<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Masjid Salman ITB &#187; Konsultasi</title>
	<atom:link href="http://salmanitb.com/category/konsultasi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://salmanitb.com</link>
	<description>Menuju Masyarakat Informasi Islami</description>
	<lastBuildDate>Tue, 22 May 2012 07:47:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Ustadz Yajid: Waktu Kiamat Rahasia Allah</title>
		<link>http://salmanitb.com/2012/02/ustadz-yajid-waktu-kiamat-rahasia-allah/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2012/02/ustadz-yajid-waktu-kiamat-rahasia-allah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Feb 2012 03:30:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Raudika Lestari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konsultasi]]></category>
		<category><![CDATA[2012]]></category>
		<category><![CDATA[kiamat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=11390</guid>
		<description><![CDATA[<p>Tanpa terasa tahun 2012 sudah satu bulan bergulir. Dalam sekejap saja, ia sudah akan kembali berakhir dan digantikan oleh tahun yang baru. Namun, tentu masih kita ingat isu ramalan kiamat di akhir tahun...</p><p><a href="http://salmanitb.com/2012/02/ustadz-yajid-waktu-kiamat-rahasia-allah/">Ustadz Yajid: Waktu Kiamat Rahasia Allah</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_11397" class="wp-caption alignleft" style="width: 300px"><a href="http://salmanitb.com/2012/02/ustadz-yajid-waktu-kiamat-rahasia-allah/mayan-calendar/" rel="attachment wp-att-11397"><img class="size-medium wp-image-11397" title="Mayan-Calendar" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/02/Mayan-Calendar-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>
<p class="wp-caption-text">(Foto: blogs.datadirect.com)</p>
</div>
<p>Tanpa terasa tahun 2012 sudah satu bulan bergulir. Dalam sekejap saja, ia sudah akan kembali berakhir dan digantikan oleh tahun yang baru. Namun, tentu masih kita ingat isu ramalan kiamat di akhir tahun 2012 ini. Bahkan, saking santernya isu itu, sebuah film berjudul 2012 dibuat pada tahun 2009 lalu.</p>
<p>Terlepas dari mempercayainya atau tidak, harus diakui bahwa ramalan Suku Maya tersebut cukup mengagetkan banyak orang. Mengenai hal tersebut, Ustadz Yajid memberi pandangan bagaimana kita harus menanggapinya.</p>
<p>Manajer DPD tersebut berujar bahwa mempercayai dan meyakini hari kiamat adalah salah satu rukum iman. Sehingga semua umat muslim memang wajib mempercayainya. Berkaitan dengan waktunya, kiamat adalah salah satu dari masalah yang waktunya secara tepat dirahasiakan oleh Allah SWT. Dalam berbagai riwayat hadits, jelas disampaikan bahwa Baginda Nabi Muhammad saw dan Malaikat Jibril sekalipun tidak mengetahui kapan tepatnya kiamat akan terjadi. Baginda Nabi Muhammad SAW hanya menjelaskan tentang ciri-ciri menuju kiamat.</p>
<p>Dengan demikian, menurut Ustadz Yajid, yang perlu kita lakukan perihal ramalan tersebut adalah percaya bahwa kiamat itu pasti terjadi dan waktunya hanya Allah yang mengetahui.</p>
<p>“Kita tidak mengatakan kiamat terjadi 2012 itu bohong atau benar, kita nyatakan bahwa waktu kiamat adalah rahasia Allah,” pungkasnya.</p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2012/02/ustadz-yajid-waktu-kiamat-rahasia-allah/">Ustadz Yajid: Waktu Kiamat Rahasia Allah</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2012/02/ustadz-yajid-waktu-kiamat-rahasia-allah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bermesraan di Tempat Umum, Boleh?</title>
		<link>http://salmanitb.com/2012/01/bermesraan-di-tempat-umum-boleh/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2012/01/bermesraan-di-tempat-umum-boleh/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jan 2012 05:58:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Raudika Lestari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konsultasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=11152</guid>
		<description><![CDATA[<p>Akhir-akhir ini, muncul fenomena pasangan muda, terutama yang baru menikah, mempertontonkan kemesraannya di depan umum. Sebagian tampak cuek saja mengahdapi fenomena ini. Meski demikian, ada pula yang merasa risih saat menemukan pasangan yang...</p><p><a href="http://salmanitb.com/2012/01/bermesraan-di-tempat-umum-boleh/">Bermesraan di Tempat Umum, Boleh?</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_11167" class="wp-caption alignleft" style="width: 300px"><a href="http://salmanitb.com/2012/01/bermesraan-di-tempat-umum-boleh/muslim_wedding_hands/" rel="attachment wp-att-11167"><img class="size-medium wp-image-11167" title="muslim_wedding_hands" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/01/muslim_wedding_hands-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a>
<p class="wp-caption-text">(Foto: precious-muslimah.blogspot.com)</p>
</div>
<p>Akhir-akhir ini, muncul fenomena pasangan muda, terutama yang baru menikah, mempertontonkan kemesraannya di depan umum. Sebagian tampak cuek saja mengahdapi fenomena ini. Meski demikian, ada pula yang merasa risih saat menemukan pasangan yang tengah bermesraan di tempat umum.</p>
<p>Menurut Ust. Yajid Kalam, Manajer Divisi Pelayanan dan Dakwah Salman ITB, tidak masalah pasangan suami istri bermesraan di depan umum. Seperti misalnya bergandengan tangan. Dengan catatan, mereka tidak memperlihatkan hal-hal yang sifatnya erotis,</p>
<p>Terkait hal tersebut, dikisahkan bahwa suatu hari Rasulullah Muhammad SAW beserta Aisyah sedang menonton suatu acara keseniaan. Saat itu Aisyah menonton sambil menopangkan dagunya di pundak Rasul dari belakang.</p>
