<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Masjid Salman ITB &#187; Opini</title>
	<atom:link href="http://salmanitb.com/category/opini/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://salmanitb.com</link>
	<description>Menuju Masyarakat Informasi Islami</description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Feb 2012 05:42:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Sambung Rasa Sungai Citarum&#8230;</title>
		<link>http://salmanitb.com/2012/01/sambung-rasa-sungai-citarum/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2012/01/sambung-rasa-sungai-citarum/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 03:43:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Budhiana Kartawijaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=11291</guid>
		<description><![CDATA[<p>Selama ratusan tahun, Citarum hadir membelah Jawa Barat. Dulu airnya bening. Tidak ada satu ekor ikan pun yang mampu bersembunyi. Pemancing pun dengan riang gembira mengailnya. Penduduk desa yang dilaluinya, tak pernah kekurangan protein. Air jernih itu digunakan untuk mandi dan minum.</p><p><a href="http://salmanitb.com/2012/01/sambung-rasa-sungai-citarum/">Sambung Rasa Sungai Citarum&#8230;</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_11293" class="wp-caption alignleft" style="width: 300px"><a href="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/01/citarummm.jpg"><img class="size-medium wp-image-11293" title="citarummm" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/01/citarummm-300x240.jpg" alt="Foto: mustangcorps.com" width="300" height="240" /></a>
<p class="wp-caption-text">Foto: mustangcorps.com</p>
</div>
<p>Selama ratusan tahun, Citarum hadir membelah Jawa Barat. Dulu airnya bening. Tidak ada satu ekor ikan pun yang mampu bersembunyi. Pemancing pun dengan riang gembira mengailnya. Penduduk desa yang dilaluinya, tak pernah kekurangan protein. Air jernih itu digunakan untuk mandi dan minum.</p>
<p>Di setiap sentimeter yang dilaluinya, air Citarum bak menyapa semua mahluk hidup di sisi kanan dan kirinya. Bukan cuma itu, air ini masuk meresap ke tanah dan merelakan dirinya dihisap akar-akar tanaman. Karena kehidupannya terpenuhi, manusia pun punya waktu luang untuk membangun peradaban, hewan pun berbunyi nyaring tanda bahagia, pohon dan tanaman pun tegak.</p>
<p>Dalam khazanah Sunda, manusia adalah mahluk<em> eling</em>, binatang adalah mahluk <em>nyaring</em>, dan tanaman adalah mahluk <em>cicing. </em>Mereka terhidupi oleh Citarum.</p>
<p>Pendek kata, manusia-manusia di sisi kanan dan kiri Citarum adalah manusia-manusia bahagia dan gembira. Mereka tambah bahagia ketika disambungkan oleh jembatan yang melintasi jembatan.</p>
<p>Jembatan Citarum, bukan hanya dimaknai sebagai jembatan yang menghubungkan dua wilayah, akan tetapi juga yang menjembatani batin manusia di kedua sisi Citarum.</p>
<p>Di Majalaya, jembatan Citarum ini suka dikisahkan sebagai tempat bertemunya tali kasih pemuda dan pemudi dari dua desa berbeda di kawasan Citarum.</p>
<p>Hidup begitu berwarna karena ada Citarum&#8230;</p>
<p>Karena memberikan kehidupan, kakek moyang saya di Majalaya merasa bahwa Citarum itu hidup, meski dia bukan mahluk <em>eling, nyaring, </em>atau <em>cicing</em>. Tidak ada kategori yang tepat untuk memaknai hidupnya Citarum. Sungai ini tetap merupakan misteri. Semakin misterius Citarum, semakin enggan kakek moyang &#8220;menyakiti&#8221; Citarum.</p>
<p>Karena Citarum hidup dan memberikan kehidupan, maka terciptalah rasa keterikatan batin yang semakin kuat. kakek moyang pun menyediakan sesaji, yang menurut leluhur kami, sering disalahartikan sebagai sesembahan (<em>offering</em>). Sesajian itu adalah simbol rasa terima kasih kepada Citarum. Intinya adalah komunikasi melalui sambung rasa, bukan sambung logika. Kakek moyang saya bisa menangis kalau melantunkan tembang Citarum&#8230;</p>
<p>Sambung rasa batin adalah komunikasi yang nir-logika. Saya merasakan sangat sedih ketika saya harus menjual sepeda motor butut yang selama enam tahun kuliah menemani saya. Di mata saya, sepeda motor tahun 70 itu memang benda mati, tapi dia &#8220;hidup&#8221; karena memberi sedikit kehidupan buat saya. Tujuh tahun saya merawat dia, seperti waktu kecil saya merawat domba di Majalaya. &#8220;Kamu urus motor itu, seperti kamu <em>ngurus</em> domba,&#8221; kata nenek almarhum.</p>
<p>Sambung rasa batiniah menyebabkan nenek moyang begitu tahu berterimakasih terhadap mahluk lain. Dan ketika tahu berterimakasih, maka terjadilah interaksi saling menghidupi dan menghidupkan.</p>
<p>Nabi Sulaeman adalah nabi yang mampu berkomunikasi dengan hewan. Ada yang menafsirkan memang Sulaeman mampu berkomunikasi verbal, ada pula yang menafsirkan Sulaeman sangat paham &#8220;bahasa&#8221;, keinginan, dan &#8220;aspirasi&#8221; hewan. Sulaeman mengembangkan apa yang sekarang kita sebut sebagai <em>eco-democracy</em>. Dia membangun kerajaan dengan memperhatikan juga aspirasi hewan, selain manusia.</p>
<p>Citarum pun sempat selama ratusan tahun menikmati komunikasi rasa.</p>
<p>Itu dulu&#8230;</p>
<p>Manusia modern menolak ide Citarum yang hidup&#8230;</p>
<p>Karena itu, manusia modern tidak tahu berterimakasih kepada Citarum. Sungai yang telah memberikan sandang, pangan, papan, dan energi (listrik) itu merana.</p>
<p>Kita membuang sampah dan feses ke Citarum. Pabrik-pabrik membuang limbah seenaknya. Pohon-pohon ditebang. Hutan dibabat&#8230;</p>
<p>Karena memang secara komunikasi logika, tidak ada hantu atau jin di dalam hutan&#8230;</p>
<p>Karena secara logika dan inderawi, Citarum tak terlihat atau terdengar menangis&#8230;</p>
<p>Bahkan rasa berterimakasih disalahpahami sebagai musyrik&#8230; Padahal Allah sudah menyatakan jangan merusak alam.</p>
<p>Maka jangan salahkan kalau kemudian Citarum pun tidak berterimakasih kepada kita. Banjir, penyakit kulit, ikan beracun, air berlimbah adalah buah dari permusuhan kita dengan Citarum. Permusuhan dengan alam hanya akan melahirkan rantai bencana ekologis.<em> Chained ecological disaster</em>, kata National Geographic, <em>mah</em>. Adalah juga yang terjadi pada masa Firaun&#8230;</p>
<p>Bagaimana menyelamatkan  lingkungan hidup kita?</p>
<p>Mulailah berkomunikasi sambung rasa dengan lingkungan terkecil.</p>
<p>Bersihkan selokan&#8230;<br />
Tanam satu pohon..<br />
Sirami&#8230;</p>
<p>Berdendanglah tentang pohon dan buahnya&#8230;<br />
Amati dari ke hari bagaimana mahluk <em>cicing</em> ini tumbuh&#8230;</p>
<p>Duduklah sesekali di pinggir sungai&#8230;<br />
Tataplah gerak airnya&#8230;<br />
Dengarkan gemericiknya&#8230;<br />
Rasakan apakah itu gemericik gembira atau gemericik rintihan karena harus mengangkut beban sampah dan racun..</p>
