skip to Main Content


⁣⁣“Seandainya Rasulullah Saw tidak melarang kita berdoa memohon mati, pasti aku akan berdoa memohon mati.” Demikianlah ucapan Khabbab bin Al-Arat ketika beliau sedang membangun rumah. Meskipun dalam keadaan sakit dan telah mengalami tujuh kali pengobatan kay (terapi dengan besi panas), beliau masih memiliki harta yang banyak.⁣⁣
⁣⁣
Khabbab bin Al-Arat adalah seorang Sahabat yang sangat bertawakkal kepada Allah. Beliau termasuk Sahabat yang mengalami penyiksaan kaum Quraisy pada periode awal fase Makkah. Dengan kondisi pengorbanan dan keteguhan hatinya, mustahil ungkapan ucapan tersebut disebabkan karena ketidaksabarannya atas penyakit yang tak kunjung sembuh.⁣⁣
⁣⁣
Khabbab telah hidup sejak masa awal Islam dengan tidak memiliki harta sedikitpun. Pada masa kemakmuran era Khulafau Rasyidin beliau kini hidup dengan memiliki 80.000 dirham, dan pada saat itu nyaris tidak ditemukan orang miskin. Khabbab tidak pernah mengikat hartanya, tidak pula menahannya untuk berbagi. Bahkan, beliau terpaksa menyalurkan hartanya untuk membuat rumah, meskipun menyadari bahwa membelanjakan harta semacam itu tidaklah mendatangkan pahala.⁣⁣
⁣⁣
Meskipun ada Sabahat lain yang memiliki kekayaan lebih banyak, Khabbab merasa kekayannya itu sebagai cobaan berat. Dia takut dan merasa rugi dengan bertambahnya kekayaan akan semakin semakin mengurangi pahala di akhirat. Beliau bahkan iri kepada Mush’ab bin ‘Umair yang syahid hanya meninggalkan satu helai pakaian. Perkara inilah yang sudah tidak mampu dijalani oleh Khabbab bin Al-Arat, sehingga dia ingin berdoa memohon mati agar kesenangan di akhiratnya tidak terus dikurangi. Namun, tentu saja beliau tidak mengamalkannya karena memohon mati hukumnya haram
⁣⁣
Tertanamnya perasaan kekhawatiran akan berkurangnya kenikmatan di akhirat, dapat menghadirkan perasaan sedih ketika hidup memiliki banyak harta. Sehingga, akan menimbulkan pula perasaan merasa cukup akan apa yang diberikan Allah ketika memiliki keterbatasan harta.⁣⁣
⁣⁣
Dirangkum dari : Nashruddin Syarif. Hidup Kaya Mengurangi Pahala. Rubrik Syarah Hadits [Majalah Risalah no. 6 th 57: 42-45]⁣⁣

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top