<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Masjid Salman ITB &#187; Kajian</title>
	<atom:link href="http://salmanitb.com/category/kajian/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://salmanitb.com</link>
	<description>Menuju Masyarakat Informasi Islami</description>
	<lastBuildDate>Tue, 22 May 2012 07:47:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Tafsir Al-Ghaasyiyah: Menalari Unta*</title>
		<link>http://salmanitb.com/2012/05/tafsir-al-ghaasyiyah-menalari-unta/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2012/05/tafsir-al-ghaasyiyah-menalari-unta/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 May 2012 02:17:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DPP</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=13203</guid>
		<description><![CDATA[<p>Menalari unta bisa jadi akan menyelamatkan Anda dari neraka. Sebab, unta, langit, gunung, dan Bumi adalah sebagian dari ayat-ayat yang diperintahkan-Nya untuk direnungi. Penalaran tentang unta dapat bermula ketika Anda mengkaji makna Surat...</p><p><a href="http://salmanitb.com/2012/05/tafsir-al-ghaasyiyah-menalari-unta/">Tafsir Al-Ghaasyiyah: Menalari Unta*</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_13205" class="wp-caption aligncenter" style="width: 400px"><a href="http://salmanitb.com/2012/05/tafsir-al-ghaasyiyah-menalari-unta/arabian-camel_223_600x450-2/" rel="attachment wp-att-13205"><img class="size-large wp-image-13205 " title="arabian-camel_223_600x450" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/05/arabian-camel_223_600x4501-400x300.jpg" alt="" width="400" height="300" /></a>
<p class="wp-caption-text">(Foto: http://animals.nationalgeographic.com)</p>
</div>
<p>Menalari unta bisa jadi akan menyelamatkan Anda dari neraka. Sebab, unta, langit, gunung, dan Bumi adalah sebagian dari ayat-ayat yang diperintahkan-Nya untuk direnungi. Penalaran tentang unta dapat bermula ketika Anda mengkaji makna Surat Al-Ghaasyiyah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Warga Neraka Makan Kaktus? </strong></p>
<p>Surat <strong><em>Al-Ghaasyiyah</em></strong> merupakan ayat-ayat Makkiyah (diwahyukan di Makkah sebelum hijrah). Bahkan menurut Mohammed Marmaduke Pickthall, surat ini tergolong <em>an early Meccan Surah</em>. Surat <strong><em>Al-Ghaasyiyah</em></strong>, bersama-sama Surat <em>Al-A`la</em>, sering sekali dibaca Rasulullah Saw. pada shalat Jumat.</p>
<p>Surat ini dibuka dengan ayat (1) <strong><em>Hal ataaka ?adiitsu l-ghaasyiyah</em></strong> “Sudahkah sampai kepadamu berita yang menyelubungi?” Terdapat penafsiran bahwa<em>‘<strong>al-ghaasyiyah</strong>’</em> (sesuatu yang menyelubungi) adalah Hari Kiamat. Sebab hari itu bersifat misterius, terselubung, dan hanya Allah yang mengetahui kapan terjadinya.</p>
<p>Namun, pada umumnya mufassir tidak langsung menafsirkan <strong><em>al-ghaasyiyah</em></strong> sebagai Hari Kiamat. Arti harfiah yang sering dirujuk untuk kata tersebut adalah “pembalasan”. Namun karena yang dimaksud adalah pembalasan atas segala amal perbuatan manusia, maka artinya tetap dinisbatkan kepada Hari Kiamat.</p>
<p>Pada surat <em>Ali Imran </em>ayat 106, Allah berfirman: <em>Yauma tabyadhdhu wujuuhun wa taswaddu wujuuh </em>(“Pada hari itu ada wajah-wajah putih berseri dan ada pula wajah-wajah hitam muram”). Keadaan dua golongan manusia ini kemudian diperinci dalam 15 ayat berikutnya pada Surat <strong><em>Al-Ghaasyiyah</em></strong>.</p>
<p>(2) <strong><em>Wujuuhun yaumaïdzin khaasyi`ah</em> </strong>“Wajah-wajah hari itu tunduk menekur,” (3) <strong><em>`Aamilatun naashibah </em></strong>“bekerja, letih,” (4) <strong><em>Tashlaa naaran ?aamiyah</em> </strong>“memasuki neraka yang menyala,” (5) <strong><em>Tusqaa min `ainin aaniyah</em> </strong>“diberi minum dari mata air mendidih, <strong> </strong>(6) <strong><em>Laisa lahum tha`aamun illaa min dharii`</em> </strong>“tiada bagi mereka makanan kecuali dari kayu berduri,” (7) <strong><em>Laa yusminu wa laa yughnii min juu`</em> </strong>“yang tidak memuaskan dan tidak mengenyangkan dari lapar.”</p>
<p>(8) <strong><em>Wujuuhun yaumaïdzin naa`imah</em> </strong>“Wajah-wajah hari itu berseri-seri,” (9) <strong><em>Li sa`yihaa raadhiyah</em> </strong>“karena usahanya merasa senang,” (10) <strong><em>Fii jannatin `aaliyah</em> </strong>“dalam surga yang tinggi,” (11) <strong><em>Laa tasma`u fiihaa laaghiyah</em> </strong>“tidak terdengar di sana omong kosong.” (12) <strong><em>Fiihaa `ainun jaariyah</em> </strong>“Di sana mata air mengalir.” (13) <strong><em>Fiihaa sururun marfuu`ah</em> </strong>“Di sana singgasana ditinggikan,” (14) <strong><em>Wa akwaabun maudhuu`ah</em> </strong>“dan gelas-gelas disediakan,” (15) <strong><em>Wa namaariqu mashfuufah</em> </strong>“dan bantal-bantal tersusun,” (16) <strong><em>Wa zaraabiyyu mabtsuutsah</em> </strong>“dan permadani terhampar.”</p>
<p>Ayat 2-7 memerinci kenestapaan orang-orang yang mengingkari kebenaran Islam. Sementara ayat 8-16 memerinci kebahagiaan orang-orang yang menerima kebenaran Islam.</p>
<p>Pada ayat (5), terdapat koreksi bahwa <strong><em>Tusqaa</em></strong> itu bukan diminumkan, lebih tepat disiramkan. Adapun kata “<strong><em>min</em></strong>” setelahnya, menunjukkan pengkhususan. Artinya, penghuni neraka tidak disiram selain dari mata air mendidih tersebut. Sementara makanan penghuni neraka dalam ayat (6), yaitu ‘kayu yang berduri’ ditafsirkan sebagai kaktus. Kaktus adalah tanaman yang paling mendekati gambaran “kayu berduri tersebut”.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Menalar Bekal Beriman</strong></p>
<p>Ayat (17) menyatakan: <strong><em>Afalaa yanzhuruuna ilaa l-ibili kaifa khuliqat</em> </strong>“Maka tidakkah mereka menalari kepada unta bagaimana diciptakan?” Kemudian disusul ayat-ayat berikutnya: (18) <strong><em>Wa ilaa s-samaaï kaifa rufi`at</em> </strong>“dan kepada langit bagaimana ditinggikan?” (19) <strong><em>Wa ilaa l-jibaali kaifa nushibat</em> </strong>“dan kepada gunung-gunung bagaimana ditegakkan?” (20) <strong><em>Wa ilaa l-ardhi kaifa suthi?at</em> </strong>“dan kepada Bumi bagaimana dihamparkan?”</p>
<p>Kata ‘<em>yanzhuruun</em>’ merupakan derivasi dari <em>‘nazhar’</em> yang diindonesiakan menjadi ‘<em>nalar</em>’. Oleh karena itu, terjemahan yang tepat untuk ‘<em>yanzhuruun</em>’ menurutnya adalah ‘<em>mereka menalari</em>’. Pada ayat 17-20, Allah memerintahkan manusia untuk menalari (meneliti, bukan sekadar memperhatikan) penciptaan unta, pembentukan langit, pemancangan gunung-gunung, dan penghamparan Bumi. Secara bahasa kontemporer, Allah memerintahkan kita untuk mengembangkan biologi, astronomi, vulkanologi, dan geologi.</p>
<p>Kata ‘<em>nazhar</em>’ dalam ilmu <em>balaghah</em> sebenarnya punya dua makna. Pertama, <em>nazhaara ila</em> yang berarti melihat biasa, bukan meneliti. Kedua, <em>nazhaara</em> secara fiqh yang berarti pemikiran atau dugaan yang menghasilkan suatu pengetahuan. Makna terakhir inilah yang cocok dengan penafsiran di atas.</p>
<p>Kata ‘<strong><em>khuliqat’</em></strong> adalah bentuk <em>fi’il madhi</em> (kata kerja pasif) dari kata <em>khalaqa</em>. <em>Khalaqa</em> berarti menciptakan sesuatu di luar kelaziman tapi dalam batas yang bisa dikaji secara ilmiah oleh manusia. Atau bisa juga berarti Allah pencipta segala sesuatu.</p>
<p>Ayat (17) pun dapat ditafsir dari sudut pandang Biologi. Sebenarnya, unta belum diketahui proses evolusinya, bukti-bukti perkembangan fosilnya belum sepenuhnya terungkap. Fosil unta tertua dan terbesar ditemukan di Syria. Ukurannya kira-kira dua kali lipat unta saat ini. Kemungkinan besar, unta berkerabat dengan hewan llama di Amerika Selatan, yak di daerah Asia Tengah dan jerapah di Afrika.</p>
<p>Unta sepertinya memang diciptakan khusus untuk daerah berpadang pasir. Kapasitas air di punuknya mencapai 40 liter. Bentuk kakinya pun cocok untuk berpijak di padang pasir tanpa tenggelam. Telapak kakinya agak melebar sedikit ke sisi.</p>
<p>Namun, terdapat terjemahan <strong><em>ibil</em></strong> yang berbeda. Ada yang mengartikan <strong><em>ibil</em></strong> sebagai awan, bukan unta. Dasarnya, dalam kamus <em>Lisanul Arab</em>, <strong><em>ibil</em></strong> juga berarti awan yang mengandung air. Alasan lain, ayat-ayat setelah kata <strong><em>ibil</em></strong> berbicara soal langit, gunung dan bumi. Jika diterjemahkan sebagai awan, maka keseluruhan ayat 17-20 akan lebih menyatu.</p>
<p>Mengenai penciptaan langit dalam ayat (18), terdapat penafsiran bahwa makna “langit yang ditinggikan” adalah pembentukan atmosfer yang bertahap dan berlapis. Lapisan terbawah adalah troposfer yang mengandung oksigen untuk makhluk hidup. Lapisan teratas adalah ionosfer yang mengandung ozon untuk melindungi Bumi dari sengatan sinar Matahari dan benda-benda asing. Lapisan terakhir ini juga memantulkan gelombang radio untuk komunikasi jarak jauh.</p>
<p>Atmosfer Bumi adalah salah satu ciptaan Allah yang betul-betul disiapkan, punya manfaat, tidak sia-sia. Sedangkan kondisi atmosfer planet Mars dan Venus tidak begitu ramah. Atmosfer Mars terlalu tipis sehingga sinar-sinar berbahaya dari Matahari leluasa masuk, menguapkan air dan membunuh kehidupan. Venus sebaliknya. Atmosfernya terlalu tebal karena tingginya CO<sub>2</sub>. Akibatnya, efek rumah kaca juga menguapkan air di permukaan Venus.</p>
