<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Masjid Salman ITB &#187; Opini</title>
	<atom:link href="http://salmanitb.com/category/opini/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://salmanitb.com</link>
	<description>Menuju Masyarakat Informasi Islami</description>
	<lastBuildDate>Tue, 22 May 2012 07:47:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Lady Gaga pun Kalah Bergairah</title>
		<link>http://salmanitb.com/2012/05/lady-gaga-pun-kalah-bergairah/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2012/05/lady-gaga-pun-kalah-bergairah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 May 2012 04:21:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tristia Riskawati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=13408</guid>
		<description><![CDATA[<p>Oleh karena pernah membaca penggalan esai Cak Nun "zaman purba" yang saya nukil di atas, maka ingatlah saya dengan Lady Gaga. Dan tentu saja, setelah itu dilanjutkan dengan saya yang terngiang kehebohan pro-kontra kehadirannya untuk menghentak panggung  musik Indonesia. Adegannya dinilai beberapa kalangan terlalu vulgar.</p><p><a href="http://salmanitb.com/2012/05/lady-gaga-pun-kalah-bergairah/">Lady Gaga pun Kalah Bergairah</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>&#8220;Di pulau-pulau Polynesia, seks seperti makan kacang. <em>Lha wong</em> kawan saya disuguhi Playboy bilang &#8216;<em>masya Allah</em>&#8216; tapi dia amat-amati juga. Halaman pertama bilang &#8216;haram!&#8217;, kedua &#8216;haram!&#8217;, diteruskan juga sampai halaman terakhir, cuma intonasi haramnya makin mengantiklimaks. Ayolah, jangan bimbang ragu. Tak perlu hemat dengan nilai atau badan. Kita tuntaskan kenikmatan sampai habis. Sampai kemanusiaan kita bangkrut. Cuma, kalau ada orang yang absen, saya ikut.<em> Saya memang ada keperluan lain, yang tak kalah menggairahkan.&#8221;</em></p>
<p><strong>Emha Ainun Nadjib (Cak Nun),</strong><br />
dalam esainya <strong><em>Goyang Kiai Sekati</em></strong> (MBM <em>Tempo</em>, 1 Januari 1983)</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 400px"><img src="https://fbcdn-sphotos-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash3/167239_499015363076_835938076_6139547_5363942_n.jpg" alt="" width="400" />
<p class="wp-caption-text">Mendaki gunung, cukup menggairahkan daripada nonton dangdut Pantura. (Foto: Tristia R)</p>
</div>
</blockquote>
<p>Oleh karena pernah membaca penggalan esai Cak Nun &#8220;zaman purba&#8221; yang saya nukil di atas, maka ingatlah saya dengan Lady Gaga. Dan tentu saja, setelah itu dilanjutkan dengan saya yang terngiang kehebohan pro-kontra kehadirannya untuk menghentak panggung  musik Indonesia. Adegannya dinilai beberapa kalangan terlalu vulgar.</p>
<p>Ya, memang, saya pikir. Ia adalah satu di antara vulgarisme-vulgarisme lain yang menjamah negeri ini. Oh, tapi santai dulu, mister, masih ada Pantura (Pantai Utara). Ditambah lagi beragam video dangdut aksi &#8220;jurus kamasutra&#8221; yang menyebar di belantika per-youtube-an. Wow&#8211; bikin tegang.  Nyatanya, masih ada lusinan ratu goyang lain yang tak kalah mencemaskan di penjuru negeri ini.</p>
<p>Cuma, kasihan deh Gaga. Hanya dia yang ketiban nasib apes akhir-akhir ini. Mungkin karena nona bernama asli Stefani Joanne Angelina Germanotta ini lebih terkenal dan terekspos (oh efek media),  maka dialah yang paling berpotensi untuk dicekal oleh kelompok garis keras.</p>
<p>Kadang, mencekal pornografi di suatu negeri (berusaha untuk menganut) berpaham demokrasi memang pelik. Beribu perspektif dari berbagai isi kepala manusia saling adu jotos untuk memenangkan versi kebenaran miliknya. Termasuk orang yang (setidaknya berusaha, dan semoga berhasil) memiliki paham Alquran. Miris, kadang kita harus menyaksikan paham Alquran kalah telak.</p>
<p>Tidak. Saya tidak mau membahas perihal kerugian akibat demokrasi lebih dalam. Yang jelas, batalnya Lady Gaga untuk datang ke Indonesia bagi saya tidak menyembuhkan masalah. Kata seorang sastrawan Amerika, Henry David Thoreau, ketika ada ribuan yang memangkas daunnya, ada satu yang mencabut akarnya. Keberhasilan membendung kehadiran Lady Gaga ke Indonesia hanyalah keberhasilan memangkas daun. Bukan akar permasalahan.</p>
<p>Mungkin secara fisik, masyarakat Indonesia berhasil dijauhkan oleh Lady Gaga. Namun, secara pikiran, saya yakin sejumlah rakyat Indonesia makin mencak-mencak (walau dalam hati) kepada orang yang bilang Lady Gaga itu lebih baik tidak konser di Indonesia. Dalam linimasa twitter, seumpamanya, saya lihat tendensi-tendensi sinis tokoh publik dari tweet-tweet mereka. Semisal:  &#8221;Jangan-jangan, nanti semua konser musik di indonesia butuh sertifikasi halal.&#8221;</p>
<p>Lalu, bagaimana dengan saya? Saya tidak menyukai Lady Gaga karena sulit bagi saya untuk  mencerap barang setitik makna hidup dalam tiap lagu dan tingkah polahnya. Ah, kenapa kadangkala kita suka lupa untuk seperti musuh Islam&#8211; mencerap nilai-nilai yang bertentangan dengan mereka (Alquran) untuk diputarbalikkan&#8211; kemudian dikemas sedemikian rupa untuk menyesatkan.</p>
<p>Dalam tulisan ini saya ingin memberitahu&#8211; sekalipun kamu butuh <em>refreshing</em>&#8211; jangan sampai pelampiasanmu itu dihabiskan dengan mendengarkan, menonton, dan  melakukan hal-hal yang kurang bermanfaat. Termasuk mendengarkan musik&#8211; bahkan sampai jiwa untuk menggelontorkan fulus demi menonton konser Lady Gaga. Ada segudang cara urusan yang lebih &#8220;menggairahkan&#8221;&#8211; saya jamin&#8211; daripada sekedar menonton dia, toh.</p>
<p>Saya, seperti kamu, juga suka musik. Namun, musik-musik yang saya kini berusaha dengarkan adalah musik-musik yang memiliki lirik-lirik inspiratif. Harus musik yang makin menguatkan saya menjadi pribadi yang lebih berkesesuaian dengan ingin-Nya. Kamu pasti sangat tahu John Mayer.</p>
<p>Saya suka beberapa lagunya yang memilki lirik inspiratif (coba dengar <em>The Heart of Life</em>, <em>No Such Thing</em>, atau <em>Bigger than My Body</em>). Saya terinspirasi satu sisi dari kehidupan penyanyi Hawaii bernama Jack Johnson, di mana ia bersama istrinya giat mengampanyekan gaya hidup hijau (ditambah setumpuk kegiatan filantropis lain) dan masih kompakan hidup seatap selama 12 tahun lamanya (sangat tidak <em>hollywood</em> sekali bukan?).</p>
<p>Saya, &#8220;lebih bergairah&#8221; lihat-lihat situs <em>ProductiveMuslim.com,</em> di mana nilai-nilai Islam dikemas menjadi sedemikian menarik dan solutif terhadap permasalahan remeh manusia. Ada pula godaan tak tertahankan untuk merintis sebuah organisasi nirlaba yang berpijak pada gerakan <em>sociopreneur</em>. Lebih kuat gaya magnetiknya dibanding rayuan menonton setumpuk drama Korea yang khasiatnya bikin <em>menye nan memble. </em></p>
<p>Masih banyak jenis penghiburan lain yang jauh lebih bikin berguna bagi diri sendiri maupun orang lain. Lebih &#8220;menggairahkan&#8221;, istilah favorit saya. <em>You just name it.</em> Jadi sekalipun Lady Gaga ternyata berhasil konser di Indonesia suatu saat nanti, kamu bisa berucap &#8220;Dadah, Lady Gaga. Maaf, tapi saya punya kesenangan-kesenangan lain yang lebih menggairahkan daripada bodi aduhaimu&#8230;&#8221;***</p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2012/05/lady-gaga-pun-kalah-bergairah/">Lady Gaga pun Kalah Bergairah</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2012/05/lady-gaga-pun-kalah-bergairah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kok Nyontek Sih?</title>
		<link>http://salmanitb.com/2012/05/kok-nyontek-sih/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2012/05/kok-nyontek-sih/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 May 2012 04:17:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fery Adi Prasetyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=13162</guid>
		<description><![CDATA[<p>Pada suatu siang yang cerah dalam perjalanan menuju kantor pos di angkot jurusan Cicaheum-Ledeng, saya mendengar obrolan dua orang remaja. Awalnya, saya tak begitu tertarik dengan obrolan jenis ini. Tetapi, belakangan saya menyadari...</p><p><a href="http://salmanitb.com/2012/05/kok-nyontek-sih/">Kok Nyontek Sih?</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_13168" class="wp-caption alignright" style="width: 300px"><a href="http://salmanitb.com/2012/05/kok-nyontek-sih/mantep-gan-aksi/" rel="attachment wp-att-13168"><img class="size-medium wp-image-13168" title="mantep gan, aksi" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/05/mantep-gan-aksi-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>
<p class="wp-caption-text">Aksi pelajar yang tergabung dalam Mantep-GAN Jumat lalu (13/4) di depan Gedung Sate. Aksi tersbut dilakukan tiga hari sebulum UN SMA. (Foto: dok. Mantep-GAN)</p>
</div>
<p>Pada suatu siang yang cerah dalam perjalanan menuju kantor pos di angkot jurusan Cicaheum-Ledeng, saya mendengar obrolan dua orang remaja. Awalnya, saya tak begitu tertarik dengan obrolan jenis ini. Tetapi, belakangan saya menyadari bahwa salah satu di antara mereka adalah teman murid saya semasa saya mengajar di sebuah sekolah dasar.</p>
