon di hotel, enggak bisa ngapa-ngapain. Kita diam-diam menyesal: andai di rumah saja, nonton travel channel Discovery…

Sebagai aktivitas mental, kesan sangat mudah diakali. Salah satunya dengan buku, piranti murah meriah. Karl May, sastrawan paling ngetop –bukunya paling laris– di Jerman, mengajari kita tentang itu.

Saat kemarin bongkar-bongkar buku lama, saya temukan lagi Winnetou, karya klasik Karl May — sebagian teman pasti sudah hapal isinya. Buku ini berkisah tentang kekariban seorang pengelana Jerman, Old Shatterhand, dengan tetua suku Indian Apache Mescalero bernama Winnetou. Suku Mascalero mendiami daerah berbukit-bukit, yang kita kenal sekarang sebagai New Mexico. Walaupun berasal dari ras yang bermusuhan, keduanya mengikat persaudaraan darah. Saking akrabnya, bahkan kuda mereka pun bersaudara, Iltschi dan Hatatitla.

Foto: Pixabay.com

Karl May seorang penulis yang teliti. Penggambaran novelnya detail: lokasi, peristiwa, juga adat istiadat. Tapi banyak orang tak percaya bahwa saat menulis novel-novelnya itu Karl tak pernah sekalipun ke Amerika. Karl juga tak pernah ke tanah Arab saat menulis novel petualangan lain berlatar kekhalifahan Ottoman, Kara Ben Nemsi. Sampai novel-novelnya terbit, Karl tak pernah keluar dari negerinya, Jerman.

Yang lebih dramatis, Karl justru menulis Winnetou di dalam penjara. Lahir sebagai anak keluarga miskin — 14 bersaudara, sampai usia 30 tahun dia memang hilir mudik masuk bui akibat mencuri. Pernah kursus untuk mendapatkan lisensi guru, tapi lagi-lagi dicabut karena ngutil.

Hidupnya mirip cerita para gangster kroco di Bronx, dari penjara ke penjara. Jika tak sedang dibui, dia mencari makan dengan menipu. Memerankan diri jadi pejabat, polisi, atau dokter. Mengandalkan kepiawaiannya berakting.

Foto: Pixabay.com

Lalu, bagaimana dia bisa tahu dengan persis pernak-pernik Suku Indian Apache dan negerinya nun jauh di belahan bumi lain? Membaca! Ini berkah dibui: karena berkelakuan santun, Karl diangkat menjadi penjaga perpustakaan. Berkah ini mungkin takkan dia nikmati jika jadi orang bebas.

Dia lahap buku-buku bertema petualangan dan kebudayaan, lalu digubahnya novel-novel terlaris sepanjang jaman — laku 200 juta eksemplar!

Mengawali sebagai pecundang yang keluar masuk bui, Karl May pun menutup hidupnya ala kidung Sinatra — “My Way”, menjadi laki-laki terhormat dengan sematan gelar Doctor Honoris Causa dari sebuah Universitas ternama di Amerika.

Jadi, tak usah berkecil hati tak bisa piknik. Di masa pandemi kita tetap bisa melancong ke ujung terjauh dunia. Hanya perlu beberapa buku bacaan, plus mantra sakti Spongebob, “Imagination….”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top