skip to Main Content

Berdikari adalah kata baru yang diperkenalkan Bung Karno, yang merupakan singkatan dari “berdiri di atas kaki sendiri”. Istilah ini muncul pada pidato Bung Karno tanggal 17 Agustus 1964 yang membahas Trisakti: (1) berdiri di atas kaki sendiri pada bidang ekonomi, (2) bebas dalam politik, (3) berkepribadian dalam kebudayaan.

Pandemi Covid-19 yang kita alami saat ini mengingatkan kita pada istilah yang membangkitkan nasionalisme ini. Betapa tidak. Ketika penderita Covid-19 mulai mengalami gangguan pernafasan, tanpa perlu menunggu sampai gagal nafas, seharusnya pasien perlu segera dibantu oleh ventilator. Khususnya ventialtor tipe non-invasive.

Sambil menunggu tenaga medis bekerja, pasien perlu dibantu untuk mempertahankan kemampuan bernafasnya dengan alat bantu. Karena kalau tidak, minimnya supply oksigen ke dalam tubuh ini akan merusak organ-organ tubuh yang lain secara cepat, dan pasien lebih sulit diselamatkan.

Cilakanya, ketersediaan ventilator di rumah sakit sangatlah minim. Ventilator adalah barang yang sangat mewah. Harganya mahal sekali. Karenanya, hanya pasien yang sudah dalam kondisi kritis sajalah yang biasanya dibantu dengan ventilator. Padahal pasien Covid-19 punya karakteristik sendiri.

Mereka justru butuh bantuan ventilator pada saat mengalami gejala awal kesulitan nafas. Memang bukan ventilator invasive, tapi ventilator non-invasive. Tidak perlu ventilator yang mahal itu, cukup ventilator dengan kemampuan dasar yaitu CPAP (Continuous Positive Airway Pressure).

Masalahnya, mendapatkan ventilator non-invasive saja dalam kondisi pandemi global begini susahnya bukan main. Semua negara di seluruh dunia membutuhkan ventilator. Dan kebutuhannya banyak sekali, sebanyak pasien Covid-19 yang mengalamai gejala awal susah nafas. Punya banyak uang pun bukan jaminan untuk mendapatkan ventilator. Alhasil, tidak ada pilihan lain, kita harus membuatnya sendiri!

Siapkah kita sebagai bangsa membuat ventilator sendiri? Apakah kita punya kemampuan teknis membuat ventilator? Apakah kita punya kekuatan mental untuk memproduksi ventilator sendiri? Apakah bangsa yang puluhan tahun merusak mentalnya sendiri dengan menjadi bangsa konsumen siap berubah dalam waktu singkat untuk menjadi bangsa produsen?

Menjadi bangsa produsen memiliki prasyarat yang berat. Bangsa produsen tidak boleh berpikir instan layaknya bangsa konsumen. Bangsa produsen mesti berpikir panjang. Sebelum melakukan sesuatu, mereka harus punya perencanaan yang matang atas semua hal. Bangsa produsen mesti berpikir ekosistem, karena sesederhana apapun barang yang akan dibuat, pasti melibatkan belasan bahkan puluhan pihak, mulai dari pemasok komponen paling sederhana sampai dengan partner distribusi produk yang kita kembangkan.

Beda dengan bangsa konsumen, yang ketika menginginkan sebuah barang tinggal datang ke mall. Mental bangsa konsumen yang serba instan tentu tidak fit untuk menjadi bangsa produsen.

Itulah yang saya pelajari dari mengamati proses pengembangan Vent-I, ventilator yang dikembangkan oleh ITB, Unpad, dan Salman ITB. Sudah sebulan ini tim yang jumlahnya belasan orang itu bekerja siang dan malam tanpa henti. Dalam 2 minggu pertama mereka sudah bisa membuat prototipe yang siap uji oleh kementrian kesehatan.

Mereka sangat ingin segera memproduksi barang itu supaya bisa segera menolong pasien. Ternyata membuat barang sendiri tidak sesederhana itu. Hasil uji Kemenkes mempersyaratkan faktor safety yang sangat tinggi, karena ini menyangkut nyawa manusia. Kondisi darurat bukan alasan untuk meloloskan sebuah alat yang tidak aman 100%. Alhasil safety factor yang awalnya tidak mendapatkan porsi yang cukup, kini justru harus menjadi perhatian utama.

Cara berpikir “yang penting alat bekerja” harus dibongkar total. Faktor keselamatan pasien kini menjadi faktor paling penting dalam merancang ulang ventilator. Tentu saja faktor “bisa diproduksi massal” tetap menjadi faktor yang sangat penting, karena tidak ada gunanya ventilator bisa dbuat tapi tidak dapat diproduksi massal hanya karena ketidak tersediaan komponen.

Padahal ketersediaan komponen dalam kondisi pandemi saat ini menjadi issue semua orang di seluruh dunia. Di sinilah kreativitas insinyur diuji. Ketika mereka kesulitan mendapatkan disposable universal peep valve yang termasuk critical part, mereka pun menggantinya dengan tumbler yang diisi air dengan ketinggian tertentu.

Prototipe pertama yang tadinya dianggap sebagai ujung pengembangan ventilator sebelum diproduksi massal, ternyata justru hanya sebuah starting point. Tim harus merombak total design ventilator dengan parameter design utama adalah keselamatan pasien. Berbagai safety devices harus ditambahkan dan dikalibrasi. Tim harus kembali bekerja siang dan malam tanpa henti.

Tim medis yang terdiri dari dokter-dokter senior intensivist anesthesiologist dari FK UNPAD yang sudah sangat sibuk menangani pasien, terpaksa harus bekerja ekstra memberikan advice secara detil kepada tim engineering.

Selama 2 minggu terakhir, percakapan WA diantara anggota tim masih berseliweran sampai ini hari. Tim dokter dari Perdatin (perhimpunan dokter anesthesiologi Indonesia) juga sangat proactive memberikan bimbingan medis dan pengawasan saat pengujian ke pasien.

Hari ini adalah milestone yang sangat penting bagi tim Vent-I. Hari ini Vent-i harus diuji lagi oleh BPFK (Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan), Kementrian Kesehatan. Akankah Vent-I lolos uji? Segala daya upaya sudah dilakukan oleh tim Vent-I ini.

Mereka sudah melakukan yang terbaik. Mereka sudah berusaha sekuat tenaga mentransformasi mental mereka dari bangsa konsumen menjadi bangsa produsen. Semoga transformasi itu berhasil, dan Vent-I benar-benar bisa segera diproduksi untuk menyelamatkan pasien Covid-19. Semoga.

Salam,

Hari Tjahjono, 14 April 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top