skip to Main Content

Bersamaan dengan munculnya wabah COVID-19, tentu Anda sering mendengar imbauan untuk “Jangan panik”. Namun, ternyata komunikasi krisis yang baik bukanlah mencegah panik, melainkan membangun ketangguhan masyarakat. Hal ini disampaikan Dr. S. Kunto Adi Wibowo, Direktur Lembaga Survei Kedai Kopi dalam Kajian Siaga Wabah (Kiswah), Senin (20/04) lalu pkl. 10.00-12.00 WIB.

Diskusi online ini adalah kerjasama Studia Humanika Salman ITB dan Kamil Pascasarjana ITB. “Panik” adalah perasaan takut yang ekstrim dan tidak berdasar, kebingungan yang diikuti perilaku yang tidak mengindahkan norma-norma sosial. Akan tetapi, panik bukanlah dampak terburuk krisis.

Ketika krisis, orang mulai merespon keadaan dengan perasaan apatis (tidak peduli), yang seiring berjalannya waktu meningkat menjadi perhatian, rasa prihatin, ketakutan dan kengerian. Melewati tahap ini, orang dapat mengalami salah satu dari tiga hal. Pertama, ia mungkin menyangkal adanya krisis, sebagaimana ilusi perasaan aman dari COVID-19 yang banyak kita lihat saat ini.

Kedua, mungkin ia akan menjadi marah karena kalut menghadapi situasi dan melampiaskannya kepada siapa pun. Kemungkinan ketiga adalah ia menjadi panik. Namun, panik sebenarnya jarang terjadi dalam kondisi krisis. Sebaliknya, penelitian menunjukkan bahwa krisis justru mendorong orang mempererat hubungan dengan orang lain.

Sikap peduli, keinginan untuk membantu atau bergabung mengatasi masalah justru lebih sering muncul di tengah krisis. Karena kecenderungan seperti itulah, fokus utama dalam mengomunikasikan krisis bukanlah mencegah panik apalagi menghilangkan rasa takut.

Rasa takut terhadap bahaya justru perlu ditumbuhkan dalam dosis yang tepat agar orang tetap dapat bersikap rasional: tidak menyangkal, marah ataupun panik.

Lebih penting lagi, kecenderungan afiliatif di kala krisis, harus digalang pemerintah dan masyarakat sedemikian rupa agar tumbuh kolaborasi antar warga. Kolaborasi tengah krisis dapat membangun jejaring dukungan sosial, akumulasi modal sosial, rasa memiliki dan terlibat, serta informasi kebutuhan dan sumber daya yang dimiliki masing-masing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top