Berbicara Amerika dan Intoleransi dengan Kedubes AS

Manajer Bidang Pengkajian dan Penerbitan (BPP) YPM Salman ITB, Salim Rusli, tengah menyampaikan pendapatnya pada Staff Kedubes AS.  (Foto: Fery AP)

“Jadi bagaimana pendapat Anda mengenai kebijakan luar negeri Amerika Serikat?”

Seorang pria Amerika, ditemani teman senegaranya dan satu orang Indonesia, melemparkan pertanyaan tersebut pada hadirin. Kala itu, Rabu (18/7), di ruang rapat Rumah Alumni YPM Salman ITB beberapa perwakilan divisi dan unit diundang menghadiri diskusi bersama duta muda dari Kedubes Amerika Serikat. Mereka berdiskusi mengenai kehidupan Islam di kampus dan gejala intoleransi beragama di Indonesia.

Jawaban yang diberikan oleh hadirin beragam. Fery Adi Prasetyo misalnya. Aktivis Korps Relawan Salman ini menganggap, kebijakan-kebijakan luar negeri Amerika Serikat membuat orang Indonesia memandang negatif pemerintah Amerika Serikat. Kemudian Ustadz Yajid Kalam dari Bidang Dakwah Salman ITB menganggap, seharusnya Amerika Serikat lebih mengutamakan diplomasi untuk menyelesaikan masalah internasional ketimbang perang.

Salah satu perwakilan P3R yang pernah bersekolah di Alaska mengungkapkan pengalamannya bagaimana warga Amerika memanadang Muslim. Selama bersekolah di sana, ia berupaya untuk membuktikan bahwa Muslim tidak sekadar sekumpulan teroris yang gemar membunuh.

“Saya diajarkan, ketika seorang Muslim membunuh nyawa satu orang sesamanya, berarti Anda membunuh seluruh umat manusia,” ujar mahasiswa tersebut.

Kemudian, pertanyaan kedua yang diajukan terkait intolenransi. Kedutaan Besar Amerika Serikat mendapat laporan, tingkat intoleransi kehidupan beragama di kampus-kampus kini meningkat, khususnya di Jawa Barat. Kemudian, salah satu perwakilan menanyakan, benarkah seperti itu? Bagaimana jika di lingkungan Masjid Salman?

Ustad Yajid menyanggah. Beliau berpikir muslim Indonesia tidak seperti itu. Muslim Indonesia memegang keyakinan, membunuh satu orang, sama dengan membunuh semua manusia. Mayoritas muslim di Indonesia ini adalah komunitas yang mereka sudah terbiasa dengan perbedaan. Sedangkan mengenai Salman, Yajid berpendapat masjid ini terbuka  untuk orang berbeda agama.

Scott M. Ceremuga, salah satu perwakilan Kedubes Amerika Serikat yang menghadiri diskusi pun menyanjung suasana Salman yang open terhadap pengunjungnya.

“Suasana jemaah Salman begitu energetik. Aktivitas-aktivitas di sini pun saya lihat begitu hidup. Secara visual, saya merasakan keterbukaan jemaah-jemaahnya. Sangat welcoming,” ujarnya. ***

Masjid Salman ITB © 2013 All Rights Reserved

Developed by Onnay Okheng.