skip to Main Content

Biasanya seseorang cenderung memberi semangat saat melihat kerabatnya terlihat sedih, down atau sedang mengalami masalah. Sayangnya, enggak selamanya kata-kata penyemangat memberi dorongan positif, malah bisa jadi terkesan negatif atau membuat enggak nyaman. Lho, kok bisa? ⁣

Kondisi tersebut disebut Toxic Positivity. Saat seseorang secara terus menerus mendorong kerabatnya yang sedang kena masalah untuk melihat sisi baik atau hikmahnya, tapi enggak memikirkan perasaan dan enggak memberi kesempatan untuk kerabatnya meluapkan emosi negatif yang ia rasakan.⁣

Studi Psychological Science (2009) menjelaskan, “Anjuran untuk berpikir positif justru bakal memperburuk keadaan seseorang yang sudah menilai dirinya begitu rendah.” ⁣

“Kadang seseorang bukan membutuhkan Positivity tapi empati. Kadang kita bukan butuh disemangati, tapi kita butuh dimengerti,” ujar dr. Jiemi Ardian (@jiemiardian) seorang psikiater RS Siloam Bogor.

Jadi sudah saatnya untuk lebih empati dengan emosi orang-orang di sekeliling kita ya… Pahami dengan hati Insya Allah kita akan saling mengerti dan memahami..😃

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top