<p>Makna <strong><em>samaa&#8217;</em></strong> atau langit menurut Moedji secara astronomi adalah “batas pandangan”. Batas ini tentunya berkembang seiring kemampuan teknologi manusia. Makin besar teleskop, semakin jauh kita dapat melihat objek-objek yang jauh. Informasi yang terlihat oleh teleskop dibawa oleh cahaya. Semakin jauh kita melihat, berarti semakin mampu kita melihat objek-objek langit yang tercipta lebih awal.</p>
<p>Selepas penciptaan langit, giliran penciptaan gunung dan Bumi yang dibahas pada ayat berikutnya. Terdapat penuturan singkat mengenai sekelumit proses terjadinya gunung berapi maupun jenis gunung lainnya. Sedangkan proses tektonik lempeng yang sebelumnya telah dibahas pula dalam diskusi Surat <em>Az-Zalzalah</em>. Fungsi gunung sendiri adalah sebagai pasak berkat akar massanya di bawah permukaan. Ukuran akar massa tersebut dapat mencapai 2-3 kali tinggi gunung di permukaan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Beriman adalah Pilihan </strong></p>
<p>Ayat (21) Surat <strong><em>Al-Ghaasyiyah</em></strong> berbunyi <strong><em>Fa dzakkir innamaa anta mudzakkir</em> </strong>“Maka berilah peringatan! Sesungguhnya engkau hanyalah pemberi peringatan.” Kemudian dilanjutkan ayat (22): <strong><em>Lasta `alaihim bi mushaithir</em> </strong>“Bukanlah engkau atas mereka pemaksa.”</p>
<p>Tugas umat Islam hanyalah berdakwah, memberikan peringatan bagi yang tidak mau beriman. Jika mereka <em>ngotot</em> tidak mau juga menerima Islam, maka Allah akan menangani mereka sebagaimana dijelaskan dalam empat ayat terakhir Surat <strong><em>Al-Ghaasyiyah</em></strong>:</p>
<p>(23) <strong><em>Illaa man tawallaa wa kafar</em> </strong>“Kecuali orang yang berpaling dan ingkar, (24) <strong><em>Fa yu`adzdzibuhu l-laahu l-`adzaaba l-akbar</em> </strong>“maka Allah menyiksanya dengan siksa yang besar.” (25) <strong><em>Inna ilainaa iyaabahum</em> </strong>“Sesungguhnya kepada Kami tempat kembali mereka,” (26) <strong><em>Tsumma inna `alainaa ?isaabahum</em> </strong>“kemudian sesungguhnya urusan Kami perhitungan mereka!”.</p>
<p><em>Wallahu a’lam bis showab</em>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: right;"><em>*Dikutip dari Diskusi Tafsir Salman , Senin (14/2/2011) di Rumah Alumni Salman. Menghadirkan Dr. Sony Heru Sumarsono dan Dr. Moedji Raharto sebagai penanggap dari aspek sains. Turut hadir pula, Ustadz Aceng dari Divisi Pelayanan Dakwah Salman ITB untuk mengupas aspek bahasa surat tersebut. Makalah utama yang ditulis oleh Irfan Anshory menjadi bahan kupasan saat itu. </em></p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2012/05/tafsir-al-ghaasyiyah-menalari-unta/">Tafsir Al-Ghaasyiyah: Menalari Unta*</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2012/05/tafsir-al-ghaasyiyah-menalari-unta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenal Filsafat Mulla Shadra</title>
		<link>http://salmanitb.com/2012/05/mengenal-filsafat-mulla-shadra/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2012/05/mengenal-filsafat-mulla-shadra/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 May 2012 03:19:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Irfan Habibie Martanegara</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=13122</guid>
		<description><![CDATA[<p>Mengapa orang modern susah bahagia padahal materi berkelimpahan? Hal ini karena untuk proposisi “aku ingin bahagia”, kebanyakan orang modern fokus memikirkan “bahagia” dibanding “aku”. Krisis manusia modern terjadi karena mereka tidak berpikir tuntas...</p><p><a href="http://salmanitb.com/2012/05/mengenal-filsafat-mulla-shadra/">Mengenal Filsafat Mulla Shadra</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_13139" class="wp-caption alignleft" style="width: 200px"><a href="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/05/mullasadra311.gif"><img class="size-full wp-image-13139" title="mullasadra31" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/05/mullasadra311.gif" alt="" width="200" height="258" /></a>
<p class="wp-caption-text">sumber gambar http://suficinta.wordpress.com/</p>
</div>
<p>Mengapa orang modern susah bahagia padahal materi berkelimpahan? Hal ini karena untuk proposisi “aku ingin bahagia”, kebanyakan orang modern fokus memikirkan “bahagia” dibanding “aku”. Krisis manusia modern terjadi karena mereka tidak berpikir tuntas bahkan mereka lupa memikirkan dirinya sendiri. Di sinilah letak posisi filsafat. Filsafat merupakan upaya memikirkan berbagai hal secara menyeluruh atau holistik.</p>
<p>Filsafat Islam sendiri berkembang setelah berlangsungnya <em>futuhat</em> atau pembebasan. Dengan meluasnya wilayah Islam, umat Islam mulai bersentuhan dengan pemikiran asing seperti Yunani dan Persia. Para filosof muslim dahulu merupakan filosof yang percaya diri menghadapi berbagai pemikiran asing. Mereka mempelajari namun tidak menerima mentah-mentah berbagai pemikiran tersebut.  Mereka selalu berupaya memodifikasi pemikiran yang masuk agar tidak bertentangan dengan Islam. Memang proyek terbesar para filosof muslim adalah menunjukkan adanya harmonisasi antara akal dan wahyu.</p>
<p>Hanya saja dalam buku-buku sejarah filsafat, sering ditulis rangkaian para filosof muslim dimulai dari Al Kindi dan diakhiri dengan Ibn Rusyd. Bila dikaji lebih detil, denyut filsafat Islam masih berdetak di Persia <em>pascainvasi</em> Mongol ke dunia Islam yang dianggap mematikan dinamika intelektual umat Islam. Tokoh yang terkenal di sana adalah Shadr Al Din Al Syirazi atau yang lebih dikenal dengan Mulla Shadra.</p>
<p>Shadra membawa warna baru dalam sejarah filsafat Islam setelah Paripatetisme (<em>masya’iyyah</em>) yang memuncak pada Ibn Sina dan Iluminasionasisme (<em>isyraqiyyah</em>) yang berpuncak pada Suharawardi Al Maqtul. Warna baru pada filsafat Islam tersebut bernama Hikmah Muta’alliyah atau eksistensialisme (<em>wujudiyah</em>).</p>
<p>Hikmah Muta’alliyah sebenarnya pertama kali diperkenalkan oleh Dawud Al Qaisari dan telah dipakai oleh Ibn Sina dan Nasir Al Din Al Tusi. Namun Hikmah Muta’alliyah secara sistematik dieksplorasi baru oleh Shadra dalam kitabnya yang berjudul <em>al Hikmah al Muta’alliyah fi al Asfar al Aqliyah al Arba’ah</em>. Pun demikian istilah Hikmah Muta’alliyah sebagai mazhab filsafat diperkenalkan bukan oleh Shadra, namun oleh murid sekaligus menantunya yang bernama Abd Al Razaq Lahiji.</p>
<p>Shadra memandang hikmah dan filsafat itu sama atau identik. Filsafat merupakan upaya untuk meraih pengetahuan mengenai realitas sebagai mana adanya melalui <em>burhan</em> (pembuktian) bukan diturunkan dari opini atau dugaan. Sebagaimana para filosof muslim lainnya, Shadra juga beranggapan bahwa filosof adalah manusia yang sempurna yang kedudukannya berada setelah nabi dan imam (syiah).</p>
<p>Ke-Syiah-an Mulla Shadra terlihat dari sumber epistemik yang digunakannya yang memasukkan sabda-sabda para Imam Syiah dan Kalam Imamiyah di samping Al Quran dan Hadits (dalam terminologi Syiah). Selain itu, sumber epistemik Shadra juga memiliki akar pada filosof-filosof sebelumnya seperti Gnosis Akbarian (Ibn Arabi), Iluminnasionisme Suhrawadi, dan Filsafat Paripatetik dan Neoplatonisme lewat jalur Ibn Sina.</p>
<p><em>*Disarikan dari kuliah <strong>Studia Humanika Kajian Filsafat Mulla Shadra</strong> yang diadakan pada Jumat, 21 April 2012 di GSS Masjid Salman ITB.</em></p>
<p><em>Pemateri dalam kuliah ini adalah M. Subhi Ibrahim, M. Hum (Ketua Program Studi Falsafah dan Agama Universitas Paramadina Jakarta)</em></p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2012/05/mengenal-filsafat-mulla-shadra/">Mengenal Filsafat Mulla Shadra</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2012/05/mengenal-filsafat-mulla-shadra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Studia Humanika: Bahasa Menguasai Masyarakat*</title>
		<link>http://salmanitb.com/2012/04/studia-humanika-bahasa-menguasai-masyarakat/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2012/04/studia-humanika-bahasa-menguasai-masyarakat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Apr 2012 02:48:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tristia Riskawati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=12663</guid>
		<description><![CDATA[<p>Apa deskripsi Anda untuk gambar di atas? Mungkin dapat diringkas seperti ini; ratusan polisi di sebuah jalan ibu kota, lengkap dengan helm dan perisainya, mengintai secara awas. Kala itu, mahasiswa mengepung seluruh jalan...</p><p><a href="http://salmanitb.com/2012/04/studia-humanika-bahasa-menguasai-masyarakat/">Studia Humanika: Bahasa Menguasai Masyarakat*</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_12672" class="wp-caption aligncenter" style="width: 401px"><a href="http://salmanitb.com/2012/04/studia-humanika-bahasa-menguasai-masyarakat/anarkis/" rel="attachment wp-att-12672"><img class="size-large wp-image-12672" title="anarkis" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/04/anarkis-401x300.jpg" alt="" width="401" height="300" /></a>
<p class="wp-caption-text">Foto: Dokumen Kunto Adi Wibowo</p>
</div>
<p>Apa deskripsi Anda untuk gambar di atas? Mungkin dapat diringkas seperti ini; ratusan polisi di sebuah jalan ibu kota, lengkap dengan helm dan perisainya, mengintai secara awas. Kala itu, mahasiswa mengepung seluruh jalan untuk mendemo rencana kenaikan BBM. Mereka berlarian menjauhi aparat kepolisian seakan takut diterkam.</p>