<p>Sementara itu, berkaitan dengan menceritakan kemesraan, jika yang diceritakan adalah sebuah proses hubungan suami istri, itu tidak diperbolehkan. Namun, jika berkata, “saya mesra sama istri saya” atau “saya kompak sama istri saya” itu tidak masalah.</p>
<p>Berkaitan dengan menceritakan kemesraan ini juga, selama dalam konteks ilmiah atau pembelajaran, diperkenankan menceritakan sebuah proses hubungan suami istri, tapi dengan cara yang baik.</p>
<p>Kemesraan juga boleh diceritakan dalam kesaksian di pengadilan, juga dalam meminta fatwa (nasihat), entah itu fatwa agama, medis, atau psikologis. Akan tetapi, alangkah baiknya jika hal tersebut dilakukan di tempat tertutup, secara pribadi, tidak di tempat umum.<strong> [Fe]</strong></p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2012/01/bermesraan-di-tempat-umum-boleh/">Bermesraan di Tempat Umum, Boleh?</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2012/01/bermesraan-di-tempat-umum-boleh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengucapkan Selamat Hari Raya pada Non-muslim: Motivasi Anda?</title>
		<link>http://salmanitb.com/2012/01/mengucapkan-selamat-hari-raya-pada-non-muslim-motivasi-anda/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2012/01/mengucapkan-selamat-hari-raya-pada-non-muslim-motivasi-anda/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jan 2012 02:18:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Raudika Lestari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konsultasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=10922</guid>
		<description><![CDATA[<p>Beberapa diantara kita mungkin pernah mengalami perasaan dilematis saat teman, tetangga atau relasi berbeda agama kita merayakan hari rayanya. Dilema karena bingung antara mengucapkan ‘selamat’ atau tidak, juga karena ketidakyakinan bagaimana hukumnya dalam...</p><p><a href="http://salmanitb.com/2012/01/mengucapkan-selamat-hari-raya-pada-non-muslim-motivasi-anda/">Mengucapkan Selamat Hari Raya pada Non-muslim: Motivasi Anda?</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_10926" class="wp-caption alignleft" style="width: 300px"><a href="http://salmanitb.com/2012/01/mengucapkan-selamat-hari-raya-pada-non-muslim-motivasi-anda/unity/" rel="attachment wp-att-10926"><img class="size-medium wp-image-10926" title="unity" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/01/unity-300x300.jpg" alt="" width="300" height="300" /></a>
<p class="wp-caption-text">(Gambar: dreamstime.com)</p>
</div>
<p>Beberapa diantara kita mungkin pernah mengalami perasaan dilematis saat teman, tetangga atau relasi berbeda agama kita merayakan hari rayanya. Dilema karena bingung antara mengucapkan ‘selamat’ atau tidak, juga karena ketidakyakinan bagaimana hukumnya dalam Islam.</p>
<p>Ustadz Yajid Kalam, manajer DIvisi Pelayanan dan Dakwah ITB, mengungkapkan bahwa dalam sudut pandang Islam sendiri ada dua pendapat. Pendapat pertama yaitu yang memperbolehkan, yang kedua yaitu yang tidak memperbolehkan.</p>
<p>Yang mengatakan boleh memandang bahwa ucapan selamat itu hanya sekadar bagian dari pergaulan sosial, sehingga boleh-boleh saja. Sementara yang mengatakan tidak boleh berpendapat bahwa apabila hari raya itu berkaitan dengan keyakinan, maka ketika kita mengucapkan selamat, artinya sama dengan mengakui keyakinan tersebut. Sedangkan dalam Islam sendiri untuk urusan keyakinan, umat Islam harus tegas bahwa ini keyakinanku, itu keyakinanmu.<br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Lantas, yang mana yang harus kita ikuti?</strong></p>
<p>Menurut Ustd. Yajid, kalau seseorang memandang bahwa ia mengucapkan ‘selamat’ sebagai pengakuan terhadap akidah dari agama lain, jelas itu tidak boleh. Namun, apabila ketika ia mengucapkan ‘selamat’ dan ia memandang hanya sebagai pergaulan sosial, itu boleh saja.“Jadi akhirnya ketika orang melakukan itu, lebih cenderung kepada motivasinya apa,” tegas Ustadz Yajid.</p>
<p>Sementara untuk hukum menjawab salam yang disampaikan umat agama lain kepada umat Islam, itu juga ada dua sudut pandang. Pertama, salam sebagai sapaan, kedua salam sebagai doa. Apabila salam itu sebagai sapaan seperti ‘selamat pagi’, ‘selamat malam’, ‘hai’, ‘hallo’, maka kita jawab sebagaimana mereka menyapa, sebab sapaan ini sudah jelas sebagai bagian dari etika pergaulan.</p>
<p>Etika dalam Islam, mendoakan yang berkaitan dengan kehidupan akhirat, spiritual dan keagamaan pada umat agama lain, hanya berlaku dalam satu hal. Yaitu, mendoakan mereka agar mendapat petunjuk dan hidayah. Sehingga ketika ada umat lain yang mengucapkan ‘<em>Assalamu&#8217;alaikum</em>’ yang berarti salam berupa doa, maka secara umum jawaban kita yaitu, “<em>Assalamu&#8217;ala manittaba&#8217;alhuda</em>” yang artinya ‘kehormatan bagi yang mengikuti petunjuk’.</p>
<p>Untuk dua permasalahan di atas, Ustadz Yajid menegaskan bahwa titik intinya yaitu pemisahan antara ranah sosial kemanusiaan dan ranah akidah.“Ketika kita berada di wilayah sosial kemanusiaan, maka tidak ada masalah. Ketika kita sudah masuk ke wilayah akidah keagamaan, maka kita sudah masuk ke <em>‘lakum diinukum waliyaddiin</em>’.”</p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2012/01/mengucapkan-selamat-hari-raya-pada-non-muslim-motivasi-anda/">Mengucapkan Selamat Hari Raya pada Non-muslim: Motivasi Anda?</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2012/01/mengucapkan-selamat-hari-raya-pada-non-muslim-motivasi-anda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lebih Baik Menunggu 40 (Tahun), Daripada Lewat di Depan Orang yang sedang Shalat</title>
