Syamsurijal: Terpanggil Rumah Amal

Syamsurijal. (Foto: Indra N.)

“Saya tidak bisa menolak tawaran untuk bergabung dengan Rumah Amal…”

Nada lelaki ini terdengar sangat bersemangat. Sosoknya bersahaja. Senyum hangat terpancar dari wajahnya, siapa pun yang dekat dengannya akan selalu merasa nyaman. Dialah Syamsurijal. Seorang alumni magister teknologi ITB yang kini menjabat sebagai direktur eksekutif Rumah Amal Salman ITB.

Sebelum menjabat sebagai direktur eksekutif Rumah Amal, sebuah perjalanan panjang telah ia tempuh. Selama menjadi mahasiswa, lelaki asal kota Gombong Jawa Tengah ini tercatat sebagai kader Salman. Ia pernah tinggal di asrama Salman ITB dan bersama beberapa rekan sesama mahasiswa, ia aktif di SKAU (Salman Komunikasi Aspirasi Umat). Sebuah komunitas yang fokus membuat buletin tentang keislaman. Melalui kegiatannya ini, ia belajar banyak tentang dunia jurnalisme.

Ketika ia masih aktif, buletin SKAU oplahnya mencapai 15 ribu eksemplar dan tersebar ke berbagai daerah. Dedikasi dan loyalitas yang ia berikan mengantarkan dirinya pada sebuah jabatan tertinggi, pemimpin umum.

Ia lulus dari S1 ITB pada tahun 1991 dan langsung melanjutkan  S2 di kampus yang sama. Kampus ITB begitu ia cintai. Rasa cinta itu pada akhirnya membuat dirinya yakin untuk mengabdikan diri di almamaternya.

Setelah lulus S2, ia mengabdi di Piksi ITB dan mengajar hingga tahun 2000. Dedikasi yang ia curahkan pada pekerjaannya sebagai seorang akademisi telah membuat ia mencapai karir yang begitu gemilang. Tahun 1995, ia dipercaya menjadi manajer Piksi ITB.

Tak hanya berkecimpung di dunia akademisi. Sosok bapak 4 anak ini juga sempat terjun ke dunia politik. Tahun 2004 ia bergabung dengan Partai Amanat Nasional (PAN) yang kemudian mengantarkan dirinya menjadi anggota legislatif DPRD Kota Cimahi untuk periode 2004-2009.

Setelah malang melintang dengan berbagai kesibukan, di usia yang hampir setengah abad, panggilan jiwa membawa dirinya untuk kembali menuju tempat yang sangat dicintainya, Salman ITB. Tepat tanggal 25 Desember 2011 ia resmi diamanahi jabatan sebagai direktur eksekutif Rumah Amal.

“Saya merasa terpanggil untuk mengabdi di Rumah Amal setelah ditawari untuk bekerja di sini,” ujarnya.

Sebagian besar waktunya ia curahkan untuk kemajuan Rumah Amal Salman ITB. Meskipun demikian, pekerjaannya sebagai seorang pendidik di STIE Muhammadiyah sama sekali tidak ia tinggalkan. Di sela-sela kesibukannya di Rumah Amal, ia masih tetap mengajar meskipun untuk kelas karyawan saja.

Meski baru bergabung di Rumah Salman ITB sejak akhir tahun 2011, banyak hal yang sudah ia lakukan. Baginya, bekerja di Rumah Amal Salman ITB merupakan lumbung ibadah. Bisa mengajak banyak orang untuk beramal. Meskipun tentu saja, untuk menuju hal itu semua banyak sekali tantangannya. Namun semua tantangan yang datang bisa diatasi.

Ia mengatakan,”Mengajak orang untuk beramal harus dilakukan dengan berbagai cara yang menarik dan kreatif.”

Salah satu cara yang ia lakukan ialah menggalang dana di event tertentu. Selain itu juga ia terus mengintensifkan untuk mengajak alumni Salman ITB agar terus memberikan donasi di Rumah Amal ITB. Untuk masalah pertanggungjawaban, ia juga menjamin perihal transparansi dana yang disalurkan setiap bulannya. Dengan langkah-langkah seperti itu, ia berharap bisa menaikkan target penggalangan dana hingga 30 persen.

