Dunia Jurnalistik Harus Lebih Dekat dengan Wanita

(Foto: Gilang R.)

Oleh: Gilang Ramadhan

Hari kelahiran pahlawan nasional Raden Ajeng Kartini diperingati dengan berbagai cara oleh mahasiswa. Salah satunya dengan menyelenggarakan seminar tentang perempuan bertajuk Seminar Nasional Perempuan dan Jurnalistik. Kegiatan ini berlangsung di Ruang Sidang Rektorat Universitas Islam Negri Sunan Gunung Djati (UIN SGD) Bandung, Sabtu (21/4).

Pukul delapan pagi peserta seminar sudah memenuhi ruangan. Seminar yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurnalistik UIN SGD Bandung ini dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Para akademisi dan penggiat jurnalistik dari berbagai institusi turut hadir, pun dari kalangan umum. Walaupun seminar ini bertema tentang perempuan, tidak sedikit laki-laki yang menghadirinya.

Seminar ini dibuka oleh Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FIDKOM) UIN SGD Bandung, Prof. Dr. H. Asep Muhyidin, M.Ag. Sementara itu, keynote speech diisi oleh perwakilan dari Kementrian Pemberdayaan Perempuan.

Turut hadir sebagai pembicara,  Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah  (KPID ) Jawa Barat, Hj. Neneng Athiatul F, S. Ag, M. IKom. Selain itu, dua pembicara lainnya adalah Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (BPPPAKB) Provinsi Jawa Barat Dr. Sri Asmawati Kusumawardani, SH, M.Hum, dan Yayu Yuniar, jurnalis internasional Wall Street Journal.

Dari pembahasan seminar tersebut, terungkap fakta bahwa perempuan seringkali menjadi komoditas media. Terbukti dengan masih banyaknya media-media yang tetap menjadikan perempuan sebagai objek dan cenderung mendiskreditkan perempuan. Semuanya karena demi rating dan kepentingan kaum kapitalis. Sementara pemberitaan mengenai kiprah dan prestasi perempuan masih kurang.

Padahal, media massa dan perempuan ibarat dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Keduanya memiliki jalinan erat yang saling melengkapi. Perempuan banyak yang memanfaatkan jasa media massa demi untuk meningkatkan popularitasnya. Sebaliknya media massa pun butuh “nuansa khas” dari seorang perempuan. Mulai dari sisi keberhasilan karir dan jabatannya. Ketegarannya menyikapi sebuah persoalan besar, juga kenekatannya dalam melakukan sesuatu.

Perempuan juga dianggap tidak mampu berperang dalam wacana informasi publik. Terbukti dari kuantitas jurnalis perempuan di Indonesia yang sangat minim. Berdasarkan lembaga studi pers, jumlah jurnalis perempuan hanya berkisar 17 persen. Jumlah pekerja di media elektronik pun sama saja, didominasi oleh pria.

Fenomena ini disebabkan stereotip bahwa dunia pers merupakan dunia yang penuh dengan tantangan. Sementara, perempuan dianggap belum sanggup mengahdapi tantangan seperti pulang larut malam, dan sebagainya.

Meski demikian kesenjangan gender dapat dikurangi dan dikikis sedikit demi sedikit. Sudah saatnya perempuan berpartisipasi lebih banyak dalam dunia jurnalistik. Perempuan juga mesti bisa membuat karya yang elegan dan intelek, mudah dipahami, membumi, serta menjadi corong informasi. Dunia jurnalistik harus lebih bersahabat dengan wanita. [Fe]

Ingin tulisan Anda dipublikasikan di Salmanitb.com? Kirimkan tulisan ke redaksi@salmanitb.com beserta keterangan aktivitas Anda.

*

*

Top