Memaknai Kearifan Permainan Tradisional

(Foto: listigreenmaniac.tumblr.com)

Masih ingatkah Anda dengan permainan anak-anak tradisional zaman dulu seperti gatrik, gobak sodor, atau engrang? Permainan anak- anak semacam itu kini jarang sekali dimainkan oleh anak-anak. Keberadaan permainan tradisional seperti itu bak hilang ditelan zaman modernisasi.

Di tengah zaman modernisasi saat ini, ternyata masih ada peminat permainan anak tradisional yang berusaha melestarikannya. Salah satunya adalah komunitas Hong. Komunitas ini berusaha menggali dan memberdayakan kembali permainan-permaian anak tradisional “zaman baheula”.

Komunitas ini memperkenalkan kembali permainan-permainan tradisional yang seakan hilang keberadaannya saat ini kepada anak-anak. Memprkenalkan anak terhadap permainan tradisional merupakan suatu cara untuk menumbuhkan pola kehidupan “buhun”. Dengan begitu anak belajar untuk peka dan peduli terhadap dirinya, lingkungannya, serta tuhannya.

Komunitas yang beranggotakan 150 orang ini berasal dari masyarakat usia 6-90 tahun. Kelompok anak adalah pelaku dalam permainan, sedangkan untuk anggota dewasa adalah sebagai narasumber dan pembuat mainan. Komunitas Hong terus melestarikan permainan anak tradisional sebagai artefak agar tidak punah, melakukan pembinaan budaya bermain terhadap anak. Hal ini dilakukan agar anak tetap bermain pada basis budaya lokal. Mereka pun terus mengembangkan produk mainan rakyat sebagai pengembangan mainan anak dalam kebutuhan dunia pendidikan.

Sebagai bentuk keseriusannya dalam melestarikan dan mengembangkan “kaulinan barudak” komunitas Hong juga membuka Museum Mainan Rakyat di Bandung. Selain itu, mereka  juga membangun Kampung Kolecer, tempat melatih mainan dan permainan rakyat. Kampung Kolecer ini terletak di Kampung Bolang, Desa Cibuluh, Kecamatan Tanjungsiang, Kabupaten Subang.

Nilai yang Hilang

Seiring dengan perkembangan teknologi, semua urusan beralih ke depan layar. Begitu pun dengan permainan anak-anak. Ragam permainan modern untuk anak bermunculan. Kini kita tidak bisa melihat keceriaan anak-anak bermain engrang, gobak sodor dengan teman sebayanya atau menyanyikan lagu-lagu anak-anak tradisional seperti pupuh kinanti dengan “budak leutik bisa ngapung” atau lagu “lir ilir“.

“Ini adalah sebuah konsekuensi zaman dan perkembangan teknologi, yang menyebabkan ada beberapa nilai yang hilang dari permainan anak-anak,” ujar seroang peminat kajian budaya, Alfathri Adlin  ketika ditemui di ruang Divisi Pengkajian dan Penerbitan Masjid Salman ITB, Senin (4/06).

“Sebenarnya ada aspek dasar dari kemunculan permainan modern yaitu perpanjangan badan, perpanjangan saraf dan perpanjangan imajinasi,” pungkas pria yang biasa dipanggil Al ini.

Permainan modern seperti game online memang memiliki nilai positif seperti melatih refleks dan imajinasi anak. Namun sangat disayangkan, permaian seperti ini membuat anak kecanduan memainkannya berlama-lama di depan layar komputer. Tidak hanya anak-anak, bahkan orang dewasa pun ikut kecanduan. Hal ini tidak seperti permainan tradisional. Tidak ada permainan tradisional yang membuat anak-anak atau orang dewasa menjadi kecanduan.

Menurut Al, terdapat makna yang mendalam dalam permainan dan lagu anak tradisional yang tidak bisa ditemukan dalam permainan modern. Banyak orang tua yang mengeluh jika anaknya bermain di luar, kotor-kotoran, berpanas-panas sehingga memberikan anaknya game PC atau game online. Akhirnya, anak tersebut menjadi asosial.

Permaianan modern  membuat anak menjadi malas, kecanduan, berlama-lama di depan layar komputer, serta bersifat anti sosial. Game atau permainan modern berpotensi menampilkan kekerasan kepada anak. Misalkan saja adegan tembak-tembakan atau menabrak orang dalam game. Tanpa disadari, karakter negatif akan terbetuk pada diri  anak.

Sedangkan menurut Al, pada intinya permainan tradisional mengajarkan anak untuk berinteraksi sesamanya. Permainan tradisional juga bermanfaat untuk mengenal lingkungan dan menggali kreativitas anak. Dalam permainan tradisional terdapat makna yang dalam bila dipelajari lebih mendalam. Peramainan tradisional memberikan makna yang tebal, rasa yang tebal dan pengalaman yang tak tergantikan bagi anak.

“Permainan tradisional bisa melatih daya tahan tubuh anak, membentuk kreativitas dengan teman sebayanya,” kata Al.

Jadi, masih berpikir bermain engrang dan petak umpet sudah ketinggalan zaman?***

  • otto sundawan

    aya nu gaduh konsep ngahijikeun pendidikan budaya sunda jeung kaislaman tanpa mengurangi nilai satu sama lain?

Masjid Salman ITB © 2013 All Rights Reserved

Developed by Onnay Okheng.