<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Masjid Salman ITB &#187; Jumatan</title>
	<atom:link href="http://salmanitb.com/category/khutbah-jumat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://salmanitb.com</link>
	<description>Menuju Masyarakat Informasi Islami</description>
	<lastBuildDate>Tue, 22 May 2012 07:47:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Ikhlas, Niat Karena Allah</title>
		<link>http://salmanitb.com/2012/04/ikhlas-niat-karena-allah/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2012/04/ikhlas-niat-karena-allah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Apr 2012 03:22:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aulia Mulya Dewi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jumatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=13016</guid>
		<description><![CDATA[<p>Kalau kita membaca kitab-kitab fiqih ibadah, maka kita akan menemukan terutama saat berbicara tentang rukun ibadah. Sesuatu yang mutlak harus dipenuhi oleh seseorang agar ibadahnya makbul diterima Allah. Maka akan selalu kita temukan...</p><p><a href="http://salmanitb.com/2012/04/ikhlas-niat-karena-allah/">Ikhlas, Niat Karena Allah</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_13033" class="wp-caption alignright" style="width: 300px"><a href="http://salmanitb.com/2012/04/ikhlas-niat-karena-allah/6075163972_761c4755b1_z/" rel="attachment wp-att-13033"><img class="size-medium wp-image-13033" title="Sujud" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/04/6075163972_761c4755b1_z-300x230.jpg" alt="" width="300" height="230" /></a>
<p class="wp-caption-text">Apapun ibadahnya, ikhlas jadi landasannya. (Foto: Fery AP)</p>
</div>
<p>Kalau kita membaca kitab-kitab fiqih ibadah, maka kita akan menemukan terutama saat berbicara tentang rukun ibadah. Sesuatu yang mutlak harus dipenuhi oleh seseorang agar ibadahnya makbul diterima Allah. Maka akan selalu kita temukan rukun yang pertama itu adalah “Niat”.</p>
<p>Rukun shalat, rukun haji,<em> shaum</em>, selalu saja rukun yang pertamanya itu adalah niat. Karena niatlah yang akan menentukan. Pertama yang akan menentukan bernilai atau tidaknya ibadah seseorang disisi Allah SWT. Rasul SAW mengatakan<em> innamal hammadu binniat</em>. Semua amal perbuatan manusia tergantung pada niatnya.</p>
<p><em>&#8220;Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam </em><em>bersabda : Sesungguhnya setiap  perbuatan<sup> </sup>tergantung niatnya.  Dan  sesungguhnya  setiap  orang  (akan dibalas) berdasarkan apa yang</em></p>
<p><em></em><em>ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah</em></p>
<p><em>dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya </em></p>
<p><em>(akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan&#8221;.</em></p>
<p>[HR. Muslim dan Abu Abdullah]</p>
<p>Niat yang mutlak harus dimiliki oleh setiap mukmin. Agar ibadahnya mabrur disisi Allah. Ibadah harus dilakukan dengan ikhlas, semata-mata  mengharapkan rida Allah SWT. Dalam sural Al-Bayyinah ayat 5, Allah mengatakan “<em>wam<span style="text-decoration: underline;">aa</span> umiruu ill<span style="text-decoration: underline;">aa</span> liya&#8217;buduull<span style="text-decoration: underline;">aa</span>ha mukhli<span style="text-decoration: underline;">sh</span>iina lahuddiina <span style="text-decoration: underline;">h</span>unaf<span style="text-decoration: underline;">aa</span>-a wayuqiimuu<span style="text-decoration: underline;">shsh</span>al<span style="text-decoration: underline;">aa</span>ta.</em>” ( Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta&#8217;atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus).</p>
<p>Dalam hal ibadah, maka ibadah yang ikhlas adalah ibadah yang murni 100 persen. Diniatkan oleh seseorang mencari rida Allah.Maka, kita diingatkan dalam surat Al-Anaam ayat 162. <em>Qul inna <span style="text-decoration: underline;">sh</span>al<span style="text-decoration: underline;">aa</span>tii wanusukii wama<span style="text-decoration: underline;">h</span>y<span style="text-decoration: underline;">aa</span>ya wamam<span style="text-decoration: underline;">aa</span>tii lill<span style="text-decoration: underline;">aa</span>hi rabbil&#8217;<span style="text-decoration: underline;">aa</span>lamiin<strong>. </strong></em>(Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.)</p>
<p>Bukan hanya salat, seluruh ibadah. Bukan ibadah dalam pengertian yang sempit. Seluruh hidup akan bernilai ibadah tiap detiknya, kalau kita niatkan semua<em> lillahi taala.</em></p>
<p>Seorang sufi berkata, jika ada seseorang yang beribadah karena selain mengharap ridho Allah, melainkan mengharap surga atau takut ancaman neraka. Ibadah orang tersebut tidaklah haram. Namun, sedikitpun ia tidak akan memperoleh pahala di sisi Allah.</p>
<p>Lebih bagus dia tidak beribadah seperti itu. Rabiah al Adawiyah mengatakan ibadah orang seperti itu adalah tingkat ibadah seorang budak. Seorang budak yang hanya bekerja karena mengharapkan upah atau takut tersiksa.</p>
<p>Sehingga terkenallah doa Rabiah al Adawiyah.  “Ya Allah jika saya beribadah karena mengharapkan surgamu, maka jauhkan saya dari surgamu. Dan jika saya beribadah karena takut akan neraka jahannam, masukkanlah saya kedalam neraka jahannam. Tapi jika saya beribadah karena semata-mata hanya karena mengharapkan ridhomu. Engkaulah yang Maha Tahu dimana aku berada.”</p>
<p>Kendati demikian, ulama-ulama fiqih tidak sepenuhnya sependapat  dengan ulama-ulama seperti ini. Mereka menyatakan, sedikitpun tidak terganggu keikhlasan ibadah seseorang kepada Allah, sepanjang yang diharapkan adalah kebahagiaan akhirat, surga, dan rida Allah.</p>
<p>Wajar menurut para ulama fiqih jika seorang mengharapkan syurga karena Allah. Mengiming-imingi kita dengan janji surga itu. Wajar jika seseorang itu takut kepada neraka, karena memang Allah menakut-nakuti kita dengan neraka itu. Artinya ibadah seseorang sama sekali tidak terganggu keikhlasannya karena Allah jika dia mengharapkan surga atau takut neraka.</p>
<p>Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. [QS 28:77]</p>
<p>Tapi, tidak akan pernah kita temukan satupun ulama yang membenarkan seorang beribadah karena mengharap kenikmatan dunia. Akhir-akhir ini umat banyak digiring pada sesuatu yang semestinya bernilai ibadah. Namun saya khawatir hal tersebut sebenarnya sangat jauh dari nilai ibadah, salah satunya adalah fenomena sodaqoh.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Disarikan dari Ceramah Jumat, 27 Januari 2012 di Masjid Salman ITB oleh KH. Athian Ali M Da&#8217;i MA, ketua  Forum Ulama Ummat Indonesia.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2012/04/ikhlas-niat-karena-allah/">Ikhlas, Niat Karena Allah</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2012/04/ikhlas-niat-karena-allah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pertolongan Allah Datang Setelah Ujian (II)</title>
		<link>http://salmanitb.com/2012/04/pertolongan-allah-datang-setelah-ujian-ii/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2012/04/pertolongan-allah-datang-setelah-ujian-ii/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Apr 2012 02:00:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aulia Mulya Dewi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jumatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=12874</guid>