<p>Duduklah di jembatan sungai&#8230;<br />
Rasakanlah apakah kini jembatan itu sebagai jembatan tali kasih, ataukah jembatan sekadar penyambung transportasi polutif. Di Dayeuh Kolot, jembatan ini malah jadi tempat pembuangan sampah&#8230;</p>
<p>Marilah sayangi Citarum, Cikapundung, dan sungai-sungai lainnya&#8230;</p>
<p>Marilah bersambung rasa dengan alam&#8230;***</p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2012/01/sambung-rasa-sungai-citarum/">Sambung Rasa Sungai Citarum&#8230;</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2012/01/sambung-rasa-sungai-citarum/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Foto Keluarga</title>
		<link>http://salmanitb.com/2012/01/foto-keluarga/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2012/01/foto-keluarga/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jan 2012 01:00:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Maya Dewi Mustika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Foto keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=11103</guid>
		<description><![CDATA[<p>Setelah 22 tahun hidup bersama keluarga, akhirnya saya mempunyai foto keluarga juga. Tepatnya setelah saya resmi lulus kuliah, kami sekeluarga menyempatkan diri berfoto bersama, dengan saya berbaju toga di dalamnya. Betul, saya belum...</p><p><a href="http://salmanitb.com/2012/01/foto-keluarga/">Foto Keluarga</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_11106" class="wp-caption alignleft" style="width: 300px"><a href="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/01/hispanic_man_taking_photograph_of_family_at_bld054166.jpg"><img class="size-medium wp-image-11106" title="Hispanic man taking photograph of family at barbecue" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/01/hispanic_man_taking_photograph_of_family_at_bld054166-300x209.jpg" alt="" width="300" height="209" /></a>
<p class="wp-caption-text">(Foto: www.visualphotos.com)</p>
</div>
<p>Setelah 22 tahun hidup bersama keluarga, akhirnya saya mempunyai foto keluarga juga. Tepatnya setelah saya resmi lulus kuliah, kami sekeluarga menyempatkan diri berfoto bersama, dengan saya berbaju toga di dalamnya.</p>
<p>Betul, saya belum pernah punya foto keluarga sebelum ini.</p>
<p>Dulu, pada 2008 silam, saya berkesempatan mengikuti  kegiatan kampus bernama Pengabdian Pada Masyarakat (P2M) di Karangnunggal, Kabupaten Tasikmalaya. Pada kegiatan P2M tersebut terdapat banyak program di beberapa desa berbeda. Ada satu desa yang letaknya relatif jauh dari posko P2M. Saya sebut demikian karena untuk mencapainya masih harus menaiki truk dan melewati medan terjal dengan sensasi sekelas naik <em>jetcoaster.</em></p>
<p>Program-program yang dijalankan di desa yang jauh dari posko P2M tersebut diantaranya puskesmas keliling, pembagian baju bekas, lomba 17-an untuk anak-anak, dan foto keluarga gratis. Saya ikut membantu dalam program foto keluarga gratis.</p>
<p>Kegiatan dipusatkan di sebuah sekolah dasar. Kami hanya berbekal kamera digital biasa, tripod, printer dan laptop. Kala itu kamera DSLR belum marak seperti sekarang. Tidak lupa sebuah ruang kelas kami sulap jadi studio foto berlatarkan dinding kelas.</p>
<p>Awalnya warga desa malu-malu, berfoto merupakan hal langka untuk mereka. Bahkan mungkin pengalaman yang dianggap cukup mewah. &#8220;<em>Alim ah abi mah acukna butut</em>,&#8221; ada warga yang bilang begitu sambil malu-malu. &#8220;Tidak mau (difoto) ah baju saya jelek&#8221;, kurang lebih begitu artinya dalam bahasa Indonesia. Lalu saya membujuk untuk sekedar mandi dan berhias seadanya, stand foto kami tidak akan buru-buru bubar ini. Akhirnya puluhan orang mengantri, sanak famili diajaki.</p>
<p>Saya masih ingat perasaan yang saya rasakan saat itu. Terharu rasanya melihat binar bahagia orang-orang karena akan difoto. Bukan sembarang difoto, tapi berfoto bersama keluarga. Agaknya sederhana barangnya, selembar kertas saja wujudnya. Tapi luar biasa nilainya.</p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2012/01/foto-keluarga/">Foto Keluarga</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2012/01/foto-keluarga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memaafkan dan Melupakan Kesalahan</title>
		<link>http://salmanitb.com/2012/01/memaafkan-dan-melupakan-kesalahan/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2012/01/memaafkan-dan-melupakan-kesalahan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2012 04:49:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Maya Dewi Mustika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=11004</guid>
		<description><![CDATA[<p>Memaafkan kesalahan orang lain terkadang menjadi perkara yang sulit ketika kesalahan yang dilakukan cukup besar. Jangankan untuk melupakan, memaafkan saja sulit. Atau mungkin, hati sudah memaafkan tetapi masih saja tidak bisa melupakan kesalahan...</p><p><a href="http://salmanitb.com/2012/01/memaafkan-dan-melupakan-kesalahan/">Memaafkan dan Melupakan Kesalahan</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_11012" class="wp-caption alignleft" style="width: 253px"><a href="http://salmanitb.com/2012/01/memaafkan-dan-melupakan-kesalahan/forgiveness/" rel="attachment wp-att-11012"><img class="size-medium wp-image-11012" title="Forgiveness" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/01/Forgiveness-253x300.jpg" alt="" width="253" height="300" /></a>
<p class="wp-caption-text">(Gambar: psychologytoday.com)</p>
</div>
<p>Memaafkan kesalahan orang lain terkadang menjadi perkara yang sulit ketika kesalahan yang dilakukan cukup besar. Jangankan untuk melupakan, memaafkan saja sulit. Atau mungkin, hati sudah memaafkan tetapi masih saja tidak bisa melupakan kesalahan orang tersebut.</p>
<p>Hal ini pernah terjadi pada Rasulullah SAW. Hamzah, paman yang sangat dicintai Rasul dibunuh di tengah perang Uhud oleh Wahsyi, seorang budak suruhan Hindun. Saat itu Hindun menjanjikan kemerdekaan pada Wahsyi jika berhasil membunuh Hamzah.</p>
<p>Wahsyi sengaja mengincar Hamzah dan mengikuti Hamzah dari belakang. Saat menemukan kesempatan, Hamzah ditusuk dengan tombak hingga menemui ajalnya. Nabi sangat sedih atas kematian pamannya ini. Terlebih, diserang dari belakang dirasa sebagai hal yang sangat jahat dan tidak adil.</p>
<p>Wahsyi kemudian mendapat kemerdekaannya. Namun setelah beberapa waktu, hatinya tidak tenang memikirkan pembunuhan yang telah ia lakukan. Suatu hari Wahsyi memutuskan untuk menemui Rasul dan mengakui kesalahannya.</p>
