skip to Main Content

Alkisah diceritakan bahwa Korea Selatan dan Korea Utara ingin bersatu. Itulah sinopsis film The King 2 Hearts. Belajar dari film tersebut, keinginan mulia selalu tidak mudah untuk diwujudkan.

Dalam film itu diceritakan bahwa ada pihak yang menentang keras keinginan bangsa Korea untuk bersatu. Perusahaan hitam itu merasa terancam, dan ingin menggagalkannya. Mereka melakukan apapun supaya bangsa Korea yang terpecah akibat Perang Dunia II itu tidak akan pernah bersatu.

Karena hanya kisah sebuah DraKor, Drama Korea, tentu saja plot cerita itu hanya imajinasi sang penulis cerita. Tapi dalam kehidupan nyata, kita pun sering menemukan cerita yang serupa. Betapa rencana mulia selalu menghadapi rintangan yang tidak ringan.

Contohnya, keinginan Indonesia untuk bertransformasi menjadi bangsa produsen. Sudah sering (anak) bangsa ini mencoba bertransformasi dari bangsa konsumen yang sukanya belanja, menjadi bangsa produsen yang bangga membuat sendiri barang yang mereka butuhkan.

Contoh paling fenomenal tentu saja keinginan mulia bangsa ini memproduksi pesawat terbang tercanggih di kelasnya pada tahun 90an. Pesawat dengan teknologi termaju pada zamannya, fly by wire, berhasil dibuat anak bangsa. Uji terbang juga berhasil dengan baik. Dan toh, akhirnya mejen juga di tengah jalan. Mejen karena faktor eksternal maupun faktor internal.

Kini, di tengah pandemi Covid-19, kembali anak bangsa mencoba peruntungannya. Belasan inovator mencoba membuat ventilator dengan berbagai fitur. Ada yang invasive, ada yang non-invasive. Ada yang menggunakan pompa, ada pula yang mengaplikasikan teknologi pneumatik. Banyak juga yang mengadopsi design dengan ambu bag. Semuanya punya niat yang mulia: ikut memerangi pandemi Covid-19 sekaligus membongkar mitos bahwa bangsa ini bisanya hanya belanja saja.

Di tengah optimisme yang sedang menggelegak, apalagi sudah ada ventilator yang sudah bisa lolos uji, tiba-tiba di media sosial tersebar video yang mendelegitimasi peran ventilator. Di video itu dikisahkan ada seorang pasien Covid-19 yang tidak dapat diselamatkan lagi. Dengan sangat dramatis, ditunjukkan lendir yang sangat kental dan sangat banyak yang mesti dikeluarkan dari mulut sang pasien.

Tanpa narasi yang menggebu, orang yang menonton video itu akan mengambil kesimpulan bahwa ventilator memang tidak cocok untuk menyelamatkan pasien Covid-19. Ngapain repot-repot bikin ventilator? Bagaimana mungkin ventilator bisa menolong ketika lendirnya begitu banyak dan kental? Bukankah udara yang didorong paksa ke dalam saluran pernapasan justru akan mempercepat pasien meninggal dunia?

Begitu kira-kira pesan yang ingin disampaikan oleh orang yang memviralkan video itu. Mungkin niatnya baik, tapi dia tidak sadar bahwa itu kampanye negatif untuk melawan cita-cita anak bangsa yang ingin bisa mandiri membuat ventilator sendiri.

Karena di sebuah group ada yang khusus membahas video itu, saya pun tergerak untuk mengklarifikasinya. Tentu sebelum memberikan klarifikasi, saya konsultasi lagi pada tim dokter yang selalu mendampingi tim pengembang Vent-I. Benarkah ventilator itu kontra produktif untuk menyelamatkan pasien Covid-19?

Karena pertanyaan ini sudah beberapa kali saya sampaikan, mungkin para dokter senior itu jengah juga ke saya. Kok gak ngerti-ngerti sih, kan sudah beberapa kali dijelaskan? Tapi karena beliau tahu niat baik saya, beliau pun mengulangi lagi penjelasannya lebih rinci. Bahwa ventilator jenis non-invasive, ventilator CPAP (Continues Positive Airway Pressure), justru sangat diperlukan untuk membantu pasien Covid-19.

Sekali lagi dokter senior itu menjelaskan bagaimana ventilator non invasive bisa mencegah kondisi pasien Covid-19 jatuh lebih buruk lagi, asal dipakai pada saat yang tepat. Kuncinya adalah menjaga saturasi oksigen pasien supaya tidak drop. Karena kalau kadar oksien dalam darah drop, efeknya bisa kemana-mana.

Organ tubuh banyak yang terganggu, akan terjadi komplikasi, dan tubuh tidak sanggup lagi bertempur melawan virus Corona yang ganas itu. Akibat spesifiknya, muncul mukosa tubuh yang berlebihan di sistem pernafasan, yang membuat fungsi pernafasan terganggu. Dan seperti bola salju yang terbntuk dengan sangat cepat, pasien pun tidak dapat diselamatkan lagi.

Bagaimana ventilator CPAP bisa mencegah hal itu? Bagaimana ventilator CPAP bisa mempertahankan saturasi oksigen?

Syaratnya, ventilator CPAP tidak boleh terlambat dipakai. Ketika pasien Covid-19 sudah pada stage II, mengalami hipoksia, mulai kesulitan nafas, pasien harus segera ditolong dengan ventilator CPAP. Sekali lagi tujuannya adalah menjaga agar saturasi oksigen supaya tidak drop. Dengan menjaga saturasi oksigen, kerusakan organ tubuh bisa dicegah, dan tubuh punya daya untuk melawan virus jahat ini.

Pada saat yang sama dokter dapat menetralisir dampak virus pada berbagai organ dengan obat-obatan dan meningkatkan imunitas tubuh, dan akan lebih mudah karena organ tubuh tidak rusak karena saturasi oksigen yang terjaga oleh ventilator CPAP.

Saya tidak tahu apakah Jerman menggunakan strategi seperti itu, sehingga angka kematiannya sangat rendah dibandingkan dengan negara-negara yang lain. Bisa jadi Jerman menggunakan strategi seperti itu, karena toh vaksin Corona belum ditemukan. Obat untuk membunuh virus jahat itu juga belum ditemukan. Jerman juga jelas-jelas tidak akan mengikuti saran konyol Presiden Trump untuk menggunakan disinfektan sebagai obat.

Kembali ke laptop. Yuk kiita terus dukung upaya anak bangsa untuk mandiri membuat ventilator sendiri. Jangan terlalu bersemangat menyebarkan video atau informasi apapun yang melemahkan upaya ini. Jangan-jangan video dan informasi itu adalah hoax yang tendensius.

Salam,

Hari Tjahjono

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top