<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Masjid Salman ITB &#187; Kajian</title>
	<atom:link href="http://salmanitb.com/category/kajian/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://salmanitb.com</link>
	<description>Menuju Masyarakat Informasi Islami</description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Feb 2012 05:42:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Tafsir Surat Quraisy (I): Para Pengelana Musiman</title>
		<link>http://salmanitb.com/2012/02/tafsir-surat-quraisy-i-para-pengelana-musiman/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2012/02/tafsir-surat-quraisy-i-para-pengelana-musiman/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 04:53:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Salim Rusli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir Ilmiah Salman]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir Surat Quraisy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=11373</guid>
		<description><![CDATA[<p>Pengaruh cuaca terhadap aktivitas manusia menjadi sebuah fenomena penting yang diangkat Alquran lewat Surat Quraisy. Fenomena ini dibahas dalam Diskusi Tafsir Ilmiah Salman, dengan pembahas aspek ilmiah, Dr. Armi Susandi dari Program Studi...</p><p><a href="http://salmanitb.com/2012/02/tafsir-surat-quraisy-i-para-pengelana-musiman/">Tafsir Surat Quraisy (I): Para Pengelana Musiman</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_11375" class="wp-caption aligncenter" style="width: 300px"><a href="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/02/traveller-man-photographer-thinking-sea.jpeg"><img class="size-medium wp-image-11375" title="traveller-man-photographer-thinking-sea" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/02/traveller-man-photographer-thinking-sea-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a>
<p class="wp-caption-text">gambar dari http://desinceremafaza.files.wordpress.com/2011/09/traveller-man-photographer-thinking-sea.jpeg?w=300&amp;h=199</p>
</div>
<p>Pengaruh cuaca terhadap aktivitas manusia menjadi sebuah fenomena penting yang diangkat Alquran lewat Surat <em><strong>Quraisy</strong></em>. Fenomena ini dibahas dalam Diskusi Tafsir Ilmiah Salman, dengan pembahas aspek ilmiah, Dr. Armi Susandi dari Program Studi Meteorologi ITB. Sementara dari aspek bahasa, hadir Ustadz Aceng Saefuddin dari Tim Tafsir Divisi Pelayanan dan Dakwah (DPD) Salman ITB. Akan tetapi aspek bahasa yang dibahas dalam tulisan ini bersumber dari makalah Ustadz Zulkarnain, rekan Aceng dari Tim Tafsir DPD Salman ITB.</p>
<p>Zulkarnain dalam makalahnya menerangkan bahwa Surat <em><strong>Quraisy</strong></em> merupakan surat ke-29 dari segi urutan turunnya. Surat ini turun sebelum Surat <em>At-Tin</em>. Namun, dalam mushaf Utsmani surat ini bernomor urut 106. Ubay bin Ka’ab, salah seorang sahabat Nabi menjadikan surat ini bagian dari Surat <em>Al-Fiil</em>. Oleh karena itu, dalam mushaf Ubay bin Ka’ab, Surat <em><strong>Quraisy</strong></em> ini tidak diawali dengan basmalah sebagai batas pemisah antara satu surat dengan surat yang lain.</p>
<p>Bahkan dalam salah satu riwayat dikisahkan, Umar bin Khatab tatkala shalat Maghrib pada rakaat kedua membaca Surat <em>Al-Fiil</em> dan <em><strong>Quraisy</strong></em> tanpa dipisah dengan basmalah. Akan tetapi pendapat yang menyatakan bahwa Surat <em><strong>Quraisy</strong></em> dan <em>Al-Fiil</em> adalah satu surat, tidak didukung oleh kesepakatan (<em>ijma</em>) seluruh ulama.</p>
<p><strong>Kabilah Penghimpun </strong></p>
<blockquote><p>
“(1) Karena kebiasaan kaum Quraisy; (2) (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas; (3) maka hendaklah mereka menyembah Tuhan (pemilik) rumah ini (Ka’bah); (4) Yang telah member makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa ketakutan.”</p></blockquote>
<p>Menurut Zulkarnain, huruf <em>lam</em> di permulaan ayat bermakna bahwa Allah Swt. membinasakan pasukan bergajah untuk menjamin kelancaran jalur perdagangan kabilah Quraisy. Mereka memang telah terbiasa melakukan perjalanan dagang pada musim dingin dan musim panas.</p>
<p>Kata <em><strong>ilaf</strong></em> berasal dari kata <em>alifa</em> yang artinya “terbiasa”, “jinak” dan “harmonis”. Imam Ar-Raghib Al-Asfahani berpendapat bahwa kata itu mempunyai arti “keterkumpulan dalam harmonisme”. Lafadz ini juga menggambarkan keharmonisan kabilah quraisy dalam memelihara Ka’bah dan sifat ramah tatkala menerima setiap tamu yang berziarah ke sana.</p>
<p>Kata <em><strong>Quraisy</strong></em> diambil dari kata <em>Al-Taqarrusy</em> yang artinya “keterhimpunan”. Anggota suku ini tadinya berpencar-pencar kemudian menyatu dalam bentuk yang sangat kokoh sehingga mereka dikenal dengan nama itu. Ada yang berpendapat bahwa asal katanya adalah kata <em>qarasya</em> yang artinya “berusaha” atau “mencari”. Ada juga yang berpendapat istilah ini berasal dari kata <em>qirsy</em> yang artinya “ikan hiu”. Ikan hiu adalah ikan yang sangat kuat, bahkan mampu menjungkir balikkan perahu-perahu nelayan di lautan. Kabilah ini dinamai “Quraisy” karena kekuatan dan berpengaruhnya mereka di kalangan orang-orang Arab.</p>
<p>Zulkarnain melanjutkan, orang-orang Arab punya sebuah kebiasaan sebelum terbentuknya kabilah <strong><em>Quraisy</em></strong>. Pada musim paceklik jika seorang ayah tidak sanggup memberi makan anggota keluarganya, maka ia akan membawa mereka ke suatu tempat. Di tempat tersebut mereka akan dibuatkan kemah yang disebut dengan <em>i’tifar</em> sampai mereka meninggal.</p>
<p>Suatu saat ada satu kabilah bernama Bani Makhzum yang tidak sanggup memberi makan anggota keluarganya dan dibawa ke kemah <em>i’tifar</em>. Kejadian tersebut sampai beritanya ke telinga Hasyim bin Abdul Manaf (buyut Rasulullah Saw). Lalu Beliau mengumpulkan seluruh sanak keluarganya untuk bergotong royong membantu mereka yang kelaparan. Akhirnya, setiap ada kabilah yang kelaparan maka kabilah Bani Hasyim-lah yang membantu mereka. Atas dasar inilah mereka disebut dengan kabilah <strong><em>Quraisy</em></strong>.</p>
<p>Kata <em>rihlah</em> terambil dari kata rahala yang artinya “pergi ke tempat yang relatif jauh”. Istilah ini mengacu pada bepergiannya kaum <em><strong>Quraisy</strong></em> ke tempat yang jauh. Pada musim dingin mereka ke Yaman, dan pada musim panas ke Syam (sekarang Syiria dan Lebanon).</p>
<p>Selanjutnya pada ayat ke-3, <em>falya’ budu</em> adalah kata kerja perintah. Perintahnya adalah agar kabilah <em><strong>Quraisy</strong></em> mensyukuri nikmat-nikmat Allah dengan cara beribadah kepada-Nya. Ibnu Taimiyah memberikan definisi ibadah sebagai “suatu istilah yang mencakup segala sesuatu yang diridhai dan dicintai oleh Allah, perkataan atau perbuatan, yang <em>zhahir</em> ataupun <em>bathin</em>”. Ibadah ini ditujukan kepada Tuhan yang memiliki Ka’bah.</p>
<p>Zulkarnain mengakhiri bahasannya dengan tinjauan mengenai ayat keempat. Menurutnya, Allah menjelaskan bahwa ada dua kenikmatan yang telah diberikan kepada kabilah Quraisy. Pertama, mencukupi kebutuhan mereka berupa sandang, pangan dan papan. Kedua, menganugerahkan kepada mereka stabilitas keamanan.</p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2012/02/tafsir-surat-quraisy-i-para-pengelana-musiman/">Tafsir Surat Quraisy (I): Para Pengelana Musiman</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2012/02/tafsir-surat-quraisy-i-para-pengelana-musiman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memahami Badai Tropis, Angin Kencang, dan Puting Beliung</title>
		<link>http://salmanitb.com/2012/02/11339/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2012/02/11339/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Feb 2012 00:55:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Thomas Djamaluddin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=11339</guid>
		<description><![CDATA[<p>(Gambar-gambar diambil dari situs www.lapan.go.id, Wikipedia, www.bom.gov.au, dan severe.worldweather.wmo.int/) Pekan terakhir Januari 2012 sebagian besar wilayah Indonesia dilanda cuaca ekstrem yang dipicu oleh terbentuknya daerah tekanan rendah (tropical low) di Selatan Jawa yang...</p><p><a href="http://salmanitb.com/2012/02/11339/">Memahami Badai Tropis, Angin Kencang, dan Puting Beliung</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/01/badai-iggy-mtsat1.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter" title="Badai Iggy-MTSAT" src="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/01/badai-iggy-mtsat1.jpg" alt="" width="468" height="468" /></a>(Gambar-gambar diambil dari situs www.lapan.go.id, Wikipedia, www.bom.gov.au, dan severe.worldweather.wmo.int/)</p>
<p>Pekan terakhir Januari 2012 sebagian besar wilayah Indonesia dilanda <a href="http://tdjamaluddin.wordpress.com/2012/01/26/memahami-dan-mewaspadai-cuaca-ekstrem-saat-musim-hujan-di-indonesia/" target="_blank">cuaca ekstrem</a> yang dipicu oleh terbentuknya daerah tekanan rendah (tropical low) di Selatan Jawa yang kemudian tumbuh menjadi badai (siklon) tropis Iggy. Pusaran awan di Barat Australia pada citra satelit di atas adalah badai tropis Iggy. Pergerakannya digambarkan pada peta berikut ini:</p>