		<description><![CDATA[<p>Allah menyebutkan 37 kata pertolonganyang dihubungkan dengan kesabaran. Adapun pertolongan yang dihubungkan dengan suatu kondisi yang berat ujian klimaks itulah Allah menurunkan pertolongannya. Jikalau sekarang kita merasa belum ada pertolongan Allah boleh jadi...</p><p><a href="http://salmanitb.com/2012/04/pertolongan-allah-datang-setelah-ujian-ii/">Pertolongan Allah Datang Setelah Ujian (II)</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_12250" class="wp-caption alignleft" style="width: 300px"><a href="http://salmanitb.com/2012/03/pertolongan-allah-datang-setelah-ujian-i/help/" rel="attachment wp-att-12250"><img class="size-medium wp-image-12250" title="help" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/03/help-300x220.jpg" alt="" width="300" height="220" /></a>
<p class="wp-caption-text">(Gambar: xmdr.org)</p>
</div>
<p>Allah menyebutkan 37 kata <em>pertolongan</em>yang dihubungkan dengan kesabaran. Adapun pertolongan yang dihubungkan dengan suatu kondisi yang berat ujian klimaks itulah Allah menurunkan pertolongannya. Jikalau sekarang kita merasa belum ada pertolongan Allah boleh jadi ujiannya belum mencapai klimaks.</p>
<p>Tugas kita adalah, menyiapkan pemikiran dan mental  untuk melihat satu persoalan secara penuh optimis. Ketika Rasulullah mengahadapi berbagai persoalan, beliau mengajarkan kepada kita untuk yakin bisa menyelesaikan persoalan tersebut. Namun bukan hanya yakin, Rasul mengajarkan kepada kita untuk menggantungkan harapan setinggi mungkin.</p>
<p>Contohnya jika berbicara tentang surga. Rasul mengatakan mintalah surga firdaus, itulah surga tertinggi. Artinya dalam mengarungi hidup, kita harus selalu menggantungkan cita-cita setinggi-tingginya. Dan kita optimis bisa melewatinya dan bisa meraihnya. Namun bukan berarti hanya menggantungkan harapan dan optimis, semua orang harus berjuang, bekerja keras dan bersungguh-sungguh.</p>
<p>Tugas kita bukan berhasil, tugas kita ikhtiar. Berhasil itu wilayah Allah, wilayah kita itu ikhtiar. Allah menegaskan dalam alquran surat At-Taubah ayat 105, &#8220;Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu&#8217;min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.&#8221; Dengan demikian alquran mengajarkan kita agar melewati proses dengan sebaik-baiknya. Tugas kita adalah menciptakan dan mengkondisikan diri untuk berhasil, urusan berhasil atau tidak itu bukan wilayah kita.</p>
<p>Jadi bagi rekan-rekan mahasiswa, yang menjadi kewajiban adalah melakukan yang terbaik untuk menjadi ilmuwan yang hebat. Lewati seluruh proses itu. Apakah jadi ilmuwan atau tidak itu bab lain. Tugas dosen bagi dia adalah mengajar dengan sebaik-baiknya, dengan hasil riset-riset terbaik, dengan mengambil dari jurnal-jurnal yang terakreditasi secara internasional. Apakah mahasiswa mengerti, hebat atau tidak itu sudah bukan wilayah kita. Tugas kita adalah <em>wa kulli mallu</em>, bekerjalah kamu. <em>Pasayarallahu ankum</em>, nanti Allah akan melihat ikhtiar kamu.</p>
<p>Jika kita berbicara tentang pertolongan. Ternyata tugas kita itu adalah menciptakan kondisi-kondisi untuk berhasil. Yaitu gantungkan harapan setinggi mungkin. Lewati harapan cita-cita itu dengan <em>mujahadah</em>, dengan kerja keras, dan ingat tugas kita di situ.</p>
<p>Karena sukses itu wilayah Allah sebenarnya, bukan wilayah kita. Itu sebabnya ada kesuksesan-kesuksesan yang <em>unrasionable</em>, tidak bisa dirasionalisasi. Secara hukum probabilita, jika sudah menciptakan variabel-variabel sukses, maka peluang sukses tersebut akan lebih besar. Mencipta peluang, itulah wilayah kerja manusia. Urusan berhasil atau tidak itu wilayah Allah.</p>
<p>Kemudian, bingkai kerja keras kita dengan kekuatan doa. Hal ini dijelaskan dalam surat Al-Baqarah:186. &#8220;<em>Dan apabila hamba-hambaku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang aku, maka sesungguhnya aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang-orang yang berdoa apabila dia berdoa kepadaku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepadaKu, agar mereka memperoleh kebenaran.&#8221;</em></p>
<p>Ayat tersebut menunujukkan bahwa manusia merasa butuh kekuatan. Maka, dalam firman Allah, orang-orang yang tak pernah berdoa disebut orang-orang yang takabur. Jadi, kalau kita berdoa, secara tidak langsung menggambarkan bahwa kita itu butuh pertolongan Allah.</p>
<p>Orang yang tidak pernah berdoa merasa bahwa kekuatannya bisa menyelesaikan itu semua. Dengan berdoa, kita merasa butuh pertolongan Allah. Berdoa juga menggambarkan kerendahan hati kita. Kita pun yakin sesungguhnya kita butuh kekuatan di luar kekuatan kita sendiri.</p>
<p>Jangan sampai lupa, saat kita sukses ada untaian doa-doa terindah di sekitar kita. Doa dari orang-orang yang menyayangi kita. Bagi rekan-rekan yang bisa masuk ke ITB, jangan dikira hanya hasil kerja keras sendiri. Boleh jadi itu juga buah doa guru dan orang tua setiap malam.</p>
<p>Hadirin sidang jumat yang Allah muliakan, pertolongan Allah itu turun ketika kita bisa melewati ujian dengan segala kesungguhan. Ketika kita bersabar melewati ujian itu. Jangan lupa kita gantungkan cita-cita dan harapan kita, optimisme kita setinggi mungkin, lalu lewati tangga-tangga untuk sampai cita-cita tersebut dengan kerja keras dengan ikhtiar yang sungguh-sungguh. Lalu, bingkai ikhtiar kita dengan kekuatan doa.</p>
<p>Yang terakhir dan tidak boleh dilupakan, pertolongan Allah itu akan turun kepada orang yang matanya sering terharu, hatinya sering terharu, ketika dia bermunajat kepada-Nya. Ini merujuk kepada sahih Bukhari yang mengatakan <em>sab’atun yudikumullahu yaumalladina illuhu. A</em>da tujuh kelompok manusia yang pasti ditolong Allah, salah satunya orang yang berdua-duaan dengan Allah hingga meneteskan air mata.</p>
<p>Siti Aisyah mengatakan, Rasulullah jika sedang tahajud, punggungnya bergetar, seperti tutup panci saat airnya mendidih, karena menahan tangis. Seorang pembantu Umar bin Khattab bertanya pada tuannya, “Saya lihat kalau tuan sedang salat, tuan selalu menangis.” Umar menjawab, “Bagaimana aku tidak menangis, aku pernah melakukan semua dosa-dosa. Ketika salat aku ingat akan dosa-dosaku, dan aku menyadari bahwa aku harus berpulang kepada Allah dengan memiliki jiwa dan hati yang bersih, dan aku bersihkan dengan tetesan-tetesan air mata. “</p>
<p>Pertolongan Allah datang setelah kerja keras. Cita-cita mesti dibingkai dengan doa. Kita pun harus memiliki kerendahan hati dan senantiasa mengasah jiwa kita. Sehingga, kita gampang tersentuh dengan ayat-ayat Allah dengan berbagai nasehat yang terkandung di dalamnya. Itulah ciri orang yang imannya kokoh, kalau dibacakan ayat-ayat Allah, hatinya begitu subur, sehingga tumbuhlah benih-benih keimanan dalam dirinya.</p>
<p><em>Disarikan dari Ceramah Jumat, 10 Februari 2012 di Masjid Salman ITB oleh Dr. H. Aam Amiruddin, M.Si, pendiri dan pembina Yayasan Percikan Iman</em></p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2012/04/pertolongan-allah-datang-setelah-ujian-ii/">Pertolongan Allah Datang Setelah Ujian (II)</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2012/04/pertolongan-allah-datang-setelah-ujian-ii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pertolongan Allah Datang Setelah Ujian (I)</title>
		<link>http://salmanitb.com/2012/03/pertolongan-allah-datang-setelah-ujian-i/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2012/03/pertolongan-allah-datang-setelah-ujian-i/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Mar 2012 06:42:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aulia Mulya Dewi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jumatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=12249</guid>
