skip to Main Content

Urip iku Urup adalah salah satu filosofi Jawa yang diciptakan oleh Sunan Kalijaga. Urip artinya Hidup, sedang Urup artinya Nyala. Alhasil kombinasi 2 kata ini tidak hanya mengasilkan filosofi yang puitis, Urip-Urup, tapi maknanya juga sangat mendalam.

Hidup itu Nyala. Hidup manusia itu mesti menyala, mesti menerangi sekitarnya. Kanjeng Sunan Kalijaga mengkreasi filosofi Jawa ini terinspirasi dari hadis Nabi Muhammad yang artinya “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (yang lain)”.

Sebagai seorang seniman, Sunan Kalijaga menulis ulang filosofi Islam ini ke dalam bahasa kaumnya, bahasa Jawa, dan muncullah filosofi yang sangat puitis itu: Urip iku Urup.

Filosofi ini pulalah yang selalu diajarkan Ibu saya sejak saya kecil. Biasanya Ibu memberi kata pengantar bahwa orang Jawa itu harus nJawani (orang Jawa harus memelihara tradisi). Ibu sering menasehati saya untuk selalu berbuat kebaikan bagi orang lain, sekecil apapun.

Jangan hanya memikirkan diri sendiri, tapi berbuatlah sesuatu, seremeh apapun, untuk kebaikan masyarakat. Nasehat inilah yang terus saya pegang sampai saat ini, dengan terus berusaha berbuat sesuatu bagi masyarakat. Pun misalnya dengan menjadi Ketua RT, supaya Urip saya selalu Urup.

Gara-Gara Covid-19

Minggu, 22 Maret 2020. Tepat jam 20.28 WIB saya menerima pesan WA dari seorang sahabat seperti ini: “Oiya Har, rasanya kalau ngga ngebantu saat situasi begini, ngga pas jg ya. apa yg bisa dilakukan selain donasi?”. Mak deg. Saya seolah baru tersadar dari mimpi. Iya ya, dalam situasi negara yang sangat genting gara-gara Covid-19 kok saya hanya rebahan saja? Masak iya sih gak ada yang bisa saya lakukan? Katanya Urip iku Urup? Kalau rebahan saja kan hidup ini gak ada nyalanya sama sekali?

Pesan pendek itulah yang akhirnya menggerakkan saya untuk menghubungi sahabat-sahabat saya di sana sini, untuk menawarkan apa yang bisa saya bantu supaya hidup saya bisa urup kembali. Ada info bahwa pak Syarif Hidayat, dosen STEI ITB, sedang mengembangkan ventilator dan butuh bantuan. Karena ventilator sangat dibutuhkan dalam situasi Covid-19 yang sedang genting, tanpa banyak berpikir saya pun menawarkan diri untuk membantu.

Apa saja, selama saya bisa lakukan. Dan berkat kredo solidarity forever yang sudah mendarah daging, teman-teman FTMD juga spontan mengiyakan ketika diajak membantu. Dan tanpa menunggu lama, pada hari Minggu, 26 Maret 2020, kami pun mengadakan zoom meeting di malam hari.

Meeting ini untuk mendiskusikan apa yang bisa kami lakukan untuk mendukung inisiatif Pak Syarif dkk yang sedang mengembangkan ventilator itu. Kami pun langsung berbagi tugas. Ada yang membantu pengembangan produk, dan apa pula yang membantu penggalangan dana.

Donatur Pertama

Tanpa ba-bi-bu, Ketua Yayasan Solidarity Forever malah langsung memerintahkan bendahara yayasan untuk mentransfer sejumlah dana ke rekening Rumah Amal Salman. Luar biasa kepedulian dan keberaniaannya, padahal alat itu belum tentu jadi. Alhasil, Yayasan Solidarity Forever adalah donatur pertama yang mentransfer dananya, padahal proposal penggalangan dana belum juga dibuat.

Dan ketika saya sedang menyiapkan proposal penggalangan dana dibantu anak saya, tiba-tiba ada telpon masuk. Saya tidak kenal sebelumnya. Sang penelpon mendapat kabar bahwa ada inisiatif pembuatan ventilator, dan dia ingin berdonasi. Hanya berselang beberapa menit, dia mengirimkan bukti transfer dengan nilai cukup besar. Saya hanya bisa bengong, luar biasa ya kepedulian masyarakat Indonesia ini.

Alhasil, Bapak X itu adalah donatur individu pertama yang layak dicatat dalam sejarah pengembangan Vent-I. Keikhlasannya dalam berdonasi untuk produk yang masih sangat prematur menjadi energi yang sangat besar bagi tim Vent-I dalam mewujudkan mimpinya.

Selasa, 21 April 2020. Dalam sebuah meeting koordinasi dengan Wamen BUMN, tim BPFK (Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan), melaporkan di forum bahwa dari sekian banyak program pengembangan ventilator yang digagas masyarakat, sudah ada 1 ventilator yang lolos uji, yaitu Vent-I.

Bagi tim Vent-I sebenarnya ini bukan informasi baru. Malam sebelumnya kami sudah mendapat informasi tersebut. Tapi karena belum resmi dan belum tertulis, kami semua menahan diri untuk tidak menyampaikannya ke masyarakat.

Tentu saja kami makin lega setelah BPFK menyampaikannya lagi dalam forum yang lebih luas, yaitu forum koordinasi pengembangan ventilator nasional yang melibatkan Kementrian BUMN dan Kementrian Kesehatan itu. Satu tahapan penting telah dilalui, dan kini kami melangkah lebih lanjut untuk melakukan produksi massal. Tantangannya tidak kalah berat. Ketersediaan komponen adalah tantangan utama. Tapi dengan dukungan berbagai pihak, insya Allah tantangan-tantangan itu akan dapat diatasi.

Urip iku Urup. Hidup itu Nyala. Sekecil apapun nyala yang kita buat, insya Allah akan bermanfaat bagi masyarakat.

Salam,
Hari Tjahjono

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top