skip to Main Content

Ketua Tim Ventilator Indonesia (Vent-I) Dr. Syarif Hidayat menyatakan timnya akan bekerjasama dengan salah satu perusahaan multinasional asal Jepang. Kerjasama ini adalah langkah untuk memproduksi Vent-I pada fase industri.

“Perusahaannya yang punya reputasi. Salah satu perusaahan yang siap memproduksi ini adalah multinasional corporation dari Jepang yang kalau barang ini diproduksi oleh dia, bisa masuk ke Jepang, Amerika, dan Eropa,” katanya dalam acara “Berbagi Cerita Progress Akhir Vent-I” Jumat (24/07). Acara ini adalah penyampaian Laporan Pertanggungjawaban Vent-I kepada publik.

Menurutnya, sebagai bangsa Indonesia kita harus bangga bila selama ini mengenal barang buatan Jepang biasa dirakit di Indonesia. Namun, kali ini barang buatan anak negeri dirakit oleh perusahaan asal Jepang.

“Perusahaannya 95% punya asing, 5% punya nasional. Pabriknya di Indonesia yang selama ini memproduksi alat buat dikirim ke seluruh dunia termasuk Amerika, Jepang, Eropa. Mereka mau produksi dari kita. Kita harus bangga,” ujar Syarif.

Pengembangan Vent-I tak berhenti begitu saja. Setelah diproduksi massal dan komersil, Syarif dan tim terus melakukan pengembangan dengan tujuan membuat Vent-I tersedia di berbagai rumah sakit.

“Kita ujungnya akan membuat Vent-I seperti (alat) yang ada di rumah sakit, yang harganya ratusan juta. Target kami tentu harus lebih murah (harganya),” jelasnya.

Selain itu, Tim Vent-I akan terus berinovasi menciptakan alat lain yang tidak kalah diperlukan, yaitu High Flow Nasal Cannula (HFNC). Alat ini akan berguna baik untuk pasien COVID-19, asma, maupun TBC.

“Pada dasarnya kita akan jadikan momen ini untuk memberikan alat kesehatan yang terjangkau,” ujarnya.

Pengembangan ventilator yang menggerakkan ratusan orang ini telah membangun ekosistem untuk menghasilkan inovasi-inovasi baru. Dari Vent-I, sekitar 70 orang tenaga terlibat dalam mengembangkan alat ini. Sedangkan 170 orang memproduksi Vent-I guna membantu pasien di masa COVID-19. Tak hanya Syarif, dosen, jajaran tenaga medis, para pelajar dan mahasiswa pun ikut terlibat dalam proyek ini.

“Kira-kira tersebar di Polman 50 orang, Polban 30 orang, Masjid Salman 60 orang, dan siswa SMK 25 orang,” kata Pembina Masjid Salman ITB ini.

Program yang dijalankan mulai dari pertengahan Maret hingga akhir Juli ini merampungkan 1000 Vent-I untuk didonasikan ke seluruh provinsi. Syarif menyebut kali ini tim sedang dalam produksi tahap akhir sebanyak 100 unit.

“Paling lambat awal minggu depan sudah selesai. Nunggu komponen yang datang hari ini. Akhir Juli target 1000 unit sebelum akhir bulan selesai,” pungkasnya.

Vent-I yang Sederhana
Dokter Ahli Anestesi dan Tim Konsultan Medis Vent-I, dr. Ike Sri Redjeki menyebutkan bahwa ventilator ini sangat sederhana karena hanya ada 1 mode yakni Continuous Positive Airway Pressure (CPAP) yang bisa dioperasikan oleh dokter umum, perawat, bahkan oleh pasien sendiri.

“Alat ini sehari-hari sudah ada di Indonesia. Sudah dipakai di rumah oleh orang-orang, yang namanya obstruksi napas kalau tidur. Bisa digunakan, tetapi harus disosialisasikan ke seluruh Indonesia. Kapan digunakan, yaitu jangan sampai menunggu pasien sudah gawat,” katanya.

Vent-I menjadi alat yang bisa memenuhi kebutuhan saat ini. Pasalnya, Indonesia tengah menghadapi penyakit yang memengaruhi saluran napas kemudian bergerak dari kelainan ringan sampai sangat berat. Selain itu, melihat kondisi Indonesia, penyakit ini tidak hanya ada di kota-kota besar saja, tetapi sampai ke pelosok.

“Sehingga kita harus memikirkan alat supaya bisa dibagikan sampai ke pelosok. Yang bisa digunakan oleh orang-orang di sana,” ujar Ike.

Karena itu, Vent-I akan berguna ketika pasien sudah mulai sesak atau saturasi oksigenasinya sudah mulai menurun. Dengan pengoperasian Vent-I yang sangat mudah, perawat pun tinggal memasangnya. Bahkan, alat tinggal dibuka jika terasa tidak nyaman.

“Jadi ini alat yang sederhana. Kalau yang biasa ada di ICU–saya ahli anestesi dan intensifikasi–untuk belajar menggunakan ventilator itu tidak bisa satu minggu dua minggu karena itu susah sekali dioperasikan. Karena itu ventilator yang advance, mensinkronkan antara napas pasien dan alat itu susah sekali. Jadi dibutuhkan keterampilan dan kompetensi dan khusus, itu hanya ada di kota-kota besar. Tidak mungkin di daerah-daerah itu, makanya saya pikirkan untuk ini dulu,” paparnya.

Menurutnya, terdapat beberapa fase pada pasien COVID-19. Jika ada pasien dengan fase yang masih bisa makan atau duduk sendiri kemudian sesak, ia hanya membutuhkan oksigen. Namun, jika saturasi dengan udara luar tinggal 93-95 persen, pasien baru memakai Vent-I.

“Untuk pasien COVID-19 kan saluran pernapasannya meradang. Jadi kalau misalnya udaranya dihangatkan dan uap air yang cukup, radang itu bisa diturunkan, dan ini sudah komplit,” kata Ike. [ fathia]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top