		<link>http://salmanitb.com/2011/12/lebih-baik-menunggu-40-tahun-daripada-lewat-di-depan-orang-yang-sedang-shalat/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2011/12/lebih-baik-menunggu-40-tahun-daripada-lewat-di-depan-orang-yang-sedang-shalat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Dec 2011 01:19:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fery Adi Prasetyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konsultasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=10655</guid>
		<description><![CDATA[<p>Saat kita sedang shalat, baik shalat wajib maupun sunah, kemudian ada orang yang melintas di depan kita, tentu rasanya tidak nyaman. Meski tak sampai membatalkan shalat, hal tersebut dapat mengganggu kekhusyuan shalat kita....</p><p><a href="http://salmanitb.com/2011/12/lebih-baik-menunggu-40-tahun-daripada-lewat-di-depan-orang-yang-sedang-shalat/">Lebih Baik Menunggu 40 (Tahun), Daripada Lewat di Depan Orang yang sedang Shalat</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_10753" class="wp-caption alignright" style="width: 198px"><a href="http://salmanitb.com/2011/12/lebih-baik-menunggu-40-tahun-daripada-lewat-di-depan-orang-yang-sedang-shalat/green_stop_sign/" rel="attachment wp-att-10753"><img class="size-full wp-image-10753" title="green_stop_sign" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2011/12/green_stop_sign.gif" alt="" width="198" height="152" /></a>
<p class="wp-caption-text">(foto: brandology.com)</p>
</div>
<p>Saat kita sedang shalat, baik shalat wajib maupun sunah, kemudian ada orang yang melintas di depan kita, tentu rasanya tidak nyaman. Meski tak sampai membatalkan shalat, hal tersebut dapat mengganggu kekhusyuan shalat kita. Padahal itulah salah satu kenikmatan menjalankan ibadah shalat. Shalat secara khusyu dan tumaninah.</p>
<p>Menurut Yajid Kalam, manajer Divisi Pelayanan dan Dakwah Yayasan Pembina Masjid Salman ITB, ada salah satu hadist yang menunukkan beratnya dosa orang yang melintas di hadapan orang yang sedang shalat.</p>
<p><strong>“Lebih baik menunggu selama 40 (tahun) daripada lewat di depan orang yang sedang shalat (H.R Bukhari)”</strong></p>
<p>Oleh karena itu, Rasul mencontohkan untuk menghalangi siapapun yang hendak melintas di hadapan kita saat shalat. Dan jika setelah dihalangi masih juga nekat untuk lewat, kita pun diperkenankan untuk memukulnya.</p>
<p>Jadi, jika kita mengalami situasi seperti demikian, lebih baik kita menunggu hingga orang tersebut selesai menunaikan ibadah shalatnya. Jika tidak bisa menunggu, maka coba cari jalan lain sehingga kita tidak harus berlalu di hadapan oang yang shalat tersebut.</p>
<p>Tentu saja ada perkecualian untuk hal seperti ini. Orang yang batal shalatnya, karena buang angin atau hendak buang air, diberi keringanan untuk melintas di depan orang yang shalat. Begitupun dalam keadaan darurat, misalnya jika ada yang tiba-tiba sakit atau pingsan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2011/12/lebih-baik-menunggu-40-tahun-daripada-lewat-di-depan-orang-yang-sedang-shalat/">Lebih Baik Menunggu 40 (Tahun), Daripada Lewat di Depan Orang yang sedang Shalat</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2011/12/lebih-baik-menunggu-40-tahun-daripada-lewat-di-depan-orang-yang-sedang-shalat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shalat Gerhana Menurut Imam 4 Mazhab</title>
		<link>http://salmanitb.com/2011/12/shalat-gerhana-menurut-imam-4-mazhab/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2011/12/shalat-gerhana-menurut-imam-4-mazhab/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Dec 2011 04:45:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Raudika Lestari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konsultasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=10450</guid>
		<description><![CDATA[<p>Gerhana merupakan peristiwa alam yang rutin terjadi. Dalam Islam, gerhana merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah terhadap peredaran bulan dan bumi. Ketika gerhana terjadi, umat Islam disunahkan untuk melakukan Shalat Gerhana. Lalu, seperti apakah shalat gerhana menurut imam dari 4 mazhab besar yang ada di dunia.</p><p><a href="http://salmanitb.com/2011/12/shalat-gerhana-menurut-imam-4-mazhab/">Shalat Gerhana Menurut Imam 4 Mazhab</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_10528" class="wp-caption alignleft" style="width: 300px"><a href="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2011/12/shalat-gerhana-bulan.jpg"><img class="size-medium wp-image-10528" title="shalat gerhana bulan" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2011/12/shalat-gerhana-bulan-300x209.jpg" alt="Foto: farsnews.com" width="300" height="209" /></a>
<p class="wp-caption-text">Foto: farsnews.com</p>
</div>
<p>Gerhana merupakan peristiwa alam yang rutin terjadi. Dalam Islam, gerhana merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah terhadap peredaran bulan dan bumi. Ketika gerhana terjadi, umat Islam disunahkan untuk melakukan Shalat Gerhana. Lalu, seperti apakah shalat gerhana menurut imam dari 4 mazhab besar yang ada di dunia.</p>
<p>Untuk menjawab pertanyaan sederhana ini, saya menemui Muhammad Yajid Kalam, manajer Divisi Pelayanan dan Dakwah (DPD) YPM Salman ITB. Di temui di kantor DPD Salman ITB pada Kamis (08/12), Yajid menjelaskan bahwa terdapat berbagai pendapat dalam pelaksanaan shalat gerhana dipandang dari empat mazhab besar di dunia.</p>
<p>Tiga mazhab, yaitu Maliki, Hambali dan Syafi’i, sepakat bahwa shalat gerhana dilakukan sebanyak dua raka’at dengan dua kali Alfatihah dan dua kali rukuk dalam setiap raka’atnya. Sementara menurut Mazhab Hanafi, shalat gerhana ini dilaksanakan tidak berbeda dengan shalat sunnah yang lain, yaitu satu kali membaca Alfatihah dan satu kali rukuk dalam setiap raka’atnya.</p>