		<description><![CDATA[<p>Masing-masing diri kita pernah mengalami sebuah kesuksesan, apapun bentuknya. Bisa sukses dalam usaha, studi, mengajar, juga bekerja. Akan tetapi, kita terkadang melupakan sesuatu. Saat kita sukses, seolah-olah kesuksesan itu seratus persen karena kehebatan...</p><p><a href="http://salmanitb.com/2012/03/pertolongan-allah-datang-setelah-ujian-i/">Pertolongan Allah Datang Setelah Ujian (I)</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_12250" class="wp-caption alignleft" style="width: 300px"><a href="http://salmanitb.com/2012/03/pertolongan-allah-datang-setelah-ujian-i/help/" rel="attachment wp-att-12250"><img class="size-medium wp-image-12250" title="help" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/03/help-300x220.jpg" alt="" width="300" height="220" /></a>
<p class="wp-caption-text">(Gambar: xmdr.org)</p>
</div>
<p>Masing-masing diri kita pernah mengalami sebuah kesuksesan, apapun bentuknya. Bisa sukses dalam usaha, studi, mengajar, juga bekerja.</p>
<p>Akan tetapi, kita terkadang melupakan sesuatu. Saat kita sukses, seolah-olah kesuksesan itu seratus persen karena kehebatan kita. Ada satu hal, yang perlu digarisbawahi, tidak ada kesuksesan yang seratus persen karena kehebatan kita.</p>
<p>Memang dalam setiap kesuksesan itu ada perjuangan disitu. Namun, begitu kita sukses, jangan beranggapan bahwa kesuksesan itu sepenuhnya buah kerja keras kita. Mari kita lihat dalam firman Allah ketika Nabi diberi kemenangan. Allah mengingatkan “<em>Idza jaa a nasrullahi wal fath</em>,” (QS An-Nashr: 1). Ayat tersebut bermakna, apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.</p>
<p>Di dalam tafsirnya, menurut Sayyid Quthb hal ini merupakan peringatan bagi kita. Kita sukses karena ada pertolongan Allah. Maka ketika Allah berfirman tentang kemenangan Rasul, tidak disebut “<em>Idzaa jaa-a al fathu wa nashrullah</em>” tetapi “<em>i<span style="text-decoration: underline;">dzaa</span> j<span style="text-decoration: underline;">aa</span>-a na<span style="text-decoration: underline;">sh</span>rull<span style="text-decoration: underline;">aa</span>h</em>”. Jadi percayalah, setiap kali kita meraih kesuksesan sesungguhnya disitu ada kuasa dan pertolongan Allah SWT.</p>
<p>Nah, di dalam Alquran kata pertolongan itu disebut tidak kurang dari 37 kali. Kalimat pertolongan tersebut ada yang ditulis dengan min (<em>nasruminallah</em>), ada pula yang langsung (<em>nasrullah</em>). <em>Nasruminallah</em> bermakna pertolongan dari Allah. Menurut ahli tafsir, pada kalimat <em>nasrumminallah</em>, masih ada wilayah ikhtiar kita. Namun ada juga  <em>nasrullah</em>, pertolongan Allah. Allah yang menolong sepenuhnya, tidak ada campur tangan kita.</p>
<p>Rekan-rekan mahasiswa yang ingin lulus tentu saja harus ber-ikhtiar. Ikhtiar dia, lembaga, dosen, juga pembimbing, itulah yang disebut <em>nasruminallah</em>. Jadi Allah memberikan pertolongan tetapi masih ada ikhtiar kita.</p>
<p><strong>Pertolongan Dikaitkan dengan Ujian dan Kesabaran</strong></p>
<p>Dalam Alquran sendiri, kata pertolongan dihubungkan dengan kata ujian. Yang kedua, kata pertolongan juga kerap  dihubungkan dengan kata sabar.</p>
<p>Allah akan menolong seseorang ketika orang itu memang sudah berada dalam klimaks ujian. Dan kalau Allah sudah menolong, logika kita kadang susah untuk menjelaskannya.</p>
<p>Kita ambil contoh, saat Nabi Ibrahim berhadapan dengan raja Namrud.  Saat itu tidak ada jalan keluar agar Nabi Ibrahim selamat. Ia dibakar hidup-hidup. Begitu badannya dilempar kedalam api yang menyala-nyala, seketika itu jua Allah menolong. Seperti yang difirmankan Allah dalam surat Al Anbiya ayat 69.</p>
<p><em>&#8220;Quln<span style="text-decoration: underline;">aa</span> y<span style="text-decoration: underline;">aa</span> n<span style="text-decoration: underline;">aa</span>ru kuunii bardan wasal<span style="text-decoration: underline;">aa</span>man &#8216;al<span style="text-decoration: underline;">aa</span> ibr<span style="text-decoration: underline;">aa</span>hiima salama.&#8221; </em> Kami berfirman: &#8220;Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.&#8221;</p>
<p>Tolong perhatikan disini. Tentu saja, akal manusia akan mengatakan jika manusia terbakar tentu ia akan mengalami luka bakar. Namun, tidak demikian dengan Nabi Ibrahim.</p>
<p>Begitupun dengan Nabi Musa. Saat itu, beliau mengajak Bani Israil keluar dari Mesir menuju Palestina. Firaun yang marah mengirim pasukan untuk mengejar Nabi Musa. Beliau pun berada dalam posisi terjepit.</p>
<p>Laut Merah menghadangnya di depan. Sementara, di belakang sudah ada Firaun bersama tentaranya. Secara logika manusia, sudah tak ada lagi jalan keluar.</p>
<p>Allah pun menolong. Laut Merah terbelah hingga dapat disebrangi dengan mudah. Begitu Nabi Musa dan rombongan tiba di seberang, laut kembali tertutup dan menenggelamkan Firaun beserta prajuritnya.</p>
<p>Contoh lainnya di Indonesia. Pada zaman perjuangan, bangsa kita yang bersenjata bambu runcing mesti berhadapan dengan tentara-tentara Belanda dan Jepang yang menggunakan senjata otomatis. Secara logika kita seharusnya kalah, tapi kenapa kita menang? Lagi-lagi pertolongan Allah.</p>
<p>Saat ini, kita bangsa Indonesia, diuji oleh berbagai hal. Krisis multidimensi. Kalau menggunakan logika, orang bisa putus asa. Namun, kita tidak perlu berputus asa. Karena kalau Allah sudah memberikan pertolongan, hitungan matematis otomatis tidak bisa diterapkan. Oleh karena itu, kita sebagai warga negara bangsa ini mesti meniru mental menghadapi krisis layaknya Rasulullah.<strong> [Fe]</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: right;"><em>Disarikan dari Ceramah Jumat, 10 Februari 2012 di Masjid Salman ITB oleh Dr. H. Aam Amiruddin, M.Si, pendiri dan pembina Yayasan Percikan Iman</em></p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2012/03/pertolongan-allah-datang-setelah-ujian-i/">Pertolongan Allah Datang Setelah Ujian (I)</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2012/03/pertolongan-allah-datang-setelah-ujian-i/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Prof. Dr. KH Maman Abdurrahman: Memahami Konflik SARA di Sampang</title>
		<link>http://salmanitb.com/2012/01/prof-dr-kh-maman-abdurrahman-memahami-konflik-sara-di-sampang/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2012/01/prof-dr-kh-maman-abdurrahman-memahami-konflik-sara-di-sampang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2012 06:18:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fery Adi Prasetyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jumatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=11245</guid>
		<description><![CDATA[<p>Konflik yang terkait dengan perbedaan keyakinan kembali terjadi. Kali ini konflik berlatar SARA tersebut terjadi di Sampang, Madura. Sekelompok orang menyerang pesantren dan rumah orang-orang yang berlatar belakang Syiah. Lantas, apa yang mendasari...</p><p><a href="http://salmanitb.com/2012/01/prof-dr-kh-maman-abdurrahman-memahami-konflik-sara-di-sampang/">Prof. Dr. KH Maman Abdurrahman: Memahami Konflik SARA di Sampang</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_11246" class="wp-caption alignleft" style="width: 275px"><a href="http://salmanitb.com/2012/01/prof-dr-kh-maman-abdurrahman-memahami-konflik-sara-di-sampang/maman-abdurahman/" rel="attachment wp-att-11246"><img class="size-full wp-image-11246" title="maman abdurahman" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/01/maman-abdurahman.jpg" alt="" width="275" height="183" /></a>
<p class="wp-caption-text">Prof. Dr. KH Maman Abdurrahman, Ketua Umum Persis periode 2010-2015. (Foto: abdaz.wordpress.com)</p>
</div>
<p>Konflik yang terkait dengan perbedaan keyakinan kembali terjadi. Kali ini konflik berlatar SARA tersebut terjadi di Sampang, Madura. Sekelompok orang menyerang pesantren dan rumah orang-orang yang berlatar belakang Syiah. Lantas, apa yang mendasari penyerangan kaum Syiah tersebut?</p>