<p>Saya lantas mengenali sosok anak tersebut dari liontin kalungnya. Namanya khas, mirip nama karakter di sebuah telenovela Meksiko yang sempat membanjiri layar kaca tanah air. Wajahnya pun saya belum lupa, meski sedikit berbeda tentunya.</p>
<p>Hal yang membuat saya tertarik mendengar pembicaraan mereka, tak lain karena mereka membahas tentang Ujian Nasional SMA yang baru saja mereka jalani. Pembicaraan diawali dengan keluhan, &#8220;Aduh, aku tadi nggak bisa <em>ngerjain</em> <em>euy</em> yang matematika. Untung dapet kunci (jawaban), jadi bisa<em> kekerjain</em> semua. ” Rekannya segera menimpali, “Oh iya, aku juga tadi gitu <em>da</em>.”</p>
<p>Jleg. Dengan santai, mereka berbincang-bincang tentang ketidakjujuran mereka. Seolah hal tersebut benar-benar lumrah dan wajar terjadi pada saat ujian.</p>
<p>Saya berusaha menahan diri sebisanya, untuk tidak berkomentar dan bergabung dalam pembicaraan tersebut. Saya ingin sekali mengingatkan mereka bahwa yang mereka lakukan salah. Apalagi, di situ juga terdapat beberapa pelajar SMP. Bagaimana jika anak-anak tersebut terinspirasi oleh aksi kakak-kakaknya tersebut?</p>
<p>Angkot lantas melewati jalan Lamping, kawan murid saya turun dari angkot tersebut, dialog pun berhenti. Tak sampai satu menit, angkot tiba di tujuan saya, kantor pos. Tak sepatah kata pun sempat saya ucapkan pada remaja-remaja tersebut.</p>
<p>Kejadian tersebut memaksa saya untuk mengenang masa-masa ujian dahulu. Saya masih ingat ketika beberapa hari sebelum ujian, seorang guru mengumpulkan kami di lapangan sekolah yang rindang.</p>
<p>Layaknya bos agen rahasia, ia mulai mengatur sebuah strategi untuk lulus ujian dengan nilai maksimal. Siswa-siswa terpandai dipilih sebagai narasumber kunci jawaban. Adik-adik kelas dan perwakilan setiap ruangan ditunjuk sebagai agen distribusi kunci jawaban.</p>
<p>Saat ujian berlangsung, strategi yang dilancarkan berhasil. Distribusi kunci jawaban berlangsung lancar sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Saya pun sempat mendapat “kunci jawaban” tersebut.</p>
<p>Jujur, saya sempat tergoda untuk meliriknya dan menyalinnya ke dalam lembar jawaban saya. Apalagi, saat itu saya hanya bisa mengerjakan 15 dari 30 soal yang ada. Rasanya, setan berbisik kencang waktu itu. Namun, pada akhirnya saya mengurungkan niat saya tersebut. Bahkan saya membuang secarik kertas berisi deretan angka dan huruf tersebut agar kunci jawaban tidak beredar di kelas. Sungguh, saya ingin kawan-kawan berbuat jujur juga.</p>
<p>Lama setelahnya, sepucuk surat diantar oleh pak pos ke rumah. Dalam surat tersebut tertera bahwa saya lulus. Lega sekali rasanya dan bangga. Bangga, karena saya tidak menempuh cara yang menurut saya kurang keren, mencontek atau perbuatan curang lainnya. Belakangan, saya tahu saya lulus hanya dengan nilai 6 untuk mata pelajaran matematika. Tapi, saya puas dan bersyukur dengan pencapaian saya tersebut.</p>
<p>Saya pun jadi kian bersyukur, karena sekarang ada sekelompok remaja yang juga menyuarakan kejujuran saat ujian.  Mereka tergabung dalam komunitas Mandiri-Terpercaya Gerakan Anti Nyontek Pelajar Nasional (MANTEP GAN). Semoga perjuangan mereka dapat terus diwarisi olehmenginspirasi generasi selanjutnya, hingga Indonesia bebas dari ketidakjujuran. <strong>[Fe]</strong></p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2012/05/kok-nyontek-sih/">Kok Nyontek Sih?</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2012/05/kok-nyontek-sih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengaku Cinta Bumi? Perhatikanlah Makananmu!</title>
		<link>http://salmanitb.com/2012/04/mengaku-cinta-bumi-perhatikanlah-makananmu/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2012/04/mengaku-cinta-bumi-perhatikanlah-makananmu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Apr 2012 04:43:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yudha P Sunandar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=12993</guid>
		<description><![CDATA[<p>Tanggal 22 April kerap diperingati sebagai hari Bumi. Berbagai kalangan tampaknya tidak mau melewati momen ini untuk menunjukan bahwa mereka peduli dengan bumi. Namun, sebenarnya tak perlu capek-capek menyelenggarakan berbagai kegiatan besar untuk menunjukan bahwa kita cinta bumi. Cukup lihat apa yang kita makan. Karena itulah wujud cinta kita sesungguhnya pada bumi.
</p><p><a href="http://salmanitb.com/2012/04/mengaku-cinta-bumi-perhatikanlah-makananmu/">Mengaku Cinta Bumi? Perhatikanlah Makananmu!</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_12995" class="wp-caption alignleft" style="width: 300px"><a href="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/04/earth_day1.gif"><img class="size-medium wp-image-12995" title="earth_day1" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/04/earth_day1-300x225.gif" alt="Foto: Wondercliparts.com" width="300" height="225" /></a>
<p class="wp-caption-text">Foto: Wondercliparts.com</p>
</div>
<p>Tanggal 22 April kerap diperingati sebagai hari Bumi. Berbagai kalangan tampaknya tidak mau melewati momen ini untuk menunjukan bahwa mereka peduli dengan bumi. Namun, sebenarnya tak perlu capek-capek menyelenggarakan berbagai kegiatan besar untuk menunjukan bahwa kita cinta bumi. Cukup lihat apa yang kita makan. Karena itulah wujud cinta kita sesungguhnya pada bumi.</p>
<p>Beberapa pembaca mungkin akan bertanya-tanya, apa hubungan antara makan dan bumi?</p>
<p>Bagaimana pun, aktivitas manusia sekecil apa pun, berdampak serius pada bumi. Salah satunya adalah makan. Karena, untuk memenuhi kebutuhan makannya sehari-hari, manusia tidak segan-segan merusak bumi. Hal ini termanivestasikan dalam beragam bentuk aktivitas manusia, seperti: merusak hutan, mencemari air, membunuh satwa liar, dan menangkap ikan berlebihan.</p>
<p>Dalam skala kecil, mungkin tidak akan berpengaruh terhadap bumi. Tapi, jumlah manusia sudah sedemikian banyaknya, 7 Milyar orang. Hal ini diperparah dengan sifat manusia yang cenderung mengabaikan keberlangsungan ekologi. Sehingga, ketika aktivitasnya telah berlebih, bumi tidak mampu lagi untuk meregenerasi tubuhnya yang rusak.</p>
<div>
<p>Kembali ke persoalan makan. Memperhatikan makanan kita bukan hanya mengenai apa yang kita makan, tetapi juga mengenai alat yang kita gunakan untuk makan. Apakah yang kita gunakan untuk makan adalah peralatan yang ramah lingkungan atau tidak?</p>
</div>
<p>Bila kita mencintai bumi, seharusnya kita menggunakan peralatan makan yang ramah lingkungan, atau setidaknya bisa dengan mudah diuraikan oleh alam. Hindari peralatan makan yang sekali buang dan sulit diuraikan oleh tanah seperti stereofoam, plastik, dan kertas.</p>
<p>Sebaiknya tetap menggunakan peralatan yang bisa digunakan secara berulang-ulang seperti piring dan gelas yang terbuat dari kaca. Hal ini tidak hanya mampu mengurangi sampah, tapi juga mengurangi resiko terkena kanker bila dibandingkan menggunakan peralatan makan yang terbuat dari stereofoam, plastik, dan kertas.</p>
<p>Akan lebih baik lagi, bila kita meminimalisir penggunaan peralatan makan kita menggunakan apa yang dianugerahkan Tuhan kepada kita. Contohnya, untuk makanan tanpa kuah, sebaiknya menggunakan tangan daripada menggunakan sendok.</p>
<p>Tentunya dengan kita menggunakan tangan, kita tidak perlu mencuci sendok. Bukan hanya lebih hemat air, tapi mencuci tangan setidaknya membuat air tidak terlalu banyak tercemar deterjen dibandingkan dengan mencuci sendok. Tangan sudah cukup bersih bila dicuci menggunakan air saja, tanpa sabun. Tapi sendok, tentunya harus menggunakan deterjen pencuci piring, dan tentunya ini menambah pencemaran air di bumi.</p>
<p>Selain berkaitan dengan alat yang digunakan untuk makan, kita juga harus memperhatikan besarnya energi dalam membuat makanan dan mendistribusikannya.</p>
<div>
<p>Dalam hal distribusi, tentunya semakin jauh jarak antara produsen dan konsumen, semakin besar pula energi yang dibutuhkan untuk mengirimkan makanan. Contohnya saja dengan buah yang kebunnya berjarak hanya 1 Kilometer dari tempat tinggal kita. Distribusinya mungkin bisa dengan menggunakan sepeda atau sepeda motor. Untuk sepeda motor, energi yang dibutuhkan relatif sangat kecil dan tidak akan menghabiskan 1 liter bahan bakar premium.</p>
</div>
<p>Tapi bagaimana dengan buah-buahan yang kita impor dari negara yang jaraknya ribuan Kilometer dari tempat kita? Berapa banyak energi yang dibutuhkan untuk menghadirkan buah-buahan dari negara asalnya ke hadapan kita? Tentunya, semakin banyak energi, semakin banyak buangan yang dihasilkan, dan semakin besar dampaknya bagi bumi kita.</p>
<p>Pun buah-buahan itu tidak hanya sekali angkut dalam setahun. Tapi puluhan, ratusan, bahkan ribuan kali angkut dalam setahun. Saya tidak memiliki data angka mengenai banyaknya bahan bakar yang digunakan. Namun, andaikata dibutuhkan seratus ribu liter bahan bakar untuk sekali mengantarkan barang dari negara yang satu ke negara lain yang jaraknya seribu Kilometer, berarti dibutuhkan seratus juta liter bahan bakar dalam setahun bila ada seribu kali angkut. Lalu, berapa banyak jumlah polusi yang dilepaskan ke udara?</p>