<p>Pertanyaan selanjutnya, adakah satu kata yang Anda pikirkan untuk merepresentasikan keadaan tersebut? Taruhan, pasti terbersit di benak Anda kata “Anarkis”.</p>
<p>Kata “anarkis” seakan sudah menjadi bumbu rutin pemberitaan demonstrasi ricuh di penjuru negeri. Media massa kerap kali menampilkan kosakata “anarkis” tanpa mempedulikan apakah kata tersebut tepat guna atau tidak. Sebenarnya, apa makna tulen dari anarkis?</p>
<p>Jika Kamus Besar Bahasa Indonesia menjadi acuan, maka anarkis akan dipermanai <em>sebagai </em><em>[n] (1) penganjur (penganut) paham anarkisme; (2) orang yg melakukan tindakan anarki. </em>Anarki adalah <em>[n] (1) hal tidak adanya pemerintahan, undang-undang, peraturan, atau ketertiban; (2) kekacauan (dl suatu negara). </em>Sedangkan anarkisme adalah <em>[n] ajaran (paham) yg menentang setiap kekuatan negara; teori politik yg tidak menyukai adanya pemerintahan dan undang-undang.</em></p>
<p>Kita dapat menyimpulkan, anarki  merupakan semacam keadaan absennya hukum dalam suatu negara. Sedangkan penganut paham anarkis menentang adanya pemerintahan dan undang-undang. Jadi, apakah demonstrasi yang kini wara-wiri di berbagai penjuru Indonesia dapat dikatakan anarkis?</p>
<p>Jawabannya tidak. Pelaku demonstran pada kenyataannya tidak menganut paham bahwa pemerintahan tak perlu ada pada negara. Mereka masih mengakui kalau pemerintahan itu perlu. Mereka berdemo karena ingin pemerintahan yang lebih baik.</p>
<p>Pakar linguistik lazim menyebut fenomena ini sebagai pengalihan makna. Acapkali, pengalihan makna merupakan suatu usaha untuk mendiskreditkan unsur tertentu. Dalam kasus ini, kata “anarkis” yang sering dilekatkan pada pemberitaan demonstrasi membuat demonstran kena getah pahitnya. Mahasiswa demonstran dikenai stereotip anti negara.</p>
<p>Ketika membaca berita di media massa, membaca teks secara mikroskopik merupakan modal melakukan penelitian <em>Critical Discourse Analysis</em> (CDA). Berbagai istilah, seperti “anarkis”, bisa jadi merupakan sistem representasi dari topik tertentu.</p>
<p>Dalam kajian linguistik, akses terhadap realitas selalu melalui bahasa. Linguistik pun terbagi menjadi beberapa sub-kajian. Pertama adalah linguistik dikaji dari strukturalisme<em> langue-parole. </em>Bahasa dalam perspektif strukturalisme dibagi ke dalam dua bagian, yaitu <em>langue </em>(kata-kata) dan <em>parole</em> (aturan menggunakan bahasa).</p>
<p><strong></strong>Menurut Saussure, <em>langue</em> (bahasa) adalah pengetahuan dan kemampuan bahasa yang bersifat kolektif, yang dihayati bersama oleh semua warga masyarakat; <em>parole</em> (tuturan) adalah perwujudan <em>langue</em> pada individu. Eksistensi <em>langue</em> memungkinkan adanya <em>parole</em>, seperti yang kita ketahui bahwa <em>parole</em> adalah wicara aktual, cara pembicara menggunakan bahasa untuk mengekspresikan dirinya. (George Ritzer, 2004).<strong> </strong></p>
<p>Hal ini berhubungan dengan struktur tanda yang dikenalkan Ferdinand de Saussure. Terdapat, istilah <em>signifier</em> dan <em>signified</em>. Dengan pendekatan bahasa, <em>signifier</em> digambarkan sebagai peraturan yang melekat pada <em>signified—</em>kata.</p>
<p>Kajian strukturalisme menyatakan bahwa struktur kesadaran, struktur masyarakat, dan struktur bahasa saling berkaitan membentuk siklus. Struktur kesadaran menurut Claude Levi Strauss adalah rangkaian nilai yang tertanam dalam diri masing-masing dan melandasi setiap pandangan dan perilaku kita secara sadar. Kompleksitas segala nilai yang membentuk diri manusia menjadi penerjemah setia dalam memandang dan menyikapi segala realitas hidup.</p>
<p>Struktur kesadaran ini dapat dipengaruhi oleh struktur bahasa. Contohnya saja, kita dibiasakan untuk mengenal kata “radikal” sebagai sifat yang negatif. Kata “radikal” ramai berkait dengan aksi gerakan Islam bersenjata dalam pemberitaan media massa. Padahal, makna radikal sebenarnya merupakan suatu sifat positif yang mengajarkan kita untuk menggali sedalam-dalamnya sesuatu sampai ke “akarnya”. Berarti, struktur kesadaran kita akan “radikal” telah digiring keluar makna aslinya.</p>
<p>Sedangkan struktur masyarakat dapat dipengaruhi oleh struktur kesadaran yang menghegemoni . Jika kita meninjau kajian dari Jacques Lacan, kita akan menemukan sosok <em>phallus</em> (penis, menurut Sigmund Freud), yang seolah menjadi referensi utama dalam sebuah realitas. Seperti misalnya, <em>phallus</em> adalah bermain golf mencerminkan martabat lebih tinggi. Yang tidak bermain, martabatnya lebih rendah. Ada semacam kastrasi yang membedakan strata sosial.</p>
<p>Dalam kajian strukturalisme, dikenal pula istilah sintagmatik dan paradigmatik. Sintagmatik adalah hubungan antara unsur yang berurutan (struktur). Sedangkan paradigmatik adalah hubungan antara unsur yang hadir dan yang tidak hadir, dan dapat saling menggantikan, bersifat asosiatif (sistem).</p>
<p>Jika dianalogikan, sintagmatik merupakan tata cara susunan baju&#8211; bahwa topi diletakkan di kepala, atasan dikenakan di bagian atas tubuh, atau sepatu dikenakan di kaki. Sedangkan paradigmatik digunakan untuk mengarahkan nuansa.  Contohnya, pemakaian sepatu hak tinggi lebih menunjukkan sisi feminin dibanding sepatu kanvas walaupun keduanya digunakan di bagian tubuh yang sama.</p>
<p>Kajian linguistik dapat pula ditinjau dari psikologi kebahasaan. Pendekatan ini menekankan bagaimana individu menggunakan bahasa, untuk dirinya, pikirannya dan emosinya dibentuk dan ditransformasikan melalui interaksi sosial. Salah satu teori yang berhubungan dengan psikolinguistik adalah teori Sapir-Whorf.</p>
<p>Teori relativitas linguistik yang dipegang oleh Boas, Sapir, dan Whorf menyatakan bahwa orang berbicara  dengan cara yang berbeda karena mereka berpikir dengan cara yang berbeda. Mereka  berpikir dengan cara yang berbeda karena bahasa mereka menawarkan cara mengungkapkan (makna) dunia di sekitar mereka dengan cara yang berbeda pula. (Kramsch, 2001:11).</p>
<p>Pendekatan ketiga adalah pendekatan pasca-strukturalisme. Pendekatan ini menyatakan bahasa bukanlah refleksi dari realitas yang ada. Bahasa menafikan kepentingan makna. Penggunaan bahasa adalah permainan teks. Wacana sebagai bahasa bukan hanya dilihat sebagai artefak (apa yang kita lihat dan dengar) namun juga proses produksi dan interpretasi.</p>
<p>Penggambaran fenomena melalui pendekatan ini dapat dirunut sampai ke zaman penjajahan. Kala itu, kaum non bangsawan kerap disebut dengan julukan “abdi dalem”. Abdi dalem tidak perlu membayar pajak karena mereka adalah abdi tuannya, bukan “manusia”.</p>
<p>Namun, pada zaman tersebut Sir Stamford Raffles (kolonialis Inggris) ingin agar biaya pajak dikenakan pada kaum non-bangsawan pula. Oleh karenanya, ia menggembar-gemborkan sebutan “wong cilik” untuk kaum non-bangsawan.&#8221; Wong cilik&#8221; tetaplah “wong” (orang) yang harus bayar pajak pula seperti tuannya. Beginilah proses produksi bagaimana term &#8220;wong cilik&#8221; akhirnya menjadi luas dikenal.***</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: right;"><em>*Disarikan dari kuliah <strong>Studia Humanika Critical Discourse Analysis Pertemuan 2: Bahasa, Kuasa, dan Masyarakat</strong> yang diadakan pada Jumat, 30 Maret 2012 di GSS Masjid Salman ITB.</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>Pemateri dalam kuliah ini adalah S. Kunto Adi Wibowo, M.Comm. (Dosen FIKOM UNPAD)</em></p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2012/04/studia-humanika-bahasa-menguasai-masyarakat/">Studia Humanika: Bahasa Menguasai Masyarakat*</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2012/04/studia-humanika-bahasa-menguasai-masyarakat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Studia Humanika: Wacana Tak Sekedar Rencana*</title>
		<link>http://salmanitb.com/2012/03/studia-humanika-wacana-tak-sekedar-rencana/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2012/03/studia-humanika-wacana-tak-sekedar-rencana/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Mar 2012 13:41:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tristia Riskawati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=12526</guid>
		<description><![CDATA[<p>Apa yang terkesiap di benak Anda tatkala mendengar kata &#8220;wacana&#8221;? Mungkin Anda kemudian akan menerjemahkan wacana sebagai rencana belaka. Mungkin kita acap kali berkata pada seorang teman, “Ah, kamu bisanya cuma berwacana doang,”...</p><p><a href="http://salmanitb.com/2012/03/studia-humanika-wacana-tak-sekedar-rencana/">Studia Humanika: Wacana Tak Sekedar Rencana*</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 277px"><img class=" " src="http://i698.photobucket.com/albums/vv342/moirianku/soekarno.jpg?t=1242280111" alt="" width="277" height="360" />
<p class="wp-caption-text">(Foto: sosok.kompasiana.com)</p>
</div>
<p>Apa yang terkesiap di benak Anda tatkala mendengar kata &#8220;wacana&#8221;?</p>
<p>Mungkin Anda kemudian akan menerjemahkan wacana sebagai rencana belaka. Mungkin kita acap kali berkata pada seorang teman, “Ah, kamu bisanya cuma berwacana doang,” ketika sang teman tidak mempraktekkan rencananya. Atau, ketika kita mendengar BBM akan dinaikkan pada 1 April mendatang, kita pikir itu adalah sebuah wacana.</p>
<p>Benarkah wacana  hanya sebatas rencana? Bolehlah c<em>ommon sense </em>bilang begitu. Namun, pluralisme makna dari berbagai aspek nyatanya merundungi si kata “wacana” itu sendiri.</p>