<p>Sementara dari segi jumlah raka’at, Mazhab Hanafi mengatakan paling sedikit dua raka’at. Boleh lebih dari dua raka’at, hanya yang paling utama adalah 4 raka’at dilaksanakan dengan satu kali salam. Setelah shalat selesai, dilanjutkan dengan khutbah.</p>
<p>Shalat gerhana ini sebaiknya memang dilakukan secara berjama’ah. Namun jika tidak memungkinkan, tidak masalah dilakukan sendiri dan tidak perlu ada khutbah.</p>
<p>Dari segi bacaan, tiga mazhab tadi menganjurkan untuk membaca surat Al-Baqarah setelah Alfatihah yang pertama, surat Al-Imran setelah Al-Fatihah yang kedua, surat An-Nisa setelah Al-Fatihah yang ketiga, dan surat Al-Maidah setelah Al-Fatihah yang terakhir.</p>
<p>“Itu anjurannya. Kalau tidak mampu, yang kita mampu saja,” terang lulusan Pondok Pesantren Cipasung Tasikmalaya ini. Karena shalat gerhana anjurannya memang dilaksanakan dengan shalat yang panjang. Bahkan kalau bisa, sampai gerhananya hilang.</p>
<p>Sementara Mazhab Hanafi menganjurkan untuk membaca surat Al-Baqarah pada raka’at pertama dan Al-Imran pada raka’at kedua. Untuk raka’at ketiga dan keempat, Yajid mengaku belum menemukan riwayatnya.</p>
<p>Untuk masalah rukuk dan sujud, juga disunnahkan panjang. Hanya saja ukurannya berbeda-beda. Pada Mazhab Hanafi, rukuk dan sujudnya disunnahkan panjang, meskipun tidak ada ukuran yang pasti dan tidak ada batasannya.</p>
<p>Pada Mazhab Hambali juga tidak ada batasannya. Hanya saja Mazhab Hambali menganjurkan bahwa rukuk yang pertama pada raka’at pertama kira-kira sama panjangnya dengan membaca seratus ayat Alquran dan di rukuk yang kedua panjangnya sama dengan membaca tujuh puluh ayat Alquran. Begitu pun pada rukuk di raka’at kedua.</p>
<p>Sementara itu Mazhab Syafi’i berpendapat bahwa ukuran panjang rukuk yang pertama kira-kira sama dengan membaca seratus ayat dari surat Al-Baqarah, kemudian pada rukuk yang kedua ukurannya sama dengan delapan puluh ayat surat Al-Baqarah, di rukuk yang ketiga sama dengan tujuh puluh ayat surat Al-Baqarah, dan pada rukuk yang terakhir sama dengan lima puluh ayat surat Al-Baqarah.</p>
<p>Mazhab Maliki menganjurkan hal yang sedikit berbeda. Pada rukuk pertama, kira-kira ukurannya sepanjang membaca seluruh surat Al-Baqarah, rukuk yang kedua sepanjang membaca surat Al-Imran, rukuk yang ketiga sepanjang membaca surat An-Nisa, dan rukuk yang keempat sepanjang membaca surat Al-Maidah.</p>
<p>Meski keempat mazhab tersebut berbeda, prinsipnya tetap sama, yaitu bacaan sholat akan selalu lebih panjang dari yang berikutnya.</p>
<p>Sementara untuk pengamalan, di Indonesia sendiri, menurut Yajid yang lebih umum digunakan biasanya yang dua kali rukuk dan dua kali Al-Fatihah dalam satu raka’at. “Yang Mazhab Hanafi itu hampir tidak ada yang mengamalkan,” terangnya.</p>
<p>Ada satu hal penting yang saya pelajari tentang pengertian sunnah melalui Yazid, yaitu sunnah memang tidak berdosa jika ditinggalkan. Namun jika kita sangat mampu melakukannya tapi meninggalkannya, maka kita tercela.<em>***</em></p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2011/12/shalat-gerhana-menurut-imam-4-mazhab/">Shalat Gerhana Menurut Imam 4 Mazhab</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2011/12/shalat-gerhana-menurut-imam-4-mazhab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fiqih Shalat Gerhana</title>
		<link>http://salmanitb.com/2011/12/fiqih-shalat-gerhana/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2011/12/fiqih-shalat-gerhana/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Dec 2011 04:00:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Irfan Habibie Martanegara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konsultasi]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih shalat gerhana]]></category>
		<category><![CDATA[khusuf]]></category>
		<category><![CDATA[kusuf]]></category>
		<category><![CDATA[shalat gerhana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=7092</guid>
		<description><![CDATA[<p>Pengertian &#38; Disyariatkannya Shalat Gerhana Kusuf menurut bahasa adalah berubah menjadi hitam artinya matahari telah menjadi hitam (gerhana). Menurut para ahli fiqih bila terjadi gerhana matahari disebut kusuf dan bila gerhana bulan disebut...</p><p><a href="http://salmanitb.com/2011/12/fiqih-shalat-gerhana/">Fiqih Shalat Gerhana</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_7093" class="wp-caption alignleft" style="width: 300px"><a href="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2010/06/eclipse19951024_14.jpg"><img class="size-medium wp-image-7093" title="gerhana" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2011/06/gerhana-300x234.jpg" alt="" width="300" height="234" /></a>
<p class="wp-caption-text">(foto: http://tdjamaluddin.wordpress.com)</p>
</div>
<p><strong>Pengertian &amp; Disyariatkannya Shalat Gerhana</strong></p>
<p>Kusuf menurut bahasa adalah berubah menjadi hitam artinya matahari telah menjadi hitam (gerhana). Menurut para ahli fiqih bila terjadi gerhana matahari disebut <em>kusuf </em>dan bila gerhana bulan disebut <em>khusuf</em>.</p>
<p>Di zaman Nabi gerhana matahari pernah terjadi ketika beliau di Madinah pada jam 8.30 tanggal 29 Syawal 10 H atau 28 Januari 632 M bertepatan dengan wafatnya putra Rasulullah SAW yaitu Ibrahim dari Istri Rasulullah SAW Mariyah. Di waktu itulah disyari’atkannya Shalat <em>Kusuf </em>(Gerhana Matahari) ataupun <em>Khusuf </em>(gerhana Bulan).</p>
<p>Dengan demikian apabila terjadi gerhana Matahari ataupun Gerhana bulan maka disunnahkan untuk bertakbir, shalat gerhana dan bershadaqah. Sebagaimana hadits Rasulullah :</p>