<p><a href="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/01/badai-tropis-iggy.png" target="_blank"><img class="aligncenter" title="Badai tropis Iggy" src="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/01/badai-tropis-iggy.png" alt="" width="468" height="292" /></a></p>
<p>Badai secara umum dikenal sebagai angin topan, taifun, atau siklon. Bagaimana terbentuknya badai tropis dan kaitannya dengan angin kencang di Indonesia? Ringkasnya, badai tropis terjadi karena adanya daerah tekanan rendah di Selatan atau Utara Indonesia yang memicu pengalihan massa udara dengan kecepatan tinggi ke daerah tekanan rendah itu yang menyebabkan fenomena angin kencang. Badai tropis adalah makna umum yang bermula dari wilayah sekitar daerah tropis, baik di belahan Selatan maupun Utara. Namun dalam konteks musim hujan, fenomena angin kencang terjadi pada kondisi badai tropis di belahan Selatan. Badai tropis di belahan Utara yang terjadi pada saat matahari berada di belahan Utara bisa dijelaskan dengan mekanisme yang sama.</p>
<p>Angin sesungguhnya adalah fenomena pemindahan massa udara dari daerah tekanan tinggi ke daerah tekanan rendah.  Pamanasan matahari yang menyebabkan musim panas di belahan Selatan  menyebabkan tekanan udara di belahan bumi Selatan relatif lebih rendah daripada wilayah musim dingin di belahan utara. Maka udara mengalir dari Utara ke Selatan yang kita kenal sebagai angin pasat Asia (monsun Asia) dengan disertai pergeseran zona konvergensi ke Selatan. Zona konvergensi yang dikenal sebagai ITCZ (Inter-Tropical Convergence Zone) merupakan zona pertemuan angin dari Utara dan dari Selatan yang sekaligus merupakan zona pembentukan awan yang sangat intensif. Adanya zona konvergensi (ITCZ) itulah yang menyebabkan Indonesia banyak tertutup awan yang berarti juga banyak hujan. Itulah musim hujan di Indonesia. Dalam kondisi normal, angin pasat Asia kecepatannya tidak terlalu besar, oleh karenanya angin ini dulu banyak dimanfaatkan oleh para pedagang antarbenua.</p>
<p>Badai tropis lazim terjadi pada musim hujan di Indonesia, sekitar Desember – Maret akibat dinamika atmosfer di bumi belahan Selatan, saat matahari berada di Selatan. Bagaimana bisa terjadi? Dalam kondisi tertentu, kenaikan suhu muka laut bisa memicu pembentukan daerah tekanan rendah yang kemudian disertai dengan konveksi (naiknya udara basah yang hangat).  Itulah sebabnya badai hanya terjadi di lautan, walau kadang dalam pergerakannya bisa saja berlanjut ke daratan. Karena ini melibatkan dinamika udara skala regional, maka udara di wilayah sekitarnya juga terpengaruh dengan terjadinga aliran udara secara massif menuju daerah tekanan rendah yang menjadi  titik pusaran tersebut. Itulah yang menyebabkan terjadinya angin kencang di wilayah yang luas. Karena wilayah konvergensi juga berkaitan dengan wilayah pertumbuhan awan yang aktif, maka angin kencang itu sering disertai dengan hujan lebat.  Di daerah pantai, angin kencang bisa menyebabkan gelombang tinggi.</p>
<p>Peta di bawah ini menunjukkan kondisi anomali suhu permukaan laut saat terjadinya daerah tekanan rendah di Selatan Jawa sebelah Barat Australia dan pola aliran angin yang membentuk pusaran. Perhatikan, arah anginnya. Efek koriolis menyebabnya angin dari Utara ketika melintasi ekuator di belokkan ke arah Timur. Angin dari Selatan akan dibelokkan ke arah Barat. Hal yang sama terjadi juga pada aliran angin yang menujuk daerah tekanan rendah. Di sekitar daerah tekanan rendah, angin dari Utara di belokkan ke arah Timur dan angin dari arah Selatan di belokkan ke arah Barat. Maka terjadilah pusaran dengan arah searah jarum jam. Grafis mekanisme efek koriolis penyebab pusaran angin dan konveksi di pusat pusaran di tunjukkan juga di bawah ini. Di titik pusaran itu terjadi konveksi yang sangat aktif, massa udara basah yang hangat naik dengan cepat ke atas.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/01/sst-anomaly-230112.gif" target="_blank"><img title="SST-anomaly-230112" src="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/01/sst-anomaly-230112.gif" alt="" width="468" height="255" /></a></p>
<p><a href="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/01/angin-240112-1200z.png" target="_blank"><img class="aligncenter" title="Angin 240112-1200Z" src="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/01/angin-240112-1200z.png" alt="" width="468" height="296" /></a></p>
<p><a href="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/01/efek-koriolis-pembentuk-badai-selatan1.png" target="_blank"><img class="aligncenter" title="Efek koriolis pembentuk badai - Selatan" src="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/01/efek-koriolis-pembentuk-badai-selatan1.png?w=466&amp;h=444" alt="" width="466" height="444" /></a></p>
<p><a href="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/01/dinamika-atmosfer-pembentuk-badai.png" target="_blank"><img class="aligncenter" title="Dinamika atmosfer pembentuk badai" src="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/01/dinamika-atmosfer-pembentuk-badai.png" alt="" width="468" height="235" /></a></p>
<p>Kalau ada daratan yang dilalui pusaran badai, kerusakan hebat akan terjadi, karena selain pusaran angin yang sangat kencang, aliran udara naik juga akan menarik segala sesuatu yang dilaluinya. Untungnya badai tropis tidak akan pernah mencapai wilayah ekuator. Jadi Indonesia aman dari dampak langsung badai tropis, tetapi tetap akan terdampak oleh angin kencangnya. Mengapa tidak akan pernah mencapai Indonesia? Tidak adanya efek koriolis (gerak melengkung di suatu bidang yang berputar) di daerah ekuator yang menyebabkan pusaran angin tidak terjadi. Itulah sebabnya tidak akan pernah ada bagai tropis yang akan melintasi Indonesia, seperti ditunjukan pada rekam jejak badai 1985 – 2005 berikut ini.</p>
<p><a href="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/01/global_tropical_cyclone_tracks.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter" title="Global_tropical_cyclone_tracks" src="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/01/global_tropical_cyclone_tracks.jpg" alt="" width="468" height="234" /></a></p>
<p>Masyarakat, termasuk media massa sering menyamakan angin kencang dengan puting beliung (angin puyuh).  Angin kencang adalah efek dari terjadinya daerah tekanan rendah di lautan yang tumbuh menjadi badai tropis. Angin kencang cakupan wilayahnya sangat luas dan bisa berlangung berhari-hari. Sedangkan puting beliung bersifat lokal (misalnya satu kampung) dan hanya berlangsung beberapa menit saja. Puting beliung sesungguhnya adalah badai skala kecil (mesocyclone). Kejadian puting beliung bukan di lautan tetapi di daratan dan biasanya terjadi pada musim pancaroba, peralihan musim hujan ke musim kemarau (Maret – Mei) atau peralihan musim kemarau ke musim hujan (September – November). Mekanismenya hampir sama, akibat efek pemanasan dan dinamika atmosfer. Hanya saja, puting beliung dipicu efek pemanasan lokal di daratan. Pusarannya bukan disebabkan efek koriolis, tetapi oleh dinamika atmosfer lokal. Pada musim pancaroba, terjadi peralihan angin dari Selatan ke Utara (Maret – Mei) atau dari Utara ke Selatan (September – November). Pada muism pancaroba itulah distribusi panas di wilayah Indonesia seolah terkungkung di dalam wilayah Indonesa yang memicu <a href="http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/04/07/potensi-kering-pada-musim-pancaroba-menuju-kemarau-2011/" target="_blank">temperatur tinggi di beberapa kota</a>.  Pemanasan lokal di wilayah minim pepohonan pada siang hari yang terik disertai dengan dinamika atmosfer lokal sedemikian rupa, maka akan terjadi udara basah yang hangat akan naik cepat membentuk awan hujan yang tebal. Naiknya udara basah dengan cepat bisa mencapai ketinggian beberapa  kilometer yang suhunya mencapai titik beku sehingga sebagian titik-titik air berkondensasi membentuk butiran es. Kajadian selanjutnya adalah adanya angin yang turun dengan cepat disertai dengan hujan lebatdan kadang-kadang disertai juga dengan butiran-butiran es. Naiknya udara dengan cepat disertai dengan pusaran angin yang bersifat lokal itulah yang dinamakan puting beliung. Ini sangat merusak, tetapi bersifat lokal dan waktunya sangat singkat.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/01/angin-060411-pancaroba.png" target="_blank"><img title="Angin 060411-pancaroba" src="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/01/angin-060411-pancaroba.png" alt="" width="468" height="350" /></a></p>
<p style="text-align: center;">Pola angin yang tak teratur pada musim pancaroba di Indonesia</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/01/puting-beliung.png" target="_blank"><img title="Puting beliung" src="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/01/puting-beliung.png" alt="" width="455" height="282" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/01/hujan-es-di-bandung-maret-2008-bandung-detik-com.jpg" target="_blank"><img title="Hujan es di Bandung Maret 2008-Bandung-detik-com" src="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/01/hujan-es-di-bandung-maret-2008-bandung-detik-com.jpg" alt="" width="450" height="316" /></a></p>