<p>Wacana atau discourse berasal dari bahasa Yunani yang memiliki terjemahan bebas “berlari ke/dari”. Dalam konteks teologi, wacana bermakna sabda-sabda Tuhan yang disampaikan pemuka agama. Dalam budaya Sunda, terdapat istilah “<em>wawacan</em>” sebagai teks-teks lagu-lagu Sunda. Wacana, secara luas, lebih bersifat tekstual.</p>
<p>Mengacu dari sudut pandang ilmu linguistik, wacana didefinisikan sebagai satuan bahasa yang lengkap sehingga dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi dan terbesar. Unsur-unsur yang membangun wacana antara lain konsep dan gagasan, punya persyaratan gramatikal, serta kohesif atau serasi.</p>
<p>Konsep dan gagasan boleh muluk, namun persyaratan gramatikal harus dipenuhi. Persyaratan gramatikal dapat dipenuhi jika dalam wacana sudah terbina kekohesifan. Kekohesifan merupakan keserasian hubungan antara unsur-unsur yang ada dalam wacana sehingga isi wacana apik dan benar.</p>
<p>Pendekatan wacana dalam konteks linguistik dapat bermula pada suatu periode di Inggris. Ini ketika warga Inggris mulai menggandrungi karya sastra pada sekitar abad 19. Ternyata, fiksi yang dikonsumsi warga Inggris dapat mempengaruhi kerangka berpikir mereka. Lebih jauh lagi, gaya hidup. Contoh lain dapat Anda pelajari ketika menganalisis foto Soekarno dari masa ke masa. Apa maksud media massa zaman Orde Lama menampilkan foto Soekarno yang memakai peci dan kacamata hitam?</p>
<p>Dalam konteks cultural studies, wacana adalah &#8220;<em>a language of system of representation that has developed socially in order to make and circulate a coherent set of meanings about an important topic area.&#8221;</em> (Fiske, 1987). (&#8220;Bahasa dari sistem representasi yang digunakan untuk membuat seperangkat makna yang koheren (serasi) mengenai area topik yang penting.&#8221;) Dengan kata lain, untuk menyatakan suatu area topik secara utuh, dibutuhkan simbol &#8220;perwakilan&#8221; yang dapat mudah dikenali.</p>
<p>Contohnya, ibu yang tersenyum dalam sebuah foto keluarga adalah pertanda kebahagiaan dalam keluarga tersebut&#8211; tidak peduli sang Bapak maupun anak tersenyum pula atau tidak. Ibu yang tersenyum merupakan &#8220;sistem representasi koheren&#8221; yang menggambarkan area topik &#8220;keluarga yang bahagia&#8221;. Sistem representasi &#8220;ibu tersenyum&#8221; ini kerap kali digunakan dalam iklan-iklan yang berkaitan dengan kerumahtanggan, semisal deterjen dan bumbu masak. Jika sistem representasi diubah, konsekuensinya adalah berubahnya pula seperangkat makna dari area topik tersebut.</p>
<p>Michel Foucault, pemikir asal Prancis memiliki pengertian tersendiri mengenai wacana. Menurutnya, wacana adalah &#8220;<em>something constituted by a group of sequences of signs, in so far as they are statements, that is, in so far as they can be assigned particular modalities of existence</em>.&#8221; (&#8220;Sesuatu yang dikonstitusi oleh keberlangsungan tanda-tanda yang sinambung, sejauh mereka adalah sejumlah pernyataan, dimana mereka dapat ditetapkan sebagai cara sebuah keberadaan dicanangkan.&#8221;) Foucault melihat wacana adalah sebuah tanda-tanda yang berkelanjutan. Ia memandang wacana dari aspek kesejarahan.</p>
<p>Thomas Habermas, pada tahun 1977 mengatakan <em>&#8220;Language is also a medium domination and social force. It serves to legitimize relations of organized power&#8230; language is also ideological.</em>&#8221; (Bahasa juga merupakan alat untuk mendominasi dan kekuatan sosial. Bahasa berguna untuk mengesahkan kekuatan yang terorganisir.. bahasa juga sarat akan kepentingan ideologi.)</p>
<p>Ideologi dapat dikatakan sebagai sistem kepentingan atau agenda. Kepentingan ini mendominasi tidak secara tegas dan utuh. Hal ini dikarenakan jika kepentingan ini dibahas seutuh-utuhnya, tentu akan memakan banyak waktu. Contoh bagaimana sebuah wacana digunakan sebagai bahasa ideologis adalah ketika pengumuman kenaikan BBM pada zaman Soeharto. Kenaikan BBM pada zaman tersebut mayoritas diumumkan pada hari Sabtu, dimana pelajar dan karyawan sedang libur. Demonstrasi pun bisa terhindarkan. Pada keesokan Senin dimana mereka kembali pada rutinitas pun, mereka sudah terlampau lupa terhadap kemarahan mereka mendengar kenaikan BBM pada Sabtu kemarin.</p>
<p>Contoh bahasa lain yang menegaskan sistem strata adalah susunan ruang perkuliahan antara dosen dan mahasiswa. Bagaimana kursi-kursi di susun,  pengaturan posisi sang dosen yang mengajar dan sekelompok mahasiswa yang mendengarkan, serta media materi yang akan disampaikan adalah sebuah sistem bahasa. Misal saja, posisi dosen yang mengajar di depan menandakan kedudukan ilmunya yang jauh lebih mumpuni dibanding mahasiswa</p>
<p>Dalam mempelajari ilmu sosial, sudah selayaknya akademisi sadar jikalau setiap orang memiliki kepentingan. Itulah yang dinamakan sebagai sikap humanis&#8211; ialah mengakui bahwa setiap orang memiliki kepentingan. Namun seringnya, orang lain diperlakukan sebagai objek kepentingan kita. Saling jujur kepada sesama bahwa kita memiliki suatu kepentingan tersebut mungkin bisa membantu. Kejujuran ini berpotensi agar paradigma yang mengalamatkan orang lain adalah objek dapat terkikis. Kita dituntut untuk mengakui bahwa teman kita pun tentu punya kepentingan.</p>
<p>Terdapat anggapan, semakin dalam mempelajari ilmu sosial, semakin mafhum bagi kita untuk tahu bahwa kita tidak dapat berbuat apa-apa. Namun, dalam salah satu tulisannya, van Dijk berkata, <em>&#8220;Beyond description or superficial application, critical science in each domain asks further questions, such as those of responsibility, interests, and ideology. Instead of focusing on purely academic or theoretical problems, it starts from prevailing social problems, and thereby chooses the perspective of those who suffer most, and critically analyses those in power, those who are responsible, and those who have the means and the opportunity to solve such problems. &#8220;</em></p>
<p>(&#8220;Di balik deskripsi dari aplikasi yang dangkal, sains kritis dalam tiap disiplin mempertanyakan beberapa topik seperti tanggung jawab, minat-minat, dan ideologi. Daripada terlalu berfokus pada proses akademik yang murni atau masalah-masalah teoritis, alangkah lebih baik jika ilmu sosial diberlakukan untuk menyelesaikan masalah-masalah sosial dengan memihak pada yang paling menderita, serta secara kritis menganalisis siapa yang bertanggung jawab atas masalah tersebut dan siapa yang berpeluang untuk menyelesaikan masalah-masalah sosial yang sedang mendera.&#8221;)***</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: right;"><em>*Disarikan dari kuliah <strong>Studia Humanika Critical Discourse Analysis Pertemuan 1: Bahasa dan praktik sosial dan Perkembangan CDA/</strong>S yang diadakan pada Jumat, 16 Maret 2012 di GSS Masjid Salman ITB.</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>Pemateri dalam kuliah ini adalah S. Kunto Adi Wibowo, M.Comm. (Dosen FIKOM UNPAD)</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2012/03/studia-humanika-wacana-tak-sekedar-rencana/">Studia Humanika: Wacana Tak Sekedar Rencana*</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2012/03/studia-humanika-wacana-tak-sekedar-rencana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Studia Humanika: Metode Reduksi dalam Fenomenologi Husserl*</title>
		<link>http://salmanitb.com/2012/03/studia-humanika-metode-reduksi-dalam-fenomenologi-husserl/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2012/03/studia-humanika-metode-reduksi-dalam-fenomenologi-husserl/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Mar 2012 15:21:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tristia Riskawati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=12471</guid>
		<description><![CDATA[<p>Anggap terdapat pengemis memelas payah ketika Anda sedang melintasi jalanan kota. Tentu, dua pilihan lah yang dapat dilakukan. Memberi uang atau tidak sama sekali. Secara common sense, jika Anda memutuskan untuk memberi sang...</p><p><a href="http://salmanitb.com/2012/03/studia-humanika-metode-reduksi-dalam-fenomenologi-husserl/">Studia Humanika: Metode Reduksi dalam Fenomenologi Husserl*</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 530px"><img class="  " src="http://webspace.newschool.edu/~simonsi/Portraits_files/husserl.jpg" alt="" width="530" height="397" />
<p class="wp-caption-text">(Foto: farkyaralari.blogspot.com)</p>
</div>
<p>Anggap terdapat pengemis memelas payah ketika Anda sedang melintasi jalanan kota. Tentu, dua pilihan lah yang dapat dilakukan. Memberi uang atau tidak sama sekali. Secara common sense, jika Anda memutuskan untuk memberi sang pengemis, kemungkinan besar Anda akan dicap lebih mementingkan perasaan dibanding proses berpikir. Benarkah seperti itu?</p>
<p>Dalam fenomenologi, tidak. Bahwa Anda memutuskan untuk memberi uang kepada sang pengemis, itu merupakan sebuah proses kognisi pula. Bahwa intuisi, yang dikenal dalam ranah psikologi, berbeda maknanya dengan intuisi dalam ranah fenomenologi. Psikologi menganggap intuisi condong kepada empati. Sedangkan intuisi, menurut sudut pandang fenomenologi merupakan eksplorasi akal pada objek.</p>