<p>Dari ‘Aisyah bahwasannya ia berkata : ….Kemudian Beliau (Rasulullah) berkata, &#8220;<em>Sesungguhnya matahari dan bulan adalah tanda-tanda kekuasaan dari Allah Ta’ala, yang tidak (ada kaitan) kedua gerhana tersebut dengan kematian dan kehidupan seseorang. Maka apabila kalian menyaksikannya hal itu maka berdo’alah kepada Allah,  dan bertakbirlah, dan shalatlah dan bershadaqahlah</em>.&#8221; (HR. Bukhari).</p>
<p><strong> </strong><strong>Tata Cara Shalat Gerhana</strong></p>
<p>Jumlah <em>raka’at </em>shalat Gerhana adalah 2 <em>raka’at </em>dengan 4 <em>ruku’ </em>dan 4 sujud. Caranya<em> raka’at </em>pertama membaca surat al-Fatihah dan membaca ayat yang panjang kemudian <em>ruku’ </em>kemudian <em>i’tidal </em>kemudian membaca surat al-Fatihah dan membaca ayat kembali kemudian <em>ruku’ </em>kemudian <em>i’tidal </em>selanjutnya sujud 2 kali. Kemudian dilanjutkan pada <em>raka’at </em>kedua seperti <em>raka&#8217;at </em>pertama. Tata cara ini sebagaimana hadits Rasulullah:</p>
<p>Dari ‘Aisyah bahwasannya ia berkata : &#8220;Telah terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah. Maka beliau shalat bersama orang-orang, maka beliau berdiri dan memanjangkan berdirinya, kemudian <em>ruku’ </em>maka memanjangkan <em>ruku’</em>-nya, kemudian dia berdiri kembali maka ia memanjangkan berdirinya dengan tidak sepanjang berdirinya ketika pertama, kemudian dia <em>ruku’ </em>dengan <em>ruku’ </em>yang panjang dengan tidak sepanjang <em>ruku’</em>-nya yang pertama, kemudian beliau sujud dengan memanjangkan sujudnya. Kemudian dia melakukan <em>raka’at </em>kedua seperti yang telah dia lakukan pada <em>raka’at </em>pertama.</p>
<p>Kemudian dia berpaling dan berkhutbah kepada orang-orang sambil memuji dan menyanjung Allah Ta’ala dan beliau (Rasulullah) berkata “<em>Sesungguhnya matahari dan bulan adalah tanda-tanda kekuasaan dari Allah Ta’ala, yang tidak (ada kaitan) kedua gerhana tersebut dengan kematian dan kehidupan seseorang. Maka apabila kalian menyaksikannya hal itu maka berdo’alah kepada Allah, dan bertakbirlah, dan shalatlah dan bershadaqahlah</em>.&#8221; (HR. Bukhari).</p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2011/12/fiqih-shalat-gerhana/">Fiqih Shalat Gerhana</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2011/12/fiqih-shalat-gerhana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mari Berpuasa Arafah</title>
		<link>http://salmanitb.com/2011/11/mari-berpuasa-arafah/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2011/11/mari-berpuasa-arafah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Nov 2011 22:50:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Suci Iswara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konsultasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=10249</guid>
		<description><![CDATA[<p>Dalam ingatan kita tentunya masih hangat semangat memaksimalkan ibadah pada bulan Ramadhan. Bulan penuh hikmah yang menjadi kesempatan besar bagi kita untuk memperbaiki diri bahkan kembali menuju fitrah. Memasuki bulan Dzulhijjah, kita juga memiliki kesempatan untuk menyempurnakan perbaikan diri yang mungkin belum terasa maksimal saat bulan Ramadhan lalu. </p><p><a href="http://salmanitb.com/2011/11/mari-berpuasa-arafah/">Mari Berpuasa Arafah</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_10250" class="wp-caption alignright" style="width: 300px"><a href="http://salmanitb.com/2011/11/mari-berpuasa-arafah/wukuf/" rel="attachment wp-att-10250"><img class="size-medium wp-image-10250" title="wukuf" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2011/11/wukuf-300x205.jpg" alt="Foto: blogspot.com" width="300" height="205" /></a>
<p class="wp-caption-text">Foto: blogspot.com</p>
</div>
<p><em>“Di dalam surga terdapat delapan pintu, padanya ada pintu yang dinamakan Rayyan yang hanya dimasuki oleh orang-orang yang puasa” </em><strong>(H.R. Bukhari)</strong></p>
<p>Dalam ingatan kita tentunya masih hangat semangat memaksimalkan ibadah pada bulan Ramadhan. Bulan penuh hikmah yang menjadi kesempatan besar bagi kita untuk memperbaiki diri bahkan kembali menuju fitrah. Memasuki bulan Dzulhijjah, kita juga memiliki kesempatan untuk menyempurnakan perbaikan diri yang mungkin belum terasa maksimal saat bulan Ramadhan lalu.</p>
<p>Imam Al-Bukhari dalam salah satu riwayat hadisnya, dari Ibnu Abbas R.A., Rasulullah SAW bersabda:</p>
<p><em>“Tidaklah ada amal yang lebih utama daripada amal-amal yang dikerjakan pada sepuluh hari Dzulhijjah ini. </em>“ <em>Lalu sahabat bertanya, “Tidak juga jihad?” Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab, “Tidak juga jihad, kecuali orang yang keluar (untuk berjihad) sambil mempertaruhkan diri (jiwa) dan hartanya, lalu kembali tanpa membawa suatu apapun (<strong>H.R. Bukhari</strong>) </em></p>
<p>Menurut Muhammad Yajid Kalam, manajer Divisi Pelayanan dan Dakwah (DPD) Salman ITB, salah satu referensi shahih mengenai amalan yang dilakukan pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dapat diketahui dari hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari.</p>
<p>“Berdasarkan hadis riwayat Bukhari tersebut, para ulama berpendapat amalan yang dapat dilakukan di sepuluh hari di awal Dzulhijjah bisa berupa amalan apa saja, yang terpenting kegiatan yang dilakukan merupakan amal keshalehan, misalnya puasa pada 1-9 Dzulhijjah, terutama puasa pada hari ke-9 yang dikenal dengan puasa Arafah,” ungkapnya.</p>
<p>Dalam sejarahnya, kemunculan puasa Arafah berkaitan dengan umat Islam pada generasi awal. Ketika itu, umat ini memiliki semangat besar untuk belomba dalam kebaikan.</p>
