Meski Hasrat Gay, Tujuan Tetap Surga…

Zemarei Albakhin: "kalau kamu mau sembuh, ya harus mau mengontrol hasrat." (Foto: facebook.com)

Dari balik jendela lantai dua gedung kayu, kami, segerombol penghuni sekre Aksara Salman ITB berebut mengintip ke bawah. Wow, ustad “g” itu menuju ke sini! Ke tempat dimana kami berada! Betapa kami dibanjiri kepenasaranan yang geli!

Selintas, hitamnya peci yang ia pakai, berbarengan dengan rambut gondrong terkucir rasa-rasanya tak terlalu bikin merinding. Namun, embel-embel “g” yang telah diwara-wirikan sebelumnya itulah yang membuat diri ini lumayan bergidik sekaligus antusias.

Bincang Kamis Aksara, kali ini (15/3) menghadirkan seorang gay yang uniknya kini dikenal sebagai seorang ustad. Zemarei Bakhin. Dengan nama itu ia dikenal luas. Sudah satu buku yang ia terlurkan. Buku tersebut didasari murni dari pengalaman pribadinya, Tuhan Tak Pernah Iseng.

“Mulai kelas 5 SD, saya baru menyadari kalau ada yang lain dari saya sebagai seorang lelaki. Waktu kecil, sewaktu beli kertas HVS, saya dikatakan centil karena suara saya. Padahal suara saya ya biasa saja, tidak dimanipulasi” ujar Rei, panggilan akrabnya, memulai sharing BiKa sore itu.

Walau tidak bersuara nge-bass a la pria macho, bagi saya, Rei tak kemayu-kemayu amat. Kala bertutur, ia tidak menggunakan kata “aku” sebagai kata ganti orang pertama. Tangannya pun tak melambai-lambai. Namun, ia tetap mengaku sebagai seorang yang kemayu jika dibandingkan dengan pria normal.

Lain di kini, lain di lampau. Semasa SD periode akhir, dirinya tak pernah berontak biar dikatai sangat mirip perempuan dari berbagai sisi. Namun, semenjak SMP, Rei mulai risih menghadapi dua himpitan yang menerjang dirinya. Satu: olok-olokan teman-teman sebayanya, dua: gejolak batin dalam dirinya.

“Teman-teman dan keluarga tak mendukung. Saya tidak merasa diperhatikan.”

Lantaran merasa tidak dimengerti, letupan emosi akhirnya mengalahkan kesadaran Rei remaja. Rei paham betul, homoseksual merupakan perbuatan yang dilarang oleh agamanya, Islam. Namun apa daya, bujuk rayu pria gagah tersebut tak mampu ia elakkan.

“Tiba-tiba muncul seorang pria yang mencurahkan perhatian lebih pada saya,” kenang Rei.

Walau tidak kemayu seperti Rei, pria tersebut berani mengaku kalau ia ada hati dengannya sejak lama. Mereka pun berpacaran.

“Masih remaja, masih sebatas first kiss, pegangan tangan…namun jika dipikir-pikir sekarang…saya merasa bingung, bagaimana cara menghapus dosa tersebut?” keluh Rei.

Rei kemudian bilang, mungkin Tuhan masih sayang padanya. Tuhan memisahkan Rei dan pasangannya lewat malapetaka tragis. Ketika keduanya sedang asyik berjalan-jalan mengendarai sepeda motor, kecelakaan lalu lintas terjadi. Rei selamat. Namun, tidak demikian dengan sang kekasih. Nyawanya terenggut dalam peristiwa naas tersebut.

“Di film-film India, ketika tokohnya kehilangan kekasihnya, biasanya kan suka marah-marah ke dewa. Nah, kalau saya dulu datengin Masjid lalu marah-marah ke Allah,” aku Rei.

Walaupun masih memiliki ketertarikan pada sesama jenis, sejak kecelakaan tersebut Rei mengklaim tidak pernah punya hubungan istimewa dengan lelaki. Surat-surat bernada cinta dari sejumlah pria tak pernah ia gubris. Namun, itu bukan karena Rei insyaf. Ia masih marah dengan Tuhan. Hanya saja, entah mengapa sisi yang menganggap perbuatan homoseksual merupakan sebuah kehinaan, selalu mendominasinya.