<p>Menurut Prof. Dr. KH Maman Abdurrahman, Ketua Umum Persatuan Islam (Persis), penyerangan tersebut karena adanya perbedaan pandangan antara kedua belah pihak dari segi keyakinan.</p>
<p>Salah satunya terkait dengan alquran. Umat Syiah berkeyakinan bahwa alquran terdiri dari 17 ribu ayat. Padahal alquran yang selama ini kita baca terdiri dari sekitar 6000-an ayat. Kita tentu yakin alquran yang 6000-an ayat tersebut yang benar. Bahkan, Allah berfirman di dalam alquran,</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.&#8221;</em><em> (Al-Hijr: 9)</em></p>
<p><strong>Sejarah penulisan alquran</strong></p>
<p>Pada awalnya, wahyu yang disampaikan pada Rasulullah SAW alquran tidak hanya ditulis melainkan juga dihapal oleh para sahabat. Maka dimasa itu terdapat <em>qura’/huffazh</em> (penghapal alquran).</p>
<p>Namun, pada masa kekhalifahan Abu Bakar, terjadi perang Yamamah. Perang tersebut mengakibatkan banyak penghapal alquran wafat.</p>
<p>Atas inisiatif Umar bin Khaththab, Abu Bakar memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan alquran menjadi satu mushaf. Tujuannya, agar alquran tidak hilang meski para <em>huffazh</em> telah tiada.</p>
<p>Pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan, mushaf tersebut disalin dan dikirim ke Makkah, Syam, Yaman, Bahrain, Bashrah, Kufah dan Madinah. Mushaf tersebut kini kita kenal dengan mushaf Utsmani.</p>
<p>Mushaf tersebut lantas disempurnakan di masa kekhalifahan Muawiyah, Abbasiyah, dan Abdul Malik bin Marwan. Alquran pun jadi lebih mudah dibaca dan dihapal tak hanya bagi orang-orang Arab, tetapi juga mereka yang tidak mengerti bahasa Arab.</p>
<p>Hal tersebut merupakan cara Allah untuk menjaga alquran. Namun, kaum Syiah tak berhenti bertanya ke mana 11 ribu ayat lainnya? Itu hanya salah satu sebab pertikaian antara muslim Sunni dan Syiah.</p>
<p><strong>Pengkafiran para sahabat oleh syiah</strong></p>
<p>Umat Syiah pun menganggap para sahabat selain Miqdad bin Aswad, Salman al Farisi, Abu Dzar al Gifari  kafir. Abu Bakar, Utsman bin Affan, dan Umar bin Khaththab pun dianggap murtad.</p>
<p>Padahal, Abu Bakar merupakan mertua Rasulullah SAW. Utsman bin Affan pun menantu Rasulullah SAW. “Apa Rasul salah pilih mertua dan menantu?” tanya Ustadz Maman.</p>
<p>Lagipula jika memang hanya tiga sahabat yang tidak kafir, bukankah hal ini merupakan penghinaan terhadap dakwah Rasul? Apa Rasul dianggap gagal dalam membina umat sehingga hanya tiga yang tersisa?</p>
<p>Sementara, kaum Syiah sendiri tidak konsisten. Ada imam mereka yang mengatakan yang kafir 3 orang, ada pula yang menyatakan 7, 11, hingga 20 orang.</p>
<p>Mereka mungkin melupakan fakta bahwa Islam bisa mendunia seperti sekarang tak lepas dari jasa para sahabat. Para sahabat ini pun menyebarkan Islam dengan alquran  yang juga dianggap sesat oleh kaum Syiah.</p>
<p><em>Wallahualam bishshawab.   </em></p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2012/01/prof-dr-kh-maman-abdurrahman-memahami-konflik-sara-di-sampang/">Prof. Dr. KH Maman Abdurrahman: Memahami Konflik SARA di Sampang</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2012/01/prof-dr-kh-maman-abdurrahman-memahami-konflik-sara-di-sampang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Melakukan yang Terbaik untuk Kehidupan Dunia dan Akhirat</title>
		<link>http://salmanitb.com/2012/01/melakukan-yang-terbaik-untuk-kehidupan-dunia-dan-akhirat/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2012/01/melakukan-yang-terbaik-untuk-kehidupan-dunia-dan-akhirat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jan 2012 01:09:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Maya Dewi Mustika</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jumatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=10798</guid>
		<description><![CDATA[<p>Manusia diberi sifat dasar hanif, atau cenderung pada kebaikan. Kalau kita disuruh memilih, maka yang dipilih adalah yang diyakini yang terbaik, terlepas bahwa yang dipilihnya adalah salah. Jika sudah diyakini baik, makan akan...</p><p><a href="http://salmanitb.com/2012/01/melakukan-yang-terbaik-untuk-kehidupan-dunia-dan-akhirat/">Melakukan yang Terbaik untuk Kehidupan Dunia dan Akhirat</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_10916" class="wp-caption alignleft" style="width: 300px"><a href="http://salmanitb.com/2012/01/melakukan-yang-terbaik-untuk-kehidupan-dunia-dan-akhirat/hard-work/" rel="attachment wp-att-10916"><img class="size-medium wp-image-10916" title="hard-work" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/01/hard-work-300x204.jpg" alt="" width="300" height="204" /></a>
<p class="wp-caption-text">sumber gambar http://www.erikgeurts.com/blog/direct-ad-sales-is-hard-work/</p>
</div>
<p>Manusia diberi sifat dasar hanif, atau cenderung pada kebaikan. Kalau kita disuruh memilih, maka yang dipilih adalah yang diyakini yang terbaik, terlepas bahwa yang dipilihnya adalah salah. Jika sudah diyakini baik, makan akan muncul tekad untuk mewujudkannya.</p>
<p>Ini tidak saja berlaku bagi  seorang individu personal bahkan juga bagi masyarakat dan bangsa. Pada saat suatu bangsa sampai pada titik kesimpulan keyakinan mengenai sebuah kebaikan bersama, maka bangsa itu mampu melahirkan energi yang mungkin tidak terbayangkan sebelumnya.</p>
<p>Sebagian mahasiswa mungkin mengalami, pada saat SMA mereka yakin kalau masuk perguruan tinggi itu yang terbaik bagi dirinya dan bagi masa depannya. Maka mereka bersedia bekerja keras siang malam. Bahkan mungkin mimpinya pun rumus-rumus, karena demikian fokus ia mampu memberikan semangat dan energinya.</p>
<p>Bangsa ini juga di suatu saat pada episode sejarahnya, sampai pada keyakinan bahwa merdeka jauh lebih baik daripada hidup walaupun terhormat tapi terjajah. Kemudian bangsa ini dengan segala keterbatasan yang dimilikinya mampu mengalahkan salah satu negara pemenang pada Perang Dunia II.</p>
<p>Bangsa Korea yakin bahwa dengan mengalahkan Jepang maka harga diri mereka akan terangkat. Maka mereka memiliki semboyan “<em>let’s beat the japanese</em>” dan mereka sekarang memetik hasilnya.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Keyakinan terhadap sesuatu yang baik kemudian akan menimbulkan tekad yang kuat untuk menggapai dan mencapainya. Hal itu terbukti menghasilkan energi yang tidak ada batasnya.</p>
<p>Alquran mengingatkan apa yang baik menurut kita itu belum tentu baik. Begitupun apa yang buruk menurut kita belum tentu buruk dihadapan Allah. Umumnya manusia mampu mengkristalkannya karena mampu kita bayangkan dampaknya pada kehidupan kita. Misalnya, begitu terbayangnya masa depan jika berhasil masuk perguruan tinggi diinginkan.</p>
<p>Manusia pada dasarnya memiliki potensi yang luar biasa, karena amanah yang dipikulkan kepadanya pun luar biasa, tidak ada makhluk lain yang diberi amanah demikian.</p>
<p>Allah melengkapi kita dengan sifat dasar cenderung pada kebaikan dan memilih yang terbaik bagi kehidupannya. Allah juga memberikan contoh riil pribadi-pribadi terbaik dalam kehidupan.</p>
<p>Namun demikian, ketika diajak mengingat kehidupan akhirat, rasanya agak sulit. Lebih mudah bagi kita membayangkan bahwa kita butuh blackberry, butuh rumah mewah, ketimbang membayangkan kita butuh surga. Kita lebih mudah terdorong untuk menggapai hal yang jangka pendek tersebut.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Hal tersebut di atas normal, karena kita terbatas. Setelah pintu kematian dibuka, tidak ada yang bisa hidup kembali dan bercerita disana memang ada kehidupan.</p>
<p>Bersyukur Allah memberikan manusia dibekali kemampuan berimajinasi. Bahkan dalam matematika terdapat simbol sampai dimensi ke-n. Jadi mestinya kita juga mampu paling tidak dalam level meyakini. Hanya dengan demikian kehidupan kita, tidak hanya sebagai individu tapi juga sebagai bangsa akan selamat.</p>