<div>
<p>Itu baru dari sisi distribusi makanan. Belum lagi dari proses pembuatan makanan. Ketika kita membeli nasi di warung padang, kita bisa lihat mereka memasak menggunakan kompor minyak atau gas. Energi yang dibutuhkan pun relatif lebih kecil. Namun tidak dengan ketika kita membeli di restoran cepat saji. Nasi di sana dimasak dengan menggunakan peralatan yang serba modern dan membutuhkan energi yang jauh lebih banyak.</p>
</div>
<p>Barangnya sama-sama nasi, tapi proses pembuatannya beda, dan salah satunya lebih boros energi. Pertanyaannya, kenapa juga kita harus mendapatkan makanan yang bentuknya sama, tetapi energi yang diperlukan untuk memasaknya sangat jauh berbeda dan berdampak signifikan terhadap kerusakan bumi kita?</p>
<p>Sebagai catatan, semakin banyak energi yang dibutuhkan sebuah alat untuk memproduksi sesuatu, semakin banyak juga kebutuhan akan bahan bakar dan listrik, dan semakin banyak juga jumlah emisi yang disumbangkan aktivitas manusia untuk bumi.</p>
<p>Selain dari proses memasak dan distribusi, kita juga harus peduli bagaimana makanan yang kita makan di produksi. Apakah makanan yang kita konsumsi dihasilkan dari merusak bumi atau tidak?</p>
<div>
<p>Misalnya, ketika kita memakan sayuran. Apakah sayuran yang kita makan adalah sayuran yang disemprot dengan pestisida dan menggunakan pupuk buatan? Bila disemprot dengan pestisida, berapa banyak spesies yang mati dan air yang tercemar oleh pestisida?</p>
</div>
<p>Selain energi yang dibutuhkan untuk membuat pestisida dan pupuk buatan cukup besar, pestisida juga berdampak langsung terhadap rantai makanan alami di alam. Ulat yang mati karena pestisida, akan dimakan oleh burung dan bisa berdampak pada matinya spesies burung pemakan ulat lantaran terkena racun pestisida.</p>
<p>Dalam jangka panjang, rantai makanan bisa hilang. Predator yang lebih tinggi dari burung pemakan ulat, tidak memiliki asupan makanan sehingga bisa mati kelaparan. Hal ini biasanya menyebabkan melonjaknya jumlah spesies tingkat pertama. Sehingga bisa menyebabkan serangan hama dengan jumlah yang tak terkendali. Misalnya saja dengan fenomena jutaan belalang yang menghabiskan tanaman siap panen di banyak negara di dunia, termasuk di Indonesia.</p>
<p>Contoh lainnya, tentang tempat sayuran ditanam. Apakah di lahan yang diperuntukan untuk hutan atau memang di lahan yang peruntukannya untuk kebun? Bila di lahan yang peruntukannya untuk hutan, kembali lagi, kita telah menyumbang kerusakan bagi bumi ini.</p>
<div>
<p>Jadi, ketika kita makan, kita harus bertanya dalam diri kita tentang asal makanan, proses memasaknya, dan cara menghasilkannya. Apakah untuk memenuhi konsumsi kita, makanan tersebut berlebih-lebihan dalam menggunakan energi? Apakah makanan yang kita makan, ramah lingkungan?</p>
</div>
<p>Ribet memang. Namun, kondisi ini akibat budaya kita yang tidak peduli dengan bumi dan menganggap tanggung jawab merawat bumi bisa dengan mudah digantikan dengan menyumbang kepada Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) bidang konservasi alam.</p>
<p>Jadi, merasa cinta dengan bumi? Perhatikanlah cara makan kita agar lebih ramah lingkungan. Bagaimana pun, itulah salah satu bukti cinta kita terhadap bumi.</p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2012/04/mengaku-cinta-bumi-perhatikanlah-makananmu/">Mengaku Cinta Bumi? Perhatikanlah Makananmu!</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2012/04/mengaku-cinta-bumi-perhatikanlah-makananmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sarapan, Dapatkah Kita Abaikan?*</title>
		<link>http://salmanitb.com/2012/04/sarapan-dapatkah-kita-abaikan/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2012/04/sarapan-dapatkah-kita-abaikan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Apr 2012 16:40:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Faisal Fadilla Noorikhsan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=12853</guid>
		<description><![CDATA[<p>Pagi menjelang, tetapi seringkali kita abai pada aktivitas yang satu ini. Banyak orang yang tergesa-gesa dan langsung pergi beraktivitas tanpa sarapan. Banyak alasan yang membuat orang memulai hari tanpa sarapan. Bahkan ada yang...</p><p><a href="http://salmanitb.com/2012/04/sarapan-dapatkah-kita-abaikan/">Sarapan, Dapatkah Kita Abaikan?*</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 435px"><img src="http://1.bp.blogspot.com/-JAmndw4bDPI/ToeuIznx76I/AAAAAAAAAbc/EfphBg7hPf8/s1600/sarapan.jpg" alt="" width="435" height="396" />
<p class="wp-caption-text">(Foto: dwikiprasetya.blogspot.com)</p>
</div>
<p>Pagi menjelang, tetapi seringkali kita abai pada aktivitas yang satu ini. Banyak orang yang tergesa-gesa dan langsung pergi beraktivitas tanpa sarapan. Banyak alasan yang membuat orang memulai hari tanpa sarapan. Bahkan ada yang menganggap sarapan tidak penting.</p>
<p>Apakah penting mengawali hari dengan sarapan? Jawabannya: ya. Waktu sarapan dimulai dari pukul 06.00 sampai 10.00. Saat kita tidur, tidak ada makanan yang masuk dalam tubuh. Namun, aktivitas seperti bernapas, bergerak, atau aktivitas ringan lain terus berjalan. Ketiadaan makanan dalam tubuh membuat kadar gula sangat rendah.</p>
<p>Ketika bangun tidur, aktivitas fisik kembali berjalan. Pergi ke kantor, berangkat ke sekolah, maupun segudang aktivitas lain memerlukan konsentrasi agar dapat melakukan kegiatan secara optimal. Semua aktivitas yang kita lakukan memerlukan energi. Nah, energi didapat dari sarapan pagi yang seharusnya disantap.</p>
<p>Makanan yang disantap pagi hari akan membuat tubuh merasa kenyang dan membangkitkan semangat untuk melakukan aktifitas. Sarapan yang sehat dapat membantu menurunkan kolesterol.</p>
<p>Namun, tidak semua orang menganggap penting sarapan. Ada yang merasa enggan melakukannya. Dengan alasan diburu waktu agar tidak terlambat, seseorang tidak sarapan. Takut gemuk karena sarapan adalah pendapat yang salah besar. Justru tanpa sarapan, kalori yang disantap bisa lebih banyak.</p>
<p>Tanpa sarapan, metabolisme tubuh dan pembakaran lemak dalam tubuh akan menurun. Nafsu makan siang lantas akan meningkat. Tubuh yang terasa lapar dapat membuat Anda mencari cemilan sehingga kalori yang masuk dalam tubuh meningkat.</p>
<p>Idealnya, kalori yang masuk ke tubuh kita sebanyak 300-4000 kalori. Untuk sarapan, dianjurkan menu yang cukup gizinya. Tentunya yang seusuai dengan “Empat Sehat Lima Sempurna” &#8212; terdiri dari karbohidrat, susu, sereal. Pilihan lain dengan minum jus buah, dua porsi buah besar, atau susu.</p>
<p>Waktu yang sedikit membuat kita sering sarapan diluar. Dampak negatif dari membeli makanan diluar adalah kita tidak tahu kebersihan makanan tersebut. Untuk menghindarinya, pilih makanan dalam kemasan yang tertutup agar dapat dipastikan makanan tersebut tidak dihinggapi lalat atau nyamuk yang membawa bibit penyakit.</p>
<p>Menghindari makanan yang kurang sehat dan berminyak juga dianjurkan. Hindari jeroan saat bersantap bubur. Hindari santan saat membeli bubur kacang hijau. Yang harus diperhatikan, jangan membiasakan diri bersantap gorengan sebagai menu sarapan pagi. Kalori yang tinggi dan penggunaan minyak goreng yang kurang baik.</p>
<p>Kini, tidak ada alasan lagi untuk memulai hari tanpa sarapan. Banyak manfaat yang bisa didapat bila kita sarapan sehat secara rutin. Maka, upayakan untuk menyediakan menu sarapan yang sehat dan lezat yang akan dinikmati seluruh anggota keluarga. Sarapan dapat pula menjadi tempat berkumpulnya seluruh anggota keluarga. Saling bercerita, berkomunikasi, dan mendekatkan diri di waktu sarapan pagi merupakan ikhtiar untuk menciptakan keluarga harmonis.</p>
<p>Apapun yang Anda pilih untuk menu sarapan, beri tubuh dan otak Anda energi yang dibutuhkan untuk dibawa sepanjang hari. Berlakulah baik pada diri Anda sendiri. Biasakan sarapan. ***</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: right;"><em>*Dari berbagai sumber</em></p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2012/04/sarapan-dapatkah-kita-abaikan/">Sarapan, Dapatkah Kita Abaikan?*</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2012/04/sarapan-dapatkah-kita-abaikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saatnya Reformasi Angkutan Umum*</title>
		<link>http://salmanitb.com/2012/03/saatnya-reformasi-angkutan-umum/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2012/03/saatnya-reformasi-angkutan-umum/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Mar 2012 04:50:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kontributor Salman ITB</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=12558</guid>
		<description><![CDATA[<p>Alasan utama wacana pengendalian subsidi BBM adalah agar subsidi tepat sasaran. Pengendalian subsidi BBM perlu disertai penataan angkutan umum. Menurut Menko Ekuin Hatta Radjasa, pengurangan konsumsi premium bersubsidi sebesar 14 juta kiloliter akan menghasilkan pengurangan subsidi sebesar Rp. 28 triliun jika beda harga premium subsidi dan pertamax Rp. 2.000.