<p style="text-align: center;">Hujuan es di Bandung Maret 2008 (foto dari http://bandung.detik.com)</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: right;"><em>T. Djamaluddin, Peneliti Hubungan Matahari-Bumi, LAPAN, Deputi Sains, LAPAN (Membawahi Pusat Sains Atmosfer dan Pusat Sains Antariksa)</em></p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2012/02/11339/">Memahami Badai Tropis, Angin Kencang, dan Puting Beliung</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2012/02/11339/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Benda Jatuh Antariksa</title>
		<link>http://salmanitb.com/2012/01/benda-jatuh-antariksa/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2012/01/benda-jatuh-antariksa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Jan 2012 01:00:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Thomas Djamaluddin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=11271</guid>
		<description><![CDATA[<p>Apakah Benda Jatuh Antariksa itu? Benda jatuh antariksa adalah benda-benda yang jatuh dari antariksa yang memasuki atmosfer bumi pada ketinggian sekitar 100 km, terdiri dari sampah antariksa dan meteorit. Sampah antariksa terdiri dari...</p><p><a href="http://salmanitb.com/2012/01/benda-jatuh-antariksa/">Benda Jatuh Antariksa</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2010/06/mir_reentry1.jpg"><img class="alignright" title="Mir_reentry" src="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2010/06/mir_reentry1.jpg?w=468" alt="" width="148" height="217" /></a></p>
<p><strong>Apakah Benda Jatuh Antariksa itu?</strong></p>
<p>Benda jatuh antariksa adalah benda-benda yang jatuh dari antariksa yang memasuki atmosfer bumi pada ketinggian sekitar 100 km, terdiri dari sampah antariksa dan meteorit.</p>
<p><em>Sampah antariksa</em> terdiri dari bekas roket atau satelit dan pecahannya. Sampah antariksa secara umum dapat diperkirakan waktu dan lokasi jatuhnya berdasarkan basis data sampah antariksa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2010/06/space-debris2.png"><img class="aligncenter" title="Space Debris" src="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2010/06/space-debris2.png?w=468" alt="" /></a>Sampah antariksa makin padat</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><a href="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2010/06/sampah-antariksa-sl41.jpg"><img class="aligncenter" title="Sampah Antariksa SL4" src="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2010/06/sampah-antariksa-sl41.jpg?w=468" alt="" /></a>Sampah antariksa bekas motor roket Rusia yang jatuh di Gorontalo (1981) dan Lampung (1988)</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><a href="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2010/06/sampah-antariksa-cz31.png"><img class="aligncenter" title="Sampah Antariksa CZ3" src="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2010/06/sampah-antariksa-cz31.png?w=300&amp;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a>Sampah antariksa pecahan roket RR Cina yang jatuh di Bengkulu (2003)</p>
<p style="text-align: center;">
<p><em>Meteorit</em> berasal dari batuan di tata surya terdiri dari pecahan asteorid, komet, atau batuan tata surya lainnya. Secara umum batuan tata surya dinamakan meteoroid. Ketika memasuki atmosfer bumi dan membara, fenomena tersebut dinamakan meteor. Ketika bersisa mencapai permukaan bumi disebut meteorit. Waktu dan lokasi jatuh meteorit tidak bisa diperkirakan. Meteorit terkait dengan meteor sporadis (tak tentu waktunya). Selain meteor sporadis, kita juga mengenal hujan meteor yang waktu dan arah munculnya tertentu. Hujan meteor disebabkan oleh masukknya debu-debu sisa komet yang ukurannya kecil sehingga habis terbakar hanya dalam waktu beberapa detik saja.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2010/06/meteorit-pontianak.jpg"><img class="aligncenter" title="Meteorit Pontianak" src="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2010/06/meteorit-pontianak.jpg?w=300&amp;h=201" alt="" width="300" height="201" /></a>Meteorit sebesar buah pepaya yang jatuh di Pontianak (2003)</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><a href="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2010/06/meteorit-bone.jpg"><img class="aligncenter" title="Meteorit Bone" src="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2010/06/meteorit-bone.jpg?w=300&amp;h=236" alt="" width="300" height="236" /></a>Meteorit besar diperkirakan berukuran 10 meter jatuh di perairan Bone (Sulawesi Selatan) Oktober 2009 menyebabkan ledakan setara 50 Kilo ton TNT (3-4 kali kekuatan bom atom Hiroshima).</p>
<p style="text-align: center;">
<p>Batuan dan debu antariksa (meteoroid) memasukki bumi lebih dari 25.000 ton per tahun dalam berbagai ukuran. Debu beru mikrometeoroid memasuki bumi tanpa proses terbakar, turun secara perlahan. Untuk batuan (termasuk yang kompisisi utamanya logam), semakin besar ukurannya semakin jarang masuk ke bumi. Untuk ukuran kecil, sekitar ukuran bola, rata-rata ada sekitar 500 meteorit yang jatuh per tahun. Luasnya bumi yang tidak berpenghuni (berupa lautan, hutan, atau gurun) menyebabkan sebagian besar meteorit jatuh tidak diketahui manusia.</p>
<p><strong>Berbahayakah?</strong></p>
<p>Secara umum bahaya benda jatuh disebabkan oleh tumbukannya. Tetapi kemungkinan tumbukan mengenai manusia atau fasilitas milik manusia sangat-sangat kecil. Sepanjang sejarah manusia, dari sekian banyak meteorit hanya ada beberapa kasus yang jatuh mengenai manusia atau fasilitas milik manusia (rumah atau mobil).</p>
<p>Dari segi bahaya lainnya, hanya sampah antariksa yang perlu diwaspadai adanya kemungkinan kandungan bahan kimia beracun atau radiasi nuklir. Sedangkan meteorit secara umum seperti batuan bumi lainnya tidak beracun dan tidak mengandung radiasi nuklir.</p>
<p><strong>Apakah yang dilakukan LAPAN terkait benda jatuh antariksa?</strong></p>
<ul>
<li>Sampah antariksa yang berpotensi membahayakan Indonesia dipantau terus menerus oleh LAPAN dan dikoordinasikan dengan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Contoh: Saat stasiun antariksa Mir berbobot 30 ton saat jatuh 2001 dan satelit bekas Bepposax berbobot 1,4 ton jatuh pada 2003.</li>
<li>Sampah antariksa yang jatuh dan dilaporkan warga/media massa diidentifikasikan. Contoh: Bekas roket Rusia di Gorontalo (1981) dan Lampung (1988), bekas roket Cina di Bengkulu (2003), bekas roket Rusia di perairan Flores (2007).</li>
<li>Laporan warga atau media massa segera dianalisis bila ada indikasi benda jatuh antariksa, baik berupa sampah antariksa maupun meteorit.</li>
</ul>
<p><strong>Bagaimana menganalisis laporan warga tentang jatuhnya benda antariksa?</strong></p>
<ul>
<li>LAPAN pertama menganalisis kemungkinan jatuhnya sampah antariksa atau gagalnya peluncuran roket, merujuk pada pusat data internasional (dengan akses registered-online). Bila ada indikasi benda jatuh itu berasal dari sampah antariksa, LAPAN mudah mengidentifikasi jenis sampah antariksa tersebut dan negara pemiliknya.</li>
<li>Eliminasi (menyingkirkan) kemungkinan sumber dari darat (misalnya ledakan akibat kebocoran gas,  bahan peledak, atau jatuhnya kabel listrik tegangan tinggi), merujuk laporan kepolisian atau instansi terkait dan analisis lokasi langsung.</li>
<li>Bila dugaan kuat mengarah benda jatuh antariksa alami (meteorit), LAPAN segera menganalisis bukti-bukti pendukungnya untuk menyimpulkan ada tidaknya meteorit jatuh.</li>
</ul>
<p><strong>Bisakah benda jatuh antariksa diantisipasi dengan sistem peringatan dini?</strong></p>
<p>Sampah antariksa secara umum bisa dipantau sehingga upaya antisipasi bisa dilakukan, walau pun akurasi prakiraan titik jatuh secara internasional pun belum bisa dilakukan, kecuali untuk kejatuhan yang terkendali. Parkiraan lintasan menjelang jatuh baru bisa diprakirakan secara pasti sekitar 2 jam sebelum jatuh, tetapi dengan rentang ketidakpastian titik jatuhnya sampai ribuan km.</p>
<p>Meteorit secara umum mungkin dipantau dan diantisipasi, tetapi sangat sulit dilakukan, termasuk oleh negara maju. Alasannya:</p>
<ul>
<li>Perlu teleskop yang mampu mendeteksi objek sangat redup yang bergerak sangat cepat (dengan kecepatan sekitar 100.000 km/jam)</li>
<li>Teleskop harus terintegrasi dengan sistem pengolah data cepat yang dilengkapi model orbit asteroid dan trayektorinya.</li>
<li>Perlu memperhitungkan efektivitas dan efisiensi karena jangka waktu deteksi dan kejatuhan di bumi sangat singkat untuk objek relatif kecil.</li>
</ul>
<p>Di seluruh dunia (bukan hanya di Indonesia) belum ada teknologi yang mampu mengantisipasi meteorit kecil. Pada 14 April 2010 meteorit berdiameter sekitar 1 meter berdaya ledak 20 ton TNT jatuh di Wisconsin, AS, tanpa bisa diantisipasi (untungnya pecah sebelum mencapai bumi). Pada 2008, meteorit 2008 TC3 berdiameter 4 meter secara kebetulan terekam di teleskop otomatis pemantau asteroid dekat bumi dan diproses orbitnya. Tetapi pemantauan itu dan hasil perhitungannnya hanya memberi waktu 19 jam sebelum jatuh di permukaan bumi (di gurun di Sudan). Pada saat terdeteksi jaraknya masih sekitar 2.000.000 km. Untuk meteorit yang lebih kecil lagi, objek baru terdeteksi pada jarak yang lebih dekat, yang berarti (kalau pun terekam) hanya menyisakan waktu beberapa jam sebelum jatuh.</p>