“Sewaktu saya kerja di pelayaran dan perhotelan selepas SMA, godaan untuk terjerumus dalam dunia gay makin banyak. Saya pernah diajak ikut pesta gay di kapal pesiar, saya pernah diajak main sama oom-oom hotel… entah kenapa diri ini tidak meladeni godaan tersebut…”
Puncak kegundahan Rei tiba pada usia di sekitar dua puluh satu. Bak disambar gledek Rei tiba-tiba sholat tahajud. Dalam doa sehabis shalatnya, Rei tidak ingin kesembuhan. Ia minta diberi petunjuk, bagaimana ia harus bertindak.

Sedari itu, ia berupaya memanajemen hasrat seksualnya kepada sesama jenis. Pada perempuan, ia berusaha untuk menumbuhkan rasa suka. Usaha itu berbuah manis ketika dirinya naksir pertama kali pada seorang perempuan.

“Selama dua puluh lima tahun, baru pertama kali saya naksir perempuan. Pulang ke rumah kok ingat terus,” kenangnya.
Akhirnya, ia memantapkan diri untuk melamar sang perempuan. Pernikahan pun jadi dilangsungkan. Walaupun begitu, hasratnya pada pria tak bisa hilang. Setahun pernikahan berjalan, subuh-subuh adalah tibanya bagi Rei untuk melakukan pengakuan pada sang istri. Bahwa dirinya adalah seorang gay.

“Istri kaget luar biasa. Tiga hari ia merenung. Akhirnya ia menerima saya dan bilang ‘Saya terima Akang apa adanya, kalau memang Akang memang seperti itu, yuk saya bantu untuk tidak seperti itu. Toh saya nikah sama Akang bukan mencari kepuasan duniawai saja. Saya ingin ada yang bareng-bareng menemani saya ke surga.’” cerita Rei mantap.

Sang istri walau tak dilayani secara normal oleh sang suami, begitu Rei mengaku, namun tak pernah mengeluhlah ia. Dihina-dina oleh orang pun, istri anteng-anteng saja. Kasih sayang sang istri yang mematri dalam jiwanya pun perlahan merubah apa yang sering ada pikiran Rei.
“Dahulu, waktu masih muda, ketika sendiri di kamar saya selalu berpikir, mengapa saya harus seperti ini? Sekarang saya berpikir, bagaimana cara nyari duit buat anak-anak saya ya… bagaimana caranya memuaskan istri nanti malam ya…” tutur Rei.

Bagaimana kelanjutan pergumulan batin Rei setelahnya? Jadi sembuhkah ia? Tidak. Pada hadirin BiKa, Rei mengaku bahwa dirinya masih gay. Persis seperti yang dikutip dalam Majalah Percikan Iman edisi Maret 2012, ia berujar.

“Ketika ditanya apakah saya suka sama laki-laki yang ganteng atau apakah saya mau bercinta dengan laki-laki, saya akan jawab ya. Tapi, saya nggak berani dan saya tidak boleh melakukan itu. Itu saja. Hidup ini kan belajar. Makanya, saya belajar untuk taat walaupun berat.
“Malah, sampai saat ini saya makin tahu dan sadar bahwa tidak ada cinta sejati dan sehidup semati dalam hubungan asmara sesama jenis. Sifat kaum gay itu mudah bosan. Kalau ada gay yang bilang mencintai sampai mati, itu sebenarnya bohong. Semua itu cuman dorongan sesaat,” tuturnya.

Rei mewanti-wanti, bahwa ibadah shalat, mengaji Alquran, tak kuasa menghapus homoseksualitasnya. Menurutnya, yang terpenting adalah persoalan bagaimana kecenderungan itu bisa dikontrol agar tidak diwujudkan dalam bentuk perilaku yang menyimpang.
Satu hal lagi yang disayangkan Rei adalah para ahli agama yang secara serampangan mengata-ngatai gay yang berkonsultasi agama. Oleh ustad lain, biasanya gay langsung dituduh dosa, masuk neraka, laknat, dan lain-lain.

