Studia Humanika: Psikologi Brentano, Pijakan Awal Fenomenologi*

(Foto: openlibrary.org)

“He is my one and only teacher in philosophy.”

Pernyataan itu meluncur dari lisan Edmund Husserl ketika berbicara mengenai Franz Brentano. Bagi pemerhati filsafat, nama Husserl tersohor sebagai tokoh yang memopulerkan jenis filsafat mazhab fenomenologi. Namun ketika didengungkan nama Brentano, sedikit yang  kenal betul. Padahal, Brentano merupakan peletak dasar pondasi fenomenologi melalui psikologi.

Melalui sebuah manuskrip yang dibuat Brentano, Descriptive Psychology (1888-1889), diketahui bahwa istilah fenomenologi dicetuskan olehnya. Murid-muridnya lah yang mempopulerkan istilah tersebut. Termasuk Husserl.

Pemikiran Franz Brentano lahir di sebuah era yang dinamakan “Psikologi Baru”. Pada masa lahirnya psikologi modern di tahun 1870, ilmu pengetahuan identik dengan studi mengenai peristiwa-peristiwa fisik dalam ilmu pengetahuan alam (biologi, fisika, kimia).

William Wundt, pada tahun 1873 berupaya mengembangkan paradigma psikologi sebagai ilmu pengetahuan eksperimental tentang pikiran, untuk dipelajari melalui proses-prosesnya. Definisi kaku metode ilmiah sebagai studi eksperimental berguna untuk membatasi ruang lingkup psikologi. Namun, dalam upayanya berpegang teguh pada model ilmu pengetahuan alam, Wundt cenderung mengabaikan proses-proses dan aktivitas psikologis yang tidak dapat dimasukkan dengan mudah dalam kerangka metodologisnya.

Beberapa rekan sejawat Wundt tidak setuju dengan pembatasan-pembatasan yang ditetapkan Wundt pada psikologi. Mereka sepakat bahwa psikologi semestinya tidak terikat pada satu metode ilmu pengetahuan, dan bahwa ilmu pengetahuan itu sendiri mencakup lebih dari sekedar metode  eksperimental.

Menanggapi aliran psikologi yang dipelopori Wundt, muncul istilah psikologi aksi. Ciri penting gerakan ini terpusat pada interaksi antara individu dan lingkungan yang tidak dapat dipisahkan. Karena itu, berbagai peristiwa psikologis sering kali disebut sebagai fenomena. Fenomena peristiwa-peristiwa yang tidak dapat direduksi menjadi elemen-elemen pembentuk tanpa kehilangan identitasnya. Hal ini tidak seperti kerangka kerja Wundt yang membagi fenomena tersebut ke dalam elemen-elemen yang dapat ditelaah satu per satu.

Psikologi baru, setelah era Wundt, dirancang untuk memungkinkan menjawab pertanyaan metafisika seperti relasi jasmani-rohami atau kemungkinan keabadian. Titik tolak dari psikologi ini adalah empirisme—tetapi dikombinasikan dengan “ideal Anschauung” atau ideal intuition. Psikologi baru juga memasukkan persepsi etis (seperti kesukaan atau kebagusan) dengan pendekatan non induktif.

(Foto: infoescola.com)

Psikologi yang diusung Brentano sangat bertentangan dengan psikologi Wundt. Brentano mengartikan psikologi sebagai ilmu pengetahuan tentang fenomena psikis yang diwujudkan sebagai tindakan dan proses. Pengertian ini berlawanan dengan psikologi yang dipandang dalam artisan reduksionisme fisik, kesadaran, atau asosiasisme.

Tujuan strukturalisme—yaitu menemukan elemen-elemen kesadaran– adalah sesuatu yang tidak bermakna bagi Brentano. Brentano berpendapat, studi semacam itu merusak keutuhan esensial kesadaran, dan elemen-elemen semacam itu, jika memang ada, tidak memiliki makna psikologis. Brentano setuju dengan elemen fisiologis atau biologis dalam aksi-aksi psikologis, yang memberikan informasi– namun tidak identik dengan aksi psikologis.

Brentano banyak membahas mengenai “intensionalitas” dalam buah pemikirannya. Intensi digambarkan sebagai “a relationship to an object or objectivity“. Intensional adalah fakta yang terus-menerus teramati berdasarkan faktor intuisi mengenai perasaan (love, goodness). Sedangkan fenomena psikologi, Brentano gemar menyebutnya sebagai  ineksistensi yang intensional. Eksistensi sesungguhnya terdapat pada subjek yang berkehendak. Konsepsi dalam pengalaman di fenomena psikologi adalah konsepsi thomistic atau konsepsi sugestif. Jadi, intensitas bergantung pada sugesti milik subjek.

Terdapat tiga tipe dasar dari fenomena psikologis. Pertama adalah representasi (vorstellungen), kedua adalah penilaian (urteile), dan ketiga adalah hasrat/perasaan (love and hatred). Representasi adalah ketika subjek dapat menjabarkan objek yang ia amati. Penilaian adalah ketika subjek lebih dalam menjabarkan objek. Sedangkan hasrat/perasaan– yang mengacu pada cinta atau benci turut dilibatkan dalam pengalaman. Namun, hasrat/perasaan tersebut– baik cinta sekali maupun benci sekali– tidak bisa sekenanya dinilai  benar atau salahnya.

Brentano berjasa dalam menciptakan paradigma baru dalam empirisme. Terdapat dua jenis pengalaman, yaitu “inner perception” dan “introspection”. “Inner perception” adalah definisi etis atau tidaknya objek menurut versi subjek yang mengamati. Sedangkan “self-observation” adalah ketika subjek mengamati murni objek yang ditelitinya.

Brentano memperluas pemaknaan empiris dengan memperdalam makna pengalaman karena menggunakan metode non induktif. Pada akhirnya, ini dia dua poin penting empirisme menurut Brentano: fenomena psikis hanya dapat ditangkap kesadaran dari dalam, dan fenomena fisik hanya dapat dipahami secara fenomena dan intensional.[Fe]***

 

*Disarikan dari kuliah Studia Humanika Pengantar Fenomenologi Pertemuan I (Fase Pratanda Kelahiran Fenomenologi I, Posisi Brentano dalam Sejarah Fenomenologi) pada Kamis, 2 Februari 2012 di GSS E Masjid Salman ITB.

Pemateri dalam kuliah ini adalah Dr. Irawan,SPd., M.Hum. (Penulis buku ”Animal Ambiguitatis: Memahami Manusia Melalui Pemikiran Maurice Merleau-Ponty dan Jacques Lacan”).

Pertemuan selanjutnya  (Fase Pratanda Kelahiran Fenomenologi II
Posisi Stumpf dalam sejarah fenomenologi) akan diadakan Kamis, 9 Februari 2012 di GSS Kompleks Salman ITB pukul 15.30 WIB

 

 

 

 

 

 

 

Submit your comment

Please enter your name

Your name is required

Please enter a valid email address

An email address is required

Please enter your message

Timeline

  • April 21, 2012 01:52

    Salman Reading Corner punya lomba Resensi Buku lho setiap bulannya, hadiahnya voucher belanja 300rb di Gn. Agung. Ikut? http://t.co/KMqxCjxA

  • April 21, 2012 01:50

    assalamu'alaikum, selamat akhir pekan, teman-teman :D

  • April 17, 2012 01:30

    Room Mate dan Budaya Kita http://t.co/8WmwCaiw

  • April 17, 2012 01:23

    Agar Finansial Tak Jadi Beban Bagi Calon Pengantin http://t.co/04O7oq07

  • April 17, 2012 01:19

    dari acara syukuran wisuda kemarin: Follow The Passion atau Lakukan yang Terbaik http://t.co/UwfCeNg6

Masjid Salman ITB © 2012 All Rights Reserved

Developed by Onnay Okheng.