Ikhlas, Niat Karena Allah

Apapun ibadahnya, ikhlas jadi landasannya. (Foto: Fery AP)

Kalau kita membaca kitab-kitab fiqih ibadah, maka kita akan menemukan terutama saat berbicara tentang rukun ibadah. Sesuatu yang mutlak harus dipenuhi oleh seseorang agar ibadahnya makbul diterima Allah. Maka akan selalu kita temukan rukun yang pertama itu adalah “Niat”.

Rukun shalat, rukun haji, shaum, selalu saja rukun yang pertamanya itu adalah niat. Karena niatlah yang akan menentukan. Pertama yang akan menentukan bernilai atau tidaknya ibadah seseorang disisi Allah SWT. Rasul SAW mengatakan innamal hammadu binniat. Semua amal perbuatan manusia tergantung pada niatnya.

“Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya setiap  perbuatan tergantung niatnya.  Dan  sesungguhnya  setiap  orang  (akan dibalas) berdasarkan apa yang

ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah

dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya

(akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan”.

[HR. Muslim dan Abu Abdullah]

Niat yang mutlak harus dimiliki oleh setiap mukmin. Agar ibadahnya mabrur disisi Allah. Ibadah harus dilakukan dengan ikhlas, semata-mata  mengharapkan rida Allah SWT. Dalam sural Al-Bayyinah ayat 5, Allah mengatakan “wamaa umiruu illaa liya’buduullaaha mukhlishiina lahuddiina hunafaa-a wayuqiimuushshalaata.” ( Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus).

Dalam hal ibadah, maka ibadah yang ikhlas adalah ibadah yang murni 100 persen. Diniatkan oleh seseorang mencari rida Allah.Maka, kita diingatkan dalam surat Al-Anaam ayat 162. Qul inna shalaatii wanusukii wamahyaaya wamamaatii lillaahi rabbil’aalamiin. (Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.)

Bukan hanya salat, seluruh ibadah. Bukan ibadah dalam pengertian yang sempit. Seluruh hidup akan bernilai ibadah tiap detiknya, kalau kita niatkan semua lillahi taala.

Seorang sufi berkata, jika ada seseorang yang beribadah karena selain mengharap ridho Allah, melainkan mengharap surga atau takut ancaman neraka. Ibadah orang tersebut tidaklah haram. Namun, sedikitpun ia tidak akan memperoleh pahala di sisi Allah.

Lebih bagus dia tidak beribadah seperti itu. Rabiah al Adawiyah mengatakan ibadah orang seperti itu adalah tingkat ibadah seorang budak. Seorang budak yang hanya bekerja karena mengharapkan upah atau takut tersiksa.

Sehingga terkenallah doa Rabiah al Adawiyah.  “Ya Allah jika saya beribadah karena mengharapkan surgamu, maka jauhkan saya dari surgamu. Dan jika saya beribadah karena takut akan neraka jahannam, masukkanlah saya kedalam neraka jahannam. Tapi jika saya beribadah karena semata-mata hanya karena mengharapkan ridhomu. Engkaulah yang Maha Tahu dimana aku berada.”

Kendati demikian, ulama-ulama fiqih tidak sepenuhnya sependapat  dengan ulama-ulama seperti ini. Mereka menyatakan, sedikitpun tidak terganggu keikhlasan ibadah seseorang kepada Allah, sepanjang yang diharapkan adalah kebahagiaan akhirat, surga, dan rida Allah.

Wajar menurut para ulama fiqih jika seorang mengharapkan syurga karena Allah. Mengiming-imingi kita dengan janji surga itu. Wajar jika seseorang itu takut kepada neraka, karena memang Allah menakut-nakuti kita dengan neraka itu. Artinya ibadah seseorang sama sekali tidak terganggu keikhlasannya karena Allah jika dia mengharapkan surga atau takut neraka.

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. [QS 28:77]

Tapi, tidak akan pernah kita temukan satupun ulama yang membenarkan seorang beribadah karena mengharap kenikmatan dunia. Akhir-akhir ini umat banyak digiring pada sesuatu yang semestinya bernilai ibadah. Namun saya khawatir hal tersebut sebenarnya sangat jauh dari nilai ibadah, salah satunya adalah fenomena sodaqoh.

 

Disarikan dari Ceramah Jumat, 27 Januari 2012 di Masjid Salman ITB oleh KH. Athian Ali M Da’i MA, ketua  Forum Ulama Ummat Indonesia.

 

Masjid Salman ITB © 2013 All Rights Reserved

Developed by Onnay Okheng.