skip to Main Content


Suatu hari Rasulullah sedang dihadap oleh para sahabat. Sejenak beliau tepekur dan menunduk dengan wajah khawatir lagi berduka. Namun tak lama setelah itu, beliau tersenyum cerah. Sebagian sahabat pun mempertanyakan perubahan ekspresi Sang Nabi. Rasulullah menjawab,

“Telah diperlihatkan padaku dua orang dari kalangan umatku yang bersengketa di hadapan Allah. Satu di antara mereka berkata, ‘Yaa Rabbi, tegakkan keadilan di antara kami. Dahulu di dunia, saudaraku ini berlaku zhalim dan keji!’⁣⁣
⁣⁣
Orang yang tergugat itu tertunduk malu, menangiskan segala sesal dan takut. Kemudian Allah memanggil sang penuntut dengan lembut dan berfirman kepadanya, ‘Wahai hamba-Ku, angkatlah kepalamu!’⁣⁣
⁣⁣
Maka sang penggugat menengadahkan wajah, lalu terperangah. Tatapan matanya tertumbuk pada sebuah istana yang begitu indah. Dia takjub terpesona. Istana itu terbuat dari permata dan marjan, dibingkai oleh emas, dihiasi mutiara beruntaian.

Istana itu berada di tengah taman yang hijau berkilau dengan gemericik sungai yang mengalir di antaranya. Ia pun bertanya, ‘Duhai Rabbi milik Nabi siapakah istana ini?’⁣⁣
⁣⁣
Dijawab baginya, ‘Tidak harus seorang Nabi yang berhak atasnya.’⁣⁣
‘Atau milik orang shiddiq yang manakah istana ini, ya Rabbi?’⁣⁣
Dijawab baginya, ‘Tidak harus seorang shiddiq yang berhak atasnya.’

‘Jika demikian, bagi siapakah istana ini, wahai Rabbi?’⁣⁣
Allah berfirman, ‘Istana ini akan menjadi milik siapa pun yang mampu membayar harganya.’⁣⁣
⁣⁣
Penggugat itu terbelalak. ‘Berapakah harganya, ya Rabbi? Dengan apakah orang yang menginginkan akan menebusnya? Siapakah yang beruntung bisa memilikinya?’⁣⁣

Allah berfirman, ‘Adalah dirimu mampu membayar harganya. Jika kau memaafkan saudaramu itu, niscaya istana ini akan jadi milikmu!’”⁣⁣
⁣⁣
Maka berteriaklah hamba itu tergembira, dan menyatakan telah memaafkan saudaranya. Begitulah cara Allah mendamaikan kedua hambanya. Pada yang memaafkan, Ia beri istana keampunan di surga. Sedangkan bagi yang dimaafkan, Ia anugerahkan sebuah istana di hadapan istana penggugatnya.⁣ ⁣⁣


Sumber: Lapis-Lapis Keberkahan, karya Salim A. Fillah⁣ @salimafillah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top