<p>Rasulullah SAW bahagia menerima penyesalan Wahsyi. Dengan keluhuran budinya, beliau memaafkan Wahsyi. Namun demikian Rasul menolak untuk didekati oleh Wahsyi. Rasul tidak ingin Wahsyi menampakkan wajahnya di dekat dirinya karena hal itu mengingatkan beliau pada paman tercinta.</p>
<p><strong>Meluruskan kesalahan dengan lemah lembut</strong></p>
<p>Menurut QS Ali Imran ayat 134, salah satu ciri orang yang bertakwa adalah orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Dalam menyikapi kesalahan yang dilakukan orang lain, kita tentu ingin meluruskan kesalahan tersebut. Namun tidak jarang karena kesal, kita malah menasehati sambil marah-marah.</p>
<p>Dalam terjemahan QS Ali Imran:159, disebutkan bahwa  perilaku lemah lembut adalah rahmat. Sekiranya kita bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka yang membuat kesalahan akan menjauhkan diri dari kita. “&#8230; Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu &#8230; ”</p>
<p>Boleh jadi kita sampai marah-marah dalam meluruskan sebuah kesalahan karena saking <em>ngototnya</em>. Kita sering kali lupa bahwa Allah-lah yang menentukan hasil dari segala ikhtiar kita.</p>
<p><strong>Memaafkan kesalahan diri sendiri</strong></p>
<p>Beberapa orang yang mengalami depresi justru bukan karena kesalahan orang lain terhadap dirinya. Kesalahan diri sendirilah yang kadang terasa begitu berat penyesalannya. Dalam hal ini, pemicu permasalahan harus diselidiki benar agar kita tahu akar permasalahannya.</p>
<p>Hendaklah diingat bahwa pintu taubat Allah terbuka lebar sepanjang waktu. “Jika kalian melakukan kesalahan-kesalahan (dosa) hingga kesalahan kalian itu sampai ke langit, kemudian kalian bertaubat, niscaya Allah SWT akan memberikan taubat kepada kalian.” (Hadist diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Abi Hurairah).</p>
<p>Memaafkan diri sendiri penting agar kita bisa menatap masa depan dengan penuh optimisme.</p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2012/01/memaafkan-dan-melupakan-kesalahan/">Memaafkan dan Melupakan Kesalahan</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2012/01/memaafkan-dan-melupakan-kesalahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Merencanakan Hidup</title>
		<link>http://salmanitb.com/2012/01/merencanakan-hidup/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2012/01/merencanakan-hidup/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Jan 2012 09:55:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Maya Dewi Mustika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=10906</guid>
		<description><![CDATA[<p>Pergantian tahun, serentak teman-teman saya dalam status jejaring sosial mereka menuliskan harapan-harapannya di tahun 2012. Resolusi, kata mereka. Kiranya memang setiap pergantian tahun hal ini masyhur dilakukan. Entah ini hanya sekedar mengucapkan harapan...</p><p><a href="http://salmanitb.com/2012/01/merencanakan-hidup/">Merencanakan Hidup</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_10907" class="wp-caption aligncenter" style="width: 300px"><a href="http://salmanitb.com/2012/01/merencanakan-hidup/to-do-list/" rel="attachment wp-att-10907"><img class="size-medium wp-image-10907 " title="to-do-list" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/01/to-do-list-300x264.jpg" alt="" width="300" height="264" /></a>
<p class="wp-caption-text">sumber gambar http://blog.ablecommerce.com/daily-web-2-0-to-do-list</p>
</div>
<p>Pergantian tahun, serentak teman-teman saya dalam status jejaring sosial mereka menuliskan harapan-harapannya di tahun 2012. Resolusi, kata mereka. Kiranya memang setiap pergantian tahun hal ini masyhur dilakukan. Entah ini hanya sekedar mengucapkan harapan atau memang rencana yang akan diwujudkan.</p>
<p>Dalam kesempatan mengikuti sebuah kajian, Sang Ustad menggelitik saya dengan sebuah pertanyaan: &#8220;Untuk apa kita berencana sedangkan Allah sudah punya rencana terbaik untuk kita?&#8221;</p>
<p><strong>Manusia Serba Tidak Tahu</strong></p>
<p>Benar, Allah Sang Maha Perencana telah memiliki desain terbaik tentang hidup kita. Namun demikian, kita sebagai manusia tidak tahu apa yang sudah menjadi rencana Allah tersebut. &#8220;Maka hendaknya kita merencanakan hidup kita dengan baik,&#8221; kata Ustad Asep Rahmat.</p>
<p>Dalam beberapa ayat alquran, Allah secara tersurat menyuruh umatnya untuk mempersiapkan kehidupan dunia dan akhirat dengan baik.</p>
<p>&#8220;Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri <strong>memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)</strong>,&#8221; ujar Ustad Asep mengutip terjemahan dari QS 58:19.</p>
<p>Ayat tersebut, menurut Ustad Asep, mengajak kita untuk memperhatikan bekal di akhirat kelak. &#8220;Dunia ini ibarat sawah ladang yang hasilnya akan dipanen di akhirat,&#8221; tuturnya. Dengan begitu, Allah menginginkan kita berikhtiar yang terbaik di dunia untuk bekal akhirat.</p>
<p>&#8220;Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka,&#8221; bunyi ayat selanjutnya yang Ustad Asep kutip dari QS 4:9.</p>
<p>Dalam ayat di atas jelas sudah Allah ingin kita mempersiapkan masa depan, mempersiapkan generasi-generasi setelah kita. Dari dua ayat tersebut, semakin kuatlah pijakan kita untuk merencanakan hidup sebagai salah satu ikhtiar agar kehidupan dunia yang sifatnya sementara ini dapat kita lalui sebaik mungkin.</p>
<p>Sejatinya rencana adalah doa. Tentu kita ingat firman Allah yang berbunyi, &#8220;Berdo&#8217;alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu&#8221;.</p>
<p><strong>Bila Rencana Gagal Diwujudkan</strong></p>
<p>Sebuah ungkapan populer mengatakan bahwa jika kita gagal dalam tahap perencanaan, maka sesungguhnya kita tengah merencanakan sebuah kegagalan. Lantas bagaimana jika rencana sudah kita susun dengan baik tetapi masih menemui kegagalan?</p>
<p>Kembali kita ingat bahwa rencana Allah atas apa yang menimpa diri kita adalah yang terbaik. Dalam QS 59:18-19, Allah berfirman,</p>
<p>&#8220;Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri <strong>melainkan telah tertulis dalam kitab</strong> (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) <strong>supaya kamu jangan berduka cita</strong> terhadap apa yang luput dari kamu, dan <strong>supaya kamu jangan terlalu gembira</strong> terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.&#8221;</p>
<p>Allah mengingatkan kita untuk tidak sombong. Menurut hemat saya, hal ini bukan hanya dalam menyombongkan kebahagiaan yang kita miliki. Tapi juga termasuk menyombongkan kesedihan atau berlebih-lebihan pada saat bersedih.</p>
<p>Harus dicamkan bahwa apa pun yang terjadi itu sudah rencana Allah. Manusia memiliki kunci syukur dan sabar. Selain itu, dengan adanya kegagalan semakin jelas pentingnya memiliki rencana dalam hidup. Jika sudah memiliki rencana, saat menemui kegagalan kita tidak merasa kebingungan karena rencana yang telah kita buat menuntun kita untuk tetap fokus.</p>
