Indonesia, No Matter What!

sumber gambar http://thislearner.blogspot.com/

Oleh Anissa Trisdianty

Saya, bisa dikatakan tipikal manusia yang hobi sekali memberikan penilaian. Apa saja bisa saya jadikan bahan penilaian. Ketika saya sedang mengantri lalu tiba-tiba ada yang main serobot, saya akan langsung melontarkan penilaian sinis, “Huh, memang ya orang Indonesia, susahnya disuruh sabar dan antri!”

Atau pada kesempatan lain, ketika saya sedang diburu sesuatu dan angkutan umum yang saya tumpangi malah dengan teganya ngetem lebih dari 1 jam, saya juga akan dengan mencak-mencak memberikan penilaian, “Orang Indonesia, hobinya menunggu rezeki, pantas sekali nggak maju-maju, kerjaannya cuma nunggu sih.” Biasanya saya mengucapkan itu sambil meninggalkan angkot tersebut untuk pindah ke angkot lainnya. Saya tidak begitu peduli seperti apa tanggapan supirnya, yang jelas saya merasa dirugikan.

Ya, begitu saya. Sebegitu seringnya memberikan penilaian negatif, dan seringnya saya memberikan penialaian tersebut dengan embel-embel “…Indonesia”. Lucu, memangnya saya berasal dari mana? Timbuktu?

Saya jadi teringat sesuatu. Saya kebetulan hobi sekali bergabung di berbagai milis dengan topik travelling, book, atau kepenulisan. Dan suatu ketika, saya berkesempatan memiliki seorang teman berkebangsaan Kanada, namanya Emily. Di suatu sore yang indah, saya sedang asyik memandangi chat forum milis travelling  yang saya ikuti. Tiba-tiba mata saya melihat tema chat forum yang cukup menarik dan menggelitik ke-Indonesia-an saya. Chat forum itu bertopik: Where is Bali?

Saya pun join chat tersebut, dan teman saya yang bernama Emily itu juga sedang asyik meramaikan chat forum tersebut. Awalnya saya hanya ikut berpartisipasi menjadi penonton dan menimpali sesekali perbincangan bule-bule aneh itu. Perbincangan mereka ternyata bertolak belakang dengan topik chat-nya. Ekspektasi saya ketika masuk chatroom tersebut adalah saya akan terlibat perbincangan seru mempertanyakan di manakah Bali. Sebagai orang Indonesia tulen, saya berencana hadir dengan jumawa sebagai Informan A1 mereka dan memberikan jawaban yang tepat. Pyuh… Nyatanya perbincangan mereka hanya seputar pantai-pantainya saja, keindahan tariannya.

Saya hampir meninggalkan chatroom tersebut sampai muncul satu pertanyaan dari Emily kepada saya, “Nisa, is Bali near your country, Indonesia?”

Mata saya menyipit, saya nggak salah baca kan, ya? Ini si Emily yang katrok atau memang Bali –pada kenyataanya– lebih terkenal daripada Indonesia itu sendiri, ya? Saya pun akhirnya balik bertanya pada Emily.

I think it’s like your country with Malaysia, is it true?” kata Emily. Saya merasa gemas sekali dengan jawaban Emily, saya menyuruhnya untuk membuka peta. Tapi ia menolak dan memaksa saya untuk mengatakan di mana Bali berada. “Bali is a part of my country, Emily,” kata saya. Melihat reaksinya, saya tebak Emily cukup terkejut. “Hell, are you kidding me? Is that true?” balas Emily. Saya akhirnya menyarankan Emily untuk membuktikan sendiri dengan mengecek Google Map.

Setelah itu, perbincangan saya dan Emily menarik perhatian penghuni lain chatroom tersebut, pembahasan kita pun kembali sesuai topik, dan saya berhasil dengan jumawanya bertindak sebagai orang yang paling tahu. Padahal, ke Bali saja saya belum pernah.

Perbincangan dengan Emily di chatroom tersebut rupanya membekas di benak saya. Sampai di rumah, saya jadi berpikir, “Am I live on a country of nowhere?” Sampai ada yang tidak percaya bahwa negara yang di coreng-morengi oleh banyak kenyataan buruk ini adalah negara pemilik sah Bali, yang keindahannya mendunia itu.

Saya menarik nafas panjang, mengingat kembali rutukan-rutukan terhadap kejadian yang  sering saya alami di negeri ini. Betapa dengan mudahnya ketika suatu kejadian tidak mengenakan terjadi, saya selalu menyertakan embel-embel Indonesia. Kesal sedikit dengan sistem transportasi, orang yang tidak ramah, penyerobot antrian, birokrasi yang berbelit, situasi daerah yang tidak aman, selalu berujung pada keluhan: Huh, Indonesia..