<p>Agama kita jelas sekali tidak mengharamkan dunia, “Dan carilah apa yang dianugrahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat janganlah kamu melupakan bagian dari kenikmatan dunia.”</p>
<p>Kita bersyukur karena dengan demikian jelas kita harus memiliki orientasi yang menembus ruang dan waktu, kebahagiaan akhirat. Kriteria kita dalam melakukan suatu hal adalah, apakah ini bisa menjamin kehidupan kita di akhirat.</p>
<p>Semoga dengan demikian kita bisa mewariskan Indonesia esok lebih baik dari kemarin. Karena hari ini harus lebih baik dari kemarin dan esok harus lebih baik dari hari ini adalah bagian dari iman kita.</p>
<p>Semoga kita mampu menjalani kehidupan kita di dunia dengan baik, karena kita yakin ada kehidupan lain di akhirat setelah kehidupan di dunia.</p>
<p><em>Disarikan dari Khutbah Jumat, 2 Desember 2011 oleh Ir. Hermawan K. Dipojono, Ph.D, MSEE,  di Masjid Salman ITB</em></p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2012/01/melakukan-yang-terbaik-untuk-kehidupan-dunia-dan-akhirat/">Melakukan yang Terbaik untuk Kehidupan Dunia dan Akhirat</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2012/01/melakukan-yang-terbaik-untuk-kehidupan-dunia-dan-akhirat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Duniawi Bukanlah Tuhan Kita</title>
		<link>http://salmanitb.com/2011/10/duniawi-bukanlah-tuhan-kita/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2011/10/duniawi-bukanlah-tuhan-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Oct 2011 02:17:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hendra Veejay</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jumatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=10065</guid>
		<description><![CDATA[<p>Shalat Jumat kali ini dimulai dengan adzan, begitupun shalat lima waktu. Seperti yang kita tahu Rasulullah memberikan petunjuk tentang cara umat Islam memberikan respon terhadap seruan adzan. Dan bila kita, cermati ada satu respon yang diajarkan saat pengucapan Hayya 'alal falah hendaknya direspon dengan La haula wa la quwwata illa billahil 'aliyyil 'azhim yang artinya "Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah".
</p><p><a href="http://salmanitb.com/2011/10/duniawi-bukanlah-tuhan-kita/">Duniawi Bukanlah Tuhan Kita</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_10066" class="wp-caption alignleft" style="width: 300px"><a href="http://salmanitb.com/2011/10/duniawi-bukanlah-tuhan-kita/gold/" rel="attachment wp-att-10066"><img class="size-medium wp-image-10066" title="gold" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2011/10/gold-300x239.jpg" alt="Foto: blogspot.com" width="300" height="239" /></a>
<p class="wp-caption-text">Foto: blogspot.com</p>
</div>
<p>Shalat Jumat kali ini dimulai dengan adzan, begitupun shalat lima waktu. Seperti yang kita tahu Rasulullah memberikan petunjuk tentang cara umat Islam memberikan respon terhadap seruan adzan. Dan bila kita, cermati ada satu respon yang diajarkan saat pengucapan <em>Hayya &#8216;alal falah</em> hendaknya direspon dengan <em>La haula wa la quwwata illa billahil &#8216;aliyyil &#8216;azhim </em>yang artinya &#8220;Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah&#8221;.</p>
<p>Dengan respon seperti ini, seolah Rasulullah ingin memberikan ajaran bahwa kemenangan yang bersifat riil, sebuah kemenangan yang ada buktinya dan bisa dilihat semua orang hanya bisa dicapai dengan pertolongan Allah. Ini adalah sarana yang baik untuk menanamkan sesuatu keyakinan pada kita, keyakinan bahwa hanya Allah satu-satunya penolong dan ini diulang berkali-kali dalam sehari.</p>
<p>Bagaimana pun, pada kenyataannya, bila Allah tidak menolong kita mencapai sesuatu, maka siapa lagi yang bisa menolong kita? Ini dijelaskan dalam salah satu ayat dalam Alquran:</p>
<p><em>Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal. (QS Ali Imran: 160)</em></p>
<p>Dengan demikian, menjawab Adzan bukanlah pekerjaan yang biasa-biasa saja. Jika kita memilih Islam sebagai ajaran hidup, maka kita tidak boleh meresponnya dengan biasa-biasa saja. Sebab kegiatan menjawab adzan harus bisa meningkatkan keimanan kita.</p>
<p>Sekarang kita lihat kegiatan ibadah haji. Dalam haji kita mengenal istilah rukun haji, wajib haji, dan sunnah haji. Rukun haji adalah sesuatu yang harus dikerjakan atau haji kita dianggap batal. Salah satu rukun haji yang populer adalah wukuf di Arafah.</p>
<p>Bila hal ini tidak dilakukan, maka kita harus mengulang haji tahun depan. Dengan perspektif yang sama, kita bisa kita melihat dalam agama Islam ada yang namanya rukun Islam dan rukun iman. Dengan asumsi bahwa Rukun adalah sesuatu yang harus tidak ada keringanan atau rukshah, bisa juga disimpulkan bahwa rukun Islam dan rukun iman pun adalah sesuatu yang dilakukan. Bila tidak dilakukan, maka kita harus mempertanyakan status kita sebagai umat Islam.</p>
<p>Salah satu rukun iman adalah percaya pada Allah. Hal ini lazim disebut tauhid. Dengan demikian, menjaga ketauhidan adalah sesuatu yang tidak ada keringanannya. Saat ini, kita hidup dalam masyarakat yang tauhidnya rentan hilang. Sebab perkembangan masyarakat saat ini berpusat pada duniawi. Bahkan bisa jadi Tuhan yang kita sembah adalah sebentuk kemajuan materi.</p>
<p>Hal ini tercermin pada konten media. Dengan adanya informasi tentang tujuan global yang bersifat duniawi, seringkali secara otomatis kita mengambil contoh negara yang mencapai kemajuan duniawi yang luar biasa seperti Cina dan Korea.</p>
<p>Hal ini tidak salah. Pada beberapa sisi kita memang harus mencontoh mereka. Namun perbedaannya, bagi mereka kemajuan teknologi adalah pusat pencarian mereka, atau dengan kata lain adalah Tuhan mereka. Sementara bagi umat Islam, kemajuan teknologi hanyalah alat untuk mencapai tujuan lain. Mencapai Tuhan lain, yaitu Allah. Sebab dalam beribadah, memang uang itu tetap penting. Secara teknis, hampir tidak mungkin kita berjalan kaki untuk memunaikan ibadah haji dari Indonesia.</p>
<p>Sudah banyak contoh bahwa harta duniawi tidak mampu menyilaukan orang-orang terdahulu. Misalnya Rasulullah sendiri yang jelas dengan perintah Allah berhak mendapatkan 20 persen rampasan perang, tetapi beliau seringkali tidak punya makanan karena seluruh harta bagiannya diberikan pada yang lebih membutuhkan.</p>
<p>Begitupun sahabat Abu Bakar. Dia memberikan hampir semua hartanya untuk kepentingan umat Islam. Intinya mereka memiliki dunia, tapi tidak dikuasai oleh dunia, seperti salah satu ayat dalam Alquran:</p>
<p><em>Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.(QS Al-Hadiid: 20)</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>Disarikan dari Khutbah Jumat, 21 Oktober 2011 di Masjid Salman ITB oleh Dr. Ir. Suyatman.</em></p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2011/10/duniawi-bukanlah-tuhan-kita/">Duniawi Bukanlah Tuhan Kita</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2011/10/duniawi-bukanlah-tuhan-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Moralitas Sebagai Kunci Kehidupan</title>
		<link>http://salmanitb.com/2011/10/moralitas-sebagai-kunci-kehidupan/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2011/10/moralitas-sebagai-kunci-kehidupan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Oct 2011 06:32:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hendra Veejay</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jumatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=9926</guid>
		<description><![CDATA[<p>Pada kesempatan ini, mari kita bicarakan satu hal, yaitu bagaimana cara mengelola kehidupan kita secara Islami, sebagai sebuah bentuk kehidupan yang menjadi dambaan kita.