<p>Saat yang lain berkesempatan melakukan ibadah haji (wukuf arafah), muncullah keingintahuan mereka yang belum berkesempatan melaksanakan haji (wukuf di arafah) agar memiliki kesempatan untuk beribadah pula. Kemudian, untuk mereka yang berkesempatan melaksanakan haji ada wukuf. Sementara untuk mereka yang belum berkesempatan melaksanakan wukuf, bisa melaksanakan puasa Arafah.</p>
<p>Keutamaan puasa arafah ialah dapat menghapus dosa yang menunjukkan besarnya pengampunan Allah SWT, seperti yang diriwayatkan H.R. Muslim:</p>
<p><em>“(Puasa pada hari itu) menggugurkan dosa-dosa setahun yang lalu dan setahun yang berikutnya (</em><strong>H.R. Muslim</strong><em>)”</em></p>
<p><em>“Tidak ada hari yang Allah lebih banyak membebaskan hamba-Nya dari adzab neraka seperti hari Arafah. Sesungguhnya Dia (pada hari itu) mendekat, kemudian membangga-banggakan mereka (para jemaah Haji) dihadapan para malaikat ” Lalu Dia bertanya, “Apa yang diinginkan oleh para jema’ah Haji itu?” (</em><strong>H.R. Muslim</strong><em>)</em></p>
<p>Sama halnya dengan puasa pada umumnya, puasa Arafah juga memiliki keutamaan lain yang bisa menjadi kesempatan yang sangat disayangkan jika terlewatkan, misalnya keutamaan akan doa yang tidak akan ditolak.</p>
<p>Saat berpuasa Arafah, kita juga memiliki kesempatan meningkatkan perbaikan diri lebih baik lagi dengan melakukan amalan baik lainnya, seperti memperbanyak shalat sunah selain shalat wajib, memperbanyak takbir, tahmid, dan tahlil (berdzikir), terutama pada pagi dan sore hari.</p>
<p>Maha Pemurah Allah yang memberikan begitu banyak kebaikan dan kesempatan kepada Hamba-Nya untuk selalu memperbaiki diri. Yuk, semangat puasa Arafah.</p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2011/11/mari-berpuasa-arafah/">Mari Berpuasa Arafah</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2011/11/mari-berpuasa-arafah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tips Memilih Hewan Kurban</title>
		<link>http://salmanitb.com/2011/10/tips-memilih-hewan-kurban/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2011/10/tips-memilih-hewan-kurban/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Oct 2011 06:50:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fery Adi Prasetyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konsultasi]]></category>
		<category><![CDATA[Hewan Kurban]]></category>
		<category><![CDATA[Kambing]]></category>
		<category><![CDATA[Syarat Kurban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=10038</guid>
		<description><![CDATA[<p>Bagi anda yang berkesempatan untuk melaksanakan ibadah kurban pada tahun ini, bersyukurlah. Karena, tak semua orang punya kesempatan yang anda miliki ini. Namun, sebelum berkurban, terutama bagi anda yang baru akan berkurban pada...</p><p><a href="http://salmanitb.com/2011/10/tips-memilih-hewan-kurban/">Tips Memilih Hewan Kurban</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_10039" class="wp-caption alignleft" style="width: 300px"><a href="http://salmanitb.com/2011/10/tips-memilih-hewan-kurban/101_1300/" rel="attachment wp-att-10039"><img class="size-medium wp-image-10039" title="101_1300" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2011/10/101_1300-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>
<p class="wp-caption-text">Kambing.  (Foto: Fery AP)</p>
</div>
<p>Bagi anda yang berkesempatan untuk melaksanakan ibadah kurban pada tahun ini, bersyukurlah. Karena, tak semua orang punya kesempatan yang anda miliki ini. Namun, sebelum berkurban, terutama bagi anda yang baru akan berkurban pada tahun ini, anda harus memilih hewan kurban. Salah memilih hewan kurban, bisa-bisa niat anda untuk berkurban tidak sampai .</p>
<p>Setidaknya ada empat syarat agar hewan sah untuk dikurbankan. Pertama, hewan yang dipilih hendaknya berjenis kelamin jantan. Selain merupakan anjuran dari Rasulullah SAW, hal ini dimaksudkan untuk menjaga kelangsungan jenis ternak tersebut.</p>
<p>Kemudian, ternak yang akan dikurbankan hendaknya dipilih yang sehat. Sehat disini berarti tidak sedang sakit. Biasanya, hewan yang sehat tidak terlihat lemas meski tak banyak bergerak. Matanya tidak merah juga berair. Buih pada mulut meski ada tapi tidak berlebihan.</p>
<p>Selanjutnya, hewan tidak berada dalam kondisi cacat sedikitpun. Cacat yang dimaksud disini adalah cacat secara fisik. Seperti bekas-bekas luka yang tidak semestinya. telinga terbelah, mata juling, kaki pincang, dan sebagainya. Jika kita ikhlas memberi, tentu pemberian yang diberikan haruslah yang terbaik. Begitupun dengan hewan kurban yang akan dipersembahkan pada Allah, haruslah yang terbaik.</p>
<p>Yang terakhir, hewan yang dikurbankan hendaknya sudah pernah tanggal giginya. Hal ini menunjukkan kedewasaan hewan kurban. Tapi ada hal yang harus diperhatikan, tanggalnya gigi hewan haruslah alami. Proses tanggal yang tidak alami menyebabkan hewan berada dalam kondisi cacat, sehingga tidak layak untuk dikurbankan.</p>
<p>Selamat memilih hewan kurban. Semoga amal ibadah kurban anda sampai pada Allah, serta bermanfaat bagi anda dan orang-orang di sekitar anda.</p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2011/10/tips-memilih-hewan-kurban/">Tips Memilih Hewan Kurban</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2011/10/tips-memilih-hewan-kurban/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fikih Salat Hari Raya</title>
		<link>http://salmanitb.com/2011/08/fikih-salat-hari-raya/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2011/08/fikih-salat-hari-raya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Aug 2011 01:30:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Irfan Habibie Martanegara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konsultasi]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=9033</guid>