</p><p><a href="http://salmanitb.com/2012/03/saatnya-reformasi-angkutan-umum/">Saatnya Reformasi Angkutan Umum*</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: Nano Estananto**</strong></p>
<div id="attachment_12560" class="wp-caption alignleft" style="width: 300px"><a href="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/03/angkutan-umum.main-story.jpg"><img class="size-medium wp-image-12560" title="angkutan umum.main story" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/03/angkutan-umum.main-story-300x199.jpg" alt="Foto: thejakartapost.com" width="300" height="199" /></a>
<p class="wp-caption-text">Foto: thejakartapost.com</p>
</div>
<p>Alasan utama wacana pengendalian subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) adalah agar subsidi tepat sasaran. Pengendalian subsidi BBM perlu disertai penataan angkutan umum. Menurut Menko Ekuin Hatta Radjasa, pengurangan konsumsi premium bersubsidi sebesar 14 juta kiloliter akan menghasilkan pengurangan subsidi sebesar Rp 28 triliun jika beda harga premium subsidi dan pertamax Rp 2.000.</p>
<p>Namun, upaya pengendalian subsidi BBM tanpa memperhitungkan alternatif kendaraan pribadi akan sangat riskan. Di negara-negara maju, angkutan<br />
umum sangat diperhatikan dan terjadwal dengan baik. Kita pun dapat memilikinya dengan beberapa catatan.</p>
<p>Pertama, reformasi sistem setoran menjadi sistem penggajian. Pengemudi angkutan umum saat ini diharuskan memberikan setoran kepada pemilik kendaraan. Untuk sebuah trayek angkutan umum di Bandung, misalnya, pengemudi harus memberikan setoran sebesar Rp 100.000 &#8211; Rp 150.000. Ini berarti pengemudi harus mendapatkan rata-rata 200 penumpang per hari agar mampu menyisihkan uang untuk dibawa pulang.</p>
<p>Ini menjadikan di benak pengemudi hanya bagaimana caranya mendapatkan uang sebanyak-banyaknya agar dia masih dapat memperoleh sisa yang cukup setelah dipotong setoran. Dengan sistem penggajian, pengemudi akan digaji dengan jumlah tertentu.</p>
<p>Bagaimana jika pengemudi kemudian malah menjadi pasif karena tahu bahwa dia akan selalu mendapat gaji walaupun tidak menarik penumpang? Pertanyaan ini hanya dapat dijawab dengan sosialisasi dan penegakan hukum.</p>
<p>Namun, dengan sistem yang baru seharusnya pengemudi sadar bahwa pendapatan perusahaan pengangkutan pun sangat bergantung pada prestasi kerjanya mendapatkan penumpang. Jika penumpang tidak mau beralih dari sepeda motor ke angkutan umum, perusahaan pengangkutan tidak mendapatkan uang yang cukup untuk menggaji pengemudi. Dengan model pembinaan SDM sederhana, motivasi pengemudi dapat dibangun.</p>
<p>Kedua, penataan kembali trayek-trayek angkutan umum dan membaginya berdasarkan jarak. Untuk saat ini penetapan tarif hanya berdasarkan dua model. Model pertama adalah tarif umum yang berlaku jauh-dekat, umumnya berlaku pada bus kota. Model kedua adalah perkiraan jarak sendiri yang disepakati secara informal oleh pengemudi dan penumpang, dan dibayar tunai pada saat penumpang turun. Model ini biasanya digunakan oleh angkot atau mikrolet.</p>
<p>Kelemahan kedua model ini adalah kerancuan tidak adanya standar baku dalam penentuan harga. Sebagai contoh kecil: anak-anak sekolah biasanya membayar separuh harga. Adalah suatu keanehan kalau yang membayar “subsidi” anak sekolah ini adalah pengemudi atau perusahaan pengangkutan, karena pada dasarnya “subsidi” ini adalah kewajiban pemerintah daerah atau pusat.</p>
<p>Kedua model ini dapat diperbaiki yaitu pembayaran berdasarkan jarak dengan tarif resmi dan dipantau oleh sistem sebagaimana di Singapura. Dalam hal ini, RFID dapat digunakan untuk memantau pergerakan kendaraan umum di trayeknya.</p>
<p><strong>Ubah Model Bisnis</strong><br />
Ketiga, reformasi model bisnis angkutan umum, agar banyak pengusaha tertarik bergerak di bidang angkutan umum. Dalam hal industri angkutan umum, hal itu dapat dijabarkan sebagai berikut: kredit ringan peremajaan dan perawatan kendaraan, kontrol kualitas pelayanan pelanggan yang lebih baik, pembagian sektor dan mode transportasi yang jelas sehingga persaingan antarmode angkutan umum dibuat seminimal mungkin, pembatasan minimal armada, dan konversi ke bahan bakar gas (BBG) yang harga jualnya jauh lebih murah.</p>
<p>Untuk mewujudkan semua itu dapat diberikan subsidi terbatas yang jumlahnya sangat jauh di bawah potensi penghematan subsidi BBM yang menurut perhitungan di awal artikel ini dapat mencapai Rp 28 triliun setahun.</p>
<p>Keempat, membangun infrastruktur angkutan massal (<em>mass rapid transportation</em> – MRT). Ini dapat berupa kereta listrik (KRL), tram, kereta bawah tanah (<em>subway</em>), monorail, dan lain-lain. KRL sebenarnya dapat ditambah frekuensinya, akan tetapi hambatan utamanya adalah banyaknya persimpangan antara rel kereta api dan jalan raya. Mungkin perlu direncanakan pembangunan jembatan atau bahkan terowongan yang mengurangi persimpangan tadi.</p>
<p>Contoh lain adalah revitalisasi jaringan kereta api. Untuk Jabodetabek saja diperlukan biaya untuk itu sekitar Rp 27,5 triliun selama 5 tahun. Dirjen Perkeretaapian Tundjung Inderawan bahkan menyebut angka Rp 82 triliun yang diperlukan untuk revitalisasi perkeretaapian nasional.</p>
<p>Namun, dibandingkan dengan potensi penghematan baik dari pengurangan subsidi BBM maupun potensi kehilangan waktu akibat kemacetan dan gangguan kesehatan, jumlah ini sebenarnya masih relatif layak. Dari semua poin reformasi angkutan umum itu, diharapkan pengendara kendaraan pribadi, baik roda dua maupun roda empat dapat beralih dalam jumlah yang signifikan. Dari peralihan itu jumlah konsumsi BBM juga dapat dihemat secara signifikan.</p>
<p>Ini perlu kerja sama dan dukungan dari instansi-instansi terkait secara terarah dan berkesinambungan. Dengan demikian, selain potensial mengalihkan pengeluaran negara sebesar Rp 28 triliun untuk subsidi bagi sektor yang benar-benar memerlukan (pendidikan, kesehatan, reformasi birokrasi) juga membantu mengurangi polusi secara jangka panjang.</p>
<p style="text-align: right;"><em>* Tulisan ini pernah dimuat di koran Bisnis Indonesia pada Selasa, 15 Maret 2011</em><br />
<em>** Penulis adalah alumni Salman ITB, pernah menjadi dosen di Universitas Al-Azhar Indonesia.</em></p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2012/03/saatnya-reformasi-angkutan-umum/">Saatnya Reformasi Angkutan Umum*</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2012/03/saatnya-reformasi-angkutan-umum/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Naik? Saya Setuju!</title>
		<link>http://salmanitb.com/2012/03/harga-bahan-bakar-minyak-bbm-naik-saya-setuju/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2012/03/harga-bahan-bakar-minyak-bbm-naik-saya-setuju/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Mar 2012 17:20:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yudha P Sunandar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=12537</guid>
		<description><![CDATA[<p>Mengapa banyak orang harus ribut-ribut soal kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM)? Apakah bila BBM murah, kita akan lebih baik? Atau malah dengan murahnya harga BBM, orang bebas menggunakan kendaraannya yang menyebabkan polusi udara meningkat? Bukan kah itu lebih berbahaya lagi?