“This is My Home, Indonesia…”

Saya teringat pertemuan mengesankan saya dengan seorang nenek yang berasal dari Lucerne, Switzerland. Pagi itu saya melakukan perjalanan dari Bandung menuju Jakarta. Saya berangkat pukul 5 pagi dikarenakan wawancara kerja dimulai pukul 8 pagi. Nenek mengesankan itu adalah teman duduk saya di sebuah kendaraan travel.

Namanya Mama Ana, dia meminta saya memanggilnya begitu. Mama Ana sudah 35 tahun tinggal di Indonesia. Tempat tinggalnya tidak tetap, berganti-ganti sesuai keinginannya. Tapi sebulan sekali ia mengunjungi bisnis kuenya di Jakarta. Awalnya kami hanya membicarakan hal-hal standar dua orang yang baru bertemu di sebuah kendaraan umum, basa-basi pekerjaan, tujuan kepergian ke jakarta, isu selebritis yang sedang ramai dibicarakan, sampai akhirnya pembicaraan ini menjadi personal ketika saya bertanya, “Do you wanna go home?”

Mama Ana bisa berbahasa Indonesia, tapi saat itu saya  refleks mengeluarkan pertanyaan tersebut dalam bahasa Inggris. Dahi mama Ana sempat berkerut, entah grammatical saya yang salah, atau pertanyaan itu terlalu personal. Tapi saya lega ketika melihat mama Ana tersenyum dan melontarkan pertanyaan balasan, “What do you mean by asking me about going home? Is it about going home or going back? I think it’s different…

What’s different?” saya mengejarnya lagi dengan pertanyaan lain. “If you ask me about going home, I don’t wanna go home, this is my Home, Indonesia. But if you ask me about going back, maybe someday I’ll be back to Lucerne, just for vacation, as a tourist.” Mama Ana terkekeh, saya malah terkesima.

“This is my home, Indonesia.” Kalimat itu terlontar dari bibir seseorang yang bukan Indonesia. Wajah Mama Ana bersungguh-sungguh mengatakannya, ada segurat cinta di sana. Saya terhenyak, mengingat apa yang saya lakukan pada negeri saya sendiri, menghujatinya tiada henti.

“Negerimu ini memyimpan banyak kenikmatan hidup, Nisa. Kekacauannya itulah kenikmatannya. Kemacetannya itu adalah seninya. Ya, walau terkadang saya juga punya harapan pemerintah Indonesia mau sedikit berbenah, supaya Indonesia menjadi lebih dicintai,” pesan Mama Ana.

Saya menyimpan baik perbincangan saya dengan Mama Ana, berpikir untuk berbuat sesuatu agar Indonesia lebih dicintai, dengan cara apapun itu.

Indonesia = Kita Sendiri

Sebuah film pendek bertajuk “Indonesia itu Anda” pernah menyentil ke-Indonesia-an saya. Film itu memberi tahu saya, apapun yang kita lakukan sebagai orang Indonesia, maka itulah gambaran tentang negeri ini.

Saya yang hobi mengkritik ini, bisa jadi merupakan gambaran orang Indonesia yang bisanya omdo alias omong doang. Teman saya yang hobi menggunakan brand luar negeri, bisa jadi mencerminkan bahwa brand Indonesia tidak bermutu. Mereka yang lebih suka nonton film luar negeri, bisa jadi sedang mematikan industri film Indonesia itu sendiri. Dan perilaku-perilaku lainnya yang makin mendefinisikan Indonesia sebagai a country of  nowhere. Saya ngeri membayangkannya.

Padahal, kalau kita mau lebih memperhatikan, banyak kok hari ini orang Indonesia yang melakukan hal-hal positif lewat komunitas. Usaha-usaha kreatif membangkitkan gairah optimis negeri ini. Padahal kenyataannya, brand luar negeri banyak yang memakai kulit asli Cibaduyut kok, sebelum akhirnya ditempeli brand jumawa mereka. Padahal film-film Indonesia hari ini sudah menggeliat pada kisah-kisah esensial yang juga memenangkan banyak penghargaan.

Saya pun berhenti memberikan penilaian negatif pada negeri ini. Saya hanya akan berusaha menikmati tiap hal yang ada padanya. Jika memiliki kesempatan melakukan pembenahan agar Indonesia bisa lebih dicintai, saya akan berusaha melakukannya, meski itu hanya sebentuk langkah kecil.

Saya tidak ingin lagi menjadi faktor yang menjadikan Indonesia semakin tidak dikenali. Sebagai bagian dari Indonesia, saya hanya akan mengatakan dengan tegas seperti apa yang Mama Ana lontarkan pada saya, “No matter what they say about my country. Still, this is my home, Indonesia.”

Penulis adalah lulusan Pendidikan Bahasa Inggris, UPI Bandung.

About author
Ingin tulisan Anda dipublikasikan di Salmanitb.com? Kirimkan tulisan ke redaksi@salmanitb.com beserta keterangan aktivitas Anda.

Masjid Salman ITB © 2013 All Rights Reserved

Developed by Onnay Okheng.