		<description><![CDATA[<p>Allaahu akbar, Allaahu akbar, laa ilaaha illallaahu, Allaahu akbar, Allahu akbar wa Lillaahilhamd. Takbir akan segera menggema. Anak-anak, orang tua, laki-laki, perempuan merayakan Idul Fitri. ada beberapa ketentuan yang perlu diperhatikan ketika hari...</p><p><a href="http://salmanitb.com/2011/08/fikih-salat-hari-raya/">Fikih Salat Hari Raya</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_4043" class="wp-caption alignleft" style="width: 300px"><a href="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2010/11/Ied-300x154.jpg"><img class="size-full wp-image-4043" title="Ied-300x154" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2010/11/Ied-300x154.jpg" alt="" width="300" height="154" /></a>
<p class="wp-caption-text">Jamaah Masjid Salman ITB ketika melaksanakan sholat Ied (Foto: Dokumentasi Salman ITB)</p>
</div>
<p><em>Allaahu akbar, Allaahu akbar, laa ilaaha illallaahu, Allaahu akbar, Allahu akbar wa Lillaahilhamd.</em></p>
<p>Takbir akan segera menggema. Anak-anak, orang tua, laki-laki, perempuan merayakan Idul Fitri. ada beberapa ketentuan yang perlu diperhatikan ketika hari raya tiba.</p>
<p>Pada saat mendirikan kedua shalat hari raya, baik Idul Fitri maupun Idul Adha, disunnahkan memakai pakaian yang paling bagus.</p>
<p>Sebelum berangkat shalat hari raya Idul Fitri disunnahkan makan terlebih dahulu. Disunnahkan beberapa butir kurma, jika tidak ada maka makanan apa pun yang halal dibolehkan. Sebaliknya pada hari raya Idul Adha, disunnahkan tidak makan terlebih dahulu sampai selesai shalat. Diriwayatkan dari Buraidah r.a. ia berkata:</p>
<p><em>“Adalah Nabi saw keluar untuk shalat Idul Fitri setelah makan terlebih dahulu, dan tidak makan pada shalat Idul Adha hingga Beliau kembali dari shalat id.”</em> (H.R. Ibnu Majah, At-Tirmidzi dan Ahmad)</p>
<p>Pada hari raya Idul Fitri, takbir didengungkan sejak keluar dari rumah menuju ke tempat shalat. Sesampainya di tempat shalat, takbir terus dilanjutkan sampai shalat dimulai. Diriwayatkan dari Azzuhri, ia berkata:</p>
<p><em>“Adalah manusia (para sahabat) bertakbir pada hari raya ketika mereka keluar dari rumah-rumah mereka menuju tempat shalat id sampai mereka tiba di mushalla (tempat shalat id) dan terus bertakbir sampai imam datang, apabila imam telah datang, mereka diam dan apabila imam bertakbir maka merekapun ikut bertakbir.”</em> (H.R. Ibnu Abi Syaibah)</p>
<p>Disunnahkan membedakan jalan yang dilalui waktu berangkat shalat hari raya dengan jalan yang dilalui di waktu pulang dari shalat id. Diriwayatkan dari Jabir r.a. ia berkata:</p>
<p><em>“Adalah Nabi SAW apabila keluar untuk shalat id ke mushalla, beliau menyelisihkan jalan (yakni waktu berangkat melalui satu jalan dan waktu kembali melalui jalan yang lain.”</em> (H.R. Bukhari)</p>
<p>Shalat id disunnahkan untuk dihadiri oleh orang dewasa baik laki-laki maupun wanita, baik wanita yang suci dari haidh maupun wanita yang sedang haidh dan juga kanak-kanak baik laki-laki maupun wanita. Wanita yang sedang haidh tidak ikut shalat, tetapi hadir untuk mendengarkan khutbah id.</p>
<p>Diriwayatkan dari Ummu &#8216;Atiyah r.a. ia berkata: <em>Rasulullah SAW memerintahkan kami keluar pada Idul Fitri dan Idul Adha, semua gadis-gadis, wanita-wanita yang haidh, wanita-wanita yang tinggal dalam kamarnya. Adapun wanita yang sedang haidh mengasingkan diri dari mushalla tempat shalat id. Mereka meyaksikan kebaikan dan mendengarkan dakwah kaum muslimin (mendengarkan khutbah). Saya berkata: ‘Ya Rasulullah bagaimana dengan kami yang tidak mempunyai jilbab? Beliau bersabda: Supaya saudaranya meminjamkan kepadanya  jilbabnya.’ ”</em> (H.R. Jama&#8217;ah)</p>
<p>Shalat id lebih afdhal (utama) diadakan di mushalla yaitu suatu padang/lapangan yang di sediakan untuk shalat id, kecuali ada uzur hujan maka shalat diadakan di masjid. Kurang afdal mengadakan shalat id di masjid padahal tidak hujan, sementara lapangan (padang) tersedia. Hal ini menyelisihi amalan Rasulullah SAW yang selalu mengadakan shalat id di mushalla (padang tempat shalat), kecuali sekali dua kali Beliau mengadakan di masjid karena hujan. Diriwayatkan dari Abu Said, ia berkata:</p>
<p><em>Adalah Nabi SAW pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha keluar ke mushalla (padang untuk shalat), maka pertama yang Beliau kerjakan adalah shalat. Kemudian setelah selesai Beliau berdiri menghadap kepada manusia, sedang manusia masih duduk tertib pada shof mereka, lalu Beliau memberi nasihat dan wasiat (khutbah). Apabila Beliau hendak mengutus tentara atau ingin memerintahkan sesuatu yang telah Beliau putuskan, Beliau perintahkan setelah Beliau selesai</em>. (H.R. Al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Shalat id diadakan setelah matahari naik, tetapi sebelum masuk waktu shalat dhuha.</p>
<p>Diriwayatkan dari Yazid bin Khumair Arrahbiyyi ra. ia berkata:</p>
<p><em>“Sesungguhnya Abdullah bin Busri seorang sahabat Nabi SAW keluar bersama manusia untuk shalat Idul Fitri atau Idul Adha, maka Beliau mengingkari keterlambatan imam, lalu berkata: ‘Sesungguhnya kami dahulu (pada zaman Nabi SAW) pada jam-jam seperti ini sudah selesai mengerjakan shalat id. Waktu ia berkata demikian adalah pada waktu shalat dhuha.”</em> (H.R. Abu Daud dan Ibnu Majah)</p>
<p><strong>Tata Cara Shalat Id</strong></p>
<p>1. Shalat id dua raka&#8217;at, tanpa azan dan iqamah dan tanpa shalat sunnah sebelum dan sesudahnya.</p>
<p>Telah berkata Jabir ra: <em>“</em><em>Saya menyaksikan shalat id bersama Nabi SAW. Beliau memulai shalat sebelum khutbah tanpa azan dan tanpa iqamah, setelah selesai beliau berdiri bertekan atas Bilal, lalu memerintahkan manusia supaya bertakwa kepada Allah, mendorong mereka untuk taat, menasihati manusia dan memperingatkan mereka. Setelah selesai Beliau turun mendatangai shaf wanita dan selanjutnya beliau memperingatkan mereka.”</em> (H.R. Muslim)</p>
