Imam Ibnu Jarir mengetengahkan sebuah hadis yang bersumber dari Ibnu Abbas r.a. Suatu ketika Rasulullah Saw. sedang melakukan shalat. Tiba-tiba muncul Abu Jahal mendatanginya seraya mencegahnya. Maka Allah menurunkan firman-Nya, “Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang, seorang hamba ketika dia mengerjakan salat.” (Q.S. Al-’Alaq, 9-10) sampai dengan firman-Nya, “(yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.” (Q.S. Al-’Alaq, 16).
Dalam beberapa penafsiran, nasiyah ditafsirkan sebagai ubun-ubun. Ubun-ubun, dalam ilmu fisiologi manusia kerap dipadankan dengan otak depan atau lobus frontal. Samsoe Bassaroedin, salah seorang anggota Tim Diskusi Tafsir Ilmiah berpendapat bahwa nasiyah merupakan pusat kesadaran, baik kehendak jahat maupun kehendak baik.
Untuk mengkaji pendapat tersebut, tim mengundang Dr. Kusnandar Anggadireja, staf pengajar Sekolah Farmasi ITB untuk membahas fungsi lobus frontal. Diskusi tafsir tersebut berlangsung pada Jumat (25/05) pukul 13.30 WIB di Ruang Alumni Salman. Acara ini adalah kelanjutan diskusi sebelumnya yang mengundang Dr. Sony Heru Sumarsono (Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB) sebagai pembicara.
Kendali Emosi
Ubun-ubun, menurut deskripsi.com, adalah sebagai bagian yang empuk pada kepala (bagian kepala dekat dahi); bagian puncak kepala; mercu kepala. Menurut Kusnandar, lokasi ubun-ubun memang bertepatan dengan lobus frontal dalam otak manusia. Lobus frontal berada pada korteks cerebral, bagian terluar otak. Cerebral adalah otak besar, sedangkan korteks adalah kulitnya.
Menurut Kusnandar, bagian otak yang tepat di bawah ubun-ubun adalah bagian dari sistem kendali atau sistem saraf. Sistem kendali bertanggung jawab mempertahankan homeostasis atau kesetimbangan dinamis tubuh. Jadi, jika ada perubahan dalam tubuh, sistem kendali akan mengembalikan keadaan tubuh menjadi setimbang. “Misalnya, tekanan darah kita tiba-tiba meninggi. Itu ada proses yang dikendalikan oleh sistem saraf, terlebih otak,” terang Kusnandar.
Fungsi utama sistem saraf adalah memonitor, mengintegrasikan, dan menanggapi semua informasi yang ada di sekitar kita. Dalam proses integrasi informasi, terjadi interpretasi sensorik yang kemudian berujung pada pengambilan keputusan. “Ini sering saya ungkapkan pada kuliah sistem saraf saya. Jika misalkan kita melihat sesuatu yang menakutkan, kita akan lari. Namun, jika gila (terganggu jiwanya—red.), mungkin malah (yang menakutkan itu) akan dilawan balik…” ungkap Kusnandar.
Secara anatomis, sistem saraf terdiri atas sistem saraf pusat dan sistem saraf perifer (tepi). Sistem saraf pusat terdiri dari otak dan sumsum tulang belakang. Sementara sistem saraf tepi terdiri dari saraf kranial, saraf spinal, dan ganglia. Secara fungsional, kita dapat membagi sistem saraf ke dalam dua kategori, sensorik dan motorik. Sistem saraf sensorik membawa impuls ke sistem saraf pusat. Sedangkan sistem saraf motorik membawa impuls dari sistem saraf pusat ke alat-alat indra.
Sistem saraf motorik sendiri dibagi lagi menjadi sistem sadar (somatik) dan sistem tidak sadar (otonom). Kerja sistem sadar tentu berada di bawah kendali manusia. Sedangkan yang tidak sadar (otonom) mempengaruhi kerja otot polos, jantung, dan kelenjar. “Istilahnya, kerja sistem saraf otonom ini sebagai housekeeping. Dalam keadaan santai pun, saraf otonom ini tetap bekerja…” tutur Kusnandar.
Kembali pada lobus frontal, bagian ini dialiri oleh neurotransmitter. Neurotransmitter adalah senyawa-senyawa yang menjadi sarana komunikasi antara sel saraf yang satu dengan sel saraf lainnya. Di antara berbagai jenis neurotransmitter, terdapat dua senyawa yang mengalir melewati lobus frontal.
Senyawa pertama adalah dopamin yang berkaitan dengan penghargaan/motivasi, ketekunan, kenikmatan, gerak motorik kasar dan halus. Senyawa kedua adalah serotonin yang berkaitan dengan mood, pengolahan memori dan kognisi (pengetahuan). Dopamin secara khusus hanya mengalir ke lobus frontal dan tidak berlanjut ke bagian lain. Sedangkan serotonin berlanjut ke lobus parietal di belakang lobus frontal. Baik dopamin maupun serotonin dihasilkan oleh sistem limbik di bagian dalam otak.
Dengan demikian, lobus frontal berperan dominan dalam mengendalikan emosi. Ia juga menjadi tempat beradanya kepribadian kita. Lobus ini menyandang sejumlah fungsi. Fungsi-fungsi tersebut antara lain fungsi motorik, problem solving, spontanitas, memori, bahasa, inisiasi, penilaian, kendali impuls, perilaku sosial dan seksual. Dalam kaitannya dengan perilaku sosial, lobus frontal mempertahankan memori jangka panjang. Memori ini sering terasosiasi dengan emosi yang inputnya berasal dari sistem limbik di otak. Lobus frontal memodifikasi emosi ini sehingga umumnya dapat diterima menurut norma-norma sosial. Pusat kendali impuls-impuls pun terbit untuk mengatur modifikasi emosi tersebut.