</p><p><a href="http://salmanitb.com/2012/03/harga-bahan-bakar-minyak-bbm-naik-saya-setuju/">Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Naik? Saya Setuju!</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_12556" class="wp-caption alignleft" style="width: 300px"><a href="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/03/bbm.jpg"><img class="size-medium wp-image-12556" title="An attendant prepares to refuel a car at a petrol station in Rome" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/03/bbm-300x204.jpg" alt="" width="300" height="204" /></a>
<p class="wp-caption-text">sumber gambar sutris.web.id</p>
</div>
<p>Mengapa banyak orang harus ribut-ribut soal kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM)? Apakah bila BBM murah, kita akan lebih baik? Atau malah dengan murahnya harga BBM, orang bebas menggunakan kendaraannya yang menyebabkan polusi udara meningkat? Bukankah itu lebih berbahaya lagi?</p>
<p>Saya pikir, keributan menyoal BBM karena kita, masyarakat Indonesia, yang terlalu percaya bahwa BBM adalah segalanya. BBM menyangkut transportasi, transportasi menyangkut distribusi pangan, dan pangan menyangkut perut. Transportasi juga menyangkut perpindahan manusia dari satu tempat ke tempat lainnya. Semakin sering dan jauh perpindahannya, semakin banyak BBM yang diperlukan.</p>
<p>Semakin mahal biaya perut, identik dengan semakin sulitnya orang untuk hidup. Padahal, kita sendiri yang berangsur-angsur menutupi akses terhadap pangan ini. Kita sendiri yang memilih menjual tanah untuk berdirinya bangunan-bangunan beton. Kita sendiri yang memilih untuk menjauhkan akses pangan dari diri sendiri.</p>
<p>Padahal, dengan lahan pertanian, kita bisa menghasilkan sayuran, buah, dan padi untuk makan orang banyak. Dengan tanah, kita juga bisa memelihara domba dan sapi yang selalu siap dipotong bila sudah dewasa.</p>
<p>Dengan dekatnya sumber pangan, tak perlu lagi menggunakan alat transportasi untuk mengangkutnya. Bisa dengan sepeda, gerobak, delman, atau membawanya sendiri dengan berjalan kaki. Tidak menghasilkan polusi dan tidakperlu membeli BBM. Hidup murah dan lingkungan pun jadi sehat, bukan?</p>
<p>Begitu pula dengan tempat sekolah, bekerja, dan beraktivitas. Tak perlu mencari sekolah jauh-jauh. Toh, pengembangan diri itu ada di dalam. Lingkungan baik yang diyakini sebagai stimulus yang baik, mengapa juga harus dicari jauh-jauh? Mengapa tidak membangun lingkungan yang baik di rumah sendiri agar diri ini juga menjadi baik?</p>
<p>Juga tak perlu mencari pekerjaan jauh-jauh hingga harus pergi pagi pulang petang. Pekerjaan di tanah sendiri pun tak ada salahnya. Bukan pekerjaannya yang tidak berprestise dan menghasilkan pendapatan yang besar, tetapi diri kita lah yang tidak mau berusaha dan belajar untuk menjadi lebih baik. Atau kah kita tidak pernah mampu bersyukur sehingga selalu mengharapkan sesuatu yang lebih, lebih, dan lebih, tanpa pernah puas?</p>
<p>Keberjarakan kita dengan tanah, membuat kita juga berjarak pada kebijaksanaan dan kedaulatan. Tanah selalu identik dengan kebijaksanaan. Karena tanah selalu membawa orang pada bumi, pada kerendahan hati, dan pada kelapangan diri.</p>
<p>Tanah juga membawa kita menjadi daulat atas diri sendiri, atas kehendak kita, dan atas kebutuhan kita. Kehilangan tanah, membuat kita kehilangan kemampuan memproduksi pangan. Kehilangan daya produksi ini membawa kita pada kehilangan kedaulatan untuk mandiri. Karena pada akhirnya, kita menjadi bergantung kepada pihak yang memiliki &#8220;kunci&#8221; untuk kita memiliki akses terhadap pangan.</p>
<p>Tak heran bila orang-orang dulu memiliki wawasan yang bijak. Karena mereka menghargai bumi, mereka menghargai alam, dan mereka menghargai tanah. Tanah sebagai bahan kehidupan mereka, tanah sebagai tempat berpijak mereka, dan tanah sebagai tempat kembali jasad mereka.</p>
<p>BBM naik, kenapa harus bingung? Kenapa juga kita tidak meminta transportasi massal kepada pemerintah? Kenapa juga tidak menggunakan sepeda atau delman yang jelas-jelas tidak berpolusi dan tidak menggunakan BBM? Kenapa juga tidak meminta pemerintah mempertahankan lahan untuk kebun dan sawah?</p>
<p>Kalau pemerintah tidak mau menuruti, ya sudah, kita tidak usah membayar pajak lagi. Buat apa membayar pajak kalau pemerintah ternyata tidak mau bekerja untuk mensejahterakan rakyat?</p>
<p>BBM naik, saya setuju. Masyarakat berhemat, saya juga setuju. Masyarakat naik sepeda, juga saya setuju. Dan masyarakat menjadi bijak, pintar, cerdas, dan berdaulat, ini yang terbaik, dan saya sangat setuju.</p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2012/03/harga-bahan-bakar-minyak-bbm-naik-saya-setuju/">Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Naik? Saya Setuju!</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2012/03/harga-bahan-bakar-minyak-bbm-naik-saya-setuju/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membangun Desa dengan Kekuatan Cinta</title>
		<link>http://salmanitb.com/2012/03/membangun-desa-dengan-kekuatan-cinta/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2012/03/membangun-desa-dengan-kekuatan-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Mar 2012 14:16:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yudha P Sunandar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=12528</guid>
		<description><![CDATA[<p>Sebuah cerita menarik hadir dari sebuah desa di kecamatan Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat. Pasalnya, Sang Kepala Desa tidak pernah mengambil gajinya. “Semua diserahkan untuk membangun desa,” ujar beliau.
