Jalan yang terjal, berbatu, dan penuh debu harus ditempuh melewati pegunungan kapur. Jaraknya 2 KM dari jalan raya Padalarang. Namun siapa sangka di balik gunung-gunung kapur itu terdapat Pondok Pesantren (Ponpes) Miftahul Ulum. Letaknya masih di Bandung, tepatnya di daerah penambangan kapur Cipatat, Cirawamekar, Kabupaten Bandung Barat.
Miftahul Ulum adalah sebuah pesantren dengan luas 9,5 hektar. Pada bagian utara pesantren terdapat raung kelas utama, ruang guru, dan rumah pemilik pesantren. Sedangkan pada bagian selatan pesantren terdapat masjid, asrama putra, asrama putri, dan kamar mandi.
Dahulu, daerah penambangan kapur ini bukan daerah yang identik dengan nilai-nilai islam. “Di sini kan daerahnya termasuk daerah yang terpencil dan latar belakang masyarakatnya terhadap agama (Islam) sangat minim,” kata Ade Tursopa, pemimpin Ponpes Miftahul Ulum. Menurut ceritanya, ketika itu orang yang melakukan salat jumat masih bisa dihitung dengan jari, paling banyak 12 orang.
“Mungkin karena ajaran Hindunya masih kuat, masih ajaran-ajarannya campur aduk dengan budaya,” tambahnya. Budaya seni yang sangat kuat, seperti tari jaipong, wayang golek, sampai sekarang pun masih ada. Selain itu warga disana tidak pernah berpuasa ketika bulan Ramadan tiba. Hal ini dikarenakan mayoritas penduduk merupakan petani dan kuli batu, sehingga membutuhkan banyak tenaga. Hal ini mendorong Ade Tursopa bekerja sama dengan lurah setempat untuk membangun sebuah pesantren.
Pembangunan pesantren dimulai pada tanggal 25 Oktober 1987. Ade adalah alumni pesantren Manonjaya, Tasikmalaya. Gurunya memberi amanah jika akan membangun sebuah pesantren awali dengan kata “Miftah” yang artinya kunci. Sedangkan Ulum itu sendiri artinya ilmu. Jadi Miftahul Ulum bermakna kunci ilmu.
Awalnya santri yang ada hanya tujuh orang. Jumlah santri terus bertambah sampai saat ini mencapai 102 santri yang menetap di pesantren. Asal santrinya pun beragam, yang paling jauh berasal dari Bangka Belitung, Lampung, sampai Surabaya. Sedangkan di Jawa Barat, hampir dari setiap kabupaten selalu ada.
Semenjak dibangun pesantren, nilai-nilai Islam mulai tertanam di daerah Cipatat. Hal tersebut dapat dilihat dari jumlah jamaah salat jumat yang meningkat. Hanya satu dua orang saja yang tidak ikut.
Kegiatan belajar mengajar di pesantren dilakukan seperti sekolah formal pada umumnya. Kegiatan dimulai dari pagi sampai tengah hari. Setelah waktu asar, santri Aliyah dan MTs mengkaji ajaran Salafiyah.
Ajaran Salafiyah tersebut mempelajari kitab kuning, ilmu fiqih dasar, ilmu tauhid dasar, ilmu balagoh, ilmu tafsir, ilmu hadis, dan usul fiqh. Semua kajian ilmu tersebut tergantung dari tahapan-tahapan kelas.
Pekan lalu Ponpes ini menjadi tempat kegiatan Pesantren Kilat KETOPRAK (Kerajinan dan Teknologi Praktis). Sanlat ini dilakukan oleh Pembinaan Anak-anak Salman (PAS) ITB selama enam hari.
Pihak pesantren begitu senang dengan adanya kegiatan seperti itu. Menurut pihak pesantren selain ajang silaturahmi, Sanlat KETOPRAK juga berguna sebagai media pembelajaran bagi santri yang masih menetap di pesantren dalam mengelola anak-anak.
“Yang sangat kami harapkan bahwa pengurus PAS itu bukan hanya silaturahmi sampai sekarang,” ungkap Ade. Ia juga berharap pengurus PAS bisa memberikan bantuan kepada pesantern. Misalnya saja bantuan tenaga pengajar jika dibutuhkan untuk keberlangsungan kegiatan pesantren di Miftahul Ulum.


