<p>2. Pada raka&#8217;at pertama setelah takbiratul ihram sebelum membaca Al-Fatihah, ditambah 7 kali takbir. Sedang pada raka&#8217;at yang kedua sebelum membaca Al-Fatihah ditambah takbir lima kali.</p>
<p>Diriwayatkan dari Amru bin Syu&#8217;aib, dari ayahnya, dari neneknya, ia berkata: <em>“</em><em>Sesungguhnya Nabi SAW pada shalat id bertakbir dua belas kali. Dalam raka&#8217;at pertama tujuh kali takbir dan pada raka&#8217;at yang kedua lima kali takbir dan tidak shalat sunnah sebelumnya dan juga sesudahnya</em>.<em>” </em>(H.R. Amad dan Ibnu Majah)</p>
<p>3. Setelah membaca Fatihah pada raka&#8217;at pertama disunnahkan membaca surat <em>sabihisma Rabbikal a&#8217;la</em> (surat ke 87), atau surat <em>iqtarabatissa&#8217;ah</em> (surat ke 54). Dan setelah membaca Al-Fatihah pada raka&#8217;at yang kedua disunnahkan membaca surat <em>Hal Ataka Haditsul Ghaasyiyah</em> (surat ke 88) atau membaca surat <em>Qaaf walqur&#8217;anul majid</em> (surat ke 50).</p>
<p>Diriwayatkan dari Abu Waqid Al-Laitsi, ia berkata: <em>“Umar bin Khaththab telah menanyakan kepadaku tentang apa yang dibaca oleh Nabi SAW waktu shalat id. Aku menjawab: ‘Beliau membaca surat Iqtarabatissa&#8217;ah dan Qaaf walqur&#8217;anul majid.”</em> (H.R. Muslim)</p>
<p>4. Setelah selesai shalat, imam berdiri menghadap makmum dan berkhutbah memberi nasihat-nasihat dan wasiat-wasiat, atau perintah-perintah penting. Khutbah hari raya ini boleh diadakan khusus untuk laki-laki kemudian khusus untuk wanita.</p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2011/08/fikih-salat-hari-raya/">Fikih Salat Hari Raya</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2011/08/fikih-salat-hari-raya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Syariat Zakat Fitrah</title>
		<link>http://salmanitb.com/2011/08/syariat-zakat-fitrah/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2011/08/syariat-zakat-fitrah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Aug 2011 08:30:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Irfan Habibie Martanegara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konsultasi]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=9031</guid>
		<description><![CDATA[<p>Salah satu kewajiban yang harus ditunaikan untuk menyempurnakan shaum Ramadan adalah zakat fitrah. Di antara dalil yang mewajibkan zakat fitrah adalah: Firman Allah Ta&#8217;ala: “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan...</p><p><a href="http://salmanitb.com/2011/08/syariat-zakat-fitrah/">Syariat Zakat Fitrah</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_9059" class="wp-caption alignright" style="width: 300px"><a href="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2011/08/beras.jpg"><img class="size-medium wp-image-9059" title="beras" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2011/08/beras-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>
<p class="wp-caption-text">(foto: http://poskota.co.id/)</p>
</div>
<p>Salah satu kewajiban yang harus ditunaikan untuk menyempurnakan shaum Ramadan adalah zakat fitrah. Di antara dalil yang mewajibkan zakat fitrah adalah:</p>
<p>Firman Allah Ta&#8217;ala:</p>
<p><em>“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia shalat”</em> (Q.S. Al-A&#8217;la: 14-15)</p>
<p>Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas r.a., ia berkata:</p>
<p><em>“Rasulullah SAW telah mewajibkan zakat fitrah bagi orang merdeka dan hamba sahaya, laki-laki dan perempuan, anak-anak dan orang dewasa dari kaum muslimin. Beliau memerintahkan agar (zakat fituah tersebut) ditunaikan sebelum orang-orang melakukan shalat &#8216;Id (hari Raya)”</em> (Hadits <em>Muttafaq &#8216;Alaih</em>)</p>
<p>Setiap muslim wajib membayar zakat fitrah untuk dirinya dan orang yang dalam tanggungannya sebanyak satu <em>sha&#8217;</em> (± 3 kg) dari bahan makanan yang berlaku umum di daerahnya. Zakat tersebut wajib baginya jika masih memiliki sisa makanan untuk diri dan keluarganya selama sehari semalam.</p>
<p>Zakat berbentuk makanan tersebut lebih diutamakan daripada barang apapun bagi fakir miskin.</p>
<p>Adapun waktu pengeluarannya yang paling utama dan yang paling shahih adalah sebelum shalat &#8216;Id, dan tidak boleh mengakhirkan mengeluarkan zakat fitrah setelah hari raya.</p>
<p><em>“Barangsiapa yang mengeluarkannya sebelum shalat &#8216;Id, maka zakatnya diterima, dan barang siapa yang membayarkannya setelah shalat &#8216;Id maka ia adalah sedekah biasa.”</em> (H.R. Abu Daud dan Ibnu Majah)</p>
<p><strong>Hikmah disyari&#8217;atkannya zakat fitrah</strong></p>
<p>Di antara hikmah disyari&#8217;atkannya zakat fitrah adalah:</p>
<ol>
<li>Zakat fitrah merupakan zakat diri, di mana Allah memberikan umur panjang baginya sehingga ia bertahan dengan nikmat-Nya.</li>
<li>Zakat fitrah juga merupakan bentuk pertolongan kepada umat Islam, baik kaya maupun miskin sehingga mereka dapat berkonsentrasi penuh untuk beribadah kepada Allah Ta&#8217;ala dan bersukacita dengan segala anugerah nikmat-Nya.</li>
<li>Hikmahnya yang paling agung adalah tanda syukur orang yang berpuasa kepada Allah atas nikmat ibadah puasa.</li>
</ol>
<p><a href="http://salmanitb.com/2011/08/syariat-zakat-fitrah/">Syariat Zakat Fitrah</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2011/08/syariat-zakat-fitrah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Minified using disk: basic
Page Caching using disk: enhanced

Served from: salmanitb.com @ 2012-05-23 05:07:19 -->