Otak Retak, Kepribadian Rusak
Pada awalnya, para ahli menilai lobus frontal ini hanya berperan kecil pada perilaku. Sampai pada tahun 1848, seorang pekerja rel kereta bernama Phineas Gage tertimpa kecelakaan pada usia 25 tahun. Sebilah besi panjang menembus dari rahang bawah sampai bagian depan kepalanyanya. Gage ajaibnya masih bertahan hidup. Namun, orang-orang di sekitarnya menganggap Gage berubah drastis. Gage tidak pernah lagi tersenyum dan tidak peduli dengan lingkungannya. Gage akhirnya meninggal pada usia 36 tahun. Terlihat bahwa lobus frontal sangat berperan dalam kepribadian.
Lobus frontal matang fungsinya pada saat manusia berusia 20 tahun. Kematangan ini ditandai dengan kematangan kognisi seiring dengan kedewasaan. Kerusakan pada lobus frontal mengakibatkan dampak yang luas. Manusia akan sulit menafsirkan umpan balik dari lingkungannya. Respon-responnya pun berulang tanpa kontrol. Manusia yang mengalami kerusakan pada bagian ini pun lebih nekat menempuh risiko dan cenderung tak taat aturan. Jika kedua belahan lobus frontal (kiri dan kanan) terkena kerusakan, akan terjadi perubahan kepribadian yang signifikan.
“Jika kerusakan terjadi pada bagian kiri otak, manusia akan mengalami sedih berkepanjangan atau yang dinamakan dengan pseudodepresi. Sedangkan pada bagian otak kanan, akan mengalami pseudopsikopat..” papar Kusnandar.
Perilaku seksual yang menyimpang juga sangat mungkin terjadi karena kerusakan lobus frontal. Kerusakan lobus bagian orbital (lebih dekat ke depan, dekat mata) akan membuahkan perilaku seksual abnormal. Kerusakan lobus bagian dorsolateral (sebelah belakang samping) akan menyebabkan berkurangnya ketertarikan seksual.
Terkait sistem limbik, Samsoe Basaroedin menyampaikan pendapatnya perihal dua bagiannya yaitu amigdala dan hipokampus. Menurutnya, amigdala merupakan “jalur sengsara”. Sedangkan hipokampus adalah “jalur bahagia”. “Jika kita terbiasa merespon sesuatu dengan senyum dan tawakkal, nanti yang akan berkembang adalah hipokampus kita. Mau kena musibah seperti apapun, ia bersabar, bersyukur, dan sebagainya…” ujar Samsoe. Namun sebaliknya, kalau orang menjadi serba curiga—air mukanya akan keruh. Jalur amigdala dalam sistem sarafnya berkembang, sehingga ia akan terus-menerus sengsara.
Kusnandar membenarkan pandangan Samsoe. Secara fisiologis-fungsional, sistem limbik memang mengandung komponen amigdala dan hipokampus, selain komponen-komponen lain. Jalur hipokampus lebih ke arah frontal (depan) korteks. Jalur inilah yang paling berperan dalam mengapresiasi kenikmatan. Kusnandar bercerita mengenai percobaan laboratoriumnya pada tikus. Ia memberi morfin dan nikotin pada hewan tersebut. Morfin dan nikotin terkenal sebagai zat adiktif yang memberikan kenikmatan pada manusia. Ternyata, kondisi hipokampus tikus tersebut kemudian mengalami perubahan signifikan.
Ustadz Abu Yahya Purwanto, salah satu peserta diskusi tafsir kemudian bertanya. Jika merujuk pada Surat Al-‘Alaq ayat 15-16, Allah mencabut ubun-ubun. Apakah ini berarti rasa senang turut tercabut jika lobus frontal tidak ada? Kusnandar mengiyakan dengan sebuah kisah. Beliau menceritakan bahwa dahulu, penjahat-penjahat skizofrenik (sakit jiwa) yang tidak bisa disembuhkan lagi dengan terapi psikologis, biasanya diberi terapi bedah lobotomy. Lobotomy adalah pemotongan saraf di bagian depan otak lewat rongga mata. Lobus frontal-nya dibuat tidak berfungsi. Ini menyebabkan sang penjahat menjadi bloon. Namun, praktik tersebut tidak diperbolehkan lagi setelah ditemukannya obat-obatan untuk skizofrenia.
Kemudian Samsoe berpendapat, lobus frontal berfungsi sebagai pengambil keputusan, mau berbuat baik atau buruk. Jika nasiyah (dalam konteks lobus frontal) rusak, berarti manusia kehilangan kesadarannya. Apabila manusia kehilangan kesadarannya, akan memungkinkan jika manusia tersebut tidak dimintai pertanggungjawabannya di akhirat nanti.
Ir. Fatchul Umam, ketua Tim Tafsir Ilmiah Salman ITB kemudian menutup diskusi hari itu dengan sebuah doa yang berasal sebuah hadits, Allahumma ‘afini fi badani. Allaahuma ‘afini fi sam’i. Allahumma ‘afini fi bashari, “Ya Allah, sehatkanlah badanku. Ya Allah sehatkanlah pendengaranku. Ya Allah sehatkanlah penglihatanku.” (H.R. Abu Daud). Wallahu’alam bish Shawab. [tristia—disarikan dari Diskusi Tafsir Ilmiah Jumat 25/05]




















