Refleksi Sejarah Indonesia Lewat Kacamata Soegija

Soegija, bak oasis dalam gersangnya dunia perfilman Indonesia. (Gambar: hiburan.kompasiana.com)

Film Soegija diangkat dari kisah Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ. Pahlawan nasional dan Uskup pribumi pertama dalam Gereja Katolik Keuskupan Semarang. Dalam film ini sang sutradara, Garin Nugroho, ingin bercerita tentang nilai-nilai kemanusiaan yang diusung Soegija, terutama di masa perjuangan merebut kemerdekaan.

Bagi Soegija, kemanusiaan itu satu, kendati berbeda bangsa, asal-usul, dan agamanya. Cinta kasih itu universal. Perang sendiri merupakan kisah terpecah belahnya keluarga besar manusia.

Latar film ini dimulai pada awal era ’40-an, akhir rezim kolonial Belanda di Indonesia. Saat Soegija (Nirwan Dewanto) baru dilantik menjadi uskup Gereja Katolik Semarang.

Film ini menyoroti perpisahan sebagai dampak dari peperangan. Pada tahun 1942, Jepang mulai masuk Indonesia. Mariyem (Annisa Hertami) terpisah dari kakaknya, Maryono (Abe). Ling Ling (Andrea Reva) dan ayahnya (Hengky Solaiman) terpisah dari ibunya (Olga Lydia). Mereka lantas mengungsi ke Jogjakarta dan memulai hidup baru karena Semarang dilanda kekacauan usai pendudukan oleh tentara Jepang,

Perpisahan tak hanya dialami kaum pribumi. Para penjajah pun mengalami hal serupa. Nobuzuki (Suzuki) terpisah dengan anak dan istrinya di Jepang. Seorang tentara Belanda yang bengis, Robert (Wouter Zweers), ternyata merindukan ibunya dan kampung halamannya. Begitupun dengan Hendrick (Wouter Braaf) yang kemudian berpisah dengan pribumi yang dicintainya, lantaran kondisi kian tak menentu, usai pendudukan Indonesia oleh NICA.

Berdasarkan pengalaman tersebut, Soegija ingin kembali menyatukan kisah-kisah cinta keluarga besar kemanusiaan. Ia pun dengan tegas mengutuk peperangan dan menyerukan perdamaian.

Sebenarnya saat menonton film ini saya berharap tokoh Soegija dengan segala pemikirannya tampak dominan. Sayangnya tidak. Tokoh Mariyem lebih ‘terlihat’ dibanding sang tokoh utama. Hasilnya, pemikiran-pemikiran Soegija tidak terlalu banyak terkuak. Kita justru akan lebih banyak menyaksikan sejarah melalui pemikiran Mariyem.

Apalagi konfrontasi Soegija dengan Kerajaan Belanda juga tidak diungkap. Padahal konflik tersebut yang menurut saya layak ditonjolkan dalam film berdurasi 115 menit tersebut.

Kendati demikian, film ini sarat dengan pesan moral maupun politik. Meskipun porsi peran Soegija kurang optimal, namun kehadirannya senantiasa membawa pesan yang dalam. Seperti saat ia bertutur pada pemimpin pemuda Semarang, Lantip dan Lurah suatu desa di Semarang.

Ia menuturkan bahwa rakyatlah yang harus merasakan kenyang terlebih dulu daripada pemimpin atau imam. Sebaliknya, jika terjadi kelaparan, imam atau pemimpin yang harus merasakan terlebih dahulu. Karena, baginya pemimpin mesti melayani dan mengayomi rakyatnya.

Secara teknis, film ini digarap dengan rapi. Setting waktu dan tempat dilakukan dengan maksimal. Sehingga, penonton dibuat merasa sedang berada di zaman ’40-an. Sinematografinya pun memukau.

Sayangnya, ada beberapa adegan yang cukup mengganggu. Alur ceritanya pun terasa terlalu lambat. Lantaran, banyak adegan yang mestinya bisa diperpendek durasinya, seperti perjalanan Robert dan Hendrick ke Kota Semarang. Atau saat Robert bertingkah seperti mesin. Namun, hal-hal tersebut, cukup tertutupi dengan humor-humor yang disajikan Koster Toegimin, abdi Soegija, yang diperankan oleh Butet Kertaradjasa.

Musik-musik yang dimainkan dalam film pun cukup manis dan selaras dengan filmnya. Bahkan, dengan musik pun ada pesan politik yang disisipkan melalui lagu ‘Bengawan Solo’ dan ‘Rasa Sayange’.

Dunia perfilman Indonesia belakangan didominasi oleh genre film esek-esek berbalut horor. Sehingga rasanya tidak berlebihan jika film ini saya sebut bagai oasis di padang pasir.

Masjid Salman ITB © 2013 All Rights Reserved

Developed by Onnay Okheng.