Tarawih Pertama di Masjid Kenangan

sumber gambar http://adenlife.wordpress.com/

Oleh Aden Edcoustic

Tarawih malam pertama sengaja saya jadwalkan untuk dilaksanakan di Masjid Salman ITB. Masjid ini penuh dengan kenangan semasa kuliah dulu, 10 tahun lalu. Setiap salat di sana selalu saja menghadirkan slide masa lalu. Seperti dalam lagu “Sepotong Episode Masa Lalu” yang saya ciptakan, tiap sudutnya punya cerita tersendiri.

Seperti tadi, saya duduk menatapi masjid besar ini sambil mendengarkan kultum tarawih Mas Syarif, petinggi Salman. Dulu awal masuk jadi aktivis Salman, senior saya sering bercerita tentang filosofi setiap dinding bahkan lampu yang ada di masjid. Kenapa jumlahnya ada lima, kenapa ada 27, kenapa semua berlapis kayu, hingga kenapa atapnya tidak berkubah seperti masjid lainnya. Sungguh hebat arsitek masjid ini, beliau membuatnya dengan konsep yang jelas, hingga saat ini pun bangunannya masih kokoh berdiri tanpa perubahan.

Salman memang unggul dalam konsep dan sistem. Tak hanya bangunannya, tapi juga sumber daya manusia di dalamnya. Sejak tahun 70-an hingga kini masjid kampus ini selalu saja dinamis dengan berbagai aktivitas dakwahnya. Itulah pelajaran penting yang saya dapat dari sini, pentingnya konsep dan sistem.

Saat wudu, airnya masih sedingin dahulu. Untung saja lantai masjidnya dari kayu, jadi lebih hangat saat menikmati salat berjamaah. Dulu, setiap Sabtu dan Minggu saya luangkan waktu untuk berkegiatan di sini. Saat itu, saya hanya bermodal uang 3-5 ribu rupiah untuk ongkos dan makan selama dua hari. Uangnya saya kumpulkan dari sisa-sisa uang jajan kuliah.

Mama saya sempat ngomel. “Buat apa aktif di masjid kampus orang lain?” tanyanya begitu. Rumah, kampus UIN dan Masjid Salman, seperti segitiga bermuda, tiga daerah yang sama-sama jauhnya. Buang-buang uang saja, pikir Mama.

“Manfaatnya mungkin nanti, Ma, setelah beres kuliah,” jawab saya singkat.

Benar saja. Saat saya lulus, para alumni aktivis Salman membantu saya untuk mendapatkan pekerjaan layak. Ikatan alumni aktivis Salman memang sangat kuat. Tidak hanya itu, embrio band Edcoustic lahir dan disokong penuh oleh orang-orang Salman juga. Peran lingkungan Salman sangat membantu saya, hingga saya bisa seperti sekarang.

Jujur saja, sebagai aktivis Salman, dulu saya tidak terlalu aktif. Jarak yang cukup jauh dari rumah membuat saya sulit untuk bisa seaktif teman-teman lainnya. Andai saja saya tidak menciptakan lagu Hymne Salman dan membuat grup Edcoustic, mungkin sampai sekarang saya tidak akan dikenal banyak alumni. Kemampuan saya bermusik menjadi modal untuk sekedar dikenal sebagai alumni Salman.

Tarawih pertama di masjid penuh kenangan ini memberi kesan tersendiri. Saya yakin jika setiap malam bisa tarawih di tempat-tempat yang berbeda, baik itu di masjid maupun di rumah, akan tercipta kesan-kesan tersendiri.***

About author
Ingin tulisan Anda dipublikasikan di Salmanitb.com? Kirimkan tulisan ke redaksi@salmanitb.com beserta keterangan aktivitas Anda.

Masjid Salman ITB © 2013 All Rights Reserved

Developed by Onnay Okheng.