Oleh: Iqbal Eras Putra*
Tahun 2004 seolah menjadi tahun bencana besar bagi Indonesia. Yang paling terkenal tentu saja bencana tsunami Aceh yang menewaskan lebih dari 200 ribu korban jiwa. Namun, 9 bulan sebelum peristiwa maut tersebut, bencana besar juga terjadi di Provinsi Sulawesi Selatan. Tepat pada tanggal 26 Maret 2004, longsor berskala besar terjadi di Kaldera Gunung Bawakaraeng, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Jumlah material yang runtuh mencapai 250-300 juta m3 yang menobatkan longsoran tersebut menjadi yang terbesar di dunia, hingga disebut juga Megalongsoran Gunung Bawakaraeng.
Menurut bahasa setempat, bawa berarti mulut dan karaeng berarti wali atau yang disucikan. Jadi, Gunung Bawakaraeng bisa diartikan Gunung Mulut Wali. Gunung dengan elevasi 2.830 mdpl tersebut merupakan salah satu puncak yang berada di kawasan Pegunungan Lompobatang. Di kaki gunungnya terdapat perkebunan teh Malino yang merupakan kawasan wisata bagi warga lokal, khususnya warga Kota Makassar yang kini berkembang menjadi kota terbesar di kawasan Indonesia timur.
Kaldera berumur Plistosen ini juga menjadi hulu dari Sungai Jeneberang yang menjadi input utama dari waduk terbesar di Sulawesi Selatan, yaitu Waduk Bili-Bili. Waduk ini bersifat multifungsi, yaitu sebagai PLTA, irigasi, sumber air bersih PDAM, budidaya ikan, kawasan wisata, dan penangkal banjir yang kerap terjadi di daerah hilir Sungai Jeneberang, termasuk Kota Makassar. Dengan adanya waduk seluas 40.428 ha yang dibangun pada tahun 1999 ini, para petani menjadi lebih produktif. Warga sekitar pun mendapat manfaatnya dari hasil budidaya ikan dan usaha warung lesehan karena banyaknya wisatawan yang datang ke waduk ini terutama di hari libur. PLTA dengan kekuatan 20 MW pun mampu melayani kebutuhan listrik Kota Makassar dan sekitarnya yang mulai menggeliat dari segi ekonomi.
Namun, kawasan wisata dan waduk multifungsi tersebut berubah total saat sisi timur Kaldera Gunung Bawakaraeng longsor. Material debris dalam jumlah besar memenuhi lembah Sungai Jeneberang, mengakibatkan terjadinya banjir lumpur yang menghancurkan semua yang dilewati. Jembatan Daraha yang menghubungkan desa-desa di sekitarnya pun terputus. Sabo dam dan kantung pasir (sand pocket) yang mengontrol laju sedimen Waduk Bili-Bili pun rusak parah. Akibatnya, waduk yang multifungsi ini mengalami kekeruhan dan pendangkalan yang serius. Usia bendungan yang dirancang untuk 50 tahun ini pun terancam berkurang usianya.
Oleh karena itu, untuk memulihkan kembali fungsi waduk, dilakukanlah upaya pengendalian dan mitigasi bencana longsor DAS Jeneberang dan Gunung Bawakaraeng yang terhimpun dalam buku berjudul Mengendalikan Megalongsoran Gunung Bawakaraeng. Buku full color ini menjelaskan dengan cukup rinci dan menarik bagaimana jumlah sedimen sebanyak itu dikendalikan agar tidak mengancam usia efektif waduk yang sangat vital tersebut. Penjelasannya yang runut mulai dari bagian hulu yaitu di Kaldera Gunung Bawakaraeng hingga mulut waduk, membuat pembaca mampu membandingkan perbedaan upaya yang dilakukan serta tingkat kesulitan yang dihadapi.
Untuk mengendalikan sedimen dari material longsoran Gunung Bawakaraeng di Sungai Jeneberang, dibuat sejumlah sabo dam dengan tipe yang berbeda sesuai dengan posisinya. Di bagian hulu misalnya, dibangun 7 seri sabo dam dalam jarak cukup berdekatan. Di bagian tengah, dibangun seri konsolidasi dam untuk mengendalikan sedimen dengan ukuran butir sedang. Seri sand pocket digunakan di bagian hilir sebelum masuk Waduk Bili-bili. Upaya ini terbukti berhasil mengendalikan sekitar 30 juta m3 dari total 230 juta m3 (sekitar 21%).
Penulis sangat baik dalam menjelaskan cara kerja dan fungsi dari sabo dam, yaitu struktur bangunan yang digunakan sebagai pengendali aliran sedimen di sungai. Sabo dam yang juga digunakan untuk menanggulangi banjir lahar Gunung Merapi merupakan struktur bangunan yang diadopsi dari teknologi sejenis di Jepang. Bagi orang awam, struktur ini mungkin sekilas kurang bermanfaat karena walaupun disebut bendungan, aliran airnya sendiri sebenarnya tidak dibendung. Namun, penampang melintang dan sketsa 3D pada buku ini sangat membantu pembaca dalam memahami cara kerja dan fungsi dari tiap jenis sabo dam yang diterapkan di Sungai Jeneberang.
Kendati berbau laporan, namun buku ini cukup mudah dipahami. Istilah-istilah asing sebagian besar tercantum dalam glosari ataupun langsung dijelaskan dalam teks. Beberapa penjelasan istilah ini masih ada yang berbahasa asing. Mungkin karena belum ada padanan katanya dalam Bahasa Indonesia. Tampilannya yang penuh warna dengan kualitas kertas yang baik, membuat buku ini menarik untuk dibaca walaupun membuat harga buku ini menjadi mahal. Foto-foto menghiasi hampir di setiap halaman, termasuk foto dari seluruh sabo dam yang dibangun. Beberapa foto tersebut menampilkan pemandangan yang sangat menarik. Misalnya foto sabo dam 7-1 (SD 7-1) yang berada dekat air terjun atau konsolidasi dam 4 (CD-4) yang dibangun di antara tebing terjal.
Selain struktural, upaya nonstruktural seperti penghijauan pun dilakukan di kawasan kaldera yang terbuka karena longsor serta di sekitar Waduk Bili-Bili. Pepohonan yang ditanam di kawasan kaldera tersebut mampu menahan laju run off atau limpasan erosi permukaan. Diharapkan hal tersebut mampu mengurangi jumlah sedimen yang masuk ke Sungai Jeneberang sejak dari hulu.
Banyak pesan dan pelajaran yang dapat diperoleh dari buku ini. Salah satu yang paling penting ialah dilibatkannya masyarakat lokal selama upaya pengendalian sedimen ini dilakukan. Hal ini sangat baik untuk meningkatkan kemampuan dan disiplin kerja warga lokal karena proyek ini ditangani oleh konsultan asing dari Jepang. Tanaman yang digunakan untuk penghijauan pun merupakan tanaman buah yang dapat dipanen oleh warga. Buku ini pun merupakan referensi yang cocok bagi pelajar untuk memahami bagaimana cara memitigasi bencana longsor, dari hal kecil seperti menghijaukan lereng hingga yang menggunakan teknologi terkini seperti sabo dam.
*Mahasiswa Institut Teknologi Bandung

