“Sedangkan saya, karena mengalami apa yang dirasakan mereka, bisa lebih mudah berkomunikasi dengan mereka. Saya tidak menawarkan obat penyembuh. Saya bilang, kalau kamu mau sembuh, ya harus mau mengontrol hasrat,” pungkas Rei.

Menanggapi pernyataan Rei, seorang hadirin kemudian berujar, “Desire cannot be heal, but it can be controlled.

“Nggak ngerti, saya mah urang Sunda. Hahaha” celetuk Rei. Buru-buru hadirin menimpali, “Hasrat memang tidak bisa disembuhkan, tetapi hasrat bisa dikontrol, Kang…”

Rei pun mengamini, kemudian minta doa agar dirinya senantiasa diberi kekuatan untuk bertahan dalam kondisi ini. Aamiin. Semoga, Kang. [Fe]

 

36 Comments

  1. garid said:

    Saya berbaik sangka dg judul yang dibuat tapi klo memang masih bisa dirubah dengan judul yang tetap menarik untuk orang membaca, itu alangkah akan lebih baik lagi.
    Mengenai isi ceritanya saya salut dan setuju dengan kalimat “bukan DISEMBUHKAN tapi DIKONTROL” karena pada dasarnya CINTA itu datang dari Alloh swt Yang Maha Suci. jadi bukan CINTA (hasrat) yang salah tapi orang yang menggunakan CINTA nya berlebihan adalah yang salah karena bukan hanya GAY saja tapi cinta kepada dunia pun klo berlebihan adalah salah dan memerlukan tobat juga.

    “Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Ali-Imran: 14)

    Ayat diatas menerangkan CINTA itu tidak hanya kepada manusia saja tapi kepada benda-benda (dunia). Sehingga bisa dikatakan CINTA kepada manusia sejajar dengan CINTA dunia.

    “Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia ini tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan” (QS. Hud[11]: 15-16).

    Rasulullah saw bersabda: “Kalau begitu, bergembiralah dan berharaplah memperoleh sesuatu yang melapangkan diri kalian. Demi Allah, bukan kemiskinan yang aku khawatirkan akan menimpa diri kalian. Akan tetapi, aku kahwatir jika dunia ini dibentangkan untuk kalian sebagaimana ia dibentangkan untuk orang-orang sebelum kalian sehingga kalian berlomba sebagaimana mereka berlomba, dan akhirnya kalian hancur sebagaimana mereka hancur.” (Hadits riwayat Muslim (2961) dan al-Bukhari (6425), dan Ibnu Abi ad-Dunya dalam kitab tentang Zuhud hal. 73).

    Jadi yang bisa saya simpulkan yang pertama adalah terlalu naif jika kita memandang rendah orang lain (gay). Karena orang yang bermanfat bagi orang lain itu lebih baik disisi Alloh. Kedua, saya ikut mendukung Ust. G untuk berdakwah dengan jalannya, dengan membantu para gay untuk MENGONTROL cintanya (hasratnya), sehingga bisa meminimalisir PELAMPIASAN CINTA mereka dan mudah-mudahkan saya ikut mendo’akan mereka (gay) kembali kepada jalan yang lurus. amin ya alloh. Yang ketiga adalah musuh terbesar kita adalah PECINTA UANG (cinta terhadap dunia), karena dengan CINTAnya mereka melakukan pelbagai macam cara untuk mendapatkannya.
    Kurang dan lebihnya saya mohon maaf karena kebenaran semata-mata datang dari Alloh swt.

  2. nskan said:

    Beberapa orang menyalahkan gay sebagai suatu kelainan yang menurut mereka disengaja. Perasaan mereka terhadap sesama jenis sama halnya dengan perasaan para heteroseksual pada lawan jenis mereka. Jika anda meminta ‘gay’ untuk sembuh total, sama halnya anda meminta heteroseksual untuk menyukai sesama jenis, susah kan? bahkan tidak mungkin. Anda sebagai manusia cerdas dan kritis sebaiknya menilai gay dari sudut pandang ilmiah, silahkan cari penelitian-penelitian yang mendukung, sebelum menilai ‘homoseksual’ sebagai orang-orang menjijikkan. Homoseksual tidak dibentuk atas keinginan mereka. Tidak ada orang yang ingin terlahir diluar dari norma sosial.