<p>Allah mengingatkan dalam surat Al-Insyirah, <em>fa-idzaa faraghta fanshab</em>. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.</p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2012/01/merencanakan-hidup/">Merencanakan Hidup</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2012/01/merencanakan-hidup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Esensinya Adalah Saat Perjalanan, bukan Tujuan</title>
		<link>http://salmanitb.com/2012/01/esensinya-adalah-saat-perjalanan-bukan-tujuan/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2012/01/esensinya-adalah-saat-perjalanan-bukan-tujuan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Jan 2012 05:26:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aulia Mulya Dewi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=10809</guid>
		<description><![CDATA[<p>Hari itu, sebagian orang di bumi merayakan hari raya Natal. Di sisi lain, Aksara Salman ITB melakukan perjalanan spritual Aksara Berpetualang (Alang) dalam rangka memuji dan memikirkan ayat-ayat-Nya, agar termasuk orang-orang yang beruntung....</p><p><a href="http://salmanitb.com/2012/01/esensinya-adalah-saat-perjalanan-bukan-tujuan/">Esensinya Adalah Saat Perjalanan, bukan Tujuan</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_10882" class="wp-caption alignleft" style="width: 300px"><a href="http://salmanitb.com/2012/01/esensinya-adalah-saat-perjalanan-bukan-tujuan/alang/" rel="attachment wp-att-10882"><img class="size-medium wp-image-10882" title="alang" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/01/alang-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a>
<p class="wp-caption-text">Petualangan aksara di Gunung Tangkuban Perahu. (Foto: Aulia MD)</p>
</div>
<p>Hari itu, sebagian orang di bumi merayakan hari raya Natal. Di sisi lain, Aksara Salman ITB melakukan perjalanan spritual Aksara Berpetualang (Alang) dalam rangka memuji dan memikirkan ayat-ayat-Nya, agar termasuk orang-orang yang beruntung. Gunung Tangkuban Perahu adalah tempat tujuan Alang tersebut yang telah dibincangkan jauh-jauh hari sejak awal bulan Desember.</p>
<p>Untuk pertama kalinya saya mengikuti ekspedisi Alang tersebut. Tentu saja karena saya adalah anggota baru Aksara.</p>
<p><strong>Awal Perjalanan</strong></p>
<p>Dua puluh anggota Aksara, plus rekan-rekan yang sebenarnya bukan dari Aksara, mengawali petualangan dengan berdoa bersama di Parongpong. Perjalanan dimulai dari gerbang Villa Istana Bunga Parongpong tepat pukul 08.30 WIB.</p>
<p>Perjalanan yang ditempuh pada awalnya sangat lancar terlebih karena melewati Vila tersebut. Keluar dari vila mulai memasuki kawasan perkebunan teh Sukawana. Disana ada pos penjaga, kami membayar 1500 rupiah per orang. Di setiap persimpangan kami menyempatkan diri untuk rehat sebentar sekedar makan camilan atau menunggu rombongan yang tertinggal jauh di belakang. Tak lupa juga sesi dokumentasi.</p>
<p>Hujan turun pun tidak menyurutkan semangat saya dan para Aksaraers untuk tetap melanjutkan perjalanan. Jas hujan, ponco dan payung dijadikan perisai untuk menembus cuaca tersebut. Hingga sampai di penghujung kebun teh dapat dilihat betapa panjangnya jalan yang telah kami lalui, liku-liku perjalananpun tak terasa karena ditempuh bersama.</p>
<p>Jalan yang menanti di depan kami adalah sebuah hutan. Tak serupa dengan jalan <em>paving block </em>di Vila Istana Bunga tadi. Berbatu dan berlubang. Mungkin karena motor trail yang sering melalui jalan ini. Setiap kurang lebih berjalan 10 Meter kami bertemu dengan pengemudi motor trail, tentu bersama motor trailnya.</p>
<p><strong>Menembus Lebatnya Hutan Kaki Gunung Tangkuban Perahu</strong></p>
<p>Hujan telah reda saat kami memasuki hutan, namun hujan turun lagi dan udara semakin dingin. Saya pun mengenakan tameng ganda yaitu payung dan jas hujan. Ada yang berbeda memang. Jalan yang berliku dan cukup mendaki membuat kami terpecah-pecah menjadi beberapa rombongan. Setiap ada persimpangan jalan barulah saling menunggu. Mungkin ini juga yang membuat perjalanan tak kunjung sampai.</p>
<p>Dari persimpangan itu kami mulai memasuki jalan setapak, hujan yang turun pun semakin deras. Jalan yang dilalui semakin terjal, belum lagi ditambah aliran air yang ikut turun melalui jalan kecil itu. Saya sempat beristirahat sebentar, lagi-lagi sekedar menunggu rombongan yang terbelakang.</p>
<p>Perjalanan dilanjutkan lagi. Jalan yang dilalui kian menanjak. Hingga akhirnya kami tiba di kawah Tangkuban Perahu pukul 13.30 WIB. Perjalanan yang sangat melelahkan terbayar sudah dengan pemandangan Kawah Domas.</p>
<p>Perjalanan tak berhenti sampai disitu saja, masih ada dua putaran lagi untuk sampai di puncak gunung dan kawah Ratu.</p>
<p><strong>Tiba di Puncak</strong></p>
<p>Hujan masih turun sangat deras. Kendati demikian, hal tersebut tak menghalangi kami untuk tiba di puncak. Disana terdapat sebuah bangunan yang menyerupai benteng.  Ternyata bangunan tersebut merupakan menara penangkal petir. Disana terdapat sebuah warung kecil, tempat yang pas untuk berteduh sambil menyantap nasi timbel yang saya bawa.</p>
<p>Setelah mengisi perut, kami segera melanjutkan perjalanan untuk sampai di kawah Ratu. Kami harus tiba disana sebelum pukul 17.00 WIB. Pasalnya, akses kendaraan di sini cukup terbatas. Jalan yang kami tempuh begitu terjal, bau belerang pun menemani kami sepanjang perjalanan, dan kami tetap berjalan mengkuti arus air untuk sampai di kawah ratu. Kami pun tiba di kawah Ratu, tujuan terakhir kami.</p>
<p><strong>Perjalanan Adalah Esensinya</strong></p>
<p>Saya sendiri baru mengerti untuk apa <em>cape-cape</em> mendaki gunung Tangkuban Perahu ini. Padahal ada cara cepat untuk sampai di kawah yang berbentuk seperti cekungan mangkuk ini. Yaitu, dengan membayar tiket 15 ribu rupiah, dengan menggunakan kendaraan. Itu cara mudah. Namun, esensi Alang kali ini adalah di perjalanannya.</p>
<p>“Bukan sekedar melihat pemandangan Tangkuban Perahu saja, tapi esensinya adalah saat di perjalanannya,” kata Sunarko (21), ketua Aksara Salman ITB. Selama kurang lebih tujuh jam perjalanan banyak hal kami dapatkan. Kerjasama, solidaritas, saling membantu, dan lain-lain. Setelah ganti pakaian dan solat, kami pulang naik minibus menuju Masjid Salman ITB.</p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2012/01/esensinya-adalah-saat-perjalanan-bukan-tujuan/">Esensinya Adalah Saat Perjalanan, bukan Tujuan</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2012/01/esensinya-adalah-saat-perjalanan-bukan-tujuan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Basic Training KARISMA 2004 (II), Interaksi Pertama dengan Kegiatan di Salman</title>