<p><em>Original intuition</em>, atau intuisi murni merupakan salah satu bahasan fundamental dari fenomenologi Edmund Husserl. Tradisi intuisi yang dikemukakan Husserl ini seolah menjembatani antara epsitemologi rasionalisme (deduktif) dan epistemologi empirisme (induktif). Dasar pemikiran Husserl bermula dari pandangannya mengenai positivisme. Husserl berpendapat, jangan terjebak pada positivisme jika ingin menciptakan ilmu baru.</p>
<p>Filsafat, bagi Husserl berbeda dengan ilmu alam. Tidaklah mungkin secara naif filsafat dimulai dari pandangan sains positivisme. Sains positivisme mendasarkan pada anggapan bahwa pengalaman tentang dunia merupakan sesuatu yang &#8220;<em>given</em>&#8220;. Memang, pengetahuan adalah sesuatu yang &#8220;<em>given</em>&#8220;, tapi manusia lah yang merumuskan pengetahuan tersebut. Misalkan, gravitasi itu telah ada dari sejak dahulu. Namun, barulah pada tahun 1700-an Isaac Newton merumuskan hukum mengenai gravitasi tersebut.</p>
<p>Intuisi asli atas objek merupakan dasar utama dari operasi akal. Untuk membuat sebuah pernyataan, intuisi asli atas hal-hal itu sendiri berhubungan dengan kehendak kita. Husserl menghimbau para peneliti untuk &#8220;<em>back to the things themselves</em>&#8220;. Akal tidak dapat dilepaskan dari objek, dan objek tidak bisa dilepaskan dari subjek. Subjek dengan objek antara yang satu dengan yang lain saling hadir, atau menghadirkan dalam level yang sama.</p>
<p>Namun, untuk memberi penilaian pada objek, peneliti tidak boleh memberikan pra-anggapan. Segala sesuatu yang menghadirkan dirinya sendiri pada kita secara asli dalam batas bahwa ia hadir sebagai mana diri/adanya. Bagaimana &#8220;keaslian&#8221; ini dapat diperoleh? Husserl memberikan solusi dengan apa yang ia sebut sebagai &#8220;reduksi&#8221;.</p>
<p>Husserl memaknai bahwa secara metodis, reduksi dapat menempatkan seseorang pada bentuk &#8220;transendental&#8221;. Dengan bentuk tersebut, diharapkan kita dapat menangkap benda-benda tersebut sebagai mana adanya diri mereka sendiri, terbebas dari pra-anggapan apa pun.</p>
<p>Terdapat dua reduksi yang dirumuskan oleh Edmund Husserl, yaitu reduksi eidetis dan reduksi fenomenologis.</p>
<p><strong>Reduksi eidetis</strong></p>
<p>Reduksi eidetis menuntun peneliti dari kenyataan faktawi kepada esensi yang bersifat umum. Dengan kata lain, peneliti akan memperoleh pengetahuan dari level fakta hingga ke bentuk &#8220;gagasan&#8221; atau esensi jika mengikuti prosedur dari reduksi ini. Namun, “esensi/gagasan” Husserl bukan generalisasi empiris yang dengan berbagai tipe peneliti lengkapi dalam pengalaman. Kemurnian esensi tidak dipengaruhi dari banyaknya jumlah fakta yang disampaikan.</p>
<p>Langkah dari reduksi eidetis, pertama-tama adalah peneliti mulai dengan contoh individual (oknum) yang dibayangkan atau dirasakan secara arbitrer dari hal-hal ini atau itu. Langkah ini mirip pengambilan kesimpulan melalui induktif. Kemudian, secara hati-hati, peneliti mulai menambahkan persepsi, memori, dan fantasi sembari meneliti perubahan-perubahan apa yang terjadi dengan hal-hal tadi. Hal ini dilakukan dengan catatan, proses ini tidak membuat hal tersebut berhenti menjadi halnya itu sendiri. Dengan kata lain, tidak ada manipulasi dalam prosesnya.</p>
<p>Perubahan-perubahan yang paling arbitrer secara keseluruhan membiarkan realitas itu nampak sebagaimana adanya. Paling baik, perubahan ini diolah dalam fantasi kita. Melalui perubahan-perubahan alamiah (arbitrer), karakteristik tertentu yang kompleks namun tetap tidak dapat dirasakan sendiri oleh yang mengalami perubahan tersebut. Invarian, muncul secara otomatis dan pasif, tidak ada treatment apapun.</p>
<p><strong>Reduksi Fenomenologis</strong></p>
<p>Reduksi fenomenologis merupakan sesuatu yang kompleks. Terdapat tiga macam pembagian dari pengertian reduksi fenomenologis itu sendiri. Reduksi fenomenologis, dalam arti yang kaku digambarkan sebagai <em>&#8220;bracketing of being</em>&#8220;. Keuda, reduksi fenomenologis digambarkan sebagai reduksi atas dunia budaya terhadap dunia pengalaman terdekat/terhayati (<em>lebenswelt</em>). Pengertian yang ketiga adalah reduksi fenomenologis sebagai reduksi transendental yang menuntun kita dari keduniaan fenomenal “aku” menuju subjektivitas transendental.</p>
<p>Reduksi fenomenologis berkaitan erat dengan konsep intensionalitas. Konsep intensionalitas adalah bagaimana cara terbaik seseorang dapat mencapai kepastian dari sang objek. Kata &#8220;intensional&#8221; sendiri mengacu pada arti &#8220;pengada sebuah objek&#8221;. Namun, pada umumnya tindakan intensional disusun oleh orang dewasa yang sudah memiliki kerangka budaya tersendiri. Bukan oleh tindakan asli, tetapi oleh tindakan-tindakan turunan budaya tersebut. Padahal ada jenis pengada yang dengan caranya sendiri menghadirkan dirinya secara eksklusif.</p>
<p>Karena aktivitas intensional tersebut, manusia berbudaya berhubungan dengan apa yang diciptakan oleh kecenderungannya. Makna-makna hal yang diteliti dibangun atas makna-makna tempelan yang disatukan. Jika kita ingin sampai pada suatu cara yang membuat benda nampak kepada kita secara asli, maka kita harus temukan cara. Setidaknya, cara tersebut yang dapat menuntun kita dari yang menyatakan diri dalam tindakan turunan tadi, kepada objek-objek asli dengan tindakan yang paling asli yang kita miliki.</p>
<p>Konsekuensinya “makna keseluruhan” tersebut dapat dan harus dianalisis dalam berbagai oknum atau komponen makna yang beragam. Semuanya adalah sebuah intensionalitas. Hal ini mengingatkan peneliti agar jangan cenderung terkungkung dengan budaya yang menyelimuti objek. Setiap komponen makna tidak boleh digeneralisasi, karena satu sama lainnya memiliki karakter yang berbeda.</p>
<p>Husserl kemudian mengusulkan sebuah analisis berjuluk &#8220;analisis intensional&#8221;. Peneliti kembali lagi pada pertanyaan (tentang) tindakan kognitif turunan dan hubungannya dengan pengalaman hidup yang asli (<em>Erlebnisse</em>). Dengan pengada apapun, benda secara asli nampak sebagai mana adanya dalam kenampakan yang paling dekat dengannya.***</p>
<p style="text-align: right;"><em>*Disarikan dari kuliah Studia Humanika Pengantar Fenomenologi <strong>Pertemuan 4: Tema-tama fundamental fenomenologi Edmund Husserl I </strong>pada Kamis, 8 Maret 2012 di GSS Masjid Salman ITB.</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>Pemateri dalam kuliah ini adalah Dr. Irawan,SPd., M.Hum. (Penulis buku </em>Animal Ambiguitatis: Memahami Manusia Melalui Pemikiran Maurice Merleau-Ponty dan Jacques Lacan<em>).</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2012/03/studia-humanika-metode-reduksi-dalam-fenomenologi-husserl/">Studia Humanika: Metode Reduksi dalam Fenomenologi Husserl*</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2012/03/studia-humanika-metode-reduksi-dalam-fenomenologi-husserl/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tafsir Al-Humazah (III): Taubat, Fitrah, dan Keseimbangan</title>
		<link>http://salmanitb.com/2012/03/tafsir-al-humazah-iii-taubat-fitrah-dan-keseimbangan/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2012/03/tafsir-al-humazah-iii-taubat-fitrah-dan-keseimbangan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Mar 2012 01:36:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Salim Rusli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=12212</guid>
		<description><![CDATA[<p>Dalam pandangan Al-Ghazali, psikopatologi terjadi karena menjauhnya manusia dari Tuhan. Jalan hidup yang ditempuhnya keluar dari fitrah kemanusiaan yang telah digariskan Tuhan. Karena itu, untuk menyembuhkan harus dilakukan “taubat” yaitu kembali kepada jalan...</p><p><a href="http://salmanitb.com/2012/03/tafsir-al-humazah-iii-taubat-fitrah-dan-keseimbangan/">Tafsir Al-Humazah (III): Taubat, Fitrah, dan Keseimbangan</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_12389" class="wp-caption alignleft" style="width: 300px"><a href="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/03/taubat.jpg"><img class="size-medium wp-image-12389" title="taubat" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/03/taubat-300x202.jpg" alt="" width="300" height="202" /></a>
<p class="wp-caption-text">sumber gambar http://nugraha-corporation.blogspot.com/</p>
</div>
<p>Dalam pandangan Al-Ghazali, psikopatologi terjadi karena menjauhnya manusia dari Tuhan. Jalan hidup yang ditempuhnya keluar dari fitrah kemanusiaan yang telah digariskan Tuhan. Karena itu, untuk menyembuhkan harus dilakukan “taubat” yaitu kembali kepada jalan Tuhan. Karakter atau watak sejatinya memang dapat berubah melalui latihan dan pendidikan. Ahli psikologi Barat maupun Islam mengembangkan teori dan metode penyembuhan sesuai dengan filosofi masing-masing.</p>
<p>Perlu diingat bahwa kedangkalan spiritual bukanlah disebabkan ketiadaan potensi kemanusiaan untuk mencapainya. Namun karena ketertutupan pikiran untuk menerima suatu fakta non fisik, psikologis dan nilai-nilai kemanusiaan, moral serta spiritual. Pemanfaatan potensi manusia secara seimbanglah yang membuat manusia hidup sesuai dengan fitrahnya. Fitrah dapat diartikan sebagai bekerjanya  mekanisme psikologis dari Id, Ego dan Superego  dalam teori psikologi klasik. Atau dapat juga dimaknai sebagai berfungsinya semua element dari <em>qolb, ruh, nafs</em> dan <em>aql</em>  secara seimbang.</p>
