Iwan Nurfahruddin: Usaha Pakan Lele, Aplikasi Tridarma Perguruan Tinggi

Iwan Nurfahrudin, mahasiswa wirausaha pakan lele. (Foto: Album pribadi Facebook)

Wajahnya segar di pagi itu. Penampilannya sederhana. Dengan rambut tersisir rapi, tertera jambang yang menyambung dengan janggut tipis di dagunya. Cara berjalannya ringan. Tidak terlalu cepat, tidak juga lambat, Sedang saja, terkesan santun. Sekilas, penampilannya biasa saja untuk ukuran mahasiswa. Namun, siapa yang menyangka dia seorang wirausahawan muda?

Iwan Nurfahruddin nama lengkapnya. Pria kelahiran Cirebon tersebut adalah salah satu penerima beasiswa wirausaha dari Divisi Kemahasiswaan dan Kaderisasi (DMK)  Salman ITB.

Sebelumnya, mahasiswa jurusan Fisika ITB ini sempat mencoba peruntungan dari budidaya lele. Namun, budidaya lele yang Iwan kembangkan terhenti di tengah jalan. Banyak lele mati karena fokus perhatian Iwan pada usaha budidaya lelenya  terbagi.

“Pelihara lelenya di Cirebon di kolam depan rumah. Sementara kan kuliah di Bandung, jadi kurang fokus peliharanya. Jadi banyak yang mati,” tutur Iwan.

Penyebab lain terhentinya usaha budidaya lele tersebut adalah kurangnya modal. Namun hal itu tak lantas membuat semangat Iwan surut. Melihat pengumuman, ia mendapatkan info  DMK Salman ITB menyediakan beasiswa untuk wirausaha. Iwan akhirnya mengikuti “sayembara” itu. Mujur, terpilihlah ia sebagai salah satu penerima beasiswa DMK sejak awal 2012. Kendati mendapat mahasiswa, Iwan masih dirundung masalah mengenai  modal ternak lelenya.

“Beasiswa yang saya terima setiap bulan sebesar empat ratus ribu per bulan. Kalau dipakai buat usaha lele habis semua.”  Akhirnya Iwan banting setir ke usaha pakan ikan. Iwan melihat prospek cerah di usaha perpakanan ini. Menurutnya harga pakan dan kebutuhan petani ikan ada pakan cukup tinggi. Di pasaran, harga pakan ikan menembus angka Rp 12.000 per kilo.

Iwan tidak sendirian menekuni usahanya. Ia dibantu oleh dua rekannya. “ Satu mahasiswa S3, satu mahasiswa S2, dan saya sendiri mahasiswa S1. Jadi lengkap dari semua strata ada,” katanya seraya tertawa ringan. “ Suka ngumpul bareng awalnya. Terus ada ide buat bikin usaha,” tambahnya.

Untuk mengembangkan usaha pakan ini, Iwan dan rekanannya mengontrak sebuah rumah di daerah Tanjungsari. Tantangan yang ia hadapi adalah dari warga sekitar. Bau limbah pengolahan pakan menjadi persoalan. Setelah meyakinkan orang-orang yang berkepentingan, akhirnya usahanya dapat berlanjut.

Mesin untuk membuat pakan dibelinya seharga 12 juta. Mesin itu dapat memproduksi sekitar tiga kilogram per jam. Saat  ini Iwan tengah mempersiapkan Surat Izin Produksi (SIP). Dengan surat itu pakan yang diproduksi mendapat legalitas.

Pengalaman lucu pernah ia alami. Waktu berkunjung ke Waduk Cirata untuk mencoba pakan ikannya, Iwan membawa serta 20 kilogram sampel pakan. Sampai di sana, Iwan malah ditertawakan. Untuk menguji coba pakan, biasanya tidak tanggung-tanggung dengan 20 kilogram sampel. Namun, langsung satu ton sekaligus.

Selain mengembangkan pakan ikan, Iwan juga mengembangkan pakan udang. Iwan telah mencoba pakan udang ini pada petani udang di Indramayu. “Petani udang di Indramayu menyatakan kesediaan menggunakan produksi pakannya. Udang-udang di sana ternyata suka pakan yang kami buat.”

Iwan menyadari resiko dari bisnis yang sedang ditekuni pada kuliahnya. Menurut Iwan, antara kuliah dan wirausaha sebenarnya tidak jauh berbeda. Lewat wirausaha, Iwan bisa mangaplikasikan tridarma perguruan tinggi.

“Terjun di wirausaha adalah pilihan tepat. Kita bisa riset sendiri, pengembangan masyarakat, dan tentunya bisa belajar. Biar kuliah ngggak keganggu, ya, gimana ngatur waktunya aja,” kata Iwan.***

Masjid Salman ITB © 2013 All Rights Reserved

Developed by Onnay Okheng.