		<link>http://salmanitb.com/2011/12/basic-training-karisma-2004-ii-interaksi-pertama-dengan-kegiatan-di-salman/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2011/12/basic-training-karisma-2004-ii-interaksi-pertama-dengan-kegiatan-di-salman/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Dec 2011 04:45:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fery Adi Prasetyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=10624</guid>
		<description><![CDATA[<p>Saya yang dianggap ‘berkontribusi’ terhadap keluarnya dua rekan saya dari NII, mendapat bagian atas teror tersebut. Kami sempat merasa tertekan. Alhamdulillah, dukungan rekan-rekan yang lain serta senior, membuat kami cukup kuat untuk mengatasi...</p><p><a href="http://salmanitb.com/2011/12/basic-training-karisma-2004-ii-interaksi-pertama-dengan-kegiatan-di-salman/">Basic Training KARISMA 2004 (II), Interaksi Pertama dengan Kegiatan di Salman</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_10537" class="wp-caption alignleft" style="width: 300px"><a href="http://salmanitb.com/2011/12/basic-training-karisma-2011-ajang-pemerataan-dakwah/img_2243/" rel="attachment wp-att-10537"><img class="size-medium wp-image-10537" title="pembukaan BT" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2011/12/IMG_2243-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>
<p class="wp-caption-text">Suasana Basic Training KARISMA 2011. (Foto: Fery AP)</p>
</div>
<p>Saya yang dianggap ‘berkontribusi’ terhadap keluarnya dua rekan saya dari NII, mendapat bagian atas teror tersebut. Kami sempat merasa tertekan. Alhamdulillah, dukungan rekan-rekan yang lain serta senior, membuat kami cukup kuat untuk mengatasi teror mental tersebut. Kami pun disarankan untuk semakin mendekatkan diri pada-Nya, dan memohon perlindungan atas diri kami.</p>
<p>Meski demikian, trauma yang menimpa kami tak terhindarkan. Kami bertiga jadi enggan untuk mengikuti kegiatan mentoring dan semacamnya. Rasa ingin tahu yang menggebu, sirna seketika.</p>
<p>Tetapi, keinginan untuk terus memperdalam Islam tak sepenuhnya pudar. Maka, pada pertengahan kelas 2, sekitar Januari 2004, aku tak menolak ajakan teman-teman untuk mengikuti Basic Training (BT) KARISMA. Karena, mereka menjanjikan sesuatu yang tidak sekedar mentoring.</p>
<p>Ternyata, memang demikian adanya. Dalam kegiatan yang berlangsung selama sepekan tersebut saya mendapat bermacam-macam hal. Tak hanya ilmu, tetapi juga kawan-kawan baru dengan berbagai latar belakang. Bahkan, diantara mereka terdapat seorang mualaf yang baru masuk Islam saat SMP. Pengalaman yang tak terlupakan. Sesi <em>outbond</em> pun jadi kenangan tersendiri. Terutama, saat simulasi bola pejal, saat kami berpelukan sangat erat dan tak tergoyahkan oleh panitia.</p>
<p>Sejak saat itu, rasa traumaku terhadap kegiatan mentoring mulai reda. Semangat belajar Islam kembali menyala. Kami, alumni BT pun aktif  aktif di KARISMA sebagai adik binaan. Dan hal itulah yang menandai interaksi pertamaku dengan aktivitas di masjid Salman ini.</p>
<p>Tak terasa tujuh tahun sudah berganti. Perubahan telah banyak terjadi. Orang-orang datang dan pergi. Namun, salman tetap di hati.</p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2011/12/basic-training-karisma-2004-ii-interaksi-pertama-dengan-kegiatan-di-salman/">Basic Training KARISMA 2004 (II), Interaksi Pertama dengan Kegiatan di Salman</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2011/12/basic-training-karisma-2004-ii-interaksi-pertama-dengan-kegiatan-di-salman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Basic Training KARISMA 2004 (I), Perjuangan Membebaskan Diri dari Trauma NII</title>
		<link>http://salmanitb.com/2011/11/basic-training-karisma-2004-i-perjuangan-membebaskan-diri-dari-trauma-nii/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2011/11/basic-training-karisma-2004-i-perjuangan-membebaskan-diri-dari-trauma-nii/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Nov 2011 05:52:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fery Adi Prasetyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[basic training]]></category>
		<category><![CDATA[Karisma]]></category>
		<category><![CDATA[nii]]></category>
		<category><![CDATA[salman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=10406</guid>
		<description><![CDATA[<p>Momen BT (Basic Training) KARISMA 2011 ini mengingatkan saya terhadap momen serupa 7 tahun silam. Ya, saya adalah alumni kegiatan tersebut, tepatnya angkatan 2004. Saat itu saya tengah mengalami trauma terhadap kegiatan berbau...</p><p><a href="http://salmanitb.com/2011/11/basic-training-karisma-2004-i-perjuangan-membebaskan-diri-dari-trauma-nii/">Basic Training KARISMA 2004 (I), Perjuangan Membebaskan Diri dari Trauma NII</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_10408" class="wp-caption aligncenter" style="width: 300px"><a href="http://salmanitb.com/2011/11/basic-training-karisma-2004-i-perjuangan-membebaskan-diri-dari-trauma-nii/nii-bendera-verboden-copy/" rel="attachment wp-att-10408"><img class="size-medium wp-image-10408" title="nii bendera verboden copy" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2011/11/nii-bendera-verboden-copy-300x154.jpg" alt="" width="300" height="154" /></a>
<p class="wp-caption-text">(Gambar: skalanews.com, Editing: Fery AP )</p>
</div>
<p>Momen BT (Basic Training) KARISMA 2011 ini mengingatkan saya terhadap momen serupa 7 tahun silam. Ya, saya adalah alumni kegiatan tersebut, tepatnya angkatan 2004. Saat itu saya tengah mengalami trauma terhadap kegiatan berbau mentoring dan sejenisnya.<br />
Saya yang saat itu duduk di kelas satu SMA tengah bersemangat untuk mempelajari Islam. Karena, materi yang didapat dari pelajaran di sekolah masih kurang, sementara rasa ingin tahu begitu menggebu. Saya pun mengikuti setiap kegiatan di Rohis dengan penuh semangat. Tak terkecuali mentoring kelompok tiap Rabu siang.<br />
Awalnya kegiatan mentoring berjalan biasa, tak ada yang ganjil. Namun, setelah beberapa bulan saya baru mengetahui ternyata mentor saya anggota NII. Awalnya sekedar curiga, lama-kelamaan kecurigaan itu jadi kenyataan.<br />
Begitu saya dianggap mengetahui keganjilan-keganjilan yang terjadi selama mentoring, saya dikucilkan dari kelompok. Tujuannya jelas, supaya kedua teman saya yang masih ‘setia’ tidak terganggu oleh kehadiran saya.<br />