<p>Banyak pemikir yang lurus sampai pada kesimpulan filosofis dan kembali kepada fitrah. Pemikiran yang lurus ditunjukkan dalam drama kehidupan Nabi Ibrahim as. Tatkala Nabi Ibrahim As tak sanggup lagi mencapai pengetahuan Tuhan, ia memohon agar Tuhan memberinya petunjuk.</p>
<p>Hal ini dialami juga oleh banyak ilmuwan sekaliber Einstein. Tatkala Einstein menemukan keteraturan alam semesta, ia berkesimpulan bahwa Tuhanlah yang membuat semua ini terjadi. Padahal ia tidak beragama. Namun fitrahnya membawa pada pengetahuan spiritual.  Fitrah dalam konteks ini dapat dimaknai sebagai berfungsinya semua elemen spiritual secara optimal.</p>
<p>Jelaslah bahwa pengetahuan spiritual tidak dapat diraih bila kita terbelenggu secara fisik. Syahwat menjadi tabir bagi manusia untuk mencapai pengetahuan Illahi. Akibatnya manusia berhenti pada dorongan dasar biologis yang tidak pernah berakhir. Dalam Q.S At-Tin ayat 4 dan 5, disebutkan bahwa <em>Al-Insan</em> sebelumnya diciptakan dalam bentuk yang sempurna (semua manusia memiliki potensi yang sempurna). Lalu kemudian  “Kami kembalikan ia ke tempat yang serendah-rendahnya”. Hal ini terjadi tatkala potensi dasar berupa insting biologis saja yang menguasai hidup manusia. Ia menjadi rendah dan lebih rendah daripada binatang (bersambung).</p>
<p>[Dikutip dari makalah Dra. Iip Fariha yang disampaikan dalam Diskusi Tafsir Ilmiah Surat Al-Humazah Kamis sore (10/11)]</p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2012/03/tafsir-al-humazah-iii-taubat-fitrah-dan-keseimbangan/">Tafsir Al-Humazah (III): Taubat, Fitrah, dan Keseimbangan</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2012/03/tafsir-al-humazah-iii-taubat-fitrah-dan-keseimbangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Zona Tunggal Waktu Indonesia Mempersatukan, tetapi Berpotensi Menimbulkan Inefisiensi</title>
		<link>http://salmanitb.com/2012/03/zona-tunggal-waktu-indonesia-mempersatukan-tetapi-berpotensi-menimbulkan-inefisiensi/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2012/03/zona-tunggal-waktu-indonesia-mempersatukan-tetapi-berpotensi-menimbulkan-inefisiensi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Mar 2012 09:00:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Thomas Djamaluddin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=12311</guid>
		<description><![CDATA[<p>Pada 4 Januari 2011 saya diundang menjadi salah satu narasumber FGD (Focus Group Discussion) tentang zona waktu Indonesia. Saya menyatakan bahwa menjadikan Indonesia menjadi satu zona waktu, di samping berdampak positif mempersatukan, ada...</p><p><a href="http://salmanitb.com/2012/03/zona-tunggal-waktu-indonesia-mempersatukan-tetapi-berpotensi-menimbulkan-inefisiensi/">Zona Tunggal Waktu Indonesia Mempersatukan, tetapi Berpotensi Menimbulkan Inefisiensi</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_12312" class="wp-caption aligncenter" style="width: 339px"><a href="http://salmanitb.com/2012/03/zona-tunggal-waktu-indonesia-mempersatukan-tetapi-berpotensi-menimbulkan-inefisiensi/fgd-zona-waktu-sekneg-4-jan-2011/" rel="attachment wp-att-12312"><img class=" wp-image-12312" title="fgd-zona-waktu-sekneg-4-jan-2011" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/03/fgd-zona-waktu-sekneg-4-jan-2011-300x200.jpg" alt="" width="339" height="226" /></a>
<p class="wp-caption-text">FGD Zona Waktu Sekretaris Negara (foto: http://tdjamaluddin.wordpress.com/)</p>
</div>
<p>Pada 4 Januari 2011 saya diundang menjadi salah satu narasumber FGD (Focus Group Discussion) tentang zona waktu Indonesia. Saya menyatakan bahwa menjadikan Indonesia menjadi satu zona waktu, di samping berdampak positif mempersatukan, ada juga dampak negatif berupa potensi inefisiensi. Hal ini mengingat mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim yang harus melaksanakan kewajiban shalat dhuhur.</p>
<p>Dengan menerapkan zona waktu tunggal dengan rujukan UT + 8 jam dan waktu istirahat pukul 12.00 – 13.00, di Jawa bagian Barat dan Sumatera (dengan sebaran sekitar 40% penduduk Indonesia) pada akhir waktu istirahat pegawai Muslim masih melaksanakan shalat dhuhur. Artinya ada inefisiensi waktu dengan jeda untuk shalat, yang biasanya bersamaan dengan istirahat makan siang. Malaysia dan Singapura mengatur waktu istirahatnya pukul 13.00 – 14.00 agar waktu shalat dhuhur masuk pada jam istirahat itu. Tetapi kalau waktu istirahat di Indonesia diterapkan pukul 13.00 – 14.00, di Papua sudah jauh melewati tengah hari. Itu pun berpotensi inefisiensi karena banyak pegawai yang mengambil waktu makan siang sebelum waktu istirahat. Sebenarnya jam kerja di Singapura yang mulai pukul 09.00 dan istirahat pukul 13.00 – 14.00 setara dengan awal waktu kerja di Indonesia pukul 08.00 WIB dan istirahat pukul 12.00 – 13.00 WIB.</p>
<p>Berikut ini makalah pokok bahasan (<a href="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/03/wilayah-waktu-indonesia-revisi.pdf">Wilayah Waktu Indonesia-Revisi</a>) dan ppt presentasi saya saat FGD dengan beberapa revisi:</p>
<p><a href="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/03/slide1.jpg"><img title="Slide1" src="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/03/slide1.jpg?w=468&amp;h=351" alt="" width="468" height="351" /></a></p>
<p><a href="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/03/slide2.jpg"><img title="Slide2" src="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/03/slide2.jpg?w=468&amp;h=351" alt="" width="468" height="351" /></a></p>
<p><a href="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/03/slide3.jpg"><img title="Slide3" src="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/03/slide3.jpg?w=468&amp;h=351" alt="" width="468" height="351" /></a></p>
<p><a href="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/03/slide4.jpg"><img title="Slide4" src="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/03/slide4.jpg?w=468&amp;h=351" alt="" width="468" height="351" /></a></p>
<p><a href="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/03/slide5.jpg"><img title="Slide5" src="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/03/slide5.jpg?w=468&amp;h=351" alt="" width="468" height="351" /></a></p>
<p><a href="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/03/slide6.jpg"><img title="Slide6" src="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/03/slide6.jpg?w=468&amp;h=351" alt="" width="468" height="351" /></a></p>
<p><a href="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/03/slide7.jpg"><img title="Slide7" src="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/03/slide7.jpg?w=468&amp;h=351" alt="" width="468" height="351" /></a></p>
<p><a href="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/03/slide8.jpg"><img title="Slide8" src="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/03/slide8.jpg?w=468&amp;h=351" alt="" width="468" height="351" /></a></p>
<p><a href="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/03/slide9.jpg"><img title="Slide9" src="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/03/slide9.jpg?w=468&amp;h=351" alt="" width="468" height="351" /></a></p>
<p><a href="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/03/slide10.jpg"><img title="Slide10" src="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/03/slide10.jpg?w=468&amp;h=351" alt="" width="468" height="351" /></a></p>
<p><a href="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/03/slide11.jpg"><img title="Slide11" src="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/03/slide11.jpg?w=468&amp;h=351" alt="" width="468" height="351" /></a></p>
<p><a href="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/03/slide12.jpg"><img title="Slide12" src="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/03/slide12.jpg?w=468&amp;h=351" alt="" width="468" height="351" /></a></p>
<p><a href="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/03/slide13.jpg"><img title="Slide13" src="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/03/slide13.jpg?w=468&amp;h=351" alt="" width="468" height="351" /></a></p>
<p><a href="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/03/slide14.jpg"><img title="Slide14" src="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/03/slide14.jpg?w=468&amp;h=351" alt="" width="468" height="351" /></a></p>
<p><a href="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/03/slide15.jpg"><img title="Slide15" src="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/03/slide15.jpg?w=468&amp;h=351" alt="" width="468" height="351" /></a></p>
<p style="text-align: right;"><em>T. Djamaluddin, Profesor Riset Astronomi Astrofisika, LAPAN</em></p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2012/03/zona-tunggal-waktu-indonesia-mempersatukan-tetapi-berpotensi-menimbulkan-inefisiensi/">Zona Tunggal Waktu Indonesia Mempersatukan, tetapi Berpotensi Menimbulkan Inefisiensi</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2012/03/zona-tunggal-waktu-indonesia-mempersatukan-tetapi-berpotensi-menimbulkan-inefisiensi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tafsir Al-Humazah (II): Gila karena Harta</title>
		<link>http://salmanitb.com/2012/03/tafsir-al-humazah-ii-gila-karena-harta/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2012/03/tafsir-al-humazah-ii-gila-karena-harta/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Mar 2012 04:33:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Salim Rusli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=12210</guid>