<p>Untuk antisipasi meteorit besar, secara internasional sudah ada program pemantau asteoroid sekitar bumi dengan biaya sangat mahal. Program “Spaceguard” berupaya mendeteksi asteroid dekat bumi dengan target capaian mendeteksi 90% asteoroid berdiameter lebih dari 1 km sampai 2008 yang kini terus berlanjut. Program NASA 2003 mengusulkan dana US$250–450 juta (sekitar Rp 2,5 – 4,5 triliun) untuk mendeteksi 90% asteroid dekat bumi berdiameter lebih dari 140 meter sampai 2028.</p>
<p><strong>Perlukah ada perlindungan temuan benda jatuh antariksa?</strong></p>
<p>Dari segi kepentingan ilmu pengetahuan dan pendidikan, perlu dipertimbangkan aturan perlindungan benda jatuh antariksa untuk kepentingan penelitian dan pendidikan. Dengan aturan tersebut, kepolisan wajib untuk melindungi keberadaannya sampai instansi terkait menelitinya. Alasannya:</p>
<ol>
<li>Meteorit secara umum tidak mengandung racun atau radiasi, tetapi sampah antariksa mungkin mengandung racun atau radiasi. Pengamanan oleh kepolisian dimaksudkan juga untuk menghindari kemungkinan masyarakat terpapar radiasi atau benda beracun bila yang jatuh ternyata sampah antariksa, bukan meteorit.</li>
<li>Meteorit tergolong benda langka di Indonesia, karena efek cuaca yang aktif dan kondisi wilayahnya yang berhutan dan berlaut menyebabkan meteorit yang jatuh di masa lalu sulit untuk diperoleh. Penemuan meteorit di Indonesia hampir semuanya merupakan temuan baru berdasarkan kesaksian masyarakat.</li>
<li>Meteorit yang ditemukan warga, setelah diteliti bisa memberikan banyak informasi tentang keantariksaan dan sejarah asal usul tatasurya yang penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan. Oleh karenanya kepemilikan meteorit harus dianggap sebagai barang publik yang bisa diakses oleh semua orang. Setelah diteliti, meteorit perlu disimpan di museum ilmu pengetahuan atau lembaga litbang di daerah atau di pusat, tergantung nilai informasi yang dikandungnya.</li>
</ol>
<p><a href="http://salmanitb.com/2012/01/benda-jatuh-antariksa/">Benda Jatuh Antariksa</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2012/01/benda-jatuh-antariksa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memahami dan Mewaspadai Cuaca Ekstrem saat Musim Hujan di Indonesia</title>
		<link>http://salmanitb.com/2012/01/memahami-dan-mewaspadai-cuaca-ekstrem-saat-musim-hujan-di-indonesia/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2012/01/memahami-dan-mewaspadai-cuaca-ekstrem-saat-musim-hujan-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 01:00:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Thomas Djamaluddin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=11285</guid>
		<description><![CDATA[<p>(Gambar-gambar dari www.bmkg.go.id, www.bom.gov.au, dan wiki) Hujan lebat disertai angin kencang di daratan dan gelombang tinggi di pantai saat ini menjadi kekhawatiran masyarakat.  Banyaknya pohon tumbang dan sejumlah kerusakan lainnya menambah masalah yang...</p><p><a href="http://salmanitb.com/2012/01/memahami-dan-mewaspadai-cuaca-ekstrem-saat-musim-hujan-di-indonesia/">Memahami dan Mewaspadai Cuaca Ekstrem saat Musim Hujan di Indonesia</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/01/angin-260112-bmkg.jpg" target="_blank"><img class="aligncenter" title="Angin 260112-BMKG" src="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/01/angin-260112-bmkg.jpg" alt="" width="468" height="294" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/01/angin-260112-0000z.png" target="_blank"><img class="aligncenter" title="Angin 260112-0000Z" src="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/01/angin-260112-0000z.png" alt="" width="468" height="296" /></a>(Gambar-gambar dari www.bmkg.go.id, www.bom.gov.au, dan wiki)</p>
<p>Hujan lebat disertai angin kencang di daratan dan gelombang tinggi di pantai saat ini menjadi kekhawatiran masyarakat.  Banyaknya pohon tumbang dan sejumlah kerusakan lainnya menambah masalah yang lazim terjadi saat musim hujan berupa banjir dan tanah longsor.  Sekitar pekan ke-3 Januari 2012 ini memang wilayah sekitar Sumatera bagian Selatan, Jawa, dan Nusatenggara dilanda angin kencang dengan kecepatan sampai sekitar 60 km/jam (lihat peta angin di atas). Penyebabnya karena adanya daerah tekanan rendah di selatan Jawa. Kita tahu, angin terjadi karena adanya perbedaan tekanan udara. Perbedaan tekanan udara yang dipicu terbentuknya wilayah tekanan rendah akan memicu aliran udara dengan kecepatan tinggi dari daerah sekitarnya yang dirasakan sebagai angin kencang. Ini lazim terjadi saat musim hujan di Indonesia. Perlu dibedakan antara angin kencang dengan puting beliung. Puting beliung bersifat sangat lokal akibat dinamika atmosfer lokal yang dipicu efek pemanasan lokal dan umumnya terjadi pada musim pancaroba. Sedangkan angin kencang bersifat regional dan umumnya terjadi pada musim hujan , kadang terjadi juga di beberapa daerah saat musim kemarau dengan sifat angin yang kering.</p>
<p>Memahami suatu fenomena alam secara benar akan sangat membantu dalam melakukan antisipasi potensi bencana dan menghilangkan kesimpangsiuran informasi yang tak jelas. Cuaca ekstrem yang menjadi perhatian masyarakat tersebut sebenarnya merupakan fenomena musiman yang setiap tahun terjadi dengan intensitas bervariasi tergantung efek gabungan yang mempengaruhinya. Musim hujan (dan kemarau serta peralihan di antara keduanya) terjadi karena perubahan pemanasan di permukaan bumi terkait dengan kemiringan sumbu rotasi bumi. Sekitar bulan Desember – Maret posisi matahari berada di belahan Selatan bumi yang mulai bergeser menuju ke utara sehingga wilayah Selatan itulah yang mendapatkan panas yang lebih banyak daripada bagian Utara. Oleh karenanya tekanan udara di belahan Selatan relatif lebih rendah daripada di belahan Utara. Akibatnya, pergerakan angin di sekitar ekuator bergerak ke arah selatan. Akibat perputaran bumi, angin sebelah utara ekuator bergerak dari arah Timur (disebut angin Timur) dan di selatan angin bergerak dari arah Barat (disebut angin Barat) (Lihat peta aliran angin di atas).</p>
<p><a href="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/01/posisi-matahari-ohio-state-univ.gif" target="_blank"><img title="Posisi Matahari-Ohio-State-Univ" src="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/01/posisi-matahari-ohio-state-univ.gif" alt="" width="468" height="350" /></a></p>
<p><a href="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/01/penyinaran-matahari-musim-wiki.png" target="_blank"><img class="aligncenter" title="Penyinaran matahari-musim-Wiki" src="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/01/penyinaran-matahari-musim-wiki.png" alt="" width="468" height="487" /></a></p>
<p>Pemanasan matahari secara umum menyebabkan pemanasan  lautan serta pergerakan angin. Pemanasan lautan menyebabkan penguapan yang kemudian terangkat ke atas oleh angin membentuk awan di daerah pertemuan angin dari Selatan dan Utara yang disebut daerah konvergensi. Nah, daerah konvergensi ini bergeser tergantung musimnya yang terkait dengan pergeseran arah angin. Pada sekitar Januari, daerah konvergensi yang disebut ITCZ (Intertropical Convergence Zone: Zona Konvergensi Sekitar Daerah Tropis) berada di belahan Selatan di sekitar wilayah Indonesia. ITCZ itulah yang tampak sebagai gugusan besar awan yang menyebabkan curahan hujan di sebagian besar wilayah Indonesia pada musim hujan. Pada musim kemarau ITCZ beralih ke utara, sehingga wilayah Indonesia mengalami musim kemarau yang kering. Dengan mengikuti pergeseran ITCZ, secara umum para peneliti bisa memprakirakan awal musim hujan di Indonesia yang dimulai dari wilayah Sumatera bergeser ke arah Timur dan memprakirakan akhir musim hujan yang dimulai dari Nusa Tenggara Timur bergeser ke Barat.</p>
<p><a href="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/01/itcz_january-july.png" target="_blank"><img title="ITCZ_january-july" src="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/01/itcz_january-july.png" alt="" width="468" height="233" /></a></p>
<p><a href="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/01/awan-260112.gif" target="_blank"><img class="aligncenter" title="Awan 260112" src="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/01/awan-260112.gif" alt="" width="468" height="351" /></a></p>
<p>Cuaca ekstrem adalah kondisi cuaca yang intensitasnya jauh melebihi rata-ratanya, terutama ditandai dengan curah hujan tinggi dan/atau angin kencang. Bagaimana mewaspadai kondisi cuaca ekstrem tersebut? Potensi bencana akan meningkat kalau ada efek gabungan yang saling menguatkan. Jadi, jangan abaikan peringatan dari BMKG yang tugasnya memberikan informasi cuaca. LAPAN yang terus memantau dan meneliti dinamika atmosfer wilayah Indonesia dan global bisa juga dimintai informasinya. Berikut ini efek gabungan yang perlu diwaspadai:</p>