</p><p><a href="http://salmanitb.com/2011/10/moralitas-sebagai-kunci-kehidupan/">Moralitas Sebagai Kunci Kehidupan</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_9927" class="wp-caption alignleft" style="width: 300px"><a href="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2011/10/Way.jpg"><img class="size-medium wp-image-9927" title="Way" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2011/10/Way-300x261.jpg" alt="Foto: verumsingula.com" width="300" height="261" /></a>
<p class="wp-caption-text">Foto: verumsingula.com</p>
</div>
<p>Pada kesempatan ini, mari kita bicarakan satu hal, yaitu bagaimana cara mengelola kehidupan kita secara Islami, sebagai sebuah bentuk kehidupan yang menjadi dambaan kita.</p>
<p>Hal ini penting untuk diketahui, karena bagi kita manusia Indonesia, Allah sudah memberikan anugerah besar pada negara kita. Begitu besarnya anugerah itu, hingga kita tinggal di sebuah daerah yang disebut sebagai zamrud khatulistiwa.</p>
<p>Negara kita memiliki 17.508 pulau, sejumlah ekosistem dengan keanekaragaman yang luar biasa. Tercatat ada 11 ribu spesies burung di Indonesia, lalu 16% tumbuhan, dan 10% mamalia dunia juga ada di Indonesia. Lalu negara kita juga punya 8,5 juta Km persegi lautan. Indonesia pun menyerap 44% CO2. Berarti negara kita punya arti penting bagi pemanasan global dunia.</p>
<p>Di negara kita pun ada 1.128 suku dengan 748 bahasa. Tidak ada negara yang mememiliki keanekaragaman seperti ini. Tidak heran bila Prof. Santos memiliki sintesa yang mengemukakan bahwa Indonesia adalah benua Atlantis yang hilang. Karena memang Indonesia pantas menjadi Atlantis yang selama ini hanya didengar mitos keindahannya saja. Inilah semua amanah yang harus kita jaga. Lebih dari itu, kita juga harus bersyukur pada-Nya.</p>
<p><em>“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; &#8220;Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.&#8221; (QS Ibrahim: 7)</em></p>
<p>Itu faktanya keunggulan negara ini dibanding negara lain. Namun mari kita lihat apa yang sudah kita lakukan selama ini. Apakah kita termasuk bangsa yang ingkar pada amanah yang sudah Allah titipkan? Apakah kita termasuk orang yang disebut dalam sebuah ayat:</p>
<p><em>“Kamu mengganti rezki (yang Allah berikan) dengan mendustakan Allah.” </em><strong>(QS Al-Qaaqiah: 82)</strong></p>
<p>Semoga saja tidak, karena kita tidak memiliki apa-apa. Semua yang ada di Indonesia, mutlak karena kemurahan Allah dalam menganugerahkannya. Ini seperti yang terdapat dalam sebuah ayat:</p>
<p><em>Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) dari pada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir. </em><strong>(QS Al-Jaatsiyah:13)</strong></p>
<p>Memang dalam kehidupan, kita wajib bekerja cerdas dan keras, terutama bagi negara ini yang nanti pasti akan berimbas pada kehidupan pribadi kita. Namun, bila menilik ayat di atas, sebenarnya hanya Allah pemilik dan penentu segalanya. Hal ini dijelaskan pada ayat:</p>
<p><em>“Atau siapakah dia yang memberi kamu rezeki jika Allah menahan rezki-Nya? Sebenarnya mereka terus menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri?” </em><strong>(Al Mulk: 21)</strong></p>
<p>Maka permasalahan sekarang bukanlah tentang Sumber Daya Alam atau Sumber Daya Manusia, sebab itu semua melimpah dan tidak ada seperti negara kita. Namun moralitas sebagai kata kuncinya.</p>
<p>Bicara moralitas tidak hanya di masjid, tapi menyangkut banyak hal seperti: hukum, ekonomi, sosial , dan budaya. Singkatnya, sebuah bangsa akan hancur jika perilaku moralitasnya hancur. Sebaliknya sebuah bangsa akan jaya bila moralitasnya baik. Semoga ini bisa dijadikan bahan perenungan bagi kita.</p>
<p style="text-align: right;"><em>Disarikan dari Khutbah Jumat, 14 Oktober 2011 oleh Dr. Eng. Tengku Abdullah Sanny, M.Eng di Masjid Salman ITB</em></p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2011/10/moralitas-sebagai-kunci-kehidupan/">Moralitas Sebagai Kunci Kehidupan</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2011/10/moralitas-sebagai-kunci-kehidupan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memilih dalam Hidup</title>
		<link>http://salmanitb.com/2011/10/memilih-dalam-hidup/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2011/10/memilih-dalam-hidup/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Oct 2011 14:26:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hendra Veejay</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jumatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=9920</guid>
		<description><![CDATA[<p>Kita semua menyadari bahwa hidup yang kita jalani melalui banyak sekali pilihan. Setiap pilihan akan membuat kita melalui episode hidup yang baru. Dan setiap kita melalui episode itu, maka kita akan melewati beberapa pilihan besar. Pilihan-pilihan itu akan menuju kita pada rangkaian pilihan hidup yang lain. Begitu seterusnya.</p><p><a href="http://salmanitb.com/2011/10/memilih-dalam-hidup/">Memilih dalam Hidup</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_9924" class="wp-caption alignleft" style="width: 300px"><a href="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2011/10/Choices.jpg"><img class="size-medium wp-image-9924" title="Choices" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2011/10/Choices-300x261.jpg" alt="Foto: mcleishorlando.com" width="300" height="261" /></a>
<p class="wp-caption-text">Foto: mcleishorlando.com</p>
</div>
<p><em>Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. </em><strong>(QS Al-Hadid: 16)</strong></p>
<p>Kita semua menyadari bahwa hidup yang kita jalani melalui banyak sekali pilihan. Setiap pilihan akan membuat kita melalui episode hidup yang baru. Dan setiap kita melalui episode itu, maka kita akan melewati beberapa pilihan besar. Pilihan-pilihan itu akan menuju kita pada rangkaian pilihan hidup yang lain. Begitu seterusnya.</p>
<p>Bagi orang-orang yang memiliki kebebasan memilih, tentu besar harapan mereka akan memiliki episode kehidupan yang lebih baik. Atau paling tidak, pilihannya akan membawa dia menuju sebuah opsi yang lebih besar. Namun bagi semua orang, ada satu hal yang tidak disadari, yaitu fakta bahwa hidup yang dipenuhi pilihan ini sebenarnya adalah sebuah ujian. Sesuai dengan firman Allah berikut:</p>
<p><em>Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (QS Al-Ankabuut; 2)</em></p>
<p>Kisah Nabi Yusuf menceritakan banyak soal pilihan hidup. Ketika beliau ada di dalam sumur, ketika itu tidak banyak pilihan baginnya, sebab hanya ada dua kemungkinan: berikhtiar atau beputus asa.</p>
<p>Kita tahu dari sejarah bahwa pilihan pertamalah yang terjadi. Maka Nabi Yusuf dianggap lulus dari ujian. Namun tidak cukup sampai di situ. Di dalam istana, kembali Nabi Yusuf digoda. Kembali dia dihadapkan pada ujian yang berat. Namun, untuk kesekian kalinya, beliau lulus lewat ujian tersebut.</p>
<p>Dalam hidup, kita sudah menyaksikan banyak orang yang lulus dari ujian kesulitan, tapi gagal dalam ujian kesenangan. Hal ini karena ujian yang berisi kesulitan memberi opsi terbatas, hingga jauh lebih mudah untuk menentukan pilihan. Berbeda dengan ujian yang berisi kemudahan dan biasanya berisi beberapa opsi yang terlihat menyenangkan. Hal ini membuat derajat kemungkinan lulusnya lebih rendah.</p>