		<description><![CDATA[<p>Dalam diri manusia (merujuk pada istilah al-insan dalam Alquran) terkandung dua unsur yaitu fisik dan psikis. Konsep diri manusia dalam psikologi Al-Ghazali membagi al-insan atau self menjadi hati (qolbu), ruh (jiwa), nafs (diri...</p><p><a href="http://salmanitb.com/2012/03/tafsir-al-humazah-ii-gila-karena-harta/">Tafsir Al-Humazah (II): Gila karena Harta</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_12238" class="wp-caption alignleft" style="width: 219px"><a href="http://salmanitb.com/2012/03/tafsir-al-humazah-ii-gila-karena-harta/money-bag/" rel="attachment wp-att-12238"><img class="size-medium wp-image-12238" title="Money Bag" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/03/hugging-money-bag-219x300.jpg" alt="" width="219" height="300" /></a>
<p class="wp-caption-text">(Foto: silviakusada.wordpress.com)</p>
</div>
<p>Dalam diri manusia (merujuk pada istilah <em>al-insan</em> dalam Alquran) terkandung dua unsur yaitu fisik dan psikis. Konsep diri manusia dalam psikologi Al-Ghazali membagi <em>al-insan</em> atau <em>self</em> menjadi hati (<em>qolbu</em>), ruh (jiwa), <em>nafs</em> (diri yang mengandung unsur dan dorongan biologis), serta akal (intelek, rasio). Semuanya merupakan entitas spiritual.</p>
<p>Dalam tradisi psikologi klasik aliran Freudian, personality  mengandung tiga level kesadaran: Id, ego dan superego. Level pertama bersifat biologis meliputi dorongan agresi (Alquran menyebutnya <em>ghadab</em>) dan seksual (<em>syahwat</em>). Level kedua mewakili <em>self</em> atau <em>nafs</em> yang sadar dan berhadapan langsung dengan realitas obyektif. Sedangkan level ketiga mewakili moralitas yang sering dikaitkan dengan spiritualisme.</p>
<p>Apa yang disebut karakter oleh Al-Ghazali atau mekanisme psikis dalam teori psikoanalisis, adalah proses dinamis/psikodinamik yang terjadi pada unsur personality sehingga menentukan apakah seseorang dikatakan  sehat atau mengalami gangguan (psikopatologi). Secara sederhana sehat berarti seimbang, sedangkan gangguan psikopatologi berarti terdapat aspek yang berlebihan dan mengganggu aspek lainnya. Ayat ini menjelaskan sebuah karakter manusia, yaitu seorang pencela dan pengumpat. Yang pertama menunjukkan adanya watak yang cenderung menetap. Sedangkan yang kedua merupakan suatu perilaku insidental.</p>
<p>Mencela dan mengumpat, baik dalam bentuk lisan ataupun perilaku, adalah suatu bentuk agresivitas yang merepresentasikan cinta diri lewat pemenuhan kebutuhan biologisnya. Dua ayat Surat <strong><em>Al-Humazah</em></strong> ini menjelaskan manusia yang hidupnya dikuasai oleh sisi agresivitas dan <em>syahwat</em>, atau Id-nya. Dorongan ini  tiada lain adalah kebutuhan biologis semata, yang baik menurut teori Barat ataupun kaidah agama, sama-sama dianggap berada pada level terendah. Bahkan aliran psikologi humanistik sekalipun menganggap kebutuhan biologis sebagai hal yang paling dasar. Umumnya manusia bergerak ke puncak untuk mencapai kebutuhan tertinggi, yaitu kebutuhan spiritual.</p>
<p>Dorongan Id bukan berarti harus ditiadakan, namun berfungsi untuk kelangsungan hidup semata. Manusia yang hidup hanya berdasarkan dorongan Id, tentu saja sudah mengalami gangguan (<em>psychological disorder</em>). Ego seharusnya mampu mengendalikan antara dorongan Id dengan panduan superego, demikian menurut Freud. Sementara dalam paradigma humanistik, manusia yang sehat akan memenuhi kebutuhan dasar ini untuk kemudian mencapai level yang lebih tinggi, seperti cinta dan penghargaan, aktualisasi serta nilai-nilai spiritual.</p>
<p>Dalam teori <em>psychological disorder</em> Al-Ghazali, orang seperti ini mengalami gangguan yang disebut<em> maliq</em>. Karena dorongan untuk menguasai, akhirnya terjadilah bentuk perilaku yang menyimpang. Orang  yang mengalami gangguan ini menganggap dirinya akan hidup abadi. Karena itu, ia terpaku pada kesejahteraan dirinya sendiri dan menunjukkan perilaku agresif, melukai atau membunuh orang lain untuk mencapai apa yang diinginkannya. Ayat ke-3 Surat <strong><em>Al-Humazah</em></strong> menggambarkannya sebagai: “Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya.”</p>
<p>Kalimat<em> nafs</em> di dalam Alquran sering juga berdekatan dengan<em> fu’adah</em>. Keduanya adalah potensi biologis manusia yang mengandung unsur psikis.  Ayat ke-7 Surat <em><strong>Al-Humazah</strong></em> menjelaskan bahwa <em>af’idah</em>, yaitu bentuk jamak dari <em>fu’adah</em>, akan menerima siksa atas perbuatan ini. Jelaslah bahwa yang mengalami gangguan atau “<em>disorder</em>” adalah sisi <em>nafs/fuadah</em> manusia, bukan elemen ruh atau akalnya. Sebab misalnya—menurut Al-Ghazali—bila yang rusak ada pada aspek <em>qolb</em>, maka<em> al-insan/self</em> akan mengalami disosiasi atau disorientasi realitas. Hal ini adalah sejenis gangguan yang dalam wacana awam sering disebut orang “gila” atau “sakit jiwa”.</p>
<p>Bila dikaji lebih dalam, orang yang mengalami gangguan <em>maliq</em> ini, mungkin hidup sebagai orang yang sangat sehat, berkuasa, terhormat dan memiliki status sosial dan ekonomi yang baik. Mungkin ia akan memiliki pengaruh yang positif di kalangan masyarakatnya. Dengan kelicikannya ia akan mampu menguasai <em>nafs</em> orang lain untuk memenuhi dorongan <em>nafs</em>-nya sendiri.</p>
<p>Dalam teori psikopatologi, orang semacam ini di katakan mengalami gangguan a-sosial. Gangguan ini sangat berbahaya namun umumnya masyarakat tidak mengenalnya karena mereka sangat pintar bergaul dan memiliki status yang baik dalam lingkaran sosial. Lagi pula secara psikologis (fisik maupun mental) ia tampak waras. Namun mereka tidak memiliki kebutuhan spiritual, meskipun mungkin dapat saja berpura-pura menunjukkan kualitas spiritual untuk mengelabui orang lain.</p>
<p>[Dikutip dari makalah Dra. Iip Fariha yang disampaikan dalam Diskusi Tafsir Ilmiah Surat Al-Humazah Kamis sore (10/11)]</p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2012/03/tafsir-al-humazah-ii-gila-karena-harta/">Tafsir Al-Humazah (II): Gila karena Harta</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2012/03/tafsir-al-humazah-ii-gila-karena-harta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tafsir Al-Humazah (I): Pengumpat yang Sakit Jiwa</title>
		<link>http://salmanitb.com/2012/03/tafsir-al-humazah-i-pengumpat-yang-sakit-jiwa/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2012/03/tafsir-al-humazah-i-pengumpat-yang-sakit-jiwa/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Mar 2012 00:55:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Salim Rusli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=12208</guid>
		<description><![CDATA[<p>“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela. Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya.”(Q.S. Al-Humazah [104]:1-2) Dilihat dari struktur bahasa, kedua ayat di atas sebenarnya adalah satu kesatuan. Ayat kedua mendefinisikan ayat pertama. Sehingga, bila digabung...</p><p><a href="http://salmanitb.com/2012/03/tafsir-al-humazah-i-pengumpat-yang-sakit-jiwa/">Tafsir Al-Humazah (I): Pengumpat yang Sakit Jiwa</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_12234" class="wp-caption alignleft" style="width: 300px"><a href="http://salmanitb.com/2012/03/tafsir-al-humazah-i-pengumpat-yang-sakit-jiwa/batman-arkham-asylum-joker/" rel="attachment wp-att-12234"><img class="size-medium wp-image-12234" title="Batman-arkham-asylum-joker" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/03/Batman-arkham-asylum-joker-300x285.jpg" alt="" width="300" height="285" /></a>
<p class="wp-caption-text">(Gambar: batman.wikia.com)</p>
</div>
<blockquote><p>“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela. Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya.”(Q.S. Al-Humazah [104]:1-2)</p></blockquote>
<p>Dilihat dari struktur bahasa, kedua ayat di atas sebenarnya adalah satu kesatuan. Ayat kedua mendefinisikan ayat pertama. Sehingga, bila digabung keduanya akan demikian : “Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela yaitu orang yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya.” Seseorang menjadi “pengumpat” dan “pencela” dalam ayat ini karena keberhasilannya mengumpulkan dan memliki kekayaan yang besar.</p>
<p>Mengenai <em>asbabun nuzul</em>-nya, diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Utsman dan Abdullah bin Umar, keduanya berkata, “Masih terdengar dalam telinga kami, bahwa ayat ini  turun sehubungan dengan Ubay bin Khalaf, seorang hartawan Quraisy, ia mencemooh dan mengolok-olok Rasulullah Saw. Ia beranggapan bahwa hartanya akan membuatnya kekal sehingga tidak perlu beribadah kepada siapapun (Asbabun Nuzul, Studi Pendalaman Alquran: 948).</p>
<p>Kedua ayat ini juga terkait dengan surat sebelumnya yaitu Surat <strong><em>At-Takaatsur</em></strong> ayat 1 dan 2. Tampak jelas bahwa “bermegah-megahan”  yaitu “mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya”  telah menyebabkan manusia “lalai sampai ke liang kubur ( mati)”. Kemudian pada surat selanjutnya yaitu <strong><em>Al-Ashr</em></strong> ayat 1, Allah bersumpah dengan waktu. Kebanyakan manusia merugi dengan waktu (hidupnya) sebab mereka “lalai dan tidak berbuat kebaikan”. Dapat dipastikan bahwa kelalaian itu adalah karena mengumpulkan dan menghitung harta. Keduanya telah menguras umur manusia sampai ke liang kubur.</p>