<p>a. Kecepatan angin lebih dari 30 knots (sekitar 60 km/jam) yang disertai dengan hujan deras berpotensi menyebabkan pohon tumbang atau kerusakan lainnya. Ikuti informasi di situs <a href="http://www.bmkg.go.id/BMKG_Pusat/Meteorologi/Prakiraan_Angin.bmkg" target="_blank">BMKG</a> atau Badan Meteorolgi Australia (untuk <a href="http://www.bom.gov.au/australia/charts/grad_wind_anal_col.shtml" target="_blank">peta angin</a> dan <a href="http://www.bom.gov.au/products/IDX1374.shtml" target="_blank">liputan awan</a>).</p>
<p>b. Kecepatan angin lebih dari 30 knots (sekitar 60 km/jam) yang disertai dengan pasang maksimum berpotensi menyebabkan gelombang tinggi dan banjir rob di pantai yang menggangu aktivitas nelayan, wisata pantai, dan pelabuhan. Pasang maksimum terjadi sekitar bulan baru qamariyah (kalender bulan) dan bulan purnama akibat efek pasang bulan yang diperkuat dengan pasang matahari. Terseretnya beberapa wisatawan di pantai Jawa Timur dan tenggelamnya perahu nelayan di sekitar Lampung awal pekan ini terkait dengan efek gabungan tersebut.</p>
<p>c. Hujan deras disertai dengan pasang maksimum sekitar bulan baru atau purnama berpotensi menyebabkan banjir besar di kota-kota sekitar pantai seperti Jakarta, karena air tidak segera terbuang ke laut.</p>
<p>d. Hujan deras disertai dengan kerusakan lingkungan berpotensi menyebabkan tanah longsor dan banjir bandang.</p>
<p style="text-align: right;"><em>T. Djamaluddin, Deputi Sains LAPAN (Membawahi Pusat Sains Antariksa dan Sains Atmosfer)</em></p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2012/01/memahami-dan-mewaspadai-cuaca-ekstrem-saat-musim-hujan-di-indonesia/">Memahami dan Mewaspadai Cuaca Ekstrem saat Musim Hujan di Indonesia</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2012/01/memahami-dan-mewaspadai-cuaca-ekstrem-saat-musim-hujan-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesepakatan Garis Tanggal Mutlak Diperlukan untuk Mewujudkan Kalender Global</title>
		<link>http://salmanitb.com/2012/01/kesepakatan-garis-tanggal-mutlak-diperlukan-untuk-mewujudkan-kalender-global/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2012/01/kesepakatan-garis-tanggal-mutlak-diperlukan-untuk-mewujudkan-kalender-global/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jan 2012 01:00:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Thomas Djamaluddin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=11269</guid>
		<description><![CDATA[<p>Kalender adalah hasil perhitungan (hisab) dengan suatu kriteria tertentu dalam menetapkan hari dan tanggal setiap siklus harian, bulanan, dan tahunannya. Karena bumi kita bulat, awal hari, awal bulan, atau awal tahun pada sistem...</p><p><a href="http://salmanitb.com/2012/01/kesepakatan-garis-tanggal-mutlak-diperlukan-untuk-mewujudkan-kalender-global/">Kesepakatan Garis Tanggal Mutlak Diperlukan untuk Mewujudkan Kalender Global</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 180px"><a href="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2011/12/dateline-animation-3deg-borderonly-180px.gif"><img title="Dateline-animation-3deg-borderonly-180px" src="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2011/12/dateline-animation-3deg-borderonly-180px.gif?w=468" alt="(Gambar dari Wikipedia)" width="180" height="300" /></a>
<p class="wp-caption-text">(foto: wikipedia.org)</p>
</div>
<p>Kalender adalah hasil perhitungan (hisab) dengan suatu kriteria tertentu dalam menetapkan hari dan tanggal setiap siklus harian, bulanan, dan tahunannya. Karena bumi kita bulat, awal hari, awal bulan, atau awal tahun pada sistem kelender global harus ditetapkan batasnya. Itulah yang dinamakan garis tanggal. Secara umum ada 2 sistem kalender, sistem matahari (solar calendar atau almanak syamsiah, berdasarkan ketampakan matahari) dan sistem bulan (lunar calendar atau almanak qamariyah, berdasarkan ketampakan bulan).</p>
<p>Animasi di samping adalah ilustrasi garis tanggal internasional (International Datel Line, IDL, berupa garis merah yang berputar mengikuti rotasi bumi) untuk kelender matahari. Pada kalender matahari internasional, awal hari ditetapkan pada tengah malam pukul 00.00. Jadi, ketika IDL melintasi waktu pukul 00.00 maka saat itulah mulai terjadi pergantian hari dan tanggal.</p>
<p>Garis tanggal internasional ditetapkan sekitar garis bujur 180 derajat. Tidak mungkin lurus karena mengikuti keputusan otoritas di sekitar garis tanggal itu. Sampai 1845 Filipina dan Indonesia terpisah oleh garis tanggal. Alasannya, penjajah Spanyol datangnya dari arah benua Amerika, jadi harinya disamakan dengan waktu di benua Amerika. Demikian juga Alaska. Sampai 1867, Alaska dan Kanada terpisah oleh garis tanggal, karena Alaska masih milik Rusia sebelum dibeli oleh Amerika Serikat. Kiribiti pada 1995 menggeser garis tanggal 30 derajat ke Timur, sehingga hari di Kiribiti sama dengan negara-negara Asia-Pasifik lainnya. Berikut ini garis tanggal internasional yang disepakati saat ini:</p>
<p><a href="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2011/12/international_date_line.png"><img class="aligncenter" title="International_Date_Line" src="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2011/12/international_date_line.png?w=468" alt="" /></a></p>
<p>Updated: Sejak 31 Desember Samoa dan Tokelau menggeser garis tanggalnya ke arah Timur, sehingga mengikuti wilayah waktu negara-negara tetangganya di Asia Pasifik. Samoa dan Tokelau melompat dari Kamis 29 Desember menjadi Sabtu 30 Desember 2011. Gari tanggalnya menjadi seperti berikut:</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2011/12/samoa-date-line-change.jpg"><img class="aligncenter" title="Samoa-date-line-change" src="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2011/12/samoa-date-line-change.jpg?w=468&amp;h=263" alt="" width="468" height="263" /></a>(Gambar dari The Australian.com.au)</p>
<p>Bagaimana kalender Hijriyah yang berdasarkan bulan akan diglobalisasikan? Prinsipnya sama, harus ada garis tanggal. Namun harus disadari, hari harus tunggal, baik untuk kalender matahari maupun kalender bulan, walau mulainya bisa saja sedikit berbeda. Maka, hari mengikuti sistem kalender matahari dengan garis batas hari sama dengan garis tanggal internasional, tetapi mulainya sejaka maghrib saat biasa dilakukan rukyat. Nah, awal tanggalnya yang harus ditetapkan berdasarkan garis tanggal menurut kriteria yang disepakati secara global. Kalender Hijriyah didasarkan pada kriteria ketampakan hilal, walau rumusannya belum ada kesepakatan. Bagaimana pun, memberlakukan suatu sistem secara global harus didasarkan pada kesepakatan global juga. <strong>Kesepakatan yang utama adalah kriterianya</strong>. Dengan kriteria yang disepakati, mudah saja dibuatkan garis tanggalnya. Astronom mudah membuatkan garis tanggal itu tergantung kriteria yang disepakati.</p>
<p>Berikut contoh garis tanggal awal Syawal 1432 berdasarkan 3 kriteria:</p>
<p>(1) Kriteria Wujudul Hilal, kriteria paling sederhana, hanya berdasarkan hitungan bulan lebih lambat terbenam dari matahari sesudah ijtimak (Garis merah).</p>
<p>(2) Kriteria Imkan Rukyat 2 derajat, yang sederhana hanya didasarkan pada data rukyat terbatas yang belum tervalidasi (Garis kuning).</p>
<p>(3) Kriteria Imkan Rukyat astronomi yang didasarkan pada data rukyat secara global dan jangka panjang yang divalidasi secara astronomis (Garis biru).</p>
<p><a href="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2011/12/garis-tanggal-1.jpg"><img class="aligncenter" title="Garis tanggal 1" src="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2011/12/garis-tanggal-1.jpg?w=468&amp;h=288" alt="" width="468" height="288" /></a></p>
<p>Dari tiga kriteria itu silakan dipertimbangkan untuk diajukan secara global untuk disepakati. <strong>Kalender Hijriyah yang kita kehendaki adalah kalender yang bisa digunakan untuk penetapan waktu ibadah, bukan sekadar kalender administratif ala Ummul Quro di Arab Saudi</strong> . Arab Saudi menetapkan waktu ibadah dengan rukyatul hilal, tidak bergantung pada kalender Ummul Quro.</p>
<p>(1) Kriteria Wujudul Hilal tidak populer secara internasional dan pada saat posisi bulan rendah pasti terjadi perbedaan dengan hasil rukyat yang masih diprakteknya di banyak negara (termasuk Arab Saudi).</p>
<p>(2) Kriteria Imkan rukyat 2 derajat, walau pun masih sederhana dan hanya didasarkan pada beberapa data rukyat yang belum tervalidasi, kriteria ini telah disepakati oleh sebagian besar ormas Islam di Indonesia dan negara-negara MABIMS (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).</p>
<p>(2) Kriteria Imkan Rukyat astronomi yang punya landasan ilmiah astronomis.</p>
<p>Kalau sudah disepakati kriterianya, langkah berikutnya adalah implementasinya.</p>
<p>(a) Kalau mau diberlakukan secara global (satu hari-satu tanggal dalam sistem kalender Masehi, ala Jamaluddin Ar-Raziq dari Maroko), maka penetapan tanggal didasarkan pada imkan rukyat pertama kali. Kalau digunakan kriteria Imkan Rukyat Astronomis (garis biru), Afrika bagian Selatan, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan sudah imkan rukyat pada 29 Agustus. Maka 1 Syawal berlaku global jatuh pada haris Selasa, 30 Agustus 2011. Dengan sistem ini rukyat lokal tidak berlaku lagi. Tetapi, selama belum ada otoritas tunggal secara global ala khilafah, cara ini sulit diimplementasikan.</p>