</p><p><a href="http://salmanitb.com/2012/03/membangun-desa-dengan-kekuatan-cinta/">Membangun Desa dengan Kekuatan Cinta</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_12529" class="wp-caption alignleft" style="width: 200px"><a href="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/03/Power_Of_Love_by_BatDesignz.jpg"><img class="size-medium wp-image-12529" title="Power_Of_Love_by_BatDesignz" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/03/Power_Of_Love_by_BatDesignz-200x300.jpg" alt="" width="200" height="300" /></a>
<p class="wp-caption-text">Foto: fc05.deviantart.net</p>
</div>
<p>Sebuah cerita menarik hadir dari sebuah desa di kecamatan Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat. Pasalnya, Sang Kepala Desa tidak pernah mengambil gajinya. “Semua diserahkan untuk membangun desa,” ujar beliau.</p>
<p>Saya pribadi sempat mengobrol-ngobrol dengan beliau beberapa waktu lalu. Karena dia memergoki saya mencatat kisah yang disampaikannya, dia lalu meminta saya untuk tidak mempublikasikannya.</p>
<p>Saya waktu itu tidak menyetujui maupun menolak. Hanya berhenti mencatat di <em>smartphone</em> dan mengingat apa yang beliau sampaikan. Namun, karena saya berkesimpulan bahwa cerita ini menarik dan inspiratif, akhirnya saya mempublikasikannya tanpa menyebut nama beliau dan desanya.</p>
<p>Kembali ke Sang Kepala Desa. Ketika menjabat Kepala Desa, pengusaha genting ini pun lalu meminta izin kepada istrinya untuk tidak membiayai keluarganya dari gajinya sebagai kepala desa. “Istri saya juga punya penghasilan, dan dialah yang membiayai keluarga, termasuk sekolah anak saya,” lanjutnya.</p>
<p>Sejak terpilih dan mulai menjabat sebagai kepala desa, beliau memang berniat untuk membangun balai desa sebagai “Rumah Orangtua”. “Di rumah orang tua kita bisa meminta uang sesuka kita pada orang tua,” paparnya. Untuk itu, di balai desa pun masyarakatnya bisa meminta bantuan kepadanya.</p>
<p>Malah, pernah suatu ketika, semua orang yang meminta bantuan ke balai desa merasa tidak mampu membayar listrik. Akhirnya dirinyalah yang membayarkan listrik warganya tersebut. Pada saat itu, uang istrinya pun habis sehingga tidak cukup untuk membayar listrik dan membelikan susu untuk anaknya. Alhasil, listrik di rumahnya pun dipadamkan oleh PLN karena dirinya pun belum membayar listrik.</p>
<p>Meskipun begitu, alumni sebuah SMA di Bandung ini tidak merasa menyesal dengan kejadian seperti itu. “Itu semua ujian dari Yang Maha Kuasa,” paparnya. Bahkan, Sang Kepala Desa merasa bahwa Tuhan membalasnya dengan lebih indah.</p>
<p>Balasannya hadir ketika tanah di sebelah rumahnya akan dijual oleh tetangganya. Kemudian, seorang kawan kebetulan melihatnya dan tertarik dengan tanah tersebut. Sang Kepala Desa pun menjadi juru hubung jual-beli antara penjual dan kawannya.</p>
<p>Harga pun disepakati. Kawannya lalu memberikan cek kepada Sang Kepala Desa untuk selanjutnya dibayarkan kepada sang penjual. Namun, ketika beliau bermaksud meminjam KTP sang kawan untuk mengurus surat-surat tanah, sang kawan pun bertutur, “Buat apa KTP saya? Tanah ini punya kamu. Saya yang membelikannya untuk kamu. Jadi, pakai KTP kamu untuk membuat surat-surat tanahnya.”</p>
<p>Padahal, menurut Sang Kepala Desa, bila dirinya berniat korupsi dari dana desa, nilainya sama dengan harga tanah yang diberikan oleh kawannya tersebut.</p>
<p>Pria kelahiran Jatiwangi ini pun kemudian berkisah tentang Ali bin Abi Thalib yang hendak buang air besar di tengah perjalanannya. Ali pun menitipkan untanya ke seorang anak muda kemudian bergegas mencari tempat untuk mengeluarkan hajat.</p>
<p>Usai menuntaskan buang hajatnya, Ali kembali ke untanya. Namun, sang unta dan anak tadi telah hilang.</p>
<div>
<p>Ali akhirnya melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki. Ketika tiba di sebuah pasar, Ali melihat untanya berada di tempat penjualan hewan. Kemudian dia bertanya kepada si penjual tentang sumber untanya serta harganya. “Saya dapat dari seorang anak muda seharga 10 dinar,” jawab sang pedagang.</p>
</div>
<p>Ali pun tersenyum. Melihat gelagat sepupu nabi tersebut, sang pedagang pun bertanya ihwal penyebab senyumnya itu. “Andai anak muda itu bersabar, saya sudah berniat akan memberinya uang 10 dinar dan dia akan mendapatkan uangnya dengan halal. Ternyata, dia lebih memilih mendapatkan uang dengan cara yang tidak halal dengan mencuri untaku dan menjualnya,” tutur Sang Kepala Desa menirukan jawaban Ali.</p>
<p>Dari kisah tersebut, Sang Kepala Desa berkesimpulan bahwa kita seringkali tidak pernah bersabar untuk mendapatkan harta yang banyak. Padahal, lanjut Sang Kepala Desa, Tuhan sudah mengatur rezeki kita. “Kita hanya perlu bekerja keras. Urusan rezeki, biarlah Tuhan yang mengaturnya,” tandasnya.</p>
<p>Di level yang lebih dasar, Sang Kepala Desa menyebutkan Cinta sebagai pangkal dari segala tindakannya. Dengan mencintai pekerjaan dan masyarakatnya, beliau rela berbuat apa saja agar masyarakatnya sejahtera. “Contohnya ketika kita mencintai seorang wanita. Tentunya kita akan melakukan apa pun agar wanita yang kita cintai itu bahagia,” analoginya.</p>
<p>Prinsip ini juga ternyata dipegang oleh para staf Sang Kepala Desa. Mereka tanpa pamrih bekerja untuk desa dan mengorbankan segala yang dimilikinya untuk masyarakat.</p>
<p>Sang Kepala Desa mencontohkan dengan salah satu stafnya yang menyemai 5 ribu bibit pohon yang didanai oleh kantong pribadinya. Tidak hanya disemai, sang staf juga menjaganya agar siap tanam. “Semuanya itu dia (sang staf) lakukan sendiri,” tandas Sang Kepala Desa.</p>
<p>Dalam hal ini, Sang Kepala Desa dan stafnya percaya bahwa mereka tidak akan miskin karena bersedekah. Buktinya, mereka masih bisa hidup meskipun seluruh gajinya mereka gunakan untuk membiayai program desa. “Ajaib, <em>nggak</em> akan ada orang yang melarat karena sedekah. Itu<em> mah</em> hukum Allah,” simpul Sang Kepala Desa menutup perbincangan.</p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2012/03/membangun-desa-dengan-kekuatan-cinta/">Membangun Desa dengan Kekuatan Cinta</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2012/03/membangun-desa-dengan-kekuatan-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kalau BBM Naik, Berarti&#8230;</title>
		<link>http://salmanitb.com/2012/03/kalau-bbm-naik-berarti/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2012/03/kalau-bbm-naik-berarti/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Mar 2012 17:40:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yudha P Sunandar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=12515</guid>
		<description><![CDATA[<p>Pada 1 April 2012 mendatang, pemerintah akan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Lalu, apa reaksi Anda terhadap rencana tersebut? Silahkan pilih salah satu jawaban yang mewakili aspirasi Anda. Bila Anda tidak menemukan jawaban yang cocok, silahkan usulkan jawaban pada komentar. Usulan jawaban yang belum tersedia, akan dimasukan ke dalam polling.</p><p><a href="http://salmanitb.com/2012/03/kalau-bbm-naik-berarti/">Kalau BBM Naik, Berarti&#8230;</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Note: There is a poll embedded within this post, please visit the site to participate in this post&#8217;s poll.</p>
<p>Pada 1 April 2012 mendatang, pemerintah akan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Lalu, apa reaksi Anda terhadap rencana tersebut?</p>
<p>Silahkan pilih salah satu jawaban yang mewakili aspirasi Anda. Bila Anda tidak menemukan jawaban yang cocok, silahkan usulkan jawaban pada komentar. Sebisa mungkin, usulan jawaban mengandung unsur inspiratif dan solutif. Usulan jawaban yang belum tersedia, akan dimasukan ke dalam polling.</p>
<p><a href="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/03/vote-bbm.png"><img class="size-medium wp-image-12518 aligncenter" title="vote bbm" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/03/vote-bbm-300x225.png" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2012/03/kalau-bbm-naik-berarti/">Kalau BBM Naik, Berarti&#8230;</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2012/03/kalau-bbm-naik-berarti/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membangun Industri Internet Indonesia*</title>
		<link>http://salmanitb.com/2012/03/membangun-industri-internet-indonesia/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2012/03/membangun-industri-internet-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Mar 2012 05:07:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yudha P Sunandar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=12131</guid>