Lokasi mentoring yang semula hanya diadakan di kontrakkan mentor tersebut, mulai dilakukan berpindah-pindah. Dan saya tidak pernah diberikan informasi yang tepat dimana mereka akan melakukan mentoring. Sementara saya, hanya diberi ‘alamat palsu’. Bahkan, saat bertemu mereka di sekolah, mereka enggan menceritakan lokasi serta isi mentoring yang mereka jalani. Saya pun jadi merasa terkucil dan kian jauh dari mereka, dari hari ke hari.<br />
Singkat cerita, dua teman saya kemudian dikabarkan telah di<em>baiat</em> oleh NII. Saya pun melaporkan hal tersebut pada senior DKM di sekolah. Sekolah pun sempat dibuat gempar karenanya. Saya sendiri merasa terpukul, karena merasa gagal menyelamatkan kawan-kawan saya tersebut.<br />
Proses deradikalisasi pun segera dilakukan. Hingga akhirnya mereka terbebas dari pengaruh NII. Namun, mantan mentor saya tersebut cukup gigih. Ia tak hentinya membujuk mereka untuk kembali lagi ke NII. Tak lupa, teror psikis pun dilakukan. Seperti pesan singkat dan telepon tengah malam dan dini hari baik ke ponsel maupun telepon rumah.</p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2011/11/basic-training-karisma-2004-i-perjuangan-membebaskan-diri-dari-trauma-nii/">Basic Training KARISMA 2004 (I), Perjuangan Membebaskan Diri dari Trauma NII</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2011/11/basic-training-karisma-2004-i-perjuangan-membebaskan-diri-dari-trauma-nii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mari Apresiasi Supir Angkot yang Tidak Mengetem</title>
		<link>http://salmanitb.com/2011/11/mari-apresiasi-supir-angkot-yang-tidak-mengetem/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2011/11/mari-apresiasi-supir-angkot-yang-tidak-mengetem/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Nov 2011 23:05:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yudha P Sunandar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[angkot]]></category>
		<category><![CDATA[angkot bandung]]></category>
		<category><![CDATA[apresiasi]]></category>
		<category><![CDATA[ngetem]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=10275</guid>
		<description><![CDATA[<p>Salah satu hal yang paling membuat saya bete ketika menggunakan sarana transportasi Angkutan Kota (Angkot) adalah kebiasaan mengetemnya. Soalnya, saya harus menunggu bukan hanya 1 - 2 menit saja, tetapi bisa sampai 15 menit, bahkan lebih.</p><p><a href="http://salmanitb.com/2011/11/mari-apresiasi-supir-angkot-yang-tidak-mengetem/">Mari Apresiasi Supir Angkot yang Tidak Mengetem</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_10276" class="wp-caption alignright" style="width: 300px"><a href="http://salmanitb.com/2011/11/mari-apresiasi-supir-angkot-yang-tidak-mengetem/angkot-di-bandung/" rel="attachment wp-att-10276"><img class="size-medium wp-image-10276" title="Angkot di Bandung" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2011/11/Angkot-di-Bandung-300x207.jpg" alt="Foto: pilarwawasan.blogspot.com" width="300" height="207" /></a>
<p class="wp-caption-text">Foto: pilarwawasan.blogspot.com</p>
</div>
<p>Salah satu hal yang paling membuat saya bete ketika menggunakan sarana transportasi Angkutan Kota (Angkot) adalah kebiasaan mengetemnya. Soalnya, saya harus menunggu bukan hanya 1 &#8211; 2 menit saja, tetapi bisa sampai 15 menit, bahkan lebih.</p>
<p>Selain membuat waktu saya terbuang, seringkali angkot yang sedang mengetem ini menyebabkan berbagai kemacetan di beberapa ruas jalan kota Bandung. Beberapa di antaranya yang kerap saya temui adalah perempatan Merdeka &#8211; RE Martadinata dan depan RS Boromeus.</p>
<p>Di satu sisi, saya benar-benar kesal menaiki angkot yang kerap mengetem karena menghabiskan waktu di perjalanan saya. Namun, di sisi lain, saya juga merasa kasihan kepada mereka. Pasalnya, dengan semakin mudah masyarakat mencicil sepeda motor, pengguna jasa transportasi Angkot semakin lama semakin sedikit. Hal ini berimbas pada semakin kecilnya pendapatan supir Angkot.</p>
<p>Seiring dengan hal tersebut, tuntutan penghasilan para supir Angkot kian hari pun kian besar. Tidak saja untuk operasional kendaraan dan setoran kepada majikannya, tetapi juga berkaitan dengan kebutuhan dapur dan keluarganya yang semakin hari semakin besar pula.</p>
<p>Tak heran bila segala cara pun dikerahkan oleh supir Angkot untuk memperbanyak pendapatannya, seperti: mengetem agar angkotnya penuh, mengebut dan ugal-ugalan berlomba dengan supir angkot lainnya guna memperebutkan penumpang, hingga menekan biaya suku cadang Angkot dan kadang membuatnya menjadi tidak nyaman untuk ditumpangi.</p>
<p>Menunggu peran pemerintah pun tampaknya hanya mimpi belaka. Mereka hanya peduli dengan masyarakat menjelang pemilihan umum. Setelah terpilih, mereka langsung lupa dengan rakyat dan sibuk dengan urusan politiknya saja. Belum lagi dengan solusi-solusi pemerintahan saat ini yang tidak pernah solutif dan malah menambah masalah baru.</p>
<p>Sebagai masyarakat, mari kita bergerak secara mandiri untuk meningkatkan layanan Angkot di Bandung. Caranya, salah satunya dengan mengapresiasi para supir Angkot yang santun, ramah, murah senyum, tidak mengetem, dan tidak ugal-ugalan selama mengemudikan kendaraannya.</p>
<p>Bentuk apresiasinya pun bisa bermacam-macam. Mulai dari yang paling sederhana dengan mengucapkan terima kasih kepada supir Angkot. Bentuk lainnya, melebihkan ongkos Angkot sebesar seribu hingga 2 ribu Rupiah. Bila kita ikhlas memberi, insyAllah akan menjadi amalan yang akan dibalas dengan kebaikan lainnya oleh Tuhan di kemudian hari.</p>
<p>Semoga percikan ide solusi ini bisa memberikan dorongan untuk supir Angkot agar meningkatkan pelayanannya kepada penumpang dan masyarakat Bandung.</p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2011/11/mari-apresiasi-supir-angkot-yang-tidak-mengetem/">Mari Apresiasi Supir Angkot yang Tidak Mengetem</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2011/11/mari-apresiasi-supir-angkot-yang-tidak-mengetem/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Etos Ilmiah dalam Alquran dan Sunnah</title>
		<link>http://salmanitb.com/2011/10/etos-ilmiah-dalam-alquran-dan-sunnah/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2011/10/etos-ilmiah-dalam-alquran-dan-sunnah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Oct 2011 01:11:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Irfan Habibie Martanegara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=9794</guid>
		<description><![CDATA[<p>Ada sebagian kalangan yang berpendapat bahwa etos agama, dalam hal ini Islam, bertolak belakang dengan etos sains. Meskipun begitu, bila kita melihat Alquran dan Sunnah, keduanya sejak lama mengajarkan berbagai etos ilmiah.

Berikut beberapa etos ilmiah dalam Alquran dan Sunnah yang disadur dari buku Metode dan Etika Pengembangan Ilmu Perspektif Sunnah karya Yusuf Qardlawi.
