Bertopikan koran dengan aksesori daun kering, puluhan anak kelas 4-5 SD meramaikan Taman Ganeca, Selasa (12/6) siang lalu. Sambil memegang beberapa tangkai kangkung di tangan, mereka sama-sama berteriak, “Aku petani kota!”. Suara mereka lantang bak terik mentari siang itu. Tak terlihat sedikitpun semangat yang surut meski anak-anak itu telah berkegiatan sedari pukul delapan pagi.
Tangkai-tangkai kangkung dalam genggaman anak-anak ini ternyata hasil petik mereka sendiri. Dibalut skenario apik, anak-anak yang berasal dari SD Cisitu 1 dan 2 serta SD Coblong 1, 2, 3,4 dan 6 ini telah belajar bertani lewat beberapa misi penyelematan di Negeri Sayur. Ini merupakan rangkaian acara My School Goes Farming (MSGF) gelaran komunitas Bandung Berkebun (BdgBerkebun).
Dalam kegiatan ini, anak-anak peserta berperan sebagai prajurit yang akan membantu Raja dan Ratu Kerajaan Sayur memecahkan masalahnya. Para prajurit ini diharuskan menyelesaikan misi dalam pos-pos. Setiap misi yang dijalankan sebenarnya merupakan tahapan berkebun.
Tengok saja misi di Desa Kangkung yang mengharuskan para prajurit ini menyiapkan rumah untuk para kangkung tinggal. Misi ini mengharuskan para prajurit menggemburkan tanah agar tidak ada yang menggumpal. Diselingi teriakan kaget karena menemukan cacing, para prajurit ini telah berhasil menyiapkan media tanam.
Masih di Desa Kangkung, para prajurit ini juga membuat pot gantung dari kemasan air minum bekas. Tidak lupa pot-pot ini ditanami. Sesuai petunjuk dari Kepala Desa Kangkung, tiga biji kangkung ditanam dalam satu lubang. Tidak lupa disiram tentu saja.
Lain Desa Kangkung, lain pula Desa Pakcoy. Kali ini Desa Pakcoy mengalami masalah kepadatan penduduk. Para prajurit diharuskan membantu Kepala Desa Pakcoy melakukan penjarangan. Bibit pakcoy yang telah berusia 2 minggu dipindahkan ke media tanam yang lebih luas oleh para prajurit.
Di akhir misi, para prajurit ini diperbolehkan memanen kangkung. “Dipilih yang daunnya tidak berlubang ya,” pesan kakak-kakak dari BdgBerkebun.
Menularkan Gaya Hidup Hijau
“Mau menghijaukan halaman!” tandas Saeful, komandan prajurit SD Coblong 3, ketika ditanya apa yang akan dilakukannya setelah mendapatkan ilmu berkebun dari kegiatan ini.
Steffi Nandiyah, ketua pelaksana kegiatan MSGF mengaku senang karena tujuan memperkenalkan berkebun kepada anak-anak telah tercapai. Guru-guru pendamping pun dibuat terkejut karena tidak menyangka dengan metode yang digunakan dalam mengajarkan proses berkebun kepada anak-anak dikemas dalam petualangan yang menarik.
Kerja keras panitia menyediakan wahana belajar berkebun bagi anak-anak SD ini terbayar sudah dengan melihat semangat dan antusiasme mereka. Peralatan seperti sekop, alat menyiram, tanah berkompos, krat-krat berisi kangkung siap panen, dibawa jauh-jauh dari markas BdgBerkebun di Dago Pakar. Semua itu demi memberikan pengalaman nyata berinterksi dengan proses berkebun.
Panitia sengaja membolehkan peserta membawa pulang kertas-kertas petunjuk penyelesaian misi yang diberikan di setiap pos. Petunjuk-petunjuk berkebun ini bisa dipraktekan lagi kelak oleh para peserta.
Selama ini, fokus utama kegiatan komunitas BdgBerkebun adalah bagaimana memanfaatkan ruang-ruang yang tidak produktif dan terbatas menjadi produktif melalui berkebun. Berkebun dijadikan sebagai media untuk memperkenalkan gaya hidup hijau kepada masyarakat.
Kecolongan Styrofoam
Ada satu hal janggal terlihat saat break makan berlangsung. Tumpukan kotak ransum berbahan styrofoam terlihat siap dibagikan untuk peserta. Padahal, sudah umum diketahui styrofoam merupakan bahan tidak ramah lingkungan karena tidak bisa diurai oleh alam. Hal ini tentu bertolak belakang dengan gaya hidup hijau yang ingin ditularkan oleh BdgBerkebun.
Menanggapi hal ini, Listia Rahmandaru yang juga berperan sebagai Adipati Kerajaan Sayur mengaku kecolongan. “Hal ini di luar kontrol, kita dapat support dari sebuah kafe. Ternyata datangnya begini,” ungkap Listia.
Meski begitu Listia meyakini hal ini merupakan pelajaran berharga agar lebih hati-hati.
“Ini bahan evaluasi yang sangat bagus agar bisa belajar lebih zero waste lagi,” pungkas mahasiswi Magister Profesi Psikologi ini.




