		<description><![CDATA[<p>Internet sudah menjadi bagian dari ekonomi masyarakat Indonesia saat ini. Banyak orang mulai menyandarkan hidupnya di ranah teknologi informasi. Tampak sepele memang. Namun, sebuah laporan dari Deloitte Accesss Economics berikut ini yang saya...</p><p><a href="http://salmanitb.com/2012/03/membangun-industri-internet-indonesia/">Membangun Industri Internet Indonesia*</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_2663" class="wp-caption alignleft" style="width: 300px"><a href="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2010/07/Pelatihan-Spreadsheet.jpg"><img class="size-full wp-image-2663" title="Pelatihan Spreadsheet" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2010/07/Pelatihan-Spreadsheet.jpg" alt="Dengan antusiasnya guru-guru mengikuti pelatihan aplikasi office spreadsheet di laboratorium komputer Salman ITB. (Foto: Dok. LPP Salman ITB)" width="300" height="225" /></a>
<p class="wp-caption-text">(Foto: Dok. LPP Salman ITB)</p>
</div>
<p>Internet sudah menjadi bagian dari ekonomi masyarakat Indonesia saat ini. Banyak orang mulai menyandarkan hidupnya di ranah teknologi informasi. Tampak sepele memang. Namun, sebuah laporan dari Deloitte Accesss Economics berikut ini yang saya lansir dari Antaranews.com pada Desember 2011 lalu patut dipertimbangkan.</p>
<p>Bertajuk “Nusantara Terhubung: Peran Internet dalam Pembangunan Ekonomi Indonesia”, laporan tersebut menyebutkan fakta bahwa internet saat ini berkontribusi sebesar 1,6 persen atau sekitar 116 Triliyun Rupiah (13 Milyar Dollar Amerika) terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) tahunan Indonesia. Hal ini memposisikan internet sama pentingnya dengan gas alam cair (Liquid Natural Gas).</p>
<p>Lebih lanjut, laporan tersebut juga menyebutkan bahwa internet di Indonesia diprediksi akan tumbuh hingga mencapai 2,5 persen dari PDB pada 2016 mendatang dengan nilai 324 triliun Rupiah.</p>
<p>Sebuah potensi yang sangat besar tentunya. Lalu, bagaimana masyarakat Indonesia memanfaatkan peluang ini?</p>
<p>Madanmohan Rao dalam bukunya berjudul News Media and New Media: The Asia-Pacific Internet Handbook, Episode V (2003) merumuskan sebuah kerangka kerja (<em>frame work</em>) di era industri internet dan diharapkan mampu meningkatkan sektor yang berhubungan dengan internet seperti media, pemerintahan, perdagangan, dan pendidikan. Kerangka kerja tersebut dirumuskan dalam 8C, yaitu: Connectivity, Content, Community, Commerce, Capacity, Culture, Cooperation, Capital.</p>
<p>Connectivity (konektivitas) merupakan segala hal yang berhubungan dengan infrastruktur teknologi informasi, seperti: penetrasi PC, jumlah pengguna online, frekuensi penggunaan internet, penetrasi telepon seluler, jumlah media online berita, ketersediaan bandwith, tarif teknologi komunikasi, isu akses universal, dan regulasi untuk ISP.</p>
<p>Rao menyebutkan bahwa konektivitas merupakan syarat pertama terciptanya sebuah ekosistem online. Hal ini akan semakin kuat dengan meningkatnya kecepatan internet dan hadirnya perangkat-perangkat yang memungkinkan orang terkoneksi di mana pun mereka berada, seperti telepon pintar dan Tablet PC.</p>
<p>Kerangka kerja kedua adalah Content (konten). Adapun beberapa parameter yang Rao definisikan antara lain: jumlah situs web yang berbicara tentang sebuah negara dan dipublikasikan di dalamnya, konten lokal, konten meta (<em>meta-content</em>) seperti direktori dan mesin pencari, penggunaan bahasa lokal dan standarisasinya, dan layanan konten pendorong komersial (<em>commerce driven</em>).</p>
<p>Isu yang relevan lainnya berkaitan dengan konten antara lain: desain reportase dan penyampaian cerita, desain situs, sinergi lintas media, dan Sistem Pengelola Konten (<em>Content Management System</em> – CMS).</p>
<p>Sedangkan Community (komunitas) fokus terhadap teknologi sebagai media pembentuk komunitas, seperti situs komunitas, kelompok diskusi, forum email, dan ruang mengobrol (chat room). Lebih jauh, terbentuknya juga jaringan komunitas, jurnalisme partisipatif, dan blog pendorong komunitas (<em>community driven</em>).</p>
<p>Dalam industri internet, Rao berkesimpulan bahwa keberadaan komunitas telah menunjukan kebesaran internet. Media yang memiliki komunitas yang baik dan loyal, umumnya juga menjadi media yang besar. Rao mengambil contoh helaran Piala Dunia 2002 lalu yang membuat 2 juta orang berbondong-bondong mengunjungi situs olahraga UOL.com.</p>
<p>Contoh yang lebih baru adalah Facebook yang memiliki 845 juta pengguna pada 2011. Hal ini memperbesar keuntungannya dari 1,97 Milyar Dollar pada 2010 menjadi 3,71 Milyar Dollar pada 2011.</p>
<p>Keempat, adalah Commerce (perniagaan) yang merujuk pada usaha “menguangkan konten” yang dikenal dengan istilah <em>Monetizing</em>. Rao menjabarkannya dengan menarik dan mempertahankan lalu lintas kunjungan untuk menggapai target iklan pada situs web, pilihan variatif atas penjualan konten, dan penjualan fitur sindikasi.</p>
<p>Ada banyak model bisnis dalam aspek perniagaan ini, beberapa di antaranya yang Rao sebutkan adalah: konten bebas (<em>free</em>) didukung iklan, akses berbasis pembayaran, akses bertingkat (sebagian bebas, sebagiannya berbayar), bebas untuk pelanggan cetak saja, dan bebas untuk konten baru tapi berbayar untuk arsip.</p>
<p>Selanjutnya adalah Capacity (kapasitas) yang merujuk pada kapasitas inti manusia dan kompetensinya, baik dalam mengelola sebuah media maupun dalam beretika dan hukum cyber. Dalam hal ini, Rao menyebutkan bahwa kuncinya adalah pelatihan yang terus menerus tentang struktur yang baik dalam keahlian teknologi dan pengetahuan berbasis alur kerja.</p>
<p>Selain kapasitas, manusia dalam industri internet juga harus mengembangkan Culture (budaya). Rao menilai bahwa budaya merupakan kunci kesuksesan pengoperasian media online. Beberapa hal yang termasuk dalam hal ini, antara lain perilaku yang mengarah pada strategi jangka panjang dan pendek, lingkungan untuk entrepreneur dan intrapreneur, dan kemauan untuk mengambil resiko.</p>
<p>Sedangkan kerangka kerja ketujuh adalah Cooperation (kerjasama). Bagaimana pun, lanjut Rao, tidak akan ada sektor yang dapat bertahan dan berkembang dalam ekonomi internet bila tidak melakukan kerjasama. Termasuk dalam aspek ini adalah kerjasama dengan pengiklan, kerjasama antara perusahaan teknologi dan situs media, kolaborasi sektor swasta dan akademik, penanganan bersama kesenjangan digital, dan kerjasama antar mitra di seluruh dunia.</p>
<p>Tahap terakhir adalah Capital (kapital) yang merujuk pada permodalan dan pasar saham. Adapun parameternya antara lain: inkubasi dan pematangan pendanaan untuk pengembangan media baru serta kehadiran pasar saham terkait peningkatan aset publik untuk skalabilitas masa depan.</p>
<p>Untuk membangun industri internet yang baik, kedelapan kerangka kerja tersebut harus dilalui secara bertahap. Sayangnya, sebagian besar masyarakat internet Indonesia seringkali  menginginkan hasil yang besar dalam waktu yang cepat. Tak heran bila akhirnya budaya Sangkuriang lah yang mereka terapkan. Sehingga jarang sekali ada perusahaan industri internet di Indonesia yang mampu besar dan bertahan lama.</p>
<p>Dalam hal ini, masyarakat industri Indonesia harus mengubah budaya (Culture) agar selaras dengan ritme industri internet. Saya sendiri melihat ada 3 aspek yang harus dibangun, yaitu: Konsistensi, Kesabaran, dan Ketekunan.</p>
<p>Konsistensi merujuk pada ketahanan sebuah perusahaan industri internet untuk mempertahankan kualitas dan kuantitas konten dan komunitas dalam jangka waktu yang panjang. Tidak hanya bertahan, perusahaan industri internet juga harus mampu berkembang, baik dari segi produk maupun kapasitas manusia dan organisasinya.</p>
<p>Sedangkan Kesabaran mensyaratkan pemenuhan setiap proses dan langkah kerja secara bertahap,dan tidak terburu-buru. Adapun Ketekunan adalah menjalani setiap proses kerja dengan fokus, sungguh-sungguh, dan selalu belajar ketika menemukan hal-hal baru.</p>
<p><em>* Tulisan ini dimuat di kolom Jejaring rubrik Opini Harian Umum Pikiran Rakyat Bandung pada Senin, 5 Maret 2012.</em></p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2012/03/membangun-industri-internet-indonesia/">Membangun Industri Internet Indonesia*</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2012/03/membangun-industri-internet-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jazz, Ya Akhi-Ya Dulir, Yayaya&#8230;</title>
		<link>http://salmanitb.com/2012/02/jazz-ya-akhi-ya-dulir-yayaya/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2012/02/jazz-ya-akhi-ya-dulir-yayaya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Feb 2012 02:51:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tristia Riskawati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=10847</guid>
		<description><![CDATA[<p>Seorang saudari mengeluh di penghujung 2011. Beberapa rekan sepengajiannya mengerling terlampau aneh ketika ia menjajakan ide mengenai permusikan Islam. Ini untuk lomba nasyid. “Sekarang coba kita cari gaya baru  bermusik untuk Islam. Jangan...</p><p><a href="http://salmanitb.com/2012/02/jazz-ya-akhi-ya-dulir-yayaya/">Jazz, Ya Akhi-Ya Dulir, Yayaya&#8230;</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 512px"><img src="http://www.jazz.com/assets/2007/10/25/Red_Miles.jpg" alt="" width="512" height="385" />