</p><p><a href="http://salmanitb.com/2011/10/etos-ilmiah-dalam-alquran-dan-sunnah/">Etos Ilmiah dalam Alquran dan Sunnah</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_9931" class="wp-caption alignright" style="width: 300px"><a href="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2011/10/experiment.jpg"><img class="size-medium wp-image-9931" title="experiment" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2011/10/experiment-300x224.jpg" alt="Foto: getstimulated.wordpress.com" width="300" height="224" /></a>
<p class="wp-caption-text">Foto: getstimulated.wordpress.com</p>
</div>
<p>Ada sebagian kalangan yang berpendapat bahwa etos agama, dalam hal ini Islam, bertolak belakang dengan etos sains. Meskipun begitu, bila kita melihat Alquran dan Sunnah, keduanya sejak lama mengajarkan berbagai etos ilmiah.</p>
<p>Berikut beberapa etos ilmiah dalam Alquran dan Sunnah yang disadur dari buku <em>Metode dan Etika Pengembangan Ilmu Perspektif Sunnah </em>karya Yusuf Qardlawi.</p>
<p><strong>1. Dorongan memperhatikan berbagai hal.</strong></p>
<p><strong></strong>Dalam Alquran, banyak sekali perintah untuk mengarahkan perhatian kita pada berbagai objek. Di antaranya, kita disuruh untuk memperhatikan alam semesta: <em>Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan langit dan bumi dengan hak? </em>(QS. Ibrahim: 14)</p>
<p>Juga hewan-hewan: <em>Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan.</em> (QS. al Ghasiyah: 17)</p>
<p>Lalu diri kita sendiri: <em>Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? </em>(QS. adz Dzariyat: 21)</p>
<p>Bahkan makanan kita: <em>Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.</em> [QS. Abasa 42]</p>
<p>Selain itu masih banyak hal lagi yang Alquran perintahkan untuk kita perhatikan.</p>
<p><strong>2. </strong><strong>Dorongan memberantas buta huruf.</strong></p>
<p>Etos ilmiah yang paling mendasar adalah membaca. Walaupun Rasulullah adalah rasul yang <em>ummi</em> dan diutus pada kaum yang <em>ummi</em>, tetapi ayat pertama yang diturunkan kepadanya adalah perintah membaca.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. </em>(QS. al ‘Alaq: 1-5)</p>
<p>Begitu pula ayat yang tidak lama kemudian turun, yaitu: <em>Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis</em> (QS. al Qalam: 1)</p>
<p>Secara praktis, Rasulullah pernah membebaskan tahanan perang dengan tebusan mengajarkan anak-anak baca tulis. Zaid bin Tsabit yang merupakan penulis wahyu, merupakan salah seorang yang diajari baca tulis oleh tawanan Perang Badar. Dorongan menulis juga mencakup kalangan perempuan, seperti Syifa binti Abdullah yang mengajarkan baca tulis kepada Hafsah binti Umar.</p>
<p><strong>3. </strong><strong>Dorongan mempelajari bahasa asing.</strong></p>
<p>Rasulullah memerintahkan Zaid bin Tsabit agar mendalami bahasa Siryani. Zaid berhasil menguasai bahasa itu kurang dari setengah bulan. Zaid menjadi sekertaris Rasulullah untuk membuat surat kepada kaum Yahudi dan membacakan surat-surat yang datang dari mereka. Rasulullah juga memiliki ahli bahasa Parsi, Romawi, dan Habasyah.</p>
<p>Penerjemahan ilmu dari bahasa lain mencapai puncaknya pada masa Abbasiyah. Ketika itu, melalui penguasaan bahasa asing, kaum muslimin memiliki kemampuan memetik ilmu-ilmu kauniyah, seperti kedokteran, kimia, falak, fisika, dan matematika dari bangsa lain, seperti Yunani, Persia, dan Romawi.</p>
<p><strong>4. </strong><strong>Dorongan membentuk penalaran ilmiah</strong></p>
<p>Ada tiga sumber pengetahuan, yaitu bukti empiris, rasionalitas, dan <em>khabar shadiq</em>. Ketiga hal ini ternyata sudah diisyaratkan dalam Alquran sejak jauh-jauh hari.</p>
<p>Alquran lewat nabi Muhammad menantang keyakinan orang kafir Quraisy untuk menunjukkan bukti empiris.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Dan mereka menjadikan malaikat-malaikat yang mereka itu adalah hamba-hamba Allah Yang Maha Pemurah sebagai orang-orang perempuan. Apakah mereka menyaksikan penciptaan malaika-malaikat itu? </em>(QS. az Zukhruf: 19)</p>
<p>Rasulullah juga meminta <em>burhan</em> atau argumentasi untuk menunjukkan kebenaran keyakinan kaum Quraisy.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Katakanlah (hai Muhammad): &#8220;Tunjukkanlah argumentasimu (burhanakum), jika kamu memang orang-orang yang benar&#8221;. </em>(QS. an Naml: 64)</p>
<p>Rasulullah juga meminta <em>khabar shadiq</em> atau <em>legitimate report,</em> jika mereka memiliki.</p>
<p style="text-align: left;"><em>Bawalah kepada-Ku Kitab yang sebelum (Alquran) ini atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang dahulu), jika kamu adalah orang-orang yang benar.&#8221; </em>(QS. al Ahqaf: 4)</p>
<p><strong>5. </strong><strong>Dorongan memberantas mitos (<em>takhayul</em> dan <em>khurafat</em>)</strong></p>
<p>Kecenderungan manusia seringkali membuat mitos pada hal-hal yang tidak mereka mengerti. Begitulah munculnya <em>takhayul</em> pada masa lalu. Namun sejak 14 abad yang lalu, Rasulullah sudah mengingatkan bahwa gejala-gejala alam yang tidak dimengerti tidak boleh dijadikan <em>takhayul,</em> tapi merupakan tanda-tanda kebesaran Allah.</p>
<p>Diriwayatkan dari Al Mughirah bin Syu&#8217;bah berkata, <em>&#8220;Terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah, bertepatan dengan meninggalnya Ibrahim (putra beliau). Lalu orang-orang berkata, &#8216;Terjadinya gerhana matahari karena kematian Ibrahim.&#8217; Kemudian Nabi bersabda, &#8217;Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang dan tidak pula karena hidupnya seseorang. Maka jika kalian melihatnya, bersegeralah berdoa kepada Allah dan shalat sehingga kembali terang.&#8217;&#8221;</em> (Muttafaq &#8216;alaih)</p>
<p>Yang cukup penting, Alquran mengajarkan kita bahwa Allah telah menetapkan ukuran-ukuran dalam penciptaan. Dengan adanya ukuran-ukuran alam semesta, manusia akhirnya bisa mengenali dan merumuskannya dalam sains.</p>
<p><em>Dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya. </em>(QS. Al Furqan: 2)</p>
<p><strong>6. </strong><strong>Dorongan menggunakan metode eksperimen </strong></p>
<p><em>Dari sahabat Anas, dia berkata bahwasanya ketika sampai di Madinah, Nabi melewati suatu kaum (dari kalangan sahabat anshar) yang sedang mengawinkan pohon kurma, maka beliau berkata, ”Sekiranya kalian tidak melakukannya, niscaya itu lebih baik.” Anas melanjutkan, ”Kemudian (mereka tidak melakukannya) sehingga hasilnya jelek (gagal).&#8221;</em></p>