<p>(b) Kalau mau diberlakukan atas dasar zona atau regional, maka implementasinya didasarkan pada imkan rukyat yang pertama kali di zona atau regional tersebut. Namun ini pun bergantung pada kesepakatan zona atau regional tersebut. Saat ini baru ada kesepakatan di antara negera-negara MABIMS. Maka bila itu diterapkan di regional MABIMS (yang mungkin diperluas ke ASEAN), maka dari garis tanggal tersebut (garis biru) terlihat imkan rukyat di wilayah Asia Tenggara baru terjadi pada 30 Agsutus, sehingga di regional tersebut 1 Syawal jatuh pada 31 Agsutus 2011.</p>
<p>(c) Implementasi realistis yang mungkin diterapkan saat ini adalah dengan prinsip wilayatul hukmi, yaitu berdasarkan otoritas wilayah hukum negara. Kalau prinsip wilayatul hukmi yang diterapkan, maka awal bulan didasarkan pada imkan rukyat pertama kali di sebagian wilayah negara tersebut. Maka kita akan melihat garis tanggal dibelok-belokkaan mengikuti batas negara, mirip seperti dibelok-belokkanya garis tanggal internasional. Garis tanggal 1 Syawal 1432 menjadi seperti berikut ini:</p>
<p><a href="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2011/12/garis-tanggal-2.jpg"><img class="aligncenter" title="Garis tanggal 2" src="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2011/12/garis-tanggal-2.jpg?w=468&amp;h=252" alt="" width="468" height="252" /></a></p>
<p style="text-align: right;"><em>T. Djamaluddin, Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN, Anggota Badan Hisab Rukyat, Kementeria Agama RI</em></p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2012/01/kesepakatan-garis-tanggal-mutlak-diperlukan-untuk-mewujudkan-kalender-global/">Kesepakatan Garis Tanggal Mutlak Diperlukan untuk Mewujudkan Kalender Global</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2012/01/kesepakatan-garis-tanggal-mutlak-diperlukan-untuk-mewujudkan-kalender-global/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Badai Matahari Berpotensi Berdampak di Lingkungan Bumi</title>
		<link>http://salmanitb.com/2012/01/badai-matahari-cukup-kuat-yang-pertama-pada-siklus-24-berpotensi-berdampak-di-lingkungan-bumi/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2012/01/badai-matahari-cukup-kuat-yang-pertama-pada-siklus-24-berpotensi-berdampak-di-lingkungan-bumi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jan 2012 01:00:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Thomas Djamaluddin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=11265</guid>
		<description><![CDATA[<p>Badai matahari pertama yang tergolong kuat berupa ledakan flare berskala M8-9  (ada yang menyebut  M8,3 , M8,7, atau M9, tidak masalah, bisa dilihat dari grafik kekuatan  sinar-X berikut ini) terjadi pada 23 Januari...</p><p><a href="http://salmanitb.com/2012/01/badai-matahari-cukup-kuat-yang-pertama-pada-siklus-24-berpotensi-berdampak-di-lingkungan-bumi/">Badai Matahari Berpotensi Berdampak di Lingkungan Bumi</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignright" style="width: 282px"><a href="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/01/flare-m9-23-jan-2012.jpg"><img title="Flare M9 23 Jan 2012" src="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/01/flare-m9-23-jan-2012.jpg?w=468&amp;h=468" alt="" width="282" height="282" /></a>
<p class="wp-caption-text">(foto: http://tdjamaluddin.wordpress.com)</p>
</div>
<p>Badai matahari pertama yang tergolong kuat berupa ledakan flare berskala M8-9  (ada yang menyebut  M8,3 , M8,7, atau M9, tidak masalah, bisa dilihat dari grafik kekuatan  sinar-X berikut ini) terjadi pada 23 Januari 2012 pukul 03.59 UT (10:59 WIB). Flare yang cukup kuat ini yang pertama kali sejak Mei 2005.  Kelas M sebenarnya tergolong klas menengah, tetapi karena mendekati kelas ekstrem (kelas X), maka dampaknya akan cukup kuat kalau mengarah ke bumi. Flare berasal dari daerah aktif NOAA 1402 berupa bintik matahari besar di kanan atas (gambar bawah) dan tampak sebagai letupan terang di bagian kanan atas (gambar atas).  Pancaran sinar-X yang terekam pada satelit GOES menunjukkan peningkatan tajam sampai kelas M8-9.</p>
<p>Flare ini juga diikuti oleh CME (Coronal Mass Ejection), lontaran massa dari korona matahari, terutama proton dengan kecepatan tinggi, 1400 km/detik. Jadi lontarannya kira-kira menjangkau jarak sepanjang Pulau Jawa hanya dalam waktu satu detik. CME terdeteksi wahana pemantau matahari SOHO pada posisi antara bumi-matahari berjarak 1.500.000  km dari bumi (sekitar 4 kali jarak bumi-bulan). Partikel bermuatan dari matahari itu tampak seperti hujan salju, yang berarti mengarahh ke arah bumi. Ini disebut CME halo, karena tampak seperti melingkupi seluruh piringan matahari. Diprakirakan paratikel energetik itu akan mencapau bumi sekitar 24 Januari malam waktu Indonesia.</p>
<p>Apa dampaknya? Badai matahari yang cukup kuat seperti ini berpotensi menggangu operasional satelit, seperti satelit komunikasi. Kalau itu terjadi dan tidak dapat diatasi oleh operator satelitnya, kemungkinan terjadi gangguan pada penggunaan telepon selular, siaran TV, komunikasi data perbankan, dan pengguna lainnya. Tetapi biasanya para operator satelit sudah mengantisipasinya. Dampak lainnya adalah gangguan pada ionosfer yang akan mengganggu komunikasi radio HF/gelombang pendek yang bisa digunakan oleh komunikasi jarak jauh, termasuk oleh siaran radio luar negeri seperti BBC, VOA, atau ABC. Navigasi berbasis satelit seperti GPS juga kemungkinan terganggu akurasinya, jadi jangan terlalu percaya pada posisi yang ditunjukkan GPS (frekuensi tunggal) kalau diduga ionosfer terganggu oleh badai matahari.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 468px"><a href="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/01/cme-23-jan-2012-soho.gif"><img title="CME 23 Jan 2012 - SOHO" src="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/01/cme-23-jan-2012-soho.gif?w=468&amp;h=307" alt="(Klik untuk menampikan videonya)." width="468" height="307" /></a>
<p class="wp-caption-text">(Klik untuk menampikan videonya).</p>
</div>
<p>Inilah simulasi pergerakan partikel berenergi tinggi dari matahari setelah terjadi flare 23 Januari lalu. Bumi ditandai dengan titik kuning yang diprakirakan terkena pada 24 Januari malam.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 468px"><a href="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/01/animasi-dampak-cme-23-jan-2012.gif"><img title="Animasi Dampak CME 23 Jan 2012" src="http://tdjamaluddin.files.wordpress.com/2012/01/animasi-dampak-cme-23-jan-2012.gif?w=468&amp;h=292" alt="(Klik untuk menampilkan simulasinya)." width="468" height="292" /></a>
<p class="wp-caption-text">(Klik untuk menampilkan simulasinya).</p>
</div>
<p><em>T. Djamaluddin, Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN</em></p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2012/01/badai-matahari-cukup-kuat-yang-pertama-pada-siklus-24-berpotensi-berdampak-di-lingkungan-bumi/">Badai Matahari Berpotensi Berdampak di Lingkungan Bumi</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2012/01/badai-matahari-cukup-kuat-yang-pertama-pada-siklus-24-berpotensi-berdampak-di-lingkungan-bumi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tafsir Surat Ad-Dhuha dan Al-Lail (III, akhir): Tiga Fenomena</title>
		<link>http://salmanitb.com/2012/01/tafsir-surat-ad-dhuha-dan-al-lail-iii-akhir-tiga-fenomena/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2012/01/tafsir-surat-ad-dhuha-dan-al-lail-iii-akhir-tiga-fenomena/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Jan 2012 01:00:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Salim Rusli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=11108</guid>
		<description><![CDATA[<p>Dr. Moedji Raharto, Ketua Program Studi Astronomi ITB membahas tafsir dari aspek isyarat ilmiah. Moedji menggarisbawahi tiga fenomena dalam rangkaian surat 91, 92 dan 93 (Asy-Syams, Ad-Dhuha dan Al-Lail). “Allah mengingatkan kita akan...</p><p><a href="http://salmanitb.com/2012/01/tafsir-surat-ad-dhuha-dan-al-lail-iii-akhir-tiga-fenomena/">Tafsir Surat Ad-Dhuha dan Al-Lail (III, akhir): Tiga Fenomena</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_11109" class="wp-caption alignleft" style="width: 300px"><a href="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/01/2.jpg"><img class="size-medium wp-image-11109" title="2" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/01/2-300x185.jpg" alt="" width="300" height="185" /></a>
<p class="wp-caption-text">Foto: blognyathara.blogspot.com</p>
</div>
<p>Dr. Moedji Raharto, Ketua Program Studi Astronomi ITB membahas tafsir dari aspek isyarat ilmiah. Moedji menggarisbawahi tiga fenomena dalam rangkaian surat 91, 92 dan 93 (Asy-Syams, <strong>Ad-Dhuha</strong> dan <strong>Al-Lail</strong>). “Allah mengingatkan kita akan fenomena Matahari, rotasi Bumi dan atmosfer planet Bumi,” tutur Moedji. Rotasi Bumi dan revolusinya mengelilingi Matahari menimbulkan fenomena siang dan malam. Kemudian ada pula masa transisi antara siang dan malam yaitu fajar dan maghrib, begitu pula masa-masa petang, menjelang waktu Ashar dsb.</p>