<p class="wp-caption-text">(Gambar: jazz.com)</p>
</div>
<p>Seorang saudari mengeluh di penghujung 2011. Beberapa rekan sepengajiannya mengerling terlampau aneh ketika ia menjajakan ide mengenai permusikan Islam. Ini untuk lomba nasyid.</p>
<p>“Sekarang coba kita cari gaya baru  bermusik untuk Islam. Jangan nasyid <em>pure</em> aja, kali-kali coba bikin musik Islam yang jazz-jazz gitu kan asyik!” begitu ide yang kontan membuat rekan-rekan pengajiannya seperti berkata &#8220;Apaaaaah? Kok Jazz?&#8221;</p>
<p>Saya tertawa kecil dibuatnya, kemudian membatin miris.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>***</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ah, Islam dan Nasyid.</p>
<p>Islam, dalam pandangan saya, kini bagai sebuah <em>image</em>. Agak mengernyit pula ketika Islam dimaknai sesempit-sesempitnya sebagai paket gaya hidup. Bisa saja saya comot paket tersebut. Bisa juga saya ini abai terhadapnya.</p>
<p>Sampai terstigma dalam diri saya, seorang yang patuh terhadap Islam adalah teteh-teteh yang gemar mengucap mesra &#8220;Ukhti shalihah!&#8221; ketika menyapa. Atau akang-akang yang merasa lebih Islam ketika mengucap &#8220;ana-antum&#8221; dalam percakapan sehari-hari. Kemudian, idola Muslim dan Muslimah sejati adalah para personil nasyid. Seolah berhubungan dengan musik<em> jazz</em> boleh-boleh saja, tapi kurang &#8220;gimanaa&#8221; gitu. Seolah-olah.</p>
<p>Bagi saya, <em>punten</em> sekali lagi, itu tampak <em>superficial</em>. Laksananya, paras pencitraan Islam tersebut hanya mengambang di permukaan. Tidak tahu-menempe, apakah &#8220;akar&#8221;nya benar mengokot atau tidak?</p>
<p>Bagaimana jika saya kemudian tidak hanya berenang gaya katak bolak-balik mengarungi paras Islam di permukaan? Ingin coba setidaknya menyelam radikal, demi mencari dimana letak sang akar <em>aqidah</em> menancap. Ikut?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>***</p>
<p>Alkisah di lain hari, saya menonton video <em>youtube</em>. Video tersebut rupanya dicatut dari sebuah acara mistis di televisi. Awalnya saya menggumam remeh. <em>Apaan neh, paling ini video yang isinya pekikan-pekikan bikin jengah macam, &#8220;Ada bayangan putih di pohon, Pemirsa!&#8221;. </em></p>
<p><em></em>Namun, anjuran teman saya adalah bahwa saya harus tonton video itu, ada pelajaran di dalamnya. Karena teman saya tidak sembarang alay-suralay, dua mata saya pun saya izinkan untuk menyimak video tersebut.</p>
<p>Jadi, video tersebut berisi perjalanan kru televisi mengunjungi makam penyebar agama Islam. Namanya Mbah Mangku Jati. Konon, makam Mbah Mangku Jati ini sungguh keramat. Jika Anda berziarah lalu minta togel, misalnya, kemungkinan keinginan Anda akan dikabulkan.</p>
<p>Ceritanya, kru televisi sudah menyiapnyediakan orang yang akan dijejali roh Mbah Mangku Jati, seorang mediator. Setelah &#8220;dukun&#8221; pesanan mengeluarkan jurus-jurus cantik, terasukilah sang mediator dengan yang &#8220;katanya sih&#8221; roh Mbah Mangku Jati.</p>
<p>Sang mediator kemudian berujar, &#8220;Saya pertama kali menyebarkan Islam lalu berkata tentang &#8216;Allah!&#8217;, orang nggak mau. Dulu yang disembah itu batu besar, arca. Saya bicara Islam, orang langsung menentang&#8230; Makanya saya tawakkal&#8230;Makanya makam saya jangan dibuat macam-macam&#8230;&#8221;</p>
<p>Kemudian, ada  mediator lain yang rupanya kerasukan pula. Ia mengaku sebagai Mbah Waringin Jati. Kepada kru televisi, ia memaparkan langkah-langkah dakwahnya. Silat dan tari-tarian adalah senjata baginya untuk memperkenalkan agama Islam. Dengan kata lain, Islam dikenalkan tidak langsung dari aqidah, melainkan dari seni.</p>
<p>Entah, saya tidak tahu-menahu si acara ini hanyalah <em>bullshit </em>atau memang betul adanya. Namun, toh, ini fakta yang terjadi dalam proses penyebaran Islam di Nusantara bukan? Sepemandangan saya, kini orang lebih terseret pikirannya untuk mengagung-agungkan atribut seperti seni, ketimbang substansi yang dikandung.</p>
<p>Semisal, mari sejenak tengok ritus perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Bagi saya, tiada salah arak-arakan atau pesta obor keliling kota. Namun, di samping mengadakan ritual tersebut, sudahkah kita mengamalkan ajaran Kanjeng Nabi secara <em>all-out</em>? Telah benar-benarkah kita mencurahkan hidup mati untuk berhukum <em>kaffah</em> (total) pada Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah?</p>
<p>Atau, simak perayaan Maulid Nabi di Masjid Demak zaman dahulu. Perayaan Maulid Nabi di serambi masjid tersebut disemarakkan dengan rebana (terbangan), gamelan dan pertunjukan wayang kulit. Untuk menarik perhatian rakyat, serambi dihiasi beraneka ragam karangan bunga yang indah.</p>
<div>Untuk mengumpulkan masyarakat di sekitar, pertama-tama gong ditabuh hingga bertalu-talu suaranya. Kemudian, masyarakat masuk melalui gapura yang dijaga para wali. Dikatakan, siapa saja yang melewati gapura, dosanya akan diampuni sebab ia telah masuk Islam. Syaratnya, orang yang memasuki gapura harus membaca syahadat. Gapura sendiri berasal dari kata <em>ghafura</em> yang artinya diampuni.</div>
<div></div>
<p>&nbsp;</p>
<div>Setelah mengambil air wudhu di sebelah kiri kolam, mereka dipersilakan masuk masjid. Cerita-cerita wayang gubahan para wali bernafaskan nilai-nilai Islam pun ditampilkan.</div>
<div></div>
<p>&nbsp;</p>
<div>Seni, bisa jadi adalah sebuah alat. Namun, mengenai hakikat dibalik seni tersebut, telahkah kita paham betul makna dibaliknya? Pahamkah betul mereka, ketika mengucap syahadat sembari melewati gapura, berarti mereka menafikan keberadaaan abdi-abdi lain (termasuk harta, tahta, wanita/pria) selain Allah SWT?</div>
<div></div>
<p>&nbsp;</p>
<div>Mungkin, para wali berusaha  memupuk nilai Islam secara perlahan melalui pertunjukan wayang. Namun, sayang, proses tersebut terhambat oleh kedatangan penjajah. Aqidah belum ditempa kuat, tapi yang berbekas hanyalah ritual yang mengokot hingga kini.</div>
<div></div>
<div></div>
<p>&nbsp;</p>
<div>***</div>
<div></div>
<div></div>
<p>&nbsp;</p>
<div>Mengacu pada zaman Rasul, malah aqidah yang diperkokoh terlebih dahulu. Bangsa Arab tahu betul makna dibalik &#8220;Laa ilaaha illallah&#8221;. Artinya, mereka menafikan keberadaan abdi-abdi lain selain Allah. Abdi-abdi tidak sekedar berhala bernamakan &#8220;Latta&#8221; dan &#8220;Uzza&#8221;. Namun itu bisa juga merupakan tahta serta sistem jahiliyah yang telah mendarahi mereka. Maka dari itu, bersaksi &#8220;Tiada Tuhan Selain Allah&#8221; merupakan sebuah pilihan yang benar-benar kepalang berat.</div>
<div></div>
<p>&nbsp;</p>
<div>Aqidah berasal dari kata <em>‘aqd’</em> yang berarti pengikatan. Tentu, dalam pengenalan aqidah, dipahamkan betul jika Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah adalah sebenar-benarnya standar kebenaran. Jiwa raga insan yang terpilih pun merelakan hidup dan matinya untuk terikat lingkup pengaturan Allah SWT. Namun, setelah meneguhkan diri, tidak lantas seabreg ayat ditujukan padanya, melainkan secara perlahan dan berangsur (QS. 25:32).</div>
<div></div>
<p>&nbsp;</p>
<div>Setelah kuat aqidah,<em> insya Allah</em>, hamba Allah yang baik akan tahan goncangan. Ia pun menilai segala sesuatu bukan dari atribut. Ia punya patokan dua pusaka, bukan prasangka. </p>
<p>Bukan dari apakah nilai Islam dibawakan melalui musik Jazz, metal, campursari ataupun nasyid. Atau diskursus untuk menentukan mana yang lebih ngislam: sapaan <em>ana-antum</em>, <em>lo-gue</em>, atau <em>kulo-koe?</em> Atau lebih shaleh mana sapaan <em>ya akhi-ya ukht</em>i, <em>ya dulur-ya dulir</em>, ya <em>brother- ya sister&#8230; </em><em>yayaya..</em>. </p>
<p>Bukankah yang penting ialah &#8220;hidangan&#8221; di dalamnya yang punya khasiat bikin jiwa kenyang?</p></div>
<div></div>
<p>&nbsp;</p>
<div>Belajar aqidah dulu, mau mau mau?<br />
Mari mari mari.***</div>
<div></div>
<p>&nbsp;</p>
<blockquote>
<div>Dari ujung mataku, kulihat kebingungan di wajah para remaja itu.</div>
<div></div>
<div>&#8220;Kenapa main musik londo, Kiai?&#8221; tanya Jazuli.</div>
<div></div>
<div>&#8220;Memangnya kenapa?&#8221; Aku balik bertanya. Mereka tampak semakin bingung</div>
<div></div>
<div>&#8220;Bukannya alat musik itu bikinan orang kafir?&#8221; sanggah Daniel.</div>
<div></div>
<div>&#8220;Orangnya yang kafir, alat musiknya tidak ada yang muslim atau yang kafir,&#8221; jawabku sambil kembali menggesek biola perlahan-lahan.</div>
<div></div>
<div>&#8211;<strong>KH. Ahmad Dahlan</strong></div>
</blockquote>
<p><a href="http://salmanitb.com/2012/02/jazz-ya-akhi-ya-dulir-yayaya/">Jazz, Ya Akhi-Ya Dulir, Yayaya&#8230;</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2012/02/jazz-ya-akhi-ya-dulir-yayaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Minified using disk: basic
Page Caching using disk: enhanced

Served from: salmanitb.com @ 2012-05-23 05:09:25 -->