<p><em>Tatkala Nabi kembali melewati mereka, beliau bertanya kepada mereka, “Bagaimana dengan pohon-pohon kurma kalian?” Mereka berkata: ”Bukankah anda yang mengatakan begini dan begitu (mereka mengikuti perkataan Nabi tersebut meskipun hasilnya jelek). Maka Nabi bersabda: “Kalian lebih tahu dengan urusan dunia kalian”.</em> (HR. Muslim)</p>
<p>Hadits ini menunjukkan bahwa dalam urusan teknis, Rasulullah memperkenankan kita menggunakan ilmu yang digali pengalaman dan eksperimen. Prinsip eksperimental ini diakui Rasulullah dalam masalah dunia yang bersifat teknis seperti urusan pertanian, kedokteran, industri, dan yang sejenisnya.</p>
<p title="">Salah satu bukti nyata pengakuan metode eksperimen adalah soal perumusan metodologi ilmiah dalam sains. Ternyata orang yang pertama kali merumuskan metodologi ilmiah bukanlah ilmuwan barat, tetapi seorang ilmuwan muslim bernama Ibnu Haytam.</p>
<p title="">Dengan rumusannya tentang metodologi ilmiah, ia berhasil mematahkan dua teori umum yang hanya didasarkan pada pemikiran tentang bagaimana kita melihat suatu benda. <em>Teori pertama</em>, teori emisi, didukung pemikir seperti Euclid dan Ptolemy, yang percaya bahwa penglihatan bisa bekerja karena mata memancarkan cahaya. <em>Teori kedua</em>, teori yang didukung Aristoteles dan para pengikutnya, menyatakan bahwa suatu bentuk fisik memasuki mata dari obyek.</p>
<p>Ibnu Haytam berpendapat bahwa proses penglihatan terjadi tidak oleh sinar yang dipancarkan dari mata, maupun melalui bentuk-bentuk fisik masuk ke dalamnya. Dia menjelaskan bahwa kita mampu melihat benda karena cahaya yang dipantul ke benda masuk ke dalam mata. Hal ini berhasil dibuktikan Ibnu Haytam dengan menggunakan percobaan.</p>
<p><strong>7. </strong><strong>Dorongan mempercayakan sesuatu pada ahlinya</strong></p>
<p>Islam sangat menghargai orang orang yang ahli di bidangnya. Allah berfirman:</p>
<p style="text-align: left;"><em>Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.</em> (QS. Al-Anbiyaa&#8217;: 21)</p>
<p>Dalam hal ini, Rasulullah pernah bersabda,</p>
<p style="text-align: left;"><em>“Apabila sesuatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggu saat kehancurannya”</em> (HR. Bukhari).</p>
<p>Ucapan tersebut dipraktekkan Rasulullah pada perang Badar. Saat itu, Hubbab bin Mundzir mempertanyakan alasan pemilihan tempat berkemah. Menurut Hubbab, seharusnya tempat berkemah lebih dekat sumber mata air, sehingga musuh tidak mendapat sumber mata air. Pendapat tersebut dibenarkan dan dipakai oleh Rasulullah.</p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2011/10/etos-ilmiah-dalam-alquran-dan-sunnah/">Etos Ilmiah dalam Alquran dan Sunnah</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2011/10/etos-ilmiah-dalam-alquran-dan-sunnah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kebersamaan dalam Satu Ruangan Sempit</title>
		<link>http://salmanitb.com/2011/09/kebersamaan-dalam-satu-ruangan-sempit/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2011/09/kebersamaan-dalam-satu-ruangan-sempit/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Sep 2011 02:26:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tristia Riskawati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khazanah]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=9173</guid>
		<description><![CDATA[<p>1800 kilometer ditempuh menggunakan kendaraan roda empat. Apa yang Anda pikirkan? Tiga hari dua malam perjalanan selama lebih dari 48 jam (tentu saja dengan waktu istirahat, makan, sholat, dll). Aku pernah menghabiskan waktu 13 jam menggunakan kereta bisnis ke Surabaya, atau delapan jam menggunakan kereta eksekutif ke Jogjakarta, atau sembilan jam menggunakan kereta ekonomi ke blitar, atau tiga setengah jam menggunakan pesawat terbang ke Maluku.</p><p><a href="http://salmanitb.com/2011/09/kebersamaan-dalam-satu-ruangan-sempit/">Kebersamaan dalam Satu Ruangan Sempit</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>oleh: Mohamad Kamil Riyan*</p>
<div id="attachment_9174" class="wp-caption aligncenter" style="width: 300px"><a href="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2011/08/mudik.jpg"><img class="size-medium wp-image-9174" title="mudik" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2011/08/mudik-300x181.jpg" alt="" width="300" height="181" /></a>
<p class="wp-caption-text">Gambar dari (http://shannypersonalblog.wordpress.com/)</p>
</div>
<p>1800 kilometer ditempuh menggunakan kendaraan roda empat. Apa yang Anda pikirkan? Tiga hari dua malam perjalanan selama lebih dari 48 jam (tentu saja dengan waktu istirahat, makan, sholat, dll). Aku pernah menghabiskan waktu 13 jam menggunakan kereta bisnis ke Surabaya, atau delapan jam menggunakan kereta eksekutif ke Jogjakarta, atau sembilan jam menggunakan kereta ekonomi ke blitar, atau tiga setengah jam menggunakan pesawat terbang ke Maluku.</p>
<p>Tapi, 48 jam kuhabiskan bersama keluargaku dalam rangka mudik lintas pulau. Dari Bandung, Ibukota Jawa Barat, menuju Padang, ibukota Sumatera Barat. Aku mudik bersama empat orang anggota keluargaku memakai mobil Kijang kapsul keluaran akhir 2003.</p>
<p>Kekeluargaan itu sangat terasa ketika Anda berada dalam perjalanan dan menghabiskan waktu bersama. Bahkan main, tidur, makan, bercanda, atau ngobrol Anda dan keluarga Anda lakukan dalam satu ruangan sempit yang disebut mobil.</p>
<p>Seringkali kita tidak sadar bahwa dunia pergaulan dengan sebaya membuat jarak antarkeluarga menjadi renggang. Teknologi yang tersedia, apalagi. Bahkan dalam sebuah acara makan malam pun, fisik memang ada, namun hati di tempat lain.</p>
<p>Tidak heran jika orang tua kami selalu mengagendakan waktu akhir tahun untuk melakukan kegiatan mudik. Bahkan abangku yang berkuliah di padang, terpaksa harus pulang dulu ke Bandung untuk mudik bersama ke Padang. Alasannya hanya ingin merasakan kebersamaan di keluarga.</p>
<p>Ya, aku berharap keluargaku nanti dapat melanjutkan tradisi ini. Berkumpul, berengkrama dan saling melakukan kegiatan keluarga meski sudah memiliki keluarga masing masing.***</p>
<p style="text-align: right;"><em>*Penulis adalah aktivis Salman ITB dan mahasiswa Teknik Pertambangan ITB 2008</em></p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2011/09/kebersamaan-dalam-satu-ruangan-sempit/">Kebersamaan dalam Satu Ruangan Sempit</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2011/09/kebersamaan-dalam-satu-ruangan-sempit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