<p>Manusia bisa menikmati transisi antar waktu karena “kerjasama” ketiga fenomena tersebut di atas. Matahari sebagai sumber cahaya yang sangat kuat mengirimkan cahayanya ke Bumi yang mempunyai lapisan atmosfer. Atmosfer yang berlapis-lapis, mengandung uap air, debu, aerosol dll. yang mampu memantulkan cahaya. Karena kemampuan atmosfer tersebut, ketika Matahari telah terbenam, kita masih melihat cahayanya yang dipantulkan oleh atmosfer. Begitu pula ketika Shubuh, sebelum Matahari muncul di horizon, cahayanya lebih dahulu disebarkan oleh atmosfer.</p>
<p>Moedji melanjutkan, bagi kita yang tinggal di daerah ekuator, fenomena interaksi cahaya Matahari dan Bumi tidaklah begitu ekstrim. Perbedaan waktu pencahayaan Matahari di lintang sekitar ekuator tidak begitu jauh. Waktu Maghrib misalkan, hanya maju-mundur beberapa menit. Namun di daerah lintang tinggi (di atas 60° LU atau di bawah 60° LS) siang dan malam tidak sama panjangnya. Apalagi di daerah kutub. Ketika Matahari berada di sebelah Utara sekitar bulan Juni, maka Kutub Utara terus menerus mengalami malam (suhu rata-rata -80 °C). Sebaliknya, Kutub Selatan Bumi mengalami siang terus menerus.</p>
<p>Dalam kondisi cuaca yang ekstrim seperti itu, kehidupan tentu menjadi lebih sulit. “Saya tidak bisa membayangkan bagaimana misalnya menentukan waktu Dhuha di daerah Kutub Utara,”  ujar Moedji. Ketika posisinya di utara sekitar bulan Juni, di Kutub Utara Matahari hanya terlihat berputar-putar mengelilingi langit. Sama sulitnya lanjut Moedji, jika kita memaksakan masyarakat Kutub Utara melihat hilal di bulan Desember, ketika Matahari berada di selatan dan wilayah sekitar kutub mengalami malam terus menerus. “Hal-hal seperti ini tentu perlu dicari solusinya,” tukasnya.</p>
<p>Moedji menegaskan, fenomena rotasi Bumi dan revolusinya mengelilingi Matahari tidak bisa dicampuri keberjalanannya oleh manusia. Keberadaannya adalah bagian dari penyiapan alam ini untuk dimanfaatkan manusia. Manusia pun telah diberi pikiran, sebagai jalan memanfaatkan kedua fenomena tersebut. Penyiapan tersebut adalah bukti kekuasaan Allah yang luar biasa. Mungkin itulah hikmahnya, mengapa dalam Alquran banyak sekali tercantum ayat yang menyebut-nyebut peristiwa pagi dan petang. <em>Wallahu a’lam bish shawab</em>.</p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2012/01/tafsir-surat-ad-dhuha-dan-al-lail-iii-akhir-tiga-fenomena/">Tafsir Surat Ad-Dhuha dan Al-Lail (III, akhir): Tiga Fenomena</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2012/01/tafsir-surat-ad-dhuha-dan-al-lail-iii-akhir-tiga-fenomena/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tafsir Surat Ad-Dhuha dan Al-Lail (I): Merangkai Pagi dan Petang</title>
		<link>http://salmanitb.com/2012/01/tafsir-surat-ad-dhuha-dan-al-lail-i-merangkai-pagi-dan-petang/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2012/01/tafsir-surat-ad-dhuha-dan-al-lail-i-merangkai-pagi-dan-petang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2012 23:20:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Salim Rusli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=11034</guid>
		<description><![CDATA[<p>Terdapat tiga surat dalam Juz ‘Amma yang berturutan sekaligus membahas fenomena yang sama. Ketiga surat tersebut adalah As-Syams, Al-Lail dan Ad-Dhuha. Surat Asy-Syams telah dibahas sebelumnya. Dua surat terakhir akan dibahas dalam artikel...</p><p><a href="http://salmanitb.com/2012/01/tafsir-surat-ad-dhuha-dan-al-lail-i-merangkai-pagi-dan-petang/">Tafsir Surat Ad-Dhuha dan Al-Lail (I): Merangkai Pagi dan Petang</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_11055" class="wp-caption alignright" style="width: 300px"><a href="http://salmanitb.com/2012/01/tafsir-surat-ad-dhuha-dan-al-lail-i-merangkai-pagi-dan-petang/tumblr_lk9eo1qvjh1qztsrto1_500/" rel="attachment wp-att-11055"><img class="size-medium wp-image-11055" title="tumblr_lk9eo1qVJh1qztsrto1_500" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/01/tumblr_lk9eo1qVJh1qztsrto1_500-300x203.jpg" alt="" width="300" height="203" /></a>
<p class="wp-caption-text">(Gambar: writemindful.tumblr.com)</p>
</div>
<p>Terdapat tiga surat dalam <em>Juz ‘Amma</em> yang berturutan sekaligus membahas fenomena yang sama. Ketiga surat tersebut adalah <em>As-Syams</em>, <em>Al-Lail</em> dan <em>Ad-Dhuha</em>. Surat Asy-Syams telah dibahas sebelumnya. Dua surat terakhir akan dibahas dalam artikel ini.</p>
<p>Dalam diskusi tafsir Surat Ad-Dhuha dan Al-Lail, hadir Dr. Moedji Raharto, Ketua Program Studi Astronomi ITB selaku pembahas aspek isyarat ilmiah. Sementara pembahasan dari aspek bahasa kembali dibawakan oleh Ustadz Aceng Saefuddin dan Ustadz Zulkarnain dari Tim Tafsir DPD Salman ITB.</p>
<p>Sebelum masuk ke pembahasan aspek isyarat ilmiah, pada bagian awal ini akan dipaparkan tinjauan kedua surat tersebut dari ilmu <em>balaghah</em> oleh Ustadz Aceng. Beliau memulai dari Surat <em><strong>Al-Lail</strong></em> ayat pertama:</p>
<p style="text-align: left;" align="JUSTIFY">(1) <em>Wal laili idzaa yagsha</em> “Demi malam apabila sedang meliputi”.</p>
<p style="text-align: left;" align="JUSTIFY">Menurut sebagian ulama ahli fiqh dan ulama ahli falak,  yang disebut lail (malam) ialah posisi 18° Matahari setelah <em>ghurub</em> (tenggelam)  atau  72  menit dari awal waktu magrib.  Kata <strong><em>yagsha</em></strong>  adalah  kata kerja berbentuk  <em>fi’il mudhori</em> yang  menerangkan waktu “sedang” atau “akan”. Untuk mengetahui mana  di antara dua waktu tersebut yang dimaksud dalam ayat ini, maka terlebih dahulu kata <em><strong>idza</strong></em> sebelum kata <em><strong>yagsha</strong></em> harus dikaji.</p>
<p style="text-align: left;" align="JUSTIFY">Fungsi kata <strong><em>idza</em></strong> yang paling umum adalah<em> zharaf</em> (keterangan), dalam hal ini keterangan waktu. Kata<em><strong> idza</strong></em> juga mempunyai makna syarat yaitu “apabila” dan “jika nanti”.  Kata<strong><em> idza</em></strong> termasuk  ke dalam kata kerja. Menurut  ulama ahli <em>nahwu</em> (tata bahasa Arab), apabila kata<em><strong> idza</strong></em> berada  setelah  kata  sumpah  maka makna waktunya menjadi “sedang”, sebab  sumpah  bersifat <em><strong>insha</strong></em> (menuntut sesuatu) bukan <em><strong>ikhbar</strong></em> (berita).<br />
<em><strong></strong></em></p>
<p style="text-align: left;" align="JUSTIFY"><em><strong>Tashbih</strong></em><strong> dan </strong><em><strong>Isti’arah</strong></em></p>
<p style="text-align: left;" align="JUSTIFY">Berdasarkan uraian tersebut, terjemahan yang paling tepat bagi ayat ini dari sisi waktu adalah “<em>Demi malam apabila sedang meliputi</em>”. Dalam terjemahan yang lain <em><strong>yagsha</strong></em> diartikan “menyelimuti” atau “menutupi”. Jika kata <em><strong>yagsha</strong></em> diartikan “menyelimuti” atau “menutupi”, maka di sini tersimpan makna <em>tashbih</em> dan <em>isti’arah</em>.</p>
<p style="text-align: left;" align="JUSTIFY"><em>Tashbih </em>bermakna menyerupakan sesuatu dengan sesuatu yang lain, sedangkan <em>isti’arah</em> ialah meminjam suatu makna kata untuk makna kata yang lain. Dalam hal ini malam diibaratkan kain, mirip dengan makna dalam Surat <em>An-Naba’</em> ayat 10 (<em>wa jaalna laila libaasaan</em>: dan kami jadikan malam sebagai pakaian). Kata <em><strong>yagsha</strong></em> yang artinya “meliputi” dipinjamkan menjadi makna “menyelimuti”.</p>
<p style="text-align: left;" align="JUSTIFY">(2) <em><strong>Wan nahaari idzaa tajalla</strong></em> “<em>Demi siang apabila telah jelas atau terbuka</em>”.</p>
<p style="text-align: left;" align="JUSTIFY">Apabila dikaji mendalam, sebenarnya kedua ayat ini mengandung makna <em>majaz bil hadzfi</em> (membuang kata). Secara bahasa semestinya ayat pertama berbunyi: <em><strong>Wadzulmatil laili idza yagsha</strong></em> “<em>Demi gelapnya malam apabila telah menyelimuti/meliputi</em>”. Sementara ayat kedua seharusnya berbunyi <em><strong>Wadhouinnahari idza tajalla</strong></em> “<em>Demi terangnya siang apabila sudah tampak</em>”. Kata <em><strong>tajalla </strong></em> berpola <em>tafa’ala</em>. Menurut sebagian ahli morfologi (<em>shorof</em>), bentuk <em>tafa’ala </em> bisa bermakna <em>fa’ala</em> yang dapat diartikan <em>tawajuh </em> atau “menghadap”. Jadi <em>idza tajalla</em> artinya “menghadap ke keadaan yang jelas”.</p>
<p style="text-align: left;" align="JUSTIFY">Aceng juga sedikit menjelaskan makna <em><strong>tajalla</strong></em> atau <em>tafa’ala</em>. Makna <em><strong>tajalla</strong></em> dari sisi ilmu <em>shorof</em> bisa berarti <em>muthowa’ah</em> yaitu “menerima dengan jelas”, bisa berarti <em>tholab</em> yaitu “mencari kejelasan”, bisa juga <em>tajannub</em> yaitu “menjauh dari kejelasan”. Kata tersebut bisa juga diartikan dengan <em>ta’diyyah</em> yaitu “menjelaskan”. Makna terakhir ini diperkuat dengan Surat <em>Asy-Syams</em> ayat 3 (<em>wan nahaari idza jallaaha</em>: dan siang apabila menampakkannya), hanya saja ditambahkan makna <em>taktsir</em> (banyak) sehingga menjadi “banyak menjelaskan”.</p>
