Pentingnya Merapikan Saf Salat

Jamaah masjid Salman ITB melaksanakan salat sunah setelah shalat dzuhur berjama'ah

Jamaah Masjid Salman ITB melaksanakan salat sunah setelah shalat zuhur berjamaah.

“Bu isi dulu Bu saf yang kosong. Dirapatkan, Bu, dirapatkan…”

Mendengar instruksi tersebut, beberapa jamaah perempuan salat zuhur Masjid Salman ITB langsung  merapatkan barisan salat mereka.  Saf paling belakang sudah terisi penuh. Sedangkan para perempuan di saf di depannya memilih untuk mencari tempat duduk paling dekat dengan pintu masuk, membuat akhwat-akhwat yang datang agak terlambat terpaksa berjalan menyeberangi jamaah yang sedang salat.

Idar (54 tahun), pegawai  masjid Salman yang sudah 9 tahun mengabdi itu dengan sigap meminta jamaah perempuan di saf depan agar bergeser. Tujuannya, agar memberikan tempat untuk jamaah yang baru datang. Namun permintaannya tidak digubris. Meski begitu, tepat sebelum imam mengumandangkan takbir, kedua saf sudah terisi penuh.

“Kepada seluruh jamaah dimohon untuk meluruskan dan merapatkan safnya,” ujar imam yang sedang bertugas saat itu, Selasa (5/2) lalu. Seluruh jamaah pun berdiri, dan mulai merapikan barisannya masing-masing.

“Jadi kalau perempuan mah kan kalau nggak dirapikan sama penjaga suka acak-acakan, suka nggak rapi. Makanya kalau Ashar, Dzuhur, Maghrib, selalu dirapikan. Dikasih tiga saf dibikinnya dua saf. Nggak nyaman kelihatannya,” keluh Idar saat diwawancara di ruangannya.

Mengatur saf atau barisan dalam salat sudah menjadi keseharian wanita asal kota Bandung ini. Atas inisiatifnya sendiri, beliau mengusulkan kepada Biro Rumah Tangga Masjid Salman ITB untuk memperbolehkannya mengatur barisan salat jamaah perempuan. Idar mengaku prihatin pada perilaku jamaah yang kerap mengabaikan kerapihan dan kerapatan barisan dalam salat, terutama di kalangan akhwat.

“Perempuan mah susah, Neng, kalau nggak diatur nggak beres. Kalau sama Ibu diatur, ke Ibu teh suka bengong, ngeliatin. Bukannya bikin safnya jadi rapi, ngeliatin Ibu aja begini,” lanjur Idar sambil mempraktekkan ekspresi orang yang sedang melongo.

Selama bertugas, total sudah tiga kali Idar dimarahi oleh ibu-ibu jamaah. Salah satunya bahkan membawa-bawa suami untuk memarahinya, karena tersinggung saat diminta untuk merapikan barisan. Soal pertentangan, bukan hanya sekali dua kali.

“Kalau tamu ibu-ibu yang disuruh di belakang dulu ada yang bertentangan sama Ibu. Dimarahin juga pernah, sudah 3 kali sama jamaah. Jadi sekarang mah kalau ada tamu yang nggak mau di belakang dibiarin aja,” tutur Idar.

Perihal kerapihan saf saat salat berjamaah terutama pada kalangan wanita memang kerap menjadi problematika tersendiri. Kadang ada yang ingin berdekatan dengan temannya, atau yang sajadahnya terlalu lebar, ada juga yang memang tidak suka salat dalam keadaan berhimpit-himpitan.

Masalah saf sebenarnya sudah sering dibahas, terutama dalam hadits-hadits. Misalnya dalam hadits riwayat Muslim, yang berbunyi,

“Dari Abu Mas’ud al Badri, ia berkata: Dahulu Rasulullah SAW biasa mengusap bahu-bahu kami, ketika akan memulai salat, seraya beliau bersabda: Luruskan safmu dan janganlah kamu berantakan dalam saf; sehingga hal itu membuat hati kamu juga akan saling berselisih.”

Ada juga riwayat yang menceritakan sejarah yang berkaitan dengan saf pada zaman kekhalifahan Utsman bin Affan. Saat Utsman bin Affan RA menjadi imam salat, dan ia tak kunjung bertakbir, datang petugas-petugas yang bertugas untuk merapikan saf salat. Setelah mereka melaporkan bahwa saf selesai dirapikan dan diluruskan, baru beliau memulai salat.

Ustad Muhammad Yajid Kalam, Manager Bidang Dakwah (BD) Salman ITB, mengatakan bahwa lurusnya saf itu berarti kesempurnaannya salat.

“Karena kalau dari sisi hikmah, bahwa rapatnya saf, lurusnya saf itu kan untuk menggambarkan rapatnya barisan umat Islam. Sebagian hadits meriwayatkan kalau ada sela-selanya nanti akan dimasukki setan. Jadi kalau kembali pada hukumnya, itu memang diperintahkan,” jelas Ustad Yajid di kantor DPD, Rabu (6/2).

“Tapi hati-hati, yang namanya saf  itu bukan berarti berdesak-desakkan. Yang kedua, rapatnya saf itu bukan artinya kaki dengan kaki saja, jangan kakinya yang merentang, tapi pundak sama pundak berjauhan. Itu juga salah,” lanjutnya lagi.

Ustad Yajid juga menekankan pentingnya faktor kenyamanan dalam salat. Jangan sampai rapatnya saf menimbulkan ketidaknyamanan. Intinya tidak usah sampai berlebihan, yang penting rapat dan rapi.

Masih banyak umat Islam, terutama di Indonesia yang belum paham akan pentingnya menjaga saf. Tapi ada juga beberapa yang beranggapan sebaliknya. Misalnya Yessy (32 tahun).

“Saf itu barisan dalam salat, dan harus lurus dan nggak bolong-bolong,” tuturnya.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Rike Savitri (26 tahun)

“Kan Allah menyukai kita seperti malaikat yang berjejer, ya. Kalau salat itu kan kita kayak pasukan siap perang, jadi harus rapi susunannya,” kata Rike.

Ada yang mengatakan bahwa perilaku mencerminkan aqidah. Saf yang rapat, rapi dan lurus, mencerminkan aqidah jamaah yang lurus pula. Sebaliknya, saf yang berantakan dan berlubang, mencerminkan aqidah yang “mudah” dimasuki setan dan antek-anteknya. Walaupun terlihat remeh, masalah saf tetap harus diperhatikan. Setidaknya itu salah satu ciri umat Muslim yang diridhai Allah SWT.[ed: Tr]

*

*

Top