<p>Namun, dibalik pembicaraan tentang ujian dan pilihan hidup ini, sebenarnya ada satu hal yang lebih penting dan banyak dilupakan orang. Bahwa setelah kita memilih, bukan berarti kita diam, melainkan kita harus berusaha mengejar keberhasilan. Dan untuk berhasil, orang perlu bersungguh-sungguh menjalani pilihan itu. Itu adalah resiko hidup.</p>
<p>Bagi seorang yang beriman, orang itu pasti menyadari bahwa  dalam pilihan hidup ini ada nilai-nilai agama. Jangankan dalam pilihan yang krusial, bahkan dalam pilihan kecil dan aktivitas rutin seperti : makan, minum, bekerja, atau bepergian pun, sarat akan nilai-nilai keagamaan.</p>
<p>Sekarang marilah kita bicara tentang rasa tanggung jawab dari pilihan yang kita ambil. Dalam setiap pilihan, terkandung tanggung jawab hingga pilihan itu kelak akan menjadi tangung jawab bagi dirinya sendiri dan keluarganya. Namun lebih dari itu, bila pilihan ini menyangkut orang banyak, maka jelas harus dipertanggungjawabakan pada banyak orang.</p>
<p>Dalam hal tanggung jawab, faktor penentunya adalah tingkat kebebasan memilih. Artinya, mereka yang memiliki derajat pilihan rendah, jelas tidak harus bertangungjawab pada pilihannya itu. Misalnya terjadi pada orang-orang yang ditekan dan dipaksa untuk memilih sesuatu, atau tidak punya pilihan lain karena keterbatasan akses sumberdaya dan kewenangan mereka.</p>
<p>Sebaliknya orang-orang yang memiliki derajat memilih tinggi akan bertanggung jawab. Maka dari itu, logis kenapa para pemimpin memikul tanggung jawab yang besar dibandingkan orang yang dipimpinnya.</p>
<p>Lalu dalam kaitan dengan agama, tidak ada pilihan kecuali taat pada ajaran agama yang kita anut. Sedangkan dalam Islam, akhlak, kejujuran, amanah, serta transparansi, harus jadi dasar aktivitas kita sehari-hari sebagai muslim.</p>
<p><em>Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. </em><strong>(QS Al-Anfal:27)</strong></p>
<p style="text-align: right;"><em>Disarikan dari Khutbah Jumat, 7 Oktober 2011 oleh Akmasj Rahman di Masjid Salman ITB</em></p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2011/10/memilih-dalam-hidup/">Memilih dalam Hidup</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2011/10/memilih-dalam-hidup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nilai Ketuhanan dalam Sistem Berkehidupan</title>
		<link>http://salmanitb.com/2011/09/nilai-ketuhanan-dalam-sistem-berkehidupan/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2011/09/nilai-ketuhanan-dalam-sistem-berkehidupan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Sep 2011 00:29:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hendra Veejay</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jumatan]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=9584</guid>
		<description><![CDATA[<p>Rasulullah mewajibkan seorang pejabat memeriksa isi perut, isi hati, serta isi rumah bawahannya. Bila si bawahan tidak punya rumah, tidak punya makanan, bahkan dalam beberapa hal tidak punya jodoh, maka si pejabat wajib untuk memenuhinya.</p><p><a href="http://salmanitb.com/2011/09/nilai-ketuhanan-dalam-sistem-berkehidupan/">Nilai Ketuhanan dalam Sistem Berkehidupan</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_9585" class="wp-caption alignleft" style="width: 300px"><a href="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2011/09/social-security.jpg"><img class="size-medium wp-image-9585" title="social security" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2011/09/social-security-300x245.jpg" alt="" width="300" height="245" /></a>
<p class="wp-caption-text">Foto: Blogspot.com</p>
</div>
<p>Mari kita menimak beberapa hal yang mungkin berguna untuk jadi bahan perenungan kita. Beberapa waktu yang lalu, khatib berjalan-jalan bersama beberapa pejabat tingkat menengah dari sebuah instansi.</p>
<p>Ketika itu, sebagaimana lazimnya selesai acara, kami berjalan mencari oleh-oleh untuk istri, anak, atau kerabat. Namun, ada satu hal yang membuat khatib terpekur cukup lama. Ternyata pada pejabat itu memiliki kebiasaan unik, yaitu semakin tinggi jabatannya, semakin sedikit pula belanjaanya. Harga belanjaannya pun sangat mahal. Itu pun bukan untuk keluarganya, tapi untuk atasannya.</p>
<p>Ketika khatib mengkonfirmasi pada salah satu anggota rombongan, ternyata hal tersebut telah menjadi kebiasaan mereka semua.</p>
<p>Ini lah yang membuat khatib terkejut, dan keterkejutan itu melahirkan satu perenungan yang bermuara pada satu pertanyaan: kenapa kita sulit memberantas pengemis dari jalan raya, sekaligus sulit juga memberantas korupsi? Hal ini dikarenakan para pengemis yang meminta sedekah dan para pejabat yang minta oleh-oleh, nilainya sama, yaitu tuna harga diri.</p>
<p>Memang ada bedanya antara pengemis dan para pejabat tersebut. Pengemis masih minta kepada orang yang menurut pandangan mereka berstatus sosial serta ekonominya lebih tinggi. Namun, para pejabat meminta pada bawahan mereka.</p>
<p>Hal ini sangat bertentangan dengan ajaran Rasulullah yang mewajibkan seorang pejabat memeriksa isi perut, isi hati, serta isi rumah bawahannya. Bila si bawahan tidak punya rumah, tidak punya makanan, bahkan dalam beberapa hal tidak punya jodoh, maka si pejabat wajib untuk memenuhinya.</p>
<p>Untuk melakukan perubahan seperti ini, kita perlu mengkombinasikan tiga hal, yaitu: kepemimpinan, pembangunan sistem kehidupan, dan perbaikan nilai-nilai yang bersemayam di hati.</p>
<p>Seorang pemimpin adalah seorang yang tahu, yakin, berani, sekaligus tabah untuk menunjukan jalan yang lebih sulit dari yang biasa dilalui. Mungkin dia harus membabat alang-alang dari pada jalan yang sudah terbuka. Konsekuensinya, terkadang kehidupan mereka terancam, dituduh gila, dan sebagainya.</p>
<p>Contohnya saja Rasulullah. Jika seandainya saja Rasulullah ingin menikmati status sosial yang nyaman, maka mudah saja. Rasul cukup tinggal di gua Hira dan tidak perlu mengutak-atik sistem kehidupan di kota Mekkah. Namun, Rasul memilih jalan yang sulit,  karena itu adalah kunci perubahan.</p>
<p>Sistem adalah sesuatu yang perlu dibangun. Para pemimpin bisa datang dan pergi, sementara sistem akan terus berjalan. Hal ini menyebabkan kita tidak bisa hanya mengandalkan pemimpin saja. Bagaimana pun, untuk meahirkan seorang pemimpin, kita memerlukan latihan dan waktu. Seorang Muhammad pun perlu kedewasaan hingga umur 43 tahun untuk mempersiapkan dirinya menjadi pemimpin.</p>
<p>Namun sebenarnya kehadiran seorang pemimpin dan tumbuhnya sistem saja tidak cukup. Bagaimana pun, sistem memerlukan syarat-syarat tertentu. Jika tidak dipenuhi, maka sistem tersebut akan bubar dengan sendirinya. Namun, yang perlu dan berada di atas segalanya adalah nilai yang bersemayam di dada kita dan mengiringi setiap gerak kita.</p>
<p>Hal ini seperti kisah lama tentang seorang gembala yang diuji kejujurannya oleh Umar bin Khatab. Ketika itu, Umar berkata, “Wahai, anak gembala. Jual kepadaku seekor anak kambing dari ternakmu itu.”</p>