<p>Manusia pada dasarnya akan cenderung membanggakan apa yang telah berhasil ia raih. Harta adalah sesuatu yang sementara ini dianggap sebagai hasil jerih payah pribadi atau personal achievement. Karena itu, status ekonomi menjadi suatu keunggulan dan patut dijadikan sandaran atau kebanggaan hidup. Tak heran, bila dengan harta manusia merasa diri telah berkuasa dan merasa mampu menguasai kehidupannya.</p>
<p>Tulisan pada bagian selanjutnya akan membahas sisi psikologis karakter seorang pencela dan pengumpat, juga sisi obyektif dan ekonomis dari harta.</p>
<p align="JUSTIFY"><span style="font-family: Times New Roman,serif;">[</span><span style="font-family: Times New Roman,serif;"><em>Dikutip dari makalah Dra. Iip Fariha yang disampaikan dalam Diskusi Tafsir Ilmiah Surat Al-Humazah Kamis sore (10/11)</em></span><span style="font-family: Times New Roman,serif;">]</span></p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2012/03/tafsir-al-humazah-i-pengumpat-yang-sakit-jiwa/">Tafsir Al-Humazah (I): Pengumpat yang Sakit Jiwa</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2012/03/tafsir-al-humazah-i-pengumpat-yang-sakit-jiwa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Studia Humanika: Jejak Awal Pemikiran Husserl</title>
		<link>http://salmanitb.com/2012/03/studia-humanika-jejak-awal-pemikiran-husserl/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2012/03/studia-humanika-jejak-awal-pemikiran-husserl/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Mar 2012 01:24:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tristia Riskawati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=12050</guid>
		<description><![CDATA[<p>Dalam hampir setiap perbincangan mengenai fenomenologi, namanya kerap disebut. Bapak Fenomenologi merupakan julukan yang disematkan kepadanya. Adalah Edmund Husserl, sang penggagas sekolah studi fenomenologi pada awal abad 20. Pada saat zaman di mana...</p><p><a href="http://salmanitb.com/2012/03/studia-humanika-jejak-awal-pemikiran-husserl/">Studia Humanika: Jejak Awal Pemikiran Husserl</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_12073" class="wp-caption alignleft" style="width: 300px"><a href="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/03/edmund-husserl.jpg"><img class="size-medium wp-image-12073" title="edmund-husserl" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/03/edmund-husserl-300x216.jpg" alt="" width="300" height="216" /></a>
<p class="wp-caption-text">sumber gambar http://www.biografias-de.com/edmund-husserl</p>
</div>
<p>Dalam hampir setiap perbincangan mengenai fenomenologi, namanya kerap disebut. Bapak Fenomenologi merupakan julukan yang disematkan kepadanya. Adalah Edmund Husserl, sang penggagas sekolah studi fenomenologi pada awal abad 20.</p>
<p>Pada saat zaman di mana sains mencapai titik jenuhnya (<em>collapse of modern science</em>), Husserl menafikan positivisme mutlak. Husserl juga mencetuskan kritik pada pondasi logika historisisme dan psikologi. Husserl percaya bahwa pengalaman adalah sumber dari semua pengetahuan. Ia menciptakan metode reduksi fenomenologis di mana subjek dapat langsung mengetahui esensi dari sebuah fenomena.</p>
<p>Edmund Husserl lahir pada 8 April 1859 di Prostejov, Kekaisaran Austria (sekarang sudah menjadi bagian Republik Ceko). Di <em>University of Leipzig,</em> Husserl pertama kali mencatatkan diri sebagai mahasiswa. Sedari tahun 1876-1878, ia mempelajari matematika, fisika, dan astronomi. Husserl mulai menggali studi filsafat semenjak mengikuti kuliah Franz Brentano pada tahun 1884 di <em>University of Vienna</em>. Kemudian, Husserl menjadi privatdozent di  Martin Luther University of Halle-Wittenberg.</p>
<p>Jika dipetakan, terdapat tiga fase perkembangan pemikiran Husserl. Fase pertama adalah periode pra-fenomenologi tahun-tahun di Halle (volume I <em>Logische Unterschungen</em>). Fase kedua adalah periode fenomenologi sebagai epistemologi terbatas (volume II <em>Logische Unterschungen</em>). Sedangkan fase ketiga adalah periode fenomenologi murni sebagai pondasi universal filsafat dan ilmu (1906). Khusus untuk fase ketiga, transendentalisme baru dan karakteristik idealisme fenomenologi merupakan fokus utama.</p>
<p>Berlatar pendidikan matematika, fase pra-fenomenologi Husserl memiliki titik berangkat dari filosofi matematika dan geometri. Husserl mengembangkan teori umum sistem inferensial. Setiap ilmu, termasuk matematika, ia pandang sebagai sistem proposisi yang saling berhubungan dengan satu set hubungan inferensial. Cara terbaik untuk mempelajari sifat sistem proporsional tersebut adalah dengan mempelajari manifestasi linguistik yang dimiliki.</p>
<p>Matematika sendiri merupakan rasionalisme murni. Dalil-dalil yang didapat tidak didapatkan melalui pengalaman empiris, melainkan dari hasil daya pikir. Bertrand Russel, salah satu ahli matematika betul-betul ingin bidang studi matematika terlepas dari pengalaman. Husserl sendiri menjuluki ilmu matematika sebagai <em>The Ideal of Rigorous Science</em>. Matematika, karena tidak didapatkan secara empiris, sering kali dikategorikan sebagai sebuah bahasa, bukan sains.</p>
<p>Kala itu, kaum objektivis memisahkan deduktif murni dan empiris. Seiring dengan berkembangnya fenomenologi murni, sikap subjektif justru diakui sebagai sumber dari semua objektivitas. Kaum objektivis sepakat bahwa antara objek dengan subjek harus memiliki distansi (jarak), bahkan cenderung terpisah. Nah, malah, kesepakatan ini dinilai kaum subjektivis sebagai sebuah bentuk kesubjektifan.</p>
<p>Dalam sudut pandang fenomenologi, kaum objektivis yang bilang kuantitatif itu objektif, maka ia subjektif. Sedangkan kaum subjektivis yang mengakui ada keterlibatan intensional antara subjek dengan objek, malah dianggap “objektif”. Sifat subjektif dipandang sebagai sesuatu yang sifat “transendental”-nya lebih tinggi dari psikologi pemikiran.</p>
<p>Husserl ingin membangun pondasi-pondasi filsafat. Tidak seperti beberapa filsuf lain yang menawarkan pandangan menyeluruh, Husserl membongkar-pasang pemikiran-pemikiran yang telah ada sebelumnya. Dengan kata  lain, ia ingin membangun filsafat sebagai pengetahuan yang <em>distinct and clear</em> (memiliki ciri tersendiri dan khas). Oleh karena sifat Husserl yang konstruktif dalam membangun filsafat, ide-idenya dinamis, tidak statis.</p>
<p>Sains modern tak luput dari kritik Husserl. Menurutnya, jika sains terlalu berfokus pada positivistik, terdapat ketakutan bahwa sains tidak bisa memaknai lebih dalam kehidupan manusia. Sains dan ilmu sosial harus memiliki senjata untuk lebih memaknai eksistensi manusia.</p>
<p>Namun, Husserl tidak seperti filsuf lain yang menolak positivisme: beralih pada super-naturalisme yang mempercayai ada kekuatan di balik yang wujud (ada) atau supra-logis dari Immanuel Kant. Namun, Husserl pun tidak menerima naturalisme (lawan dari super-naturalisme) bulat-bulat. Hal ini dikarenakan acapkali terjadi kesalahan ketika proses naturalisme-induktif tidak memadai menggambarkan persoalan-persoalan dan kesalehan tertinggi.</p>
<p>Seperti contoh, ketika menilai sebuah batu yang keras. Menurut Husserl, tidaklah serta merta seseorang memutus hubungan antar subjek (peneliti) dengan objek (batu) yang mempengaruhi disematkannya sifat &#8220;keras&#8221; pada batu tersebut. Namun, yang cukup dapat dilakukan adalah dengan mengabaikan hubungan tersebut dan berfokus pada objek.</p>
<p>Terdapat istilah &#8220;turn to the object&#8221;. Bagi Husserl, perlu bagi subjek untuk kembali pada objek. Namun, bukan objek semata-mata sebagai &#8220;benda&#8221; saja, melainkan juga sebagai &#8220;hal&#8221;. &#8220;Hal&#8221; tersebut termasuk objek yang tidak diterima panca indra. Husserl sendiri berpendapat, pemikiran-pemikiran yang disengaja seperti misal kuda Pegassus merupakan sebuah objek.</p>
<p>Pendasari pondasi sains, bagi Husserl, didasarkan pada hubungan antara subjek dan objek. Namun, dengan syarat terdapat proses kembali kepada objek yang tampak kepada subjek terlebih dahulu.</p>
<p>Jika dihubungkan dengan contoh real, misalkan seorang koki hotel dan tukang sayur ditugaskan untuk menilai kadar keasinan sesendok kuah sayur. Tentu, jawaban mereka akan berbeda. Ini karena fenomenologi (penghayatan subjek kepada objek) yang dimiliki koki dan fenomenologi yang dimiliki tukang sayur sudah tentu berbeda.***</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: right;"><em>*Disarikan dari kuliah Studia Humanika Pengantar Fenomenologi <strong>Pertemuan 3: Kelahiran Fenomenologi (Fenomenologi Murni Edmund Husserl)</strong> pada Kamis,  24 Februari 2012 di GSS Masjid Salman ITB.</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>Pemateri dalam kuliah ini adalah Dr. Irawan,SPd., M.Hum. (Penulis buku</em><strong>Animal Ambiguitatis: Memahami Manusia Melalui Pemikiran Maurice Merleau-Ponty dan Jacques Lacan</strong><em>).</em></p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2012/03/studia-humanika-jejak-awal-pemikiran-husserl/">Studia Humanika: Jejak Awal Pemikiran Husserl</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2012/03/studia-humanika-jejak-awal-pemikiran-husserl/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Minified using disk: basic
Page Caching using disk: enhanced

Served from: salmanitb.com @ 2012-05-23 05:01:53 -->