<p style="text-align: left;" align="JUSTIFY">Jika dikaji dari sisi ilmu <em>badi’</em> (stilistika), Surat <em><strong>Al-Lail</strong></em> menurut Aceng banyak menggunakan <em>badi’ muqobalah</em>. Kata-kata disusun kemudian diikuti dengan perbandingannya, seperti malam yang menutupi dibandingkan dengan siang yang sudah terang. Orang yang pemurah, takwa dan membenarkan Islam dimudahkan urusannya. Sementara orang yang bakhil, berkecukupan namun mendustakan Islam maka dipersulit urusannya.</p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2012/01/tafsir-surat-ad-dhuha-dan-al-lail-i-merangkai-pagi-dan-petang/">Tafsir Surat Ad-Dhuha dan Al-Lail (I): Merangkai Pagi dan Petang</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2012/01/tafsir-surat-ad-dhuha-dan-al-lail-i-merangkai-pagi-dan-petang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tafsir Surat Ad-Dhuha dan Al-Lail (II): Membalik Urutan Sumpah</title>
		<link>http://salmanitb.com/2012/01/tafsir-surat-ad-dhuha-dan-al-lail-ii-membalik-urutan-sumpah/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2012/01/tafsir-surat-ad-dhuha-dan-al-lail-ii-membalik-urutan-sumpah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2012 21:28:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Salim Rusli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=11036</guid>
		<description><![CDATA[<p>Paparan tinjauan surat Ad-Dhuha dan Al-Lail dari ilmu balaghah oleh Ustadz Aceng dari dari Tim Tafsir DPD Salman ITB kembali dilanjutkan. Surat Ad-Dhuha seperti membalik urutan sumpah dalam Surat Al-Lail. Ayat pertama surat ini...</p><p><a href="http://salmanitb.com/2012/01/tafsir-surat-ad-dhuha-dan-al-lail-ii-membalik-urutan-sumpah/">Tafsir Surat Ad-Dhuha dan Al-Lail (II): Membalik Urutan Sumpah</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_11043" class="wp-caption alignright" style="width: 300px"><a href="http://salmanitb.com/2012/01/tafsir-surat-ad-dhuha-dan-al-lail-ii-membalik-urutan-sumpah/morning_sun/" rel="attachment wp-att-11043"><img class="size-medium wp-image-11043" title="morning_sun" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2012/01/morning_sun-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>
<p class="wp-caption-text">(Foto: methewriter.wordpress.com)</p>
</div>
<p>Paparan tinjauan surat <em><strong>Ad-Dhuha</strong></em> dan <em><strong>Al-Lail</strong></em> dari ilmu <em>balaghah</em> oleh Ustadz Aceng dari dari Tim Tafsir DPD Salman ITB kembali dilanjutkan.</p>
<p>Surat <em><strong>Ad-Dhuha</strong></em> seperti membalik urutan sumpah dalam Surat <em><strong>Al-Lail</strong></em>. Ayat pertama surat ini adalah:</p>
<ol>
<li><em><strong>Wad dhuha</strong></em> “<em>Demi waktu dhuha</em>”<br />
Kata <em><strong>dhuha</strong></em> berasal dari kata <em>dohiya</em> yang artinya “terkena matahari”. Menurut Imam Jalaluddin, kata <em>dhuha</em> bisa diartikan awal siang atau seluruh siang. Dalam kamus, kata <em>dhuha</em> diartikan Matahari sedang naik atau setelah Matahari tinggi. Sebagian ulama fiqh mengatakan batas waktu <em>dhuha</em> ini adalah sampai Matahari mencapai titik kulminasi (titik tertingginya di langit) pada hari itu.</li>
<li><em><strong>Wal laili idzaa sajaa</strong></em> “<em>Demi malam apabila telah menenangkan/menutupi</em>”<br />
Kata <em><strong>sajaa</strong></em> mengandung beberapa arti, diantaranya “menutupi” dan “menenangkan”.</li>
</ol>
<p>Aceng kemudian menjabarkan metodenya dalam mengartikan atau menafsirkan keempat ayat ini, yang sebagian telah disinggung sebelumnya. Sebagaimana tersebut di atas <em>tashbih</em> adalah menyerupakan sesuatu dengan sesuatu yang lain karena adanya alasan kuat berupa <em>alaqah</em> dan <em>qarinah</em>. Sedangkan <em>isti’arah</em> ialah meminjam makna suatu kata untuk kata yang lain. Keduanya merupakan bagian dari ilmu <em>balaghah</em>.</p>
<p>Apabila dikaji melalui pendekatan <em>tashbih</em> dan <em>isti’arah</em>, menurut Aceng kita dapat menafsirkan bahwa:</p>
<ol>
<li>Surat <em><strong>Al-Lail</strong></em> ayat 1 bercerita mengenai kesesatan yang disamakan dengan malam yang gelapnya sedang menutupi Bumi;</li>
<li>Dalam ayat keduanya, kebenaran yang sedang diperjuangkan disamakan dengan siang yang akan dialami dan akhirnya menang.</li>
</ol>
<p>Apabila metode yang sama diterapkan terhadap Surat <em><strong>Ad-Dhuha</strong></em> maka akan diperoleh penafsiran yang mirip dengan Surat <em><strong>Al-Lail</strong></em>. Perjuangan yang sedang dimulai, diibaratkan seperti Matahari yang sedang meninggi di waktu dhuha. Kesesatan yang digambarkan sebagai malam suatu ketika akan berubah menjadi hidayah. Namun tafsiran terakhir ini hanya berlaku jika kata <em><strong>sajaa</strong></em> diartikan sebagai <em>askana</em> yaitu “ menenangkan”.</p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2012/01/tafsir-surat-ad-dhuha-dan-al-lail-ii-membalik-urutan-sumpah/">Tafsir Surat Ad-Dhuha dan Al-Lail (II): Membalik Urutan Sumpah</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2012/01/tafsir-surat-ad-dhuha-dan-al-lail-ii-membalik-urutan-sumpah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tafsir Surat Al-‘Ashr (VI, akhir): Evolusi Menjabarkan &#8220;Kun Fayakun&#8221;</title>
		<link>http://salmanitb.com/2011/12/tafsir-surat-al-ashr-vi-akhir-evolusi-menjabarkan-kun-fayakun/</link>
		<comments>http://salmanitb.com/2011/12/tafsir-surat-al-ashr-vi-akhir-evolusi-menjabarkan-kun-fayakun/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Dec 2011 08:03:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Salim Rusli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://salmanitb.com/?p=10786</guid>
		<description><![CDATA[<p>Menutup penjelasan tafsir surat Al-‘Ashr, Dr. Eng. Teuku Abdullah Sanny, dosen Program Studi Teknik Geofisika ITB, menekankan bahwa &#8220;Demi masa&#8221; dalam pandangannya sebagai ahli kebumian, adalah stratifikasi atau pelapisan batuan di Bumi yang...</p><p><a href="http://salmanitb.com/2011/12/tafsir-surat-al-ashr-vi-akhir-evolusi-menjabarkan-kun-fayakun/">Tafsir Surat Al-‘Ashr (VI, akhir): Evolusi Menjabarkan &#8220;Kun Fayakun&#8221;</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_10819" class="wp-caption alignleft" style="width: 300px"><a href="http://salmanitb.com/2011/12/tafsir-surat-al-ashr-vi-akhir-evolusi-menjabarkan-kun-fayakun/evolution-variations04/" rel="attachment wp-att-10819"><img class="size-medium wp-image-10819" title="evolution-variations04" src="http://salmanitb.com/wp-content/uploads/2011/12/evolution-variations04-300x207.jpg" alt="" width="300" height="207" /></a>
<p class="wp-caption-text">Foto: foolishmind.com</p>
</div>
<p>Menutup penjelasan tafsir surat <em>Al-‘Ashr</em>, Dr. Eng. Teuku Abdullah Sanny, dosen Program Studi Teknik Geofisika ITB, menekankan bahwa &#8220;Demi masa&#8221; dalam pandangannya sebagai ahli kebumian, adalah stratifikasi atau pelapisan batuan di Bumi yang merekam perjalanan waktu. Rekaman tersebut adalah bukti bagaimana lewat evolusi, Allah menciptakan makhluk-makhluk di Bumi, termasuk manusia. “Mungkin manusia tidak mengikuti proses evolusi ini, tapi manusia tiba-tiba numpang di atasnya,” seloroh Sanny.</p>
<p>Posisi manusia dalam proses evolusi memang masih bisa diperdebatkan. Seandainya manusia muncul lebih awal di Zaman Oligosen, papar Sanny, mungkin kehadirannya lewat evolusi tidak bisa diperdebatkan. Tapi karena manusia muncul pada Zaman Pleistosen yang bukti-bukti fosilnya tidak sedetail zaman-zaman sebelumnya, maka dalam pandangan Sanny kita masih bisa berdebat mengenai mungkin tidaknya manusia lahir lewat proses evolusi. Namun, Sanny mewanti-wanti, mengatakan kemunculan manusia tidak berhubungan dengan rangkaian evolusi sebelumnya, tidak berarti menolak Teori Darwin secara keseluruhan.</p>
<p>Evolusi juga dapat dipahami sebagai cara alam ini dipersiapkan oleh Allah buat manusia. “<em>Kun fayakun</em> itu bukan seperti sim salabim yang sekali jadi,” tegas Sanny. Potongan ayat tersebut menurutnya lebih tepat dimaknai sebagai proses penghamparan yang digambarkan dalam periodisasi geologi. Butuh waktu 5,6 milyar tahun hingga manusia bisa ada seperti sekarang. Evolusi mungkin semacam simulasi bagi makhluk-makhluk hidup, dimana kemudian manusia dianggap sebagai yang paling sempurna di antara semua makhluk terutama dalam hal akal. Makhluk-makhluk berakal seperti lumba-lumba misalnya, memang baru muncul setelah Zaman Oligosen, yang dekat dengan kemunculan manusia pada Zaman Pleistosen.</p>
<p>Proses penghamparan Bumi itulah, menurut Sanny, yang hingga kini terus digali oleh para ahli geologi. “Mereka berjalan kian kemari memeriksa lembaran-lembaran lapisan batuan, sebagai lembaran-lembaran ayat kauniyah dari Allah SWT,” pungkasnya. <em>Wallahu a’lam bish shawab</em>.</p>
<p><a href="http://salmanitb.com/2011/12/tafsir-surat-al-ashr-vi-akhir-evolusi-menjabarkan-kun-fayakun/">Tafsir Surat Al-‘Ashr (VI, akhir): Evolusi Menjabarkan &#8220;Kun Fayakun&#8221;</a> from <a href="http://salmanitb.com">Masjid Salman ITB - Menuju Masyarakat Informasi Islami</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://salmanitb.com/2011/12/tafsir-surat-al-ashr-vi-akhir-evolusi-menjabarkan-kun-fayakun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