<p>“Aku hanya seorang budak,&#8221; jawab si gembala. Umar bin Khattab berkata lagi, ”Katakan saja nanti pada tuanmu, anak kambing itu dimakan serigala.”</p>
<p>Anak gembala tersebut diam sejenak. Ditatapnya wajah Amirul Mukminin, lalu keluar dari bibirnya perkataan yang menggetarkan hati sang Khalifah, “Jika Tuan menyuruh saya berbohong, lalu di mana Allah? Bukankah Allah Maha Melihat? Apakah Tuan tidak yakin bahwa siksa Allah itu pasti bagi para pendusta?”</p>
<p>Nilai yang dipercaya oleh anak itu tidak terikat pada kehadiran seorang pemimpin atau sebuah sistem.</p>
<p>Kesimpulannya, nilai tertinggi pada agama bukan pada pemahaman hukum, tapi pada pemahaman bahwa Allah melihat kita setiap saat, tanpa tergantung pada sistem yang berlaku.</p>
<p style="text-align: right;"><em>Disarikan dari Ceramah Jumat, 16 September 2011 oleh Dr. Syarif Hidayat, Ketua Pengurus YPM Salman ITB</em></p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2011/09/nilai-ketuhanan-dalam-sistem-berkehidupan/">Nilai Ketuhanan dalam Sistem Berkehidupan</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2011/09/nilai-ketuhanan-dalam-sistem-berkehidupan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjadi Bangsa yang Kuat di Masa Depan</title>
		<link>http://salmanitb.com/2011/09/menjadi-bangsa-yang-kuat-di-masa-depan/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2011/09/menjadi-bangsa-yang-kuat-di-masa-depan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Sep 2011 05:30:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Hendra Veejay</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jumatan]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=9443</guid>
		<description><![CDATA[<p>Marilah kita bersyukur pada Allah yang telah memberikan kita hidup dan kehidupan, yang selalu kita isi dengan pengabdiaan kepada Nya, semoga kualitas taqwa kita dari waktu ke waktu dapat kita tingkatkn dan dengan semua itu semoga kita memiliki wahana yang bisa kita tumpangi tatkala mengahdap Allah SWT,  pulang ke surga yang abadi.</p><p><a href="http://salmanitb.com/2011/09/menjadi-bangsa-yang-kuat-di-masa-depan/">Menjadi Bangsa yang Kuat di Masa Depan</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_9449" class="wp-caption alignleft" style="width: 300px"><a href="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2011/09/multikulturalisme1.jpg"><img class="size-medium wp-image-9449" title="multikulturalisme1" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2011/09/multikulturalisme1-300x213.jpg" alt="Foto: titiahdewimasitoh.wordpress.com" width="300" height="213" /></a>
<p class="wp-caption-text">Foto: titiahdewimasitoh.wordpress.com</p>
</div>
<p>Bila kita cermati, waktu berjalan tanpa kompromi. Hal itu sangat terasa bila kita menengok ke masa lalu. Waktu 50 tahun terasa sangat cepat berlalu. Namun bagaimana kalau kita mencoba untuk menengok ke masa depan? Misalnya, apa yang akan terjadi 50 tahun kemudian? Pada tahun 2061, diperkirakan jumlah penduduk akan meningkat dua kali lipat menjadi 10 milyar orang. Dengan jumlah manusia sebanyak itu, tentu akan timbul banyak persoalan baru, salah satunya adalah persoalan pangan dan energi.</p>
<p>Pihak yang bisa menghadapi persoalan itu adalah negara-negara yang memiliki kesiapan di berbagai hal. Oleh karena itu, negara-negara besar sejak saat ini mencoba mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Menurut analisa, pada saat itu akan ada beberapa karakter bangsa, yaitu:</p>
<ul>
<li>Bangsa kuat yang suka mencabik-cabik mereka yang lemah</li>
<li>Bangsa lemah yang tidak bisa berbuat apa-apa kecuali tergantung pada bangsa lain</li>
<li>Bangsa kuat dan tangguh tapi bersikap dermawan pada bangsa lain</li>
</ul>
<p>Berbagai bangsa bergerak untuk mempersiapkan masa depan dan berbagai skenario mereka sudah bisa kita baca. Ada konsep pelemahan sebuah bangsa lewat penguasaan sumber daya alam. Hingga diperkirakan pada masa depan, bangsa itu akan tergantung kepada bangsa lain dalam pemenuhan kebutuhan energinya. Hal ini terjadi pada negara Irak.</p>
<p>Bila skenario tadi tidak bisa dijalankan, bisa juga sebuah bangsa akan dihantam dari dalam dengan kisruh untuk memecah belah bangsa tersebut. Hal ini misalnya terjadi di negara Libya.</p>
<p>Masih banyak skenario lainnya. Salah satu yang paling sering dilakukan adalah ditawarkannya sistem politik, gaya hidup, serta tatanan sosial yang pelan-pelan justru akan melemahkan. Pelemahan ini dikarenakan sebuah sistem tidak cocok dengan karakter suatu bangsa. Akhirnya, bangsa itu menjelma menjadi bangsa yang gagap dan tidak bisa mengambil keputusan. Maka berbagai ketidaksiapan bangsa ini untuk memecahkan masalah akan dimanfaatkan oleh bangsa lain yang lebih siap.</p>
<p>Contohnya di negara kita sendiri. Di Indonesia, ada lebih dari 30 juta ponsel. Pada masa sekarang ini, sulit kita bayangkan hidup tanpa ponsel. Bila perbulan saja setiap ponsel diisi pulsa sebesar 10 ribu Rupiah, maka akan ada 300 milyar Rupiah uang yang dikeluarkan. Pernahkah kita bertanya ke mana uang itu pergi? Banyak dari uang tersebut yang pergi ke luar negeri. Bukankah tanpa kita awasi, uang kita tersedot tanpa kita sadari?</p>
<p>Tanpa dihantam dengan serangan fisik pun, bangsa yang tidak mawas diri seperti ini jelas sudah kalah. Dia sudah kalah sebelum perang. Bangsa seperti ini akan mati perlahan-lahan. Saat itulah, kekuatan lain bisa masuk dengan mudah.</p>
<p>Berbahaya sekali jika saat itu tidak ada standar moral yang digunakan. Bagaimana pun, 50 tahun ke depan merupakan waktu yang akan cepat sekali. Kesadaran akan hal ini penting. Bagaimana pun, dunia membutuhkan sebuah bangsa yang tangguh. Pada saat yang sama, bangsa tersebut juga harus mampu menegakakan keadilan. Seperti yang sama-sama kita ketahui, keadilan itu adalah bagian dari keimanan.</p>
<p>Setiap tahun kita punya pengalaman Ramadhan. Setelah selama 11 bulan kita membangun kebiasaan baru. Namun saat Ramadhan, kita bisa menghentikan kebiasaan yang tidak relevan dengan warna Ramadhan. Setelahnya kita harus siap untuk bekerja dengan lebih tuntas, mawas dan ikhlas. Itu harus kita yakini sebagai bagian dari keimanan.</p>
<p>Hal ini sesuai dengan firman Allah berikut:</p>
<p><em>“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan  agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia” </em>(QS Al-Baqarah: 143)</p>
<p>Kita adalah bangsa besar dan harus menjadi besar, karena kita memiliki amanah untuk melindungi yang lemah dan mencegah kemunkaran. Atas dasar iman, Insya Allah ini semua bisa kita laksakanan.</p>
<p style="text-align: right;"><em>Disarikan dari Ceramah Jumat, 9 September 2011, di Masjid Salman ITB oleh Dr. Ir. H. Hermawan Kresno Dipojono, Pembina YPM Salman ITB</em></p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2011/09/menjadi-bangsa-yang-kuat-di-masa-depan/">Menjadi Bangsa yang Kuat di Masa Depan</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2011/09/menjadi-bangsa-yang-kuat-di-masa-depan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Minified using disk: basic
Page Caching using disk: enhanced

Served from: salmanitb.com @ 2012-05-23 05:03:20 -->