 

Program Rumah Amal

Banyak program yang dilakukan oleh Rumah Amal Salman ITB. Berbagai program-program itu dibuat dan dirancang sedemikian rupa agar betul-betul sampai tepat sasaran. Program yang ada diprioritaskan bagi mahasiswa kurang mampu dan masyarakat dhuafa.

Salah satu program yang dikhususkan untuk mahasiswa kurang mampu yakni membantu pembiayaan kuliah hingga selesai. Selain itu juga proses pembinaan terhadap mahasiswa juga dilakukan. Tak hanya untuk mahasiswa, tetapi Rumah Amal juga menyiapkan calon-calon mahasiswa untuk bisa melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.

“Kita ingin membantu mahasiswa yang tak mampu agar bisa menyelesaikan pendidikannya dan menyiapkan mereka untuk menjadi pemimpin dengan program pembinaan yang ada di Salman…” tuturnya.

Syamsu menambahkan untuk program ini Rumah Amal bekerjasama dengan divisi-divisi pembinaan Salman yang lainnya.

Program Rumah Amal juga ditujukan untuk masyarakat luas. Rumah Amal melalui program-programnya ingin memberdayakan dan mengembangkan masyarakat. Salah satu program yang dibuat adalah Kampung Bangkit. Melalui program ini, Rumah Amal merubah sebuah kampung yang tadinya banyak kaum dhuafanya dan kumuh menjadi sebuah kampung yang hidup dengan semangat optimisme yang berkembang. Kampung tersebut dibangkitkan dengan cara memberikan berbagai pelatihan untuk membangun mental cara berwirausaha bagi masyarakatnya.

Tak cukup sampai di situ, masyarakatnya juga difasilitasi untuk dihubungkan dengan lembaga keuangan dan usaha. Agar dimudahkan untuk mendapatkan pinjaman modal usaha.“Kita ingin orang-orang yang tadinya sebagai mustahiq, setelah mengikuti program ini berubah peran menjadi muzakki.” Katanya.

Langkah-langkah yang dilakukan diantaranya; Pertama, yang tidak bisa mandiri dilakukan pendampingan untuk membentuk mental pengusaha. Kedua, yang tadinya tidak mempunyai modal akan disambungkan oleh Rumah Amal kepada pihak-pihak terkait untuk mendapatkan pinjaman modal. Ketiga, setelah siap berwirausaha Rumah Amal juga akan menyambungkan juga ke pasarnya.

“Melalui langkah-langkah tersebut, saya yakin program ini akan berjalan dengan baik,” ujar Syamsu

Masih banyak harapan yang ingin ia capai. Sebuah cita-cita mulia yang ia gantungkan di benaknya. Harapan untuk merubah kondisi masyarakat dhuafa ke arah yang lebih baik. Semua harapan itu ia simpan di benaknya dalam perjalanan panjang bersama Rumah Amal Salman ITB.

“Kedepannya saya ingin menjadikan Rumah Amal sebagai sebuah lembaga yang qualified,” ungkapnya.

Untuk menuju hal tersebut ia berharap Rumah Amal bisa mempunyai cabang hingga 40 persen di wilayah Jawa Barat. Ini berarti sekitar 10 kota. Hal ini harus dilakukan agar Rumah Amal Salman ITB memenuhi standar yang diterapkan pemerintah dalam UU zakat. Selain itu, pemenuhan target penggalangan dana akan terus ia lakukan dengan berbagai cara. Sehingga semakin banyak masyarakat dhuafa yang akan terbantu dengan program-program yang dilakukan oleh Rumah Amal.

Selama bertutur, nadanya begitu bersemangat. Senyum hangat terpancar dari wajahnya. Sorot mata SyamsuRijal mencerminkan sebuah harapan tinggi yang ingin ia capai bersama Rumah Amal…***

About author
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Jurnalistik UIN SGD Bandung, aktif di Komunitas Anak Tangga.

Masjid Salman ITB © 2013 All Rights Reserved

Developed by Onnay Okheng.