skip to Main Content
Foto: liputan6.com

Air zamzam berasal dari sumur zam zam di Makkah yang airnya tak pernah kering sepanjang tahun. Sejarah air ini bermula dari kegelisahan Siti Hajar bersama putranya Ismail, yang ditinggal Nabi Ibrahim AS di sebuah padang tandus. Nabi Ibrahim meninggalkan istri serta putra yang dicintainya karena perintah Allah SWT.

Saat langkah kakinya makin jauh sampai tak terlihat lagi anak istrinya, Sang Nabi memalingkan wajah ke Baitullah seraya berdoa. Doa tersebut diabadikan dalam Alquran surah Ibrahim : 37. “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka & beri rezeki mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”

Allah kemudian mengabulkan doa Nabi Ibrahim. Saat perbekalan Siti Hajar dan Ismail habis, Allah beri keduanya rezeki tak terhingga. Ismail yang terus menangis karena kelaparan menghentak-hentakkan kakinya ke tanah, lalu keluarlah air melimpah. “Zamzam (berkumpullah),” kata Siti Hajar.

Munculnya air tersebut memicu datangnya rombongan burung serta para kafilah yang tengah mencari air juga. Hanya, setelah sekian ribu tahun, sumur itu tertutup hingga tak terlihat sebab tak ada yang merawatnya.

Kakek Nabi Muhammad SAW, Abdul Muthalib, lalu bernazar untuk menggalinya kembali jika dirinya mempunyai banyak anak dan akan mengurbankan salah satunya. Doanya pun Allah kabulkan. Dia dikaruniai 10 anak.

Abdul Muthalib pun berniat melakukan nazarnya, tapi ia ragu siapa yang dijadikannya kurban. Maka untuk menentukannya, Abdul Muthalib melakukan pengundian, kemudian muncul nama ayah Rasulullah, yakni Abdullah.
Hasil undian justru membuat Abdul Muthalib makin ragu sebab dia sangat menyayangi putra bungsunya tersebut. Berkali-kali mengundi, tetap nama Abdullah yang muncul. Sampai akhirnya ada yang mengusulkan agar nama Abdullah diundi dengan unta.

Hanya, tetap saja nama Abdullah yang muncul. Abdul Muthalib lalu menambah jumlah unta yang akan dikurbankan menjadi 100 ekor, setelah itu barulah muncul nama unta. Selanjutnya, Abdul Muthalib menggali sumur zamzam. Berkat itu, air zamzam bisa dinikmati umat Islam di seluruh dunia sampai sekarang.

Sumber: Republika.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top