  3. Titi said:

    Memang jaman sekarang udah umum, berita yang berisi orang-orang baik diberi judul yang misleading, kalo berita tentang kelakuan orang yang jelek diberi judul yang sok memotivasi. Tergantung penulisnya sih

  4. Pingback: Irfan Habibie | Hasrat

  5. Azalea Fisitania said:

    Wah, artikel menarik :) Mungkin judul harus agak diubah biar ga multitafsir. Bisa aja kan semacam “Cerita Seorang Ustad G” biar netral. Untuk menghindari pembaca yang tidak teliti dan salah kaprah sama judul. Untuk pembaca yang gak teliti juga, baca dulu artikelnya.

    Semoga menginspirasi orang-orang yang bernasib sama di luar sana :)

  6. annisa said:

    smpat kaget juga liat judul artikel apalagi ditayangin oleh SALMAN ITB.. “USTADZ GAY?kok bisa yah mengundang GAY, USTADZ lagi??” (tanda tanya besar bagi saya) tapi saya sebagai manusia tidak berhak memberikan penilaian atas diri seseorang. Hnya Alloh yang berhak menilai baik buruknya kualitas seseorang. Hidayah itu hak mutlak Alloh. Semoga beliau menjadi contoh yang memberikan hikmah bagi bnyk orang.. dan selalu diberikan petunjuk oleh Alloh..

  7. Herriy Cahyadi said:

    Judulnya misleading, bisa memunculkan multitafsir. Ada baiknya diperbaiki. Saya berpikir positif bahwa artikel ini dibuat untuk membantu menyadarkan mereka yang berada dalam situasi LGBT untuk sembuh. Sebab itu, hendaknya ada penekanan pada seruan untuk bertobatnya. Saya hanya khawatir jika misleading, artikel ini malah menjadi pembenaran seolah penyakit homoseksualitas tidak bermasalah dan bisa tetap masuk surga. Wallahu’alam..

    • Azalea Fisitania said:

      Iya juga sih, judulnya agak multitafsir… Meskipun kalo saya sendiri nangkepnya semacam seruan “Meski hasrat gay, tujuan harus tetap surga dong…” which is kalo tujuan surga ya jangan dilakuin lah hasrat gay-nya. Hasrat itu memang sudah pemberian Allah, tinggal kitanya aja yang ngontrol.
      Mungkin bisa jadi feedback buat penulis artikel :)

  8. sidik adhar said:

    subhanallah kang…
    semua yang dberikan Allah SWT adalah ujian… baik harta, tenaga, pekerjaan, sifat, kepribadian, jenis kelamin, semua adalah ujian kang, semua akan dipertanggung jawabkan… ujian adalah ladang pahala… bisa menghadapi ujian masuk surga dengan ridho Allah SWT,, tidak bisa masuk neraka…

  9. rani said:

    ehmm… benar kalo gay itu bukan penyakit yang ga bisa disembuhkan, dia hanya butuh pengontrolan. Tetapi memang judulnya agak vulgar, khawatirnya ada yang justru menjelek-jelekkan Islam dengan judul tersebut apalgi orang2 liberal yang mendukung lesbian dan homo. Namanya naluri itu memang bisa dikontrol penyalurannya, Allah yang memberikan rasa cinta dalam diri manusia tetapi Allah jg telah menetapkan bahwa wanita untuk pria dan sebaliknya, Allah melaknat mereka yang menyimpang seperti kaumnya Luth as. Pasti selama seseorang mampu menahan dirinya dari perkara2 yang Allah larangkan tentu saja ada hikmah luar biasa untuk dirinya dan untuk masa lalunya, mohonlah ampun kepada Allah dan jangan mengulanginya kembali.

    “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang- orang yang bertakwa.” (Q.S Ali Imran :133)

    Bagi yang pernah bertemu dengan gay/lesbian, selama mereka masih mengerjakan hal yang demikian maka memang perlu kita tunjukkan rasa tidak suka dan dakwahi bahwa memang pekerjaan tersebut adalah dosa besar. Tapi ketika mereka telah memohon ampun kepada Allah dan berjanji tidak melakukannya lagi, maka kita perlu menjadi tiang untuk menjaga keistiqomahannya, karena melaksanakan hal ma’ruf berat jika sendirian.

