skip to Main Content

Suatu hari di sebuah sidang kerajaan Nabi dan Raja Sulaiman a.s., seorang bawahan raja sangat ketakutan, karena ia melihat seseorang yang memiliki tatapan yang menyeramkan, sangat tajam dan sangat dalam menatap kepada dirinya begitu lama.

Selesai sidang, ia tergopoh-gopoh menemui Raja Sulaiman, bercerita tentang tatapan orang itu yang membuatnya sangat ketakutan. .
“Wahai Raja,” kata si bawahan. “Aku sangat takut. Tolong perintahkan angin untuk membawaku ke India saja. Biarkan aku di sana beberapa lama untuk menenangkan diri. Aku tak sanggup lagi jika harus bertemu orang itu lagi dalam sidangmu yang lain.”

Raja Sulaiman mengabulkan permintaannya. Ia lalu memerintahkan angin untuk membawa bawahannya itu ke India. Setelah itu, Raja Sulaiman bertanya kepada orang itu, yang sebenarnya adalah malaikat maut. “Apa yang membuatmu begitu marah kepada bawahanku itu,” tanya Sulaiman, “Sehingga kau menatapnya sebegitu rupa, dan membuatnya sangat ketakutan?”

“Oh tidak, aku tidak marah atau benci kepadanya,” kata malaikat maut. “Hanya saja aku sangat heran ketika tadi aku melihatnya di istanamu ini, di Yerusalem. Sebab Allah telah memerintahkan agar aku mencabut nyawanya nanti sore di India.”

Malaikat maut melanjutkan, “Bagaimana mungkin aku diperintahkan untuk mencabut nyawanya nanti sore di India, sedangkan tadi ia masih ada di Yerusalem? Kalau pun ia punya seratus sayap, kupikir ia tak akan mampu. Aku menatapnya seperti itu karena memikirkan apa yang akan Allah perbuat kepadanya dan kepadaku.”

Nah. Apapun yang kita lakukan, sebenarnya cuma semakin mendekatkan kita pada maut.

(Dikisahkan ulang dari sebuah puisi Jalaluddin Rumi oleh Herry Mardian)

Untuk berwakaf, kunjungi @wakafsalman.itb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top