skip to Main Content

Ada kegundahan besar dalam diri ‘Uqail bin Abu Thalib RA, sang pengantin, ketika mendengar kawan-kawannya berdoa, “Bir rafaa’I wal baniin. Semoga bahagia dan banyak anak!” Apa yang salah? Padahal doa-doa ini berisi harapan kebaikkan.

Ternyata bahagia bukanlah kebaikan, jika ia melalaikan kita dari ketaatan. Banyak anak bukanlah kebaikan, jika mereka bukan sosok berbakti yang akan mendoakan hingga pahala mengalir sampai sesudah kita mati.⁣

Syukurlah, kegundahan ‘Uqail berujung sebuah Sunnah yang indah. Ialah sebuah tuntunan tentang bagaimana sebaiknya kita mendoakan orang yang menikah. “Janganlah kalian katakan demikian, sesungguhnya Rasulullah telah melarangnya,” kata ‘Uqail.

Lalu bagaimana? “Ucapkanlah, baarakallahu laka, wa baarakan ‘alaika, wa jama’a bainakuma fii khaiir. Semoga Allah karuniakan berkah kepadmu dan semoga Dia anugerahkan berkah atasmu, dan semoga Dia himpun kalian berdua dalam kebaikan.”⁣

Dua penyebutan berkah dalam doa ini memiliki dua makna pula. Pada “laka” atau “kepadamu”, kita memohon berkah kala kesenangan memudahkan lalai, ketika lapang membawakan lupa. Sedangkan pada “’alaika” atau “atasmu”, kita memohon berkah ketika yang sempit dan membuat gundah pun memudahkan lalai, agar senantiasa sabar menghadapi cobaan.

Dalam pinta ketiga, kita berdoa agar suami dan istri selalu bersama dalam kebaikan di setiap keadaan. Inilah doa yang baik, yang menyiratkan puncak segala kebaikan.⁣

Sumber: Lapis-Lapis Keberkahan, karya Salim A. Fillah⁣ @salimafillah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top