  10. Robby Ashar said:

    Ya Allah, . . . . yang paling keren dari kisah nyata ini adalah ketabahan istrinya, . . luar biasa, luar biasa, luar biasa. Kesholehah-an seorang istri memang indah, wanita sholehah memang indah. Aaaah tidaaaak, . . kpan yah sy nikah?? hha

    Untuk sang suami, apabila boleh sy menyampaikan sedikit, . . . penelitian terkini menyatakan bahwa DNA dapat berubah, neurotransmitter dapat berubah, hasrat dapat berubah. Bukti otentik yang nyata adalah tumbuhnya sel kanker karena terjadi perubahan DNA yang sangat signifikan. Jelas sekali. Perubahan sel tubuh menjadi keburukan saja bisa, apalagi perubahan sel menjadi kebaikan. Itu pasti bisa jika Allah mengizinkan. Klo kita meyakini hal tersebut, Perkara gay, hasrat, orientasi sex, itu hanyalah hal kecil bagi Allah. Itu bisa berubah asal kitanya mau berusaha mengubah.

    Allah bisa mengubah matahari yang terbit dari timur dan tenggelam di barat menjadi terbit dari barat dan tenggelam di timur dengan mudahnya. Apalagi hanya mengubah DNA kecil yang mempengaruhi neurotransmitter otak, endokrin tubuh, atau kondisi organik otak. Allah jelas bisa dengan mudah mengubah orang yang gay menjadi normal dengan mudah. Allahu Alam bishawab.

  11. JL said:

    kasian juga yah…. emang udah cetakannya gitu ya lebih baik diterima dan dibimbing bukan dilecehkan atau dihujat… bukan salah dia suka sama sesama jenis.. emang uda dari sana nya kaya gt….

  12. Khairun Fajri said:

    Mungkin memang sulit mengontrol kecenderungan diri, tapi kecenderungan sexual kan bukan Dosa. Yahhhh.. pasti itu problem-lah.. tapi kecenderungan Gay, Lesbian atau Bisexual sama sekali bukan Dosa..Jadi, kalau cuma memiliki kecenderungan Sex menyimpang, dia bukan tergolong orang yang berdosa dimata Fikih. Yang berdosa adalah jika dia sudah menjalankan kecenderungan tersebut dalam perilakunya. Dalam konteks ini, si Ustadz tadi kan justru selalu mengontrol perilakunya dan bukan larut dalam kecenderungannya. Orang yang memiliki kecenderungan menyimpang semacam itu tapi selalu menang dalam management kontrol dirinya, patut disebut ORANG BERTAQWA (Takut ) Kepada Allah..

    Jangan-jangan, dimata Allah dia levelnya malah udah Wali..

  13. mamang said:

    ga nyangka, di halaman dengan address “salamanitb” … udh baca, kirain gmana isinya, trnyata…
    hmmmmm
    dah terlalu jelas bro, klo emg ini masalah jiwa yang boleh gay, ngapain jg kaum nabi luth dibinasakan.
    absurd…

    • Azalea Fisitania said:

      dari artikel ini, kalo jiwanya masih gay, ya udah, asal jangan kebawa terus dan dilakuin. jangan putus asa, terus kontrol hasratnya, dan terus mendekatkan diri ke Allah.
      di kaum Nabi Luth mah udah dilakuin di mana-mana, kasarnya mungkin gak bisa disembuhin lagi. cmiiw

  14. Luthfi said:

    Judulnya tolong dong…
    Maaf kalo agak pedas,

    1. Haq dan yang bathil tidak akan bisa bersatu. Sudah jelas Allah bilang di Q.S. 7 : 81.
    2. Website ini udah punya nama “salmanitb.com”, tolong dijaga baik-baik lah, jangan bikin malu
    3. Ganti judulnya

    • Sena said:

      1. coba renungkan. anda punya nafsu untuk bercinta dengan lawan jenis, iya kan? kalau memiliki nafsu tersebut, apakah anda menjadi manusia yang berdosa, haram? tentu tidak. kalau anda mengontrol nafsu tersebut sesuai jalan Allah, yaitu bercinta kepada istri/suami saja, tidak akan berdosa. nafsu itu sesuatu yang lumrah di manusia, dan Allah yang memberinya. bukan untuk DIHILANGKAN, tetapi untuk DIKONTROL. coba renungkan

      2. bikin malu gimana? kita harus mengakui bahwa hal ini memang ada. kenapa komentar anda seolah2 gay itu asal tidak dibahas dia akan hilang dengan sendirinya? tentu tidak.

      3. Judulnya g masalah. orang cuma jiwanya. sang ustadz tidak melakukan hubungan seks dengan laki2 kan?

  15. Salahudin Sadono said:

    Orang gay itu rese. Sukanya ama laki, tapi sering megang2 ato meluk2 cewek, jadinya bikin ‘kotor’ tu cewek. Akibatnya cowok laen jadi agak ilfeel sama tu cewek.

  16. Suirad said:

    Mengutip kata teman saya:
    “Para gay adalah orang-orang terpilih yang pasti mendapat kemuliaan di sisi Allah apabila mau berusaha mengontrol hasrat sesama jenisnya.”

  17. nimbrung said:

    mf sblmny, sy gay, tp sy lbh stju utk mngntrol sfat sy tsbt. bruntng sy msh 18 th dan blm sjauh pak ust tsb. utk para gay, ini adlh cbaan, mnjga prasaan dan hasrat itlh lngkah trbaik.

  18. byoungcarerock said:

    aq menangis, aku terharu, karena kamu mengingatkanku kpada seseorang yg kini ntah bgmana kabrnya. yg pasti skrg dy msih ttp sbg gay–terkenal di jogja, solo, klaten, dan boyolali– dy sempat minta tolong spy q bisa bantu dy hidup mulia di ssi-Nya. tp apa daya, dia jauh dsana..dan q di surabaya… tuk saat ini, q hanya bisa berdoa buat dy semoga Allah senantiasa mmbri hidayah kpadanya….

  19. Riko said:

    Cinta adalah anugrah terindah dari Alloh,
    Ia bagian dari sifat yang ada padaNya
    beruntunglah kamu yang diberi oleh Alloh rasa ini
    karna tidak semua orang mendapatkannya.

    Berlebihan dan memaksakan diri terhadap yang dicintai
    itulah kemudian yang menjadi masalahnya
    dan karna masalah inilah kamu ada
    karna setiap masalah adalah ujian kita diciptakan di dunia.

    Sebagai apapun kamu
    straight atau gay
    semuanya sama-sama punya masalah
    semuanya punya ujian
    yang dirasakan berat oleh masing-masing pihak.

    Berikanlah cintamu, tebarkanlah cintamu pada siapapun yang kamu kenal
    jangan terpaku hanya pada dia seorang
    kau akan merasakan indahnya dunia ini
    dan bebanmu sebagai bentuk perhatian Robb yang menciptakanmu.

    Bersabarlah
    semuanya hanya sementara
    bersamanya memang menyenangkan dan indah
    tapi kalau sampai menghancurkannya, itu yang menjadi masalah.

    Cintailah dia,
    dan berbuatlah untuknya yang terbaik semaksimal kemampuanmu,
    karena dia hanya datang sekali dalam hidupmu.
    Tapi ingat, … sebatas apa yang Alloh ridhoi

    rikoabdullah.wordpress.com
    abdullah.riko@gmail.com

  20. Wahyu Fahmy said:

    ^atas ane
    Ga masalah kali gan… Kata “gay” terlalu banyak disudutkan belakangan ini. Jika seorang anak autis kita berikan perhatian sepenuhnya dan sesadar-sadarnya, kenapa orang gay tidak, malah kita olok-olok dan jadi bahan bercanda? :)

  21. Asep Nugraha said:

    Judulnya agak risih. “Jiwa boleh gay..”. Dari kalimat ini ada pesan implisit yang memberi peluang kepada seseorang utk boleh punya jiwa gay.

    • Ridwan said:

      btul kata kang asep, mohon ini judulnya kalo bisa mah di edit lagi.
      agak risih, apalagi skarang lagi rame2 nya ruu kesetaraan gender.

  22. Pingback: Jiwa Boleh Gay, Tapi Tujuan Tetap Surga… « mengarsipi